
Oleh: Khamdan Asyfahaani, Mahasiswa UIN Profesor Kiai Haji Saifuddin Zuhri Purwokerto
- Pagi Indah di Pesantren
Udara pagi di Pondok Pesantren Tegalsari selalu terasa menenteramkan. Matahari pagi baru saja menyembul dari balik perbukitan, menyebarkan sinar keemasan yang hangat ke seluruh penjuru desa. Kabut tipis masih menggantung di atas sawah yang basah perlahan menguap tersapu cahaya. Di kejauhan, gemericik air dari aliran sungai kecil terdengar tenang, mengalun di antara bebatuan dan rimbun semak yang tumbuh liar di tepinya.
Embun menitik di pucuk-pucuk daun pisang, sementara kicauan burung bersahut sahutan dari dahan-dahan pohon jati dan kelapa, membentuk irama alam yang menenangkan. Udara segar bercampur aroma tanah basah dan bunga liar di belakang asrama pondok memenuhi paru-paru siapa pun yang menghirupnya. Di sepanjang jalan tanah, beberapa warga mulai terlihat—ada yang membawa cangkul di pundak, ada pula ibu-ibu yang menenteng keranjang berisi hasil kebun, saling menyapa ramah satu sama lain. Sementara itu suara para santri bergema dari serambi masjid, melantunkan wirid dan hafalan.
Adam, santri kelas akhir, duduk bersila sambil menatap layar ponselnya. Ia bukan santri yang suka bermain media sosial sembarangan, tapi pagi itu notifikasi bertubi-tubi membuat dahinya berkerut. Grup WhatsApp “Santri Tegalsari” tiba-tiba ramai oleh tautan berita mencurigakan.
“Astaghfirullah… katanya Kiai Munjilin pakai dana infak untuk kepentingan pribadi?”
“Aku baru baca, ada bukti transfernya, tuh!”
“Katanya lagi, pesantren mau diperiksa, bener gak sih?”
Adam menghela napas panjang. Nama Kiai Munjilin, guru fiqih yang lembut dan jujur itu, tiba-tiba jadi bahan gunjingan. Ia tak percaya sedikit pun, tapi rasa heran dan gelisah berkecamuk di dadanya.
Di sampingnya, Khoirun, sahabatnya yang lebih ceria tapi polos, ikut menatap layar dengan wajah tegang.
“Dam, ini kabar beneran atau nggak, ya?”
“Kalau menurut akal sehat, nggak mungkin, Run. Tapi…”
“Tapi banyak yang udah share, Dam. Masa semuanya salah?”
Adam menatap sahabatnya tajam. “Justru karena banyak yang share, kita harus hati-hati. Kebenaran gak ditentukan dari seberapa sering di-forward.”
- Benih Fitnah
Hari itu, pesantren mendadak gaduh. Para santri berbisik-bisik di setiap sudut asrama, sebagian menunjukkan tangkapan layar yang memuat tulisan panjang dari akun anonim bernama @PesantrenNewsNow. Akun itu menuduh Kiai Munjilin, pengasuh Pondok Pesantren Tegalsari menyelewengkan dana infak pembangunan asrama putri.
Adam mencoba mencari tahu siapa pemilik akun itu. Profilnya terlihat baru dibuat seminggu lalu, tapi anehnya sudah punya ratusan pengikut. Semua postingannya berisi sindiran terhadap pesantren, disertai “bukti” foto-foto yang ternyata hasil editan kasar.
Sore harinya, Adam menemui Kiai Nur Hamid, guru pembimbing yang dikenal arif dan sabar.
“Kiai,” katanya pelan, “bolehkah saya bantu klarifikasi berita tentang Kiai Munjilin? Saya takut fitnah dan hoaks ini makin meluas.”
Kiai Nur Hamid menatapnya lama, lalu tersenyum tenang. “Anak muda seperti kamu memang harus peduli, Adam. Tapi ingat, melawan fitnah tak bisa dengan fitnah baru. Melawan hoaks bukan dengan emosi, tapi dengan ilmu dan adab.”
Adam mengangguk. Nasehat itu menancap dalam hatinya. Ia bertekad membongkar kebenaran dengan cara yang benar.
- Gelombang Ombak Pesantren
Namun, badai semakin besar. Malam berikutnya, akun @PesantrenNewsNow mengunggah “bukti baru”: surat donasi dengan tanda tangan yang diduga milik Kiai Munjilin. Sekilas tampak meyakinkan, dan kabar itu pun menyebar ke masyarakat sekitar.
