
Oleh: Mutiara Zahrotus Shita (MA NURUL HIDAYAH, Pasuruan, Jawa Timur)
Petang di hari Rabu yang cukup melelahkan, saat itu aku tengah menatap jendela dari lantai 23 di salah satu Gedung pencakar langit di Jakarta, seraya menyeruput secangkir vanilla latte. Senyumku terbit mengingat penghargaan yang baru saja akan kuperoleh sebagai “Best of translator in the world” kemarin. Masih tak kusangka seorang anak bungsu dari seorang janda yang hanya berprofesi sebagai buruh jahit di salah satu cabang konveksi dari suatu pesantren
dengan gaji yang sangat minim di setiap minggunya. Ini sekarang bisa berdiri di atas kakinya membayar seluruh keringat dan jerih payah sang ibu.
Masih teringat jelas perjuangan di hari itu, bagaimana ibuku dicaci dan diremehkan oleh para tetanga karena memasukkan aku ke dalam pesantren. Pikiranku mulai melayang menyalurkan sesak ke dalam dada “Ngapain kok Senara dimasukkan pesangtren. Orang sekarang banyak yang masuk di pesantren pulang-pulang malah hamil di luar nikah.”ketus tetanggaku. Panggil saja dia Bu Wati. “Orang anaknya yang mau dan saya juga mampu membiayainya. Lagi pula, bukannya lebih bahaya kalau tidak dimasukkan pesantren pergaulannya lebih bebas.” jawab mamamku sambil menjemur pakaian. “Loh, justru di pesanten lebih lepas dari pengawasan orang tu, itu yang paling bahaya.” sahut mbak Yayuk tetanggaku yang satunya. “Benar itu, anak teman saya masuk pesantren tiga tahun, pulang bukannya membawa kebaikan, malah jadi rusuh. Sudah bayar mahal, tapi didikan pesantren sama saja seperti sekolah kelas tiga. Rugi banyak, buang-buang uang saja.” Itu ibu Ida, tetanggaku juga. “Mondoknya kok tiga tahun? Ya gak manfaat. Orang minimalnya itu enam tahun. Sudah saya yang memondokkan Senara, saya juga nggak keberatan jadi nggak usah terlalu berkomentar, saya memang tidak bisa mengawasi Senara setiap saat. Tapi di pesantren, ada yang mengawasi sekaligus mendidik Senara yang mungkin ada dari salah satu didikannya tidak bisa saya berikan untuk anak saya dan saya tidak pernah rugi mengeluarkan uang untuk memondokkan Senara, karena saya yakin uang itu adalah pahala-pahala saya karena sudah menempatkan anak saya di tempat yang benar,” penjelasan mamaku cukup membuat para tetanggaku terdiam.
Air mataku meluruh mendengar perdebatan kecil antara mama dengan para tetangga saat itu. Aku yang bersembunhyi di balik pintu rumah hanya mengucap istighfar dalam hati. “Bagaimana bisa citra anak-anak pesantren menjadi seburuk itu di kalangan masyarakat,” itulah pertanyaan yang tertanam di hatiku karena hal ini.
****
Waktu berlalu begitu cepat, aku keluar dari pesantren setelah enam tahun menetap di sana sejak perdebatan bertahun-tahun lalu, aku memiliki tekat dan keinginan untuk kuliah di UNAIR (Universitas Airlangga) di Surabaya agar bisa membuktikan pada masyarakat jika anak-anak pesantren juga memiliki kualitas yang tinggi. Tapi semua itu terlalu sulit mengingat pada saat itu mamaku tidak memperbolehkan aku untuk kuliah dan memintaku untuk bekerja. Sedikit kecewa mendengar hal itu. Mamaku berpikir jika ia tidak akan sanggup membiayai kuliahku karena ia mengatakan sudah ingin menyudahi pekerjannya setelah aku lulus dari SMA. Padahal sebelumnya, aku sudah mengatakan padanya jika aku bisa mencari beasiswa.
Pada saat aku baru saja memasuki kelas XII, aku sudah mulai mencoba mencari informasi tentang beasiswa di Universitas negeri. Aku mencoba daftar melalui jalur SNBP untuk memasuki Universitas Airlangga Surabaya. Aku juga mempertekun selama sebulan terakhirku di SMA dan segala puji milik Allah. Aku diterima di Universitas Airlangga Surabaya dengan biaya UKT yang sangat rendah. Aku senang tapi aku juga takut mamaku akan tetap menolak dan tetap tidak mengizinkanku untuk melanjutkan pendidikan karena mamaku tidak tahu selama aku mencari informasi kuliah dan diam-diam mengikuti SNBP tanpa sepengetahuannya.
