(Bagian 1)
Oleh: Dr. KH. Abd. Muhaimin Zen
QS. Al-A’raf: 157
اَلَّذِيْنَ يَتَّبِعُوْنَ الرَّسُوْلَ النَّبِيَّ الْاُمِّيَّ الَّذِيْ يَجِدُوْنَه مَكْتُوْبًا عِنْدَهُمْ فِى التَّوْرٰىةِ وَالْاِنْجِيْلِ يَأْمُرُهُمْ بِالْمَعْرُوْفِ وَيَنْهٰىهُمْ عَنِ الْمُنْكَرِ وَيُحِلُّ لَهُمُ الطَّيِّبٰتِ وَيُحَرِّمُ عَلَيْهِمُ الْخَبٰۤىِٕثَ وَيَضَعُ عَنْهُمْ اِصْرَهُمْ وَالْاَغْلٰلَ الَّتِيْ كَانَتْ عَلَيْهِمْۗ فَالَّذِيْنَ اٰمَنُوْا بِه وَعَزَّرُوْهُ وَنَصَرُوْهُ وَاتَّبَعُوا النُّوْرَ الَّذِيْٓ اُنْزِلَ مَعَهٓۙ اُولٰۤىِٕكَ هُمُ الْمُفْلِحُوْنَ
(Yaitu,) orang-orang yang mengikuti Rasul (Muhammad), Nabi yang ummi (tidak pandai baca tulis) yang (namanya) mereka temukan tertulis di dalam Taurat dan Injil yang ada pada mereka. Dia menyuruh mereka pada yang makruf, mencegah dari yang mungkar, menghalalkan segala yang baik bagi mereka, mengharamkan segala yang buruk bagi mereka, dan membebaskan beban-beban serta belenggu-belenggu yang ada pada mereka. Adapun orang-orang yang beriman kepadanya, memuliakannya, menolongnya, dan mengikuti cahaya terang yang diturunkan bersamanya (Al-Qur’an), mereka itulah orang-orang beruntung.
Kata ummi berasal dari akar kata amma-yaummu yang memiliki beberapa pengertian, seperti: sumber, tempat tinggal, kelompok dan agama. Dari pengertian tersebut, muncul pengertian yang berkaitan, yakni tujuan, tumpuan dan keteladanan. Kata ummi dinisbatkan dengan kata umm yang berarti ibu, sebab keadaan anak yang baru saja dilahirkan oleh ibunya dalam keadaan sedikit bicara juga disamping itu tidak jelas.
Keadaan ini digambarkan seperti keadaan masyarakat Arab pada masa Jahiliyah dan umumnya tidak pandai membaca dan menulis terlebih dari kaum wanitanya. Sedangkan secara bahasa, dalam Kamus al-Munawwir, al-ummi diartikan dengan: yang tidak dapat membaca dan menulis, yang bodoh dan kasar, yang mengibu, keibuan, kebodohan, hal tak tahu baca tulis.
Ke-ummi-an Nabi Muhammad Saw sebelum diutus memberi pengertian bahwa Nabi tidak bisa membaca kitab Taurat dan Injil yang ada pada orang Yahudi dan Nasrani, begitu juga cerita-cerita kuno yang dibawa orang-orang terdahulu. Sebagaimana firman Allah Swt.:
وَمَا كُنْتَ تَتْلُوْا مِنْ قَبْلِه مِنْ كِتٰبٍ وَّلَا تَخُطُّه بِيَمِيْنِكَ اِذًا لَّارْتَابَ الْمُبْطِلُوْنَ
Dan engkau Muhammad tidak pernah membaca Suatu kitab sebelum Alquran dan engkau tidak pernah menulis suatu kitab dengan tangan kananmu. Sekiranya engkau pernah membaca dan menulis niscaya Ragu orang-orang yang mengingkarinya. (Al-‘Ankabut: 48)
Para mufassir menjelaskan makna ummi dalam ayat di atas, sebagai berikut:
1. Ibnu Katsir (إبن كثير)
Menurut Ibnu Katsir lafadz ummi pada ayat ini diartikan dengan buta huruf, yakni tidak bisa membaca dan tidak bisa menulis. Begitu juga menurut Sayyid Qutub Musthafa al-Maraghi, Quraisy Syihab, Syekh Wahbah Zuhaili, Buya Hamka, dan Kemenag RI.