Beberapa warga mulai meragukan kejujuran pesantren. Bahkan beberapa wali santri menunda pemberian infak, menunggu “penjelasan resmi.”
Di dapur umum, Khoirun nyaris bertengkar dengan santri lain.
“Kalian tuh jangan nuduh seenaknya!” kata Khoirun geram.
“Loh, aku cuma baca berita, Run. Kalau salah, tanggung jawab siapa? Udah viral gitu.”
“Tapi belum tentu bener!” seru Khoirun. “Kita ini santri, masa gak ngerti tabayyun?”
Adam datang dan menenangkan mereka. Dalam hatinya, ia bangga pada Khoirun yang mulai sadar, meski sebelumnya sempat ikut menyebar kabar itu tanpa pikir panjang.
- Penyisiran Jejak Digital
Adam mulai bekerja diam-diam. Ia mempelajari setiap unggahan akun penyebar fitnah itu. Berbekal keterampilannya di bidang teknologi, ia menemukan hal mencurigakan: semua unggahan berasal dari lokasi yang sama, di sebuah desa yang jaraknya hanya satu kilometer dari pesantren.
Ia juga menemukan pola bahasa yang familiar: gaya menulis, diksi, dan kebiasaan menggunakan kata tertentu. Setelah membandingkan dengan arsip grup lama pesantren, ia menemukan kesamaan yang mencolok.
Pemilik akun itu kemungkinan besar adalah mantan santri bernama Agus, yang dikeluarkan tahun lalu karena kasus pencurian uang santri lain.
Adam tertegun. Ia ingat Agus, santri yang dulu sering merasa iri pada teman temannya dan sering berkata, “Pesantren ini gak adil!”
Namun Adam tahu, membongkar nama seseorang tanpa bukti yang sah bisa memperkeruh suasana. Ia memilih jalan bijak: mencari bukti lebih kuat, lalu melapor pada pihak pesantren.
- Kesabaran Kiai Munjilin
Sementara itu, Kiai Munjilin tetap menjalani harinya seperti biasa. Ia tetap mengajar, tetap tersenyum, seolah tak peduli pada tuduhan yang beredar. Tapi di matanya yang teduh, tersimpan duka yang dalam.
Suatu sore, Adam melihatnya duduk sendiri di serambi masjid, menatap langit jingga.
“Kiai,” sapa Adam lirih. “Maaf, saya ikut prihatin atas kabar yang beredar.”
Kiai Munjilin tersenyum tipis. “Tidak apa, Adam. Rasulullah SAW pun difitnah, tapi beliau tak membalas dengan kebencian. Justru kita diuji agar sabar dan menegakkan kebenaran tanpa mencederai adab.”
“Apakah Kiai tidak ingin membela diri?”
“Kalau kebenaran itu milik Allah, maka Dia yang akan menampakkannya pada waktunya,” jawab beliau lembut.
Adam menunduk. Kata-kata itu menyalakan tekad baru dalam dirinya. Ia ingin menjadi perpanjangan tangan kebenaran itu, dengan cara yang mulia.
- Forum “Jihad Digital Santri Tegalsari”
Beberapa hari kemudian, Adam menemui Kiai pengasuh, Kiai Munjilin, memohon izin untuk mengadakan forum terbuka.
“Tujuannya bukan membalas, Kiai,” kata Adam. “Tapi mengedukasi. Agar santri tahu cara melawan fitnah dan hoaks dengan ilmu dan bukti.”
Kiai Munjilin mengelus janggutnya dan tersenyum. “Bagus, Nak Adam. Itu jihad zaman ini — jihad melawan kebohongan.”
Maka pada malam Jumat, aula pesantren yang luas berubah menjadi forum terbuka bertajuk “Jihad Digital Santri Tegalsari.” Ratusan santri duduk bersila, sebagian warga juga hadir. Siaran langsung di YouTube pesantren pun ramai ditonton.
Adam berdiri di depan mimbar, menggenggam mikrofon dengan tangan sedikit gemetar.
“Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh,” suaranya lantang tapi bergetar.
“Saudara-saudaraku, hari ini kita tidak akan menuduh siapa pun. Kita akan belajar satu hal penting: bagaimana seorang santri menjaga lisan dan jarinya dari dosa fitnah.” Ia memaparkan data, menampilkan bukti digital di layar proyektor: • Tangkapan layar yang terbukti hasil suntingan.
- Akun penyebar hoaks yang baru dibuat.
- Pola tulisan yang identik dengan postingan lama Agus di forum internal pesantren. Suasana hening. Setiap santri menatap layar dengan wajah tegang. Adam lalu berkata tegas.
