ANTARA AMANAH KIAI DAN NYAWA AYAH 

0

Oleh: Hidayatul Amanah, PP ADDABA, Kebumen

“Kamu lebih memilih Ayahmu mati?” tanya Malik dengan tatapan tak percaya. 

“Nggak … aku hanya … nggak bisa melepas amanah kiai,” jawab Fikri. Dia mengembuskan napas berat. 

“Amanah yang mana Fikri? Kamu nggak lihat?” Malik menunjuk ruang tamu Fikri yang kini lengang. Hanya menyisakan meja-meja panjang kosong dan beberapa Al-Qur’an yang tertumpuk di sana. 

Fikri memutar lehernya, melihat apa yang ditunjuk Malik. Dilihatnya ruang tamunya yang dulu penuh akan anak-anak berlarian, kini hanya menyisakan debu yang beterbangan. Tidak ada apa pun di sana selain kehampaan. 

“Tunggu apa, Fik? Ayo ikut ke kota! Ayahmu butuh obat. Dan obat butuh uang,” ajak Malik. 

Fikri diam. Dia tahu Malik benar. Hanya saja dia itu santri. Dan selayaknya santri itu, patuh pada kiainya. Sebelum Fikri diizinkan untuk pulang, sang kiai berpesan untuk mengajar di rumah. Tidak peduli seberapa pun muridnya, ilmu harus ditularkan. 

Fikri tahu itu sulit. Zaman telah berubah. Ketika dia pulang dan menawarkan untuk mengajari anak-anak, satu per satu orang tua menyambutnya dengan senang. Mereka mengantarkan anak-anaknya ke rumah Fikri. 

Pengajian dimulai sehabis salat magrib. Fikri yang baru pulang sehabis mengambil sisa snack yang dia titipkan ke toko-toko, akan segera