Jihad Digital Santri Tegalsari 

0

Oleh: Khamdan Asyfahaani, Mahasiswa UIN Profesor Kiai Haji Saifuddin Zuhri Purwokerto

  1. Pagi Indah di Pesantren 

Udara pagi di Pondok Pesantren Tegalsari selalu terasa menenteramkan. Matahari  pagi baru saja menyembul dari balik perbukitan, menyebarkan sinar keemasan yang  hangat ke seluruh penjuru desa. Kabut tipis masih menggantung di atas sawah yang basah  perlahan menguap tersapu cahaya. Di kejauhan, gemericik air dari aliran sungai kecil  terdengar tenang, mengalun di antara bebatuan dan rimbun semak yang tumbuh liar di  tepinya. 

Embun menitik di pucuk-pucuk daun pisang, sementara kicauan burung bersahut sahutan dari dahan-dahan pohon jati dan kelapa, membentuk irama alam yang  menenangkan. Udara segar bercampur aroma tanah basah dan bunga liar di belakang  asrama pondok memenuhi paru-paru siapa pun yang menghirupnya. Di sepanjang jalan  tanah, beberapa warga mulai terlihat—ada yang membawa cangkul di pundak, ada pula  ibu-ibu yang menenteng keranjang berisi hasil kebun, saling menyapa ramah satu sama  lain. Sementara itu suara para santri bergema dari serambi masjid, melantunkan wirid dan  hafalan. 

Adam, santri kelas akhir, duduk bersila sambil menatap layar ponselnya. Ia bukan  santri yang suka bermain media sosial sembarangan, tapi pagi itu notifikasi bertubi-tubi  membuat dahinya berkerut. Grup WhatsApp “Santri Tegalsari” tiba-tiba ramai oleh tautan  berita mencurigakan. 

Astaghfirullah… katanya Kiai Munjilin pakai dana infak untuk kepentingan  pribadi?” 

“Aku baru baca, ada bukti transfernya, tuh!” 

“Katanya lagi, pesantren mau diperiksa, bener gak sih?” 

Adam menghela napas panjang. Nama Kiai Munjilin, guru fiqih yang lembut dan  jujur itu, tiba-tiba jadi bahan gunjingan. Ia tak percaya sedikit pun, tapi rasa heran dan  gelisah berkecamuk di dadanya. 

Di sampingnya, Khoirun, sahabatnya yang lebih ceria tapi polos, ikut menatap  layar dengan wajah tegang. 

“Dam, ini kabar beneran atau nggak, ya?”

“Kalau menurut akal sehat, nggak mungkin, Run. Tapi…” 

“Tapi banyak yang udah share, Dam. Masa semuanya salah?” 

Adam menatap sahabatnya tajam. “Justru karena banyak yang share, kita harus  hati-hati. Kebenaran gak ditentukan dari seberapa sering di-forward.” 

  1. Benih Fitnah 

Hari itu, pesantren mendadak gaduh. Para santri berbisik-bisik di setiap sudut  asrama, sebagian menunjukkan tangkapan layar yang memuat tulisan panjang dari akun  anonim bernama @PesantrenNewsNow. Akun itu menuduh Kiai Munjilin, pengasuh  Pondok Pesantren Tegalsari menyelewengkan dana infak pembangunan asrama putri. 

Adam mencoba mencari tahu siapa pemilik akun itu. Profilnya terlihat baru dibuat  seminggu lalu, tapi anehnya sudah punya ratusan pengikut. Semua postingannya berisi  sindiran terhadap pesantren, disertai “bukti” foto-foto yang ternyata hasil editan kasar. 

Sore harinya, Adam menemui Kiai Nur Hamid, guru pembimbing yang dikenal  arif dan sabar. 

“Kiai,” katanya pelan, “bolehkah saya bantu klarifikasi berita tentang Kiai Munjilin? Saya takut fitnah dan hoaks ini makin meluas.” 

Kiai Nur Hamid menatapnya lama, lalu tersenyum tenang. “Anak muda seperti  kamu memang harus peduli, Adam. Tapi ingat, melawan fitnah tak bisa dengan fitnah  baru. Melawan hoaks bukan dengan emosi, tapi dengan ilmu dan adab.” 

Adam mengangguk. Nasehat itu menancap dalam hatinya. Ia bertekad  membongkar kebenaran dengan cara yang benar. 

  1. Gelombang Ombak Pesantren 

Namun, badai semakin besar. Malam berikutnya, akun @PesantrenNewsNow mengunggah “bukti baru”: surat donasi dengan tanda tangan yang diduga milik Kiai Munjilin. Sekilas tampak meyakinkan, dan kabar itu pun menyebar ke masyarakat sekitar. 