“Fitnah itu lebih kejam dari pembunuhan. Nabi mengajarkan tabayyun — memeriksa kabar sebelum percaya. Dan tugas kita, santri di era digital, bukan hanya hafal kitab, tapi juga menjaga adab di dunia maya.”
Setelah pemaparan itu, Kiai Nur Hamid menambahkan nasihat lembut: “Siapa pun kita, harus sadar bahwa setiap klik bisa jadi amal, tapi juga bisa jadi dosa. Di zaman gawai ini, jari-jari kita harus sebersih wudhu kita.”
Beberapa santri meneteskan air mata.
- Terungkapnya Kebenaran
Keesokan harinya, berita dari forum itu menyebar luas. Banyak warga menonton rekamannya dan menyadari bahwa tuduhan terhadap Kiai Munjilin hanyalah fitnah. Tak lama kemudian, Agus, mantan santri itu, datang ke pesantren. Dengan wajah pucat dan mata berkaca-kaca, ia bersimpuh di depan Kiai Munjilin. “Saya… saya yang membuat akun itu, Kiai. Saya iri… saya kecewa karena dulu dikeluarkan. Maafkan saya.”
Kiai Munjilin menghela napas panjang, lalu mengangkat tubuh Agus dengan lembut.
“Anakku, kesalahanmu besar, tapi pintu taubat lebih besar. Jangan biarkan dirimu jadi hamba kebencian.”
Tangis pecah di serambi masjid. Para santri menyaksikan bagaimana kasih dan maaf bisa mengalahkan dendam.
Kiai Munjilin memeluk Agus. “Saya sudah memaafkanmu sejak lama, Nak. Semoga ini jadi pelajaran untuk kita semua.”
- Badai Kembali Reda
Kehidupan di pesantren kembali normal. Kepercayaan masyarakat pulih. Namun peristiwa itu meninggalkan bekas mendalam bagi para santri.
Adam dan Khoirun kemudian mendirikan “Posko Literasi Digital Santri”, sebuah tim kecil yang mengajarkan etika bermedia, cara mengenali hoaks, dan pentingnya tabayyun. Mereka membuat poster, video edukatif, dan mengadakan pelatihan daring bagi masyarakat.
Di salah satu video mereka, Adam berkata:
“Santri tidak hanya bisa mengaji, tapi juga wajib menjaga akhlak digital. Sebab hari ini, fitnah tak lagi datang lewat bisikan, tapi lewat jempol.”
Program itu disambut baik. Banyak pesantren lain meniru gerakan mereka. Suatu sore, Kiai Nur Hamid memanggil Adam dan Khoirun ke ruangannya. “Kalian berdua sudah menunjukkan makna jihad zaman modern. Tidak dengan senjata, tapi dengan pena, data, dan akhlak.”
Adam tersenyum malu. “Kami hanya belajar dari Kiai, dari pesantren ini.” Kiai Nur Hamid menepuk bahu mereka. “Ingat, menjaga kebenaran bukan sekadar tugas santri, tapi bagian dari ibadah.”
- Sinar Cahaya di Ujung Fitnah
Sore itu, langit Tegalsari kembali jingga. Adam duduk di tangga masjid, memandangi matahari yang perlahan turun di ufuk barat. Khoirun datang membawa dua gelas teh hangat.
“Kamu sadar, Dam,” kata Khoirun, “semua ini gara-gara satu kabar palsu, tapi efeknya besar banget. Aku dulu hampir percaya.”
Adam menatapnya lembut. “Justru karena itu, kita harus jadi pembawa kabar baik. Santri itu bukan cuma pencerah di masjid, tapi juga di dunia maya.” Mereka terdiam sejenak, lalu tertawa kecil. Sinar matahari sore menembus celah celah dedaunan yang mulai menguning, memantulkan cahaya keemasan di permukaan tanah yang masih basah oleh sisa hujan semalam. Pondok Tegalsari yang kemarin diselimuti kecemasan kini kembali bernapas lega. Suara tawa santri terdengar lagi di pesaantren, berlari-lari kecil di antara pagar bambu dan rerumputan yang tumbuh liar. Adam menatap langit yang memerah dan berbisik.
“Kebenaran akhirnya selalu menang. Tapi ia butuh orang yang sabar menjaganya.”
Dan sore itu, sinar cahaya jingga yang jatuh di kubah masjid pesantren seolah menjadi saksi: bahwa para santri Tegalsari telah menyalakan lentera baru — lentera kebenaran di tengah gelapnya fitnah digital.