Karena ayat tersebut diturunkan di tengah-tengah masyarakat yang menganut kitab Taurat dan Injil dan tidak bisa membaca dan menulis. Oleh karena itu, Nabi Muhammad Saw diutus kepada mereka dalam kondisi ummi.
2. Al-Qurthubi (القرطبي)
الأ مِّيَ, kata ini adalah nisbat dari kata الأمِّيةَّ – الأمةَ (buta huruf), yaitu seorang yang sudah dewasa yang masih seperti awal ia dilahirkan, karena ia tidak belajar membaca ataupun menulis. Penafsiran ini disampaikan oleh Ibnu Aziz.
Ibnu Abbas pemah berkata “Dahulu Nabi kalian (Muhammad SAW) adalah seorang ummi yang tidak dapat menulis, tidak dapat membaca dan tidak dapat berhitung.
Namun ada pula yang berpendapat bahwa sebutan الأ مِّيَ kepada Nabi Saw adalah penisbatannya kepada kota Makkah yang biasa disebut dengan ummul qura (ibu kota). Penafsiran ini dikemukakan oleh An-Nuhas.
3. Al-Maroghi (المراغى)
Menurut Syekh Ahmad Musthafa Al-Maraghi, al-ummiy yaitu orang yang tidak pandai membaca dan menulis, dinisbatkan kepada al-umm (ibu). Orang-orang memberi julukan kepada bangsa Arab dengan al-ummiyin.
Keadaan ummiy merupakan sifat bagi Nabi Muhammad Saw, yang tidak dimiliki oleh nabi-nabi lainnya. Walaupun beliau seorang yang tak pandai membaca dan menulis, namun telah mendatangkan ilmu dan mampu memperbaiki kerusakan-kerusakan yang terjadi.
4. Wahbah Zuhaili (وهبه زهيلى)
Nabi ummiy yang dimaksud di sini adalah Nabi Muhammad Saw. Artinya, Nabi tidak bisa membaca dan menulis. Ke-ummiy-an tersebut adalah satu bukti di antara bukti kenabiannya dan bukti bahwa alQuran yang penuh mukjizat itu diturunkan dari sisi Allah Swt karena ia dengan ke-ummiy-annya mampu membawa ilmu yang sempurna dan bermanfaat dalam masalah aqidah, ibadah, politik, sosial, ekonomi, etika, bisnis, dan lainnya. Mengikutinya adalah dengan cara meyakini kenabiannya dan mengamalkan risalahnya.
5. Quraisy Syihab (قريش شهاب)
Kata (أ مُّي) ummi terambil dari kata (أمُ) umm/ ibu, dalam arti seorang yang tidak pandai membaca dan menulis. Seakan-akan keadaannya dari segi pengetahuan atau pengetahuan membaca dan menulis sama dengan keadaannya ketika baru dilahirkan oleh ibunya atau sama dengan keadaan ibunya yang tak pandai membaca dan menulis. Ini karena masyarakat Arab pada masa jahiliah, dan umumnya tidak pandai membaca dan menulis, lebih-lebih kaum wanitanya. Ada juga yang berpendapat bahwa kata ummi terambil dari kata ( أمُّةَ ) ummah, yang menunjuk kepada masyarakat ketika turunnya al-Quran yang dilukiskan oleh sabda beliau: “Sesungguhnya kita adalah umat yang ummi, tidak pandai membaca dan berhitung”.
