Di Pusaran Zaman

0

Oleh: Zahra Eka Widya Hartadi (Santri PP/MA Nurul Jadid Paiton Probolinggo)

 

Langit murung sore itu, menutup wajahnya dengan selimut kelabu. Awan hitam berdesakan di atas, seperti ribuan santri nakal yang tak sabar menunggu giliran ditegur kiai. Mereka menggulung dan mendorong satu sama lain, menekan bumi dengan berat yang membuat dada terasa sesak. Dari serambi masjid, aku menatap pertunjukan langit itu dengan hati yang tak kalah gaduh.

Hujan pun turun, deras dan berisik, seolah langit sedang menumpahkan air mata kegelisahan. Butir-butirnya menari di genting masjid, menabuh irama sendu, seperti rebana yang kehilangan lagu pengajian. Hujan menempel di kaca jendela, lalu menetes perlahan, seakan ingin berbisik kepada siapa saja yang mau mendengar.

Di hadapanku, lapangan luas menghampar. Lapangan itu dulu selalu ramai: tempat pasar malam dengan lampu-lampu warna-warni seperti kunang-kunang yang terjebak dalam botol kaca; tempat pengajian akbar di mana suara kiai menggema, memecah langit hingga bintang-bintang ikut menunduk; tempat konser musik dangdut yang kadang membuat para ustaz geleng-geleng kepala, tapi tetap saja ditonton diam-diam oleh sebagian santri nakal;

tempat upacara kemerdekaan, di mana bendera merah putih berkibar gagah di tengah teriakan semangat anak-anak sekolah.

Kini, lapangan itu sepi. Hanya ada rerumputan basah yang menggigil diterpa angin. Lapangan itu seperti jasad kedinginan, menunggu doa yang tak kunjung datang. Aku bisa merasakan kerinduan lapangan itu. Aku termenung. Apa gunanya lapangan luas jika hanya dihuni sepi? Ironis, manusia membangun ruang untuk berkumpul, tapi justru asing di dalamnya.

Hujan mereda perlahan, seperti menahan napasnya dalam kesunyian magrib. Gerimis kecil turun lembut, menyebarkan kesejukan yang menusuk kulit hingga menembus tulang. Lampu-lampu jalan di seberang lapangan mulai menyala satu per satu, tegap berdiri bagaikan para penjaga malam. Mereka menebarkan cahaya kuning pucat, seolah sedang menawarkan jalan pulang bagi siapa pun yang tersesat dalam hatinya sendiri.

Para jamaah mulai berdatangan. Satu per satu, langkah mereka terdengar di lantai masjid yang licin. Sandal-sandal basah menunggu di teras, seperti hewan jinak yang setia menanti tuannya. Aku menatap mereka, para wajah yang teduh, para punggung yang letih, para tangan yang terangkat dalam doa. Aku menatap mereka dengan mata yang penuh pertanyaan: apakah mereka benar-benar setenang itu? Atau, sama sepertiku, hanya pandai menyembunyikan badai dalam dada?

Azan magrib berkumandang. Suara muazin menembus langit sore yang suram, menggema ke segala penjuru, menggugah hati yang paling beku sekalipun. Seakan-akan suara itu adalah sapaan langsung dari langit. Aku berdiri, bergabung dengan barisan saf. Lantai dingin memeluk kakiku, sementara cahaya lampu masjid menimang wajah-wajah kami.

Di sekelilingku, ada para santri kecil dengan peci miring, ada bapak-bapak tua dengan janggut yang sudah memutih, ada pedagang keliling yang bajunya masih basah oleh hujan. Kami semua berbeda, tapi di hadapan Allah, kami hanyalah hamba yang sama-sama rapuh.

Ketika imam mengucap takbir, waktu pun seperti berhenti. Semua kegaduhan di luar seakan lenyap, berganti dengan keheningan yang khusyuk. Dalam rukuk dan sujud, aku merasakan tubuhku bukan lagi milikku, melainkan bagian dari tarian agung semesta. Angin ikut rukuk, dedaunan ikut sujud, bahkan hujan pun berhenti sejenak seolah ikut mendengar ayat-ayat yang dilantunkan imam. Namun, di balik kekhusyukan itu, hatiku masih dipenuhi tanda tanya.

Dunia di luar sana berubah terlalu cepat. Apa arti kesalehan di tengah arus teknologi yang semakin gila? Apa arti menjadi santri jika suara azan perlahan kalah oleh dering notifikasi ponsel?