Setelah berpikir dengan waktu yang cukup lama, setelah hasil pengumman SNBP keluar, aku mulai memberanikan diri untuk mengatakan hal ini kepada kakak laki-lakiku terlebih dahulu, aku meminta izin padanya, namun jawabannya tidak cukup memuaskan hatiku. “Kalau kakak terserah kamu, tapi semuanya tergantung smaa mama untuk masalah ini, mama yang paling berhak memutuskan,” itu katanya padauk tempo hari lalu.
Hatiku kembali menciyut, rasanya ingin menyudahi semua ini tapi aku ingat kata-kata Kyaiku di pesantren “Man jadda wajada. Siapa yang mau bersungguh-sungguh, maka dialah yang akan berhasil.” Aku sudah di tengah jalan, menyerah bukan jalan terbaik, pikirku. Akhirnya aku mengatakan semuanya pada mamaku dari Langkah awal sampai aku lolos seleksi. Aku katakana semuanya dengan jujur tanpa mengurangi dan atau melebihkan apa yang akun mengalami.
Mamaku menangis, entah karena kecewa, senang atau sedih yang ia rasakan. Aku juga tidak tahu pasti “Mama senang kamu lolos dan masuk Universitas impianmu. Tapi mama tidak sanggup membayar biayanya, Senara,” katanya dengan suara parau. “Dari dulu makanya mama tidak mau kamu kuliah, tapi mama tidak bisa membiayaimu, keluarga kit aini keluarga susah, kakakmu juga sudah waktuna menikah. Kalau kamu kuliah, siapa yang membiayainya.
Kakakmu juga akan berkeluarga hidupnya juga bukan sepenuhnya hanya untuk membiayai kamu terus. Kasihan kan, kakakmu. Ini yang dari dulu mama takutkan, siapa orang tua yang tidak mau anaknya kuliah, siapa orang yang tidka mau anaknya meeujudkan impiannya. Mama juga mau. Mama juga pengen kamu meraih semua cita-citamu tapi kamu harus bisa melihat
ekonomi kita. Tidak bisa, Senara. Mama tidak bisa,” jelas mamaku di antara tangisnya yang semakin pecah.
“Ma, maaf. Jika Senara tidak mengerti maksud mama dulu. Sekarang apa yang Senara mau dudah di depan mata. Maaf jika Senara lancang. Izinkan Senara membiayai kuliah sendiri, ma. Izinkan Senara merantau dan pergi dari rumah untuk mewujudkan apa yang saya mau. Senara janji akan pulang dan membawa semua impian saya. Izinkan saya meraih kehormatan di keluarga kita,” ujarku penuh hati-hati.
Setelah proses perundingan yang cukup lama, mamaku akhirnya mengizinkan. Aku takut, tapi aku juga senang. Semua keyakinan selalu kutanamkan di hatiku sebelum aku pergi ke Surabaya. Setelah berita perantauanku tersebar, tidak sedikit orang yang Kembali menghina keluargaku. Tapi aku tidak menghiraukan hal itu dan hanya focus pada tujuanku.
Di Surabaya, aku bekerja paruh waktu menjaga stand makanan di toko yang dekat dengan asramaku. Aku juga membuat makanan ringan untuk dijual dan aku titipkan di toko toko terdekat. Alhamdulillah, hasilnya cukup aku pakai sebagai tambahan untuk uang saku, sedangkan uang yang aku dapat dari menjaga stand makan, aku simpan untuk membiayai uang semesterku.
Hidup di Kota besar seperti di Surabaya, bukanlah hal yang mudah. Mulai dari pergaulan, bertahan hidup, bahkan iman harus dipertaruhkan. Di sana banyak sekali godaan godaan yang bisa meruntuhkan imanku, mulai dari melepas hijab, sampai memakai pakaian yang bisa di bilang kurang bahan pernah menyentuh keinginanku untu melakukannya. Tapi maha besar Allah, aku selalu berlindung kepada-Nya agar tidak sampai menuruti bisikan bisikan setan di telingaku.
****
Empat tahun berlalu, aku berhasil menuntaskan kuliah dengan nilai tertinggi. Semua peluh, air mata, dan Lelah terbayar lunas saat aku berhasil membuat mamaku naik ke atas panggung untuk mengambil pengharagaan yang aku raih. Lebih bahagianya lagi, aku mendapatkan beasiswa ke Shanghai, Cina untuk melanjutkan studi S2 di sana.
Selang beberapa minggu setelah wisudaku terlaksana, aku pun pergi ke Shanghai dengan memboyong mamaku untuk tinggal bersamaku sampai aku lulus. Tidak terasa, dua tahun pun sudah berlalu. Di negeri impian itulah aku bertemu dengan suamiku.aku pulang ke Indonesia dan menikah.