Beberapa warga mulai meragukan kejujuran pesantren. Bahkan beberapa wali  santri menunda pemberian infak, menunggu “penjelasan resmi.” 

Di dapur umum, Khoirun nyaris bertengkar dengan santri lain. 

“Kalian tuh jangan nuduh seenaknya!” kata Khoirun geram.

“Loh, aku cuma baca berita, Run. Kalau salah, tanggung jawab siapa? Udah viral  gitu.” 

“Tapi belum tentu bener!” seru Khoirun. “Kita ini santri, masa gak ngerti  tabayyun?” 

Adam datang dan menenangkan mereka. Dalam hatinya, ia bangga pada Khoirun yang mulai sadar, meski sebelumnya sempat ikut menyebar kabar itu tanpa pikir panjang. 

  1. Penyisiran Jejak Digital 

Adam mulai bekerja diam-diam. Ia mempelajari setiap unggahan akun penyebar  fitnah itu. Berbekal keterampilannya di bidang teknologi, ia menemukan hal  mencurigakan: semua unggahan berasal dari lokasi yang sama, di sebuah desa yang  jaraknya hanya satu kilometer dari pesantren. 

Ia juga menemukan pola bahasa yang familiar: gaya menulis, diksi, dan kebiasaan  menggunakan kata tertentu. Setelah membandingkan dengan arsip grup lama pesantren,  ia menemukan kesamaan yang mencolok. 

Pemilik akun itu kemungkinan besar adalah mantan santri bernama Agus, yang  dikeluarkan tahun lalu karena kasus pencurian uang santri lain. 

Adam tertegun. Ia ingat Agus, santri yang dulu sering merasa iri pada teman temannya dan sering berkata, “Pesantren ini gak adil!” 

Namun Adam tahu, membongkar nama seseorang tanpa bukti yang sah bisa  memperkeruh suasana. Ia memilih jalan bijak: mencari bukti lebih kuat, lalu melapor pada  pihak pesantren. 

  1. Kesabaran Kiai Munjilin 

Sementara itu, Kiai Munjilin tetap menjalani harinya seperti biasa. Ia tetap  mengajar, tetap tersenyum, seolah tak peduli pada tuduhan yang beredar. Tapi di matanya  yang teduh, tersimpan duka yang dalam. 

Suatu sore, Adam melihatnya duduk sendiri di serambi masjid, menatap langit  jingga. 

“Kiai,” sapa Adam lirih. “Maaf, saya ikut prihatin atas kabar yang beredar.”

Kiai Munjilin tersenyum tipis. “Tidak apa, Adam. Rasulullah SAW pun difitnah,  tapi beliau tak membalas dengan kebencian. Justru kita diuji agar sabar dan menegakkan  kebenaran tanpa mencederai adab.” 

“Apakah Kiai tidak ingin membela diri?” 

“Kalau kebenaran itu milik Allah, maka Dia yang akan menampakkannya pada  waktunya,” jawab beliau lembut. 

Adam menunduk. Kata-kata itu menyalakan tekad baru dalam dirinya. Ia ingin  menjadi perpanjangan tangan kebenaran itu, dengan cara yang mulia. 

  1. Forum “Jihad Digital Santri Tegalsari” 

Beberapa hari kemudian, Adam menemui Kiai pengasuh, Kiai Munjilin,  memohon izin untuk mengadakan forum terbuka. 

“Tujuannya bukan membalas, Kiai,” kata Adam. “Tapi mengedukasi. Agar santri  tahu cara melawan fitnah dan hoaks dengan ilmu dan bukti.” 

Kiai Munjilin mengelus janggutnya dan tersenyum. “Bagus, Nak Adam. Itu jihad  zaman ini — jihad melawan kebohongan.” 

Maka pada malam Jumat, aula pesantren yang luas berubah menjadi forum  terbuka bertajuk “Jihad Digital Santri Tegalsari.” Ratusan santri duduk bersila, sebagian  warga juga hadir. Siaran langsung di YouTube pesantren pun ramai ditonton. 

Adam berdiri di depan mimbar, menggenggam mikrofon dengan tangan sedikit  gemetar. 

“Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh,” suaranya lantang tapi  bergetar. 

“Saudara-saudaraku, hari ini kita tidak akan menuduh siapa pun. Kita akan belajar  satu hal penting: bagaimana seorang santri menjaga lisan dan jarinya dari dosa fitnah.” Ia memaparkan data, menampilkan bukti digital di layar proyektor: Tangkapan layar yang terbukti hasil suntingan. 

  • Akun penyebar hoaks yang baru dibuat. 
  • Pola tulisan yang identik dengan postingan lama Agus di forum internal pesantren. Suasana hening. Setiap santri menatap layar dengan wajah tegang. Adam lalu  berkata tegas.