Selesai Salat

Selesai salat, aku duduk sejenak. Masjid mulai sepi kembali. Jamaah pulang dengan langkah ringan, meninggalkan sajadah yang masih hangat oleh doa. Aku sendiri menunda keluar. Entah kenapa, aku merasa masjid ini sedang berbicara kepadaku. Aku menghela napas panjang. Tapi akhirnya, aku pun bangkit. Di luar, motorku sudah basah kuyup terkena hujan.

Joknya penuh titik-titik air yang gemetar, seperti sekumpulan santri kecil yang ketakutan menghadapi ujian hafalan. Aku mengusapnya dengan telapak tangan, seakan ingin menghapus jejak badai yang baru saja menimpa. Aku menyalakan motor.

Aku tersenyum getir. Jalanan malam menyambutku dengan angin yang mencambuk wajah. Angin itu seperti cambuk kiai yang mendidik: keras, tapi diam-diam menyimpan cinta. Di seberang jalan, lampu-lampu kota berkedip-kedip, seperti mata-mata nakal yang mengolok-olokku. Aku tak punya jawaban. Yang aku tahu hanyalah: aku adalah santri kecil dalam pusaran zaman yang berubah terlalu cepat.

Jalanan malam terbentang di hadapanku, basah dan berkilau seperti ular hitam yang baru saja keluar dari sungai. Lampu-lampu jalan berdiri di kiri kanan, tubuhnya tinggi kurus dengan cahaya kuning pucat yang dipaksakan keluar dari perutnya. Mereka bagai para penjaga tua yang sudah kelelahan, namun tetap dipaksa berdiri demi menerangi arah pulang anak-anak manusia. Di tepi jalan, toko-toko kecil berderet.

Ada warung kopi yang lampunya berkelip seperti mata renta yang hampir tertidur. Ada bengkel motor yang pintunya setengah tertutup, seakan sedang menguap lelah setelah seharian bekerja. Ada kios pulsa yang papan reklamenya menyala-nyala dengan warna mencolok, berteriak ke segala arah.

Aku menatap papan neon itu dengan getir. Betapa berbeda zaman ini dengan masa kecilku di pondok. Dulu, yang paling ramai diperebutkan para santri adalah giliran membaca kitab kuning di hadapan kiai, atau sekadar duduk di dekatnya agar mendapat petuah singkat.

Kini, anak-anak muda lebih sibuk berebut sinyal internet, mengangkat ponsel tinggi-tinggi ke langit seolah ingin menantang bintang. Aku teringat lapangan kosong tadi. Bukankah dulu, setiap habis Isya, lapangan itu dipenuhi santri yang berlari sambil tertawa, melempar bola plastik yang harganya tak lebih dari seribu rupiah? Sekarang, lapangan itu sunyi karena tawa anak-anak pindah ke layar gawai. Bola plastik itu tergantikan oleh jempol-jempol yang lincah menari di layar kaca, mengejar skor dalam permainan yang tak nyata.

Lalu aku melewati sebuah gedung bioskop baru. Lampunya berwarna-warni,berkedip seolah sedang berpesta. Orang-orang mengantri di depan loket, wajah mereka bercahaya oleh cahaya layar ponsel yang tak pernah padam. Aku bertanya dalam hati: Apakah mereka benar-benar bahagia, ataukah hanya mengisi kekosongan dengan cerita buatan?

Motor melambat ketika aku melewati sebuah taman kota. Di sana, beberapa anak muda duduk melingkar. Bukan untuk mengaji, bukan untuk berzikir, tapi untuk menunduk pada layar masing-masing. Bahkan tawa mereka terdengar aneh, karena lahir bukan dari percakapan yang tulus, melainkan dari video lucu yang ditonton serempak.

Hatiku semakin berat. Aku merasa seperti makhluk asing di tengah dunia yang aku kenal tapi tak lagi ku mengerti. Dulu, menjadi santri adalah kebanggaan. Orang-orang menunduk hormat ketika berpapasan dengan santri, seolah ilmu yang menempel di kopiah dan sarung itu memancarkan cahaya. Kini, santri justru sering dipandang kuno, dianggap tak mampu mengikuti perkembangan zaman.

Aku berhenti sejenak di lampu merah. Lampu itu menyala garang, merahnya menyala seperti mata marah yang menuntut: “Berhenti! Jangan teruskan langkahmu.” Aku menurut, meski di dalam hati aku ingin sekali menembus larangan itu. Sementara di sekitarku, kendaraan lain berjajar rapat, mesin mereka bergemuruh seperti kawanan lebah yang kehilangan arah. Klakson-klakson saling berteriak, seperti manusia yang sudah tak sabar menunggu giliran bahagia.