Sepulan ku dari Shanghai. Aku mendapatkan panggilan kerja di perusahaan travel terbesar di dunia untuk menjadi penerjemah sekaligus penyusun strategi perusahaan. Berkat ketekunan dan ketabahan diriku dengan ridho Allah serta restu dari keluarga, aku bisa membuktikan jika anak pesantren seperti ku juga punya masa depan yang lebih indah dari pada anak tetangga yang tidak di masukkan pesantren.
Saat aku pulang ke kampung halamanku, keadaan berbanding terbalik dengan saat aku pergi dari rumah. Ibu-ibu yang dulu menghina, kini berbalik memuji atas apa yang aku raih. Mereka juga meminta maaf atas ucapan mereka dulu. Mereka juga berkata akan memasukkan anak-anak mereka yang masih SD ke pesantren. Ketika menginjak bangku SMP.
Dengan gaji sebesar 5M selama satu bulan. Aku bisa membawa keluargaku untuk pindah ke Jakarta. Aku membawa mamaku serta keluarga kakakku ke Jakarta, tentunya dengan izin suamiku. Kami tinggal di salah satu perumahan elit, tapi dalam bangunan yang berbeda. Mamaku tinggal bersamaku. Sementara rumah kakakku berdiri tepat di sebelahnya.
****
“Mamaaa…” suara itu membuyarkan lamunanku membuatku. Kembali dari wisata masa lalu. Aku menoleh mendapati pangeran kecilku berlari ke arahku, diikuti dengan pria bermata sipit yang menggendong peri kecilku. Aku menaruh vanilla latteku yang mulai dingin diatas meja “loh kok gak bilang kalua mau kesini, mama kan udah mau pulang” ujarku seraya berlutut di depannya sembari memeluknya. “Kata mama kalau nilai ujian matematika Yuan dapat seratus nanti kita liburan, Nih, Yuan udah dapat seratus, liburan ya maa…pliss,” katanya membuatku gemas sendiri. “Tanya sama papa gih,boleh atau tidak,” kataku. Sementara itu, Yuan langsung menoleh kerah papanya yang pura-pura tidak mendengarkan obrolan kami.
“Pa….” rengeknya manja. “Papa nggak dengar tadi,” godanya manja membuat Yuan menatapku dengan puppy eyesnya. “Mama, papa, ngeselin.” Aku terkekeh lalu menghampiri suamiku “Memangnya mau liburan ke mana?” tanyanya dengan bahasa Mandarin. “Terserah, sih, akum ah ngikut. Coba tanya Yuan mau ke mana.” Suamiku menatap Yuan yang masih cemberut dan hamper menangis “Mau ke mana, Yuan?” Mendengar perkataan itu, raut
mukanya Kembali ceria. “Mau ke Shanghai sama Disneyland. Bolehin ya, pa….!” suamiku pura-pura berpikir “hao…,” katanya sedetik kemudian. Yuan berlari ke arah papanya lalu memeluk kakinya karena tingginya yang hanya segitu. Suamiku menyerahkan putri kami kepadaku lalu ganti menggendong bocah kelas dua SD yang memeluk kakinya. “Xie xie, baba. Xie xie, mama. Yenwei ta rang wo ke yi qu ren he wo xiang qu di di fang dujia, wo bao zheng jiaqi guohou wo hui wei, baba, mama, tigao wo the pu tong hua fayen zhai ji ganzhe nimen wo ai baba, mama.”
Suamiku tersenyum ke arahku, begitu pun sebaliknya “Halo, papa kasih tambahan kita ke Prancis,” Tandas suamiku. Membuat Yuan Halin kegirangan “Nanti kita aja nai nai juga ya, pa,” pinta Yuan yang diangguki suamiku. Aku bersyukur dan sangat berterima kasih kepada Allah SWT atas hadirnya tiga malaikat di hidupku dan semua kebahagaiaan. Aku juga berterima kasih kepada mamaku semoga mama selalu diberi Kesehatan. Terima kasih telah meluangkan waktu, jangan pernah berhenti memperjuangkan apa yang ingin kamu raih. Teruslah berusaha percayalah Allah SWT tidak pernah menghianati usaha hambanya.
BIONARASI PENULIS
Mutiara Zahrotus Shita lahir di Pasurua, 17 November 2007. Ia merupakan siswi kelas XII IIS di MA Nurul Hidayah. Saat ini ia tengah mengenyam Pendidikan di pondok pesantren Al Hidayah II Nurul Hidayah, tepatnya di desa Lecari Banyak Putih, kecamatan Sukorejo, Kabupaten Pasuruan. Ia memiliki hobi menulis. Salah satu kegemarannya adalah menulis puisi. Tak hanya itu, ia pun mehair dalam menulis prosa, yakni berupa cerpen. Jika ingin mengenalnya lebih lanjut, boleh langsung mengunjungi intagramnya di winter_7to7.