“Fitnah itu lebih kejam dari pembunuhan. Nabi mengajarkan tabayyun — memeriksa kabar sebelum percaya. Dan tugas kita, santri di era digital, bukan hanya hafal  kitab, tapi juga menjaga adab di dunia maya.” 

Setelah pemaparan itu, Kiai Nur Hamid menambahkan nasihat lembut: “Siapa pun kita, harus sadar bahwa setiap klik bisa jadi amal, tapi juga bisa jadi  dosa. Di zaman gawai ini, jari-jari kita harus sebersih wudhu kita.” 

Beberapa santri meneteskan air mata. 

  1. Terungkapnya Kebenaran 

Keesokan harinya, berita dari forum itu menyebar luas. Banyak warga menonton  rekamannya dan menyadari bahwa tuduhan terhadap Kiai Munjilin hanyalah fitnah. Tak lama kemudian, Agus, mantan santri itu, datang ke pesantren. Dengan wajah  pucat dan mata berkaca-kaca, ia bersimpuh di depan Kiai Munjilin. “Saya… saya yang membuat akun itu, Kiai. Saya iri… saya kecewa karena dulu  dikeluarkan. Maafkan saya.” 

Kiai Munjilin menghela napas panjang, lalu mengangkat tubuh Agus dengan  lembut. 

“Anakku, kesalahanmu besar, tapi pintu taubat lebih besar. Jangan biarkan dirimu  jadi hamba kebencian.” 

Tangis pecah di serambi masjid. Para santri menyaksikan bagaimana kasih dan  maaf bisa mengalahkan dendam. 

Kiai Munjilin memeluk Agus. “Saya sudah memaafkanmu sejak lama, Nak.  Semoga ini jadi pelajaran untuk kita semua.” 

  1. Badai Kembali Reda 

Kehidupan di pesantren kembali normal. Kepercayaan masyarakat pulih. Namun  peristiwa itu meninggalkan bekas mendalam bagi para santri. 

Adam dan Khoirun kemudian mendirikan “Posko Literasi Digital Santri”, sebuah  tim kecil yang mengajarkan etika bermedia, cara mengenali hoaks, dan pentingnya  tabayyun. Mereka membuat poster, video edukatif, dan mengadakan pelatihan daring bagi  masyarakat. 

Di salah satu video mereka, Adam berkata:

“Santri tidak hanya bisa mengaji, tapi juga wajib menjaga akhlak digital. Sebab  hari ini, fitnah tak lagi datang lewat bisikan, tapi lewat jempol.” 

Program itu disambut baik. Banyak pesantren lain meniru gerakan mereka. Suatu sore, Kiai Nur Hamid memanggil Adam dan Khoirun ke ruangannya. “Kalian berdua sudah menunjukkan makna jihad zaman modern. Tidak dengan senjata,  tapi dengan pena, data, dan akhlak.” 

Adam tersenyum malu. “Kami hanya belajar dari Kiai, dari pesantren ini.” Kiai Nur Hamid menepuk bahu mereka. “Ingat, menjaga kebenaran bukan sekadar  tugas santri, tapi bagian dari ibadah.” 

  1. Sinar Cahaya di Ujung Fitnah 

Sore itu, langit Tegalsari kembali jingga. Adam duduk di tangga masjid,  memandangi matahari yang perlahan turun di ufuk barat. Khoirun datang membawa dua  gelas teh hangat. 

“Kamu sadar, Dam,” kata Khoirun, “semua ini gara-gara satu kabar palsu, tapi  efeknya besar banget. Aku dulu hampir percaya.” 

Adam menatapnya lembut. “Justru karena itu, kita harus jadi pembawa kabar baik.  Santri itu bukan cuma pencerah di masjid, tapi juga di dunia maya.” Mereka terdiam sejenak, lalu tertawa kecil. Sinar matahari sore menembus celah celah dedaunan yang mulai menguning, memantulkan cahaya keemasan di permukaan  tanah yang masih basah oleh sisa hujan semalam. Pondok Tegalsari yang kemarin diselimuti kecemasan kini kembali bernapas lega. Suara tawa santri terdengar lagi di  pesaantren, berlari-lari kecil di antara pagar bambu dan rerumputan yang tumbuh liar. Adam menatap langit yang memerah dan berbisik. 

“Kebenaran akhirnya selalu menang. Tapi ia butuh orang yang sabar  menjaganya.” 

Dan sore itu, sinar cahaya jingga yang jatuh di kubah masjid pesantren seolah  menjadi saksi: bahwa para santri Tegalsari telah menyalakan lentera baru — lentera  kebenaran di tengah gelapnya fitnah digital.

Leave A Reply

Your email address will not be published.