Di trotoar, seorang pengamen tua duduk dengan gitar reyot. Suaranya parau, nyaris tenggelam oleh bising kendaraan. Tapi aku mendengar lirih lagunya. Aku menatapnya dengan iba. Bukankah aku juga sama sepertinya—berusaha menyanyikan doa di tengah dunia yang terlalu berisik untuk peduli? Lampu hijau menyala. Kendaraan serempak melaju, seperti sekawanan kuda liar yang dilepaskan dari kandang. Aku kembali memutar gas, membiarkan motor membawaku menembus arus malam.

Semakin dekat ke rumah, semakin banyak wajah yang kulihat. Ada anak-anak yang masih berkeliaran sambil tertawa keras, meski jam sudah hampir malam. Ada ibu-ibu yang sibuk di warung, wajah mereka lelah namun tetap ramah menyapa pelanggan. Ada bapak-bapak yang nongkrong sambil menatap layar ponsel, wajah mereka tersinari cahaya biru yang dingin. Semua sibuk dengan dunianya masing-masing, seolah lupa bahwa ada dunia nyata yang menunggu disentuh.

Perjalanan Pulang

Perjalanan pulang ini membuatku sadar betapa cepat zaman berubah. Tradisi yang dulu kupegang erat mulai tergeser oleh kebiasaan baru. Santri-santri sebayaku banyak yang sudah meninggalkan sarung, memilih celana jeans ketat dan kaus bermerek. Kitab kuning digantikan oleh buku motivasi instan, yang dijual murah di toko-toko modern.

Suara azan sering kalah oleh dentuman musik dari kafe yang kini tumbuh seperti jamur di musim hujan. Aku merasa dada sesak. Motor berhenti di depan rumahku yang sederhana. Dindingnya kusam, catnya sudah mengelupas di beberapa bagian. Aku turun dari motor,

membuka gerbang kecil yang berdecit seperti kakek tua yang mengeluh sakit lutut. Halaman sempit menyambutku dengan tanah basah dan aroma hujan. Aku tersenyum lirih.

Setidaknya, rumah ini masih setia menungguku, meski dunia di luar terus berubah. Aku masuk, menyalakan televisi, berharap ada hiburan untuk melupakan penat perjalanan. Tapi justru dari situlah lahir keresahan baru—dan di situlah kisahku berlanjut. Begitu televisi menyala, ruang tamu mungilku seketika dipenuhi cahaya. Kotak persegi itu memancarkan sorotnya, seperti mata raksasa yang mengintip setiap gerakku.

Layar berwarna itu tampak riang. Aku menuruti, meski hatiku ragu. Aku tahu mata bercahaya itu tak pernah benar-benar tulus. Ia hanya menampilkan wajah dunia yang telah dipoles, dibungkus rapi, lalu dijual kembali sebagai hiburan.

Berita malam mulai tayang. Presenter berjas rapi tersenyum manis, suaranya tenang, tapi kata-katanya adalah hujan batu yang menghantam hati. “Konflik bersenjata meletus di perbatasan. Banjir bandang melanda puluhan desa. Kasus korupsi pejabat kembali terungkap.” Kata-kata itu keluar silih berganti, dingin, tanpa jeda.

Aku terpaku. Ironis sekali—orang-orang menonton berita bencana sambil menyeruput kopi dan tertawa kecil, seolah duka itu hanyalah sandiwara. Televisi mengubah penderitaan menjadi hiburan, mengubah tragedi menjadi tontonan malam. Kotak itu, bukannya membawa pengetahuan, justru menghadiahkan kecemasan.

Aku merasa ditertawakan oleh layar. Gambar-gambar di dalamnya menatapku dengan sorot mengejek: “Lihatlah dunia, betapa kacaunya manusia. Dan kau? Kau hanya penonton yang tak berdaya, duduk diam dengan mata terbuka.” Aku tertawa getir. “Ini hiburan?” gumamku. “Apakah penderitaan yang dikemas rapi itu layak disebut hiburan?”

Aku memindahkan saluran. Musik pop modern mendominasi. Penyanyi muda dengan pakaian gemerlap berdansa di panggung, suaranya lantang, diiringi sorak-sorai ribuan penonton. Irama musik menghentak, memukul dinding rumahku, menampar telingaku dengan paksa.

Dulu, musik bagiku adalah penyejuk hati. Aku masih ingat ketika seorang kiai di pondok memainkan rebana, suaranya lirih, tapi mampu membuat santri-santri meneteskan air mata. Musik sederhana itu menyusup lembut ke hati, seolah tangan malaikat yang membelai luka. Kini, musik justru menjadi racun halus. Melodinya memabukkan, membuat lupa diri, menenggelamkan kesadaran. Musik modern ini seperti permen berwarna-warni: manis di lidah, tapi meninggalkan sakit di gigi. Liriknya penuh janji kebahagiaan semu, seakan berkata: “Tak perlu berpikir dalam, cukup menari, cukup tertawa, maka semua baik-baik saja.”