Bahwa Rasulullah Saw adalah seorang ummi merupakan salah satu bukti kerasulan beliau. Dalam konteks ini al-Quran menegaskan:
Engkau tidak pernah membaca sebelumnya (al-Quran) sesuatu kitab pun dan engkau tidak (pernah) menulisnya dengan tangan kananmu; andai kata (engkau pernah membaca dan menulis), benar-benar ragulah orang yang mengingkari (mu)”. (QS. Al-Ankabut [29]: 48).
Betapa tidak, pasti akan ada yang berkata bahwa ayat-ayat al-Quran yang beliau sampaikan, yang redaksi dan isinya sangat mengagumkan serta mengungkap banyak hal yang tidak dikenal pada masanya, adalah hasil bacaan beliau.
6. Prof. Dr. Hamka (تفسير الأزهر )
Nabi yang ummi, artinya yang tidak pandai menulis dan membaca. Nabi kita disebut ummi, karena beliau ketika diangkat menjadi Rasul itu tidaklah pandai menulis dan membaca. Pada saat wahyu turun kepadanya di Gua Hira, Malaikat Jibril menyuruhnya membaca. Dengan terus-terang beliau menjawab bahwa beliau tidak pandai membaca. Beliau buta huruf. Kalau sekarang bolehlah disebut bahwa beliau bukan seorang terpelajar yang membaca kitab-kitab. Bahkan dalam kaumnya sendiri dalam jarang yang pandai menulis dan membaca, namun ruh beliau telah diberi keistimewaan oleh Allah Swt, sehingga sanggup jiwa itu menerima wahyu Ilahi. Dan hal ini bukanlah satu hal yang mengherankan, sedangkan seorang yang disebut orang “genius”, bisa mencapai martabat keduniaan yang tinggi, padahal buta huruf.
Masyhur dalam riwayat bahwa Sultan Akbar di Hindustan, sampai wafatnyapun buta huruf. Tidak pandai menulis dan membaca, padahal beliau seorang failasuf, dan Raja Besar yang luar biasa pandainya mengatur pemerintahan. Kalau orang “genius” bisa demikian, betapa lagi kalau seorang Rasul Allah?
Oleh sebab itu bagi Nabi Muhammad Saw, gelar ummi ini bukanlah suatu kehinaan, melainkan menjadi kemuliaan. Dan disebutkan selanjutnya bahwa nama beliau atau sifat-sifat beliau telah tertulis di sisi Ahlul Kitab, telah tersebut bahwa beliau akan datang sebagai Nabi akhir zaman di dalam Taurat dan Injil. Telah lama kedatangan beliau ditunggu-tunggu oleh mereka, sebab Nabi Musa dan Nabi Isapun telah mengisyaratkan kepada mereka, bahwa Nabi itu akan datang.
7. Kemenag RI
Dalam ayat ini diterangkan bahwa salah satu sifat Muhammad Saw ialah tidak pandai menulis dan membaca. Sifat ini memberi peringatan bahwa orang yang ummi tidak mungkin membaca Taurat dan Injil yang ada pada orang-orang Yahudi dan Nasrani, demikian pula cerita-cerita kuno yang berhubungan dengan umat-umat terdahulu. Hal ini membuktikan bahwa risalah yang di bawa oleh Muhammad Saw itu benar-benar berasal dari Tuhan Yang Maha Esa.
Seandainya al-Quran itu buatan Muhammad, bukan berasal dari Tuhan Semesta Alam, tentulah manusia dapat membuat atau menirunya, tetapi sampai saat ini belum ada seorang manusia pun yang sanggup menandinginya.
Berdasar penjelasan para mufasir di atas, maka adanya pandangan dari para orientalis yang menganggap bahwa Nabi Muhammad Saw adalah seorang yang buta huruf, tidak bisa baca dan menulis permanen, adalah pendapat yang tidak layak diteladani dan diikuti ajarannya.
Pandangan semacam ini adalah salah, berdasarkan pandangan para mufassir, mereka sepakat menolak keras pandangan tersebut. Wallahu a’lam.