Aku merasakan musik yang dulu menyelamatkanku kini berubah menjadi kabut yang menutup hati. Aku mematikan televisi. Ruangan seketika tenggelam dalam keheningan. Televisi yang tadi cerewet kini seperti anak kecil yang ngambek, menatapku dengan layar hitamnya. Aku balas menatapnya. “Kau bukan temanku,” bisikku. “Kau hanya cermin kebisingan dunia.” Aku melangkah masuk ke kamar. Dinding kamarku menyambut dengan dingin, seperti sahabat lama yang kaku karena lama tak bertemu. Aku berbaring, menatap langit-langit yang retaknya menyerupai peta negeri yang pecah-pecah.

Kepalaku dipenuhi pertanyaan. Apa arti hidup dalam zaman yang serba absurd ini? Manusia berlomba-lomba mencari kebahagiaan, tapi lupa cara bahagia. Mereka membeli barang demi barang, menukar waktu dengan gaji, menukar hati dengan layar, tapi tetap merasa kosong. Aku teringat kiai di pondok yang pernah berkata: “Hidup adalah ibadah, bukan sekadar perlombaan dunia. Barang siapa mengejar dunia, ia akan letih.

Barang siapa mengejar Allah, ia akan menemukan damai.” Kata-kata itu masih menggema, tapi entah mengapa, semakin sulit kuterapkan di tengah dunia yang berganti wajah setiap detik. Aku merasa seperti aktor di panggung sandiwara. Semua orang berperan, semua berusaha meyakinkan bahwa hidup mereka sempurna. Mereka tersenyum di media sosial, menampilkan potret bahagia, padahal hatinya retak. Dunia ini panggung yang penuh topeng.

Aku bergumam pelan, hampir seperti doa: “Tuhan, apakah ini benar-benar hidup yang Kau maksud? Apakah kami harus terseret arus kepalsuan ini?” Malam di luar jendela ikut merenung. Langit gelap membentang, tanpa bintang, seperti wajah dunia yang enggan menampakkan cahaya. Angin masuk lewat celah jendela, menyapa dengan bisikan. Aku menutup mata, mencoba melupakan kegaduhan.

Tapi semakin kupejamkan mata, semakin jelas suara-suara itu terdengar: suara televisi yang masih terngiang, suara musik yang menjerit, suara dunia yang terus berlari tanpa arah. Aku sadar, aku hanyalah santri kecil yang pulang dari masjid, duduk di rumah sederhana, namun harus berhadapan dengan dunia yang lebih besar dan lebih bising dari yang pernah kubayangkan.

Tengah Sunyi

Dan di situlah, di tengah sunyi yang sesungguhnya ramai, aku merasakan sebuah kesadaran baru mulai mengetuk pintu hatiku. Aku berbaring di atas ranjang sederhana. Kasurnya tipis, tapi malam ini ia terasa seperti samudra luas yang menelan tubuhku ke dalam diam. Aku menatap langit-langit kamar yang retaknya menjalar seperti akar pohon tua. Setiap retakan tampak hidup, melambai ke arahku. Aku menarik napas panjang. Pertanyaan demi pertanyaan berputar di kepalaku: apa arti menjadi santri di zaman yang serba cepat ini? Apakah aku hanya manusia kuno yang tersisa di tengah pusaran modernitas?

Ataukah justru aku satu-satunya yang masih mendengar bisikan sunyi yang ditenggelamkan oleh bising dunia? Aku menengadah, meski yang kulihat hanyalah langit-langit kusam. Lalu bibirku bergerak pelan, hampir seperti bisikan: “Tuhan… apakah Engkau masih mendengar kami? Atau apakah doa-doa kami kalah oleh kebisingan dunia? Apakah Engkau masih menatap bumi, atau mata-Mu pun letih melihat manusia yang sibuk dengan kepalsuan?” Keheningan menjawab.

Tapi aku merasa malam ini bukan sekadar diam. Malam ini seperti seorang guru tua yang sabar, menunggu muridnya berhenti mengeluh sebelum memberi jawaban. Angin masuk lewat celah jendela, lembut, seperti usapan tangan ibu yang menenangkan. Aku terpejam, membiarkan suara angin menyusup ke dalam jiwa.

Aku sadar, aku tak bisa terus bersembunyi di balik keresahan. Dunia memang berubah, dan aku tak mungkin menghentikan lajunya. Teknologi akan terus berkembang, musik akan terus bergemuruh, televisi akan terus menyiarkan wajah muram dunia. Aku hanyalah butir pasir di pantai sejarah. Tapi bukankah pasir pun mampu membentuk gurun, dan gurun mampu mengajarkan keteguhan pada siapa saja yang berani melintasinya?

Aku duduk perlahan. Lampu kamar menatapku dengan cahaya kuning redup, seperti seorang sahabat lama yang masih setia menemani. Aku mengambil kitab kuning yang tergeletak di meja kecil. Sampulnya sudah pudar, halamannya menguning, tapi justru di situlah kehangatannya. Ketika kubuka, huruf-huruf Arab itu menatapku.

Aku menyentuhnya dengan hati-hati, seakan menyentuh wajah kiai yang dulu mengajarkannya. Ingatanku melayang ke pondok: suara kiai yang serak tapi penuh wibawa, aroma kopi pahit yang selalu menemani malam-malam belajar, suara jangkrik yang ikut mengaji bersama kami.

Pondok itu sederhana, tapi di sanalah aku pertama kali belajar bahwa hidup bukan sekadar makan dan tidur, melainkan ibadah panjang yang tak pernah selesai. Air mataku menetes. Bukan karena sedih, tapi karena rindu. Aku rindu pada masa ketika dunia terasa sederhana: ketika kebahagiaan cukup ditemukan pada secangkir kopi panas di malam dingin, atau pada senyum tulus seorang sahabat sepondok.

Aku menutup kitab perlahan. “Aku harus memilih,” gumamku. “Apakah aku ingin larut dalam arus zaman, ataukah aku ingin berdiri tegak sebagai santri yang menjaga cahaya lama agar tak padam?” Malam mendengarkan. Ia tak menjawab, tapi aku tahu ia setuju.

Aku berdiri, melangkah ke depan cermin. Wajahku tampak samar diterangi lampu redup. Mataku sayu, namun di dalamnya ada bara kecil yang mulai menyala. Aku tersenyum kecil. Ya, mungkin aku hanyalah santri kecil, tapi bukankah sejarah sering digerakkan oleh orang-orang kecil? Aku teringat pepatah kiai: “Santri sejati bukan yang hanya pandai membaca kitab, tapi yang mampu membaca zaman. Ilmu bukan hanya untuk menghafal, tapi untuk menerangi jalan.” Kata-kata itu kini terasa lebih hidup daripada sebelumnya.

Aku tahu, zaman ini tak akan pernah sama lagi. Anak-anak akan terus bermain gawai, televisi akan terus menayangkan berita buruk, musik akan terus memekakkan telinga. Tapi aku tak perlu melawan semuanya. Yang perlu kulakukan hanyalah menjaga agar hatiku tetap hidup, agar doa-doaku tetap murni, agar langkahku tetap menuju Tuhan.

Aku menghela napas panjang, dada terasa lebih lapang. Aku tahu perjalanan ini tak mudah. Dunia modern penuh jebakan, penuh tipu daya. Tapi aku juga tahu, dalam setiap kebingungan, ada doa yang bisa menjadi kompas. Aku menatap langit-langit sekali lagi. Kali ini aku tak bertanya-tanya, melainkan berjanji: “Tuhan, aku akan berjalan dengan tegap. Aku akan menghadapi zaman dengan segala perubahannya, tapi aku tak akan melepaskan sarungku, tak akan menanggalkan doaku.

Aku akan belajar dari dunia, tapi aku tak akan menyerahkan hatiku padanya. Aku akan menjadi santri yang menjahit masa lalu dan masa depan dengan benang doa.” Angin masuk, menepuk bahuku pelan, seperti sahabat yang memberi semangat. Lampu kamar berkedip lembut, seolah tersenyum mendengar janjiku. Bahkan retakan di langit-langit pun tampak lebih indah, seperti garis peta yang membimbingku menuju cahaya. Aku tersenyum.

Mungkin aku memang masih bingung, tapi aku tahu satu hal: kebingungan ini adalah awal dari kesadaran. Aku memejamkan mata. Dalam gelap, aku melihat fajar yang belum lahir, cahaya yang belum tampak. Dan aku yakin, ketika pagi tiba, aku akan melangkah keluar bukan sebagai penonton dunia, melainkan sebagai santri yang siap menyapa zaman dengan doa, dengan ilmu, dan dengan hati yang tetap hidup. (*).

(Naskah lomba Cerpen Nasional Majalah Risalah NU 2025)

Leave A Reply

Your email address will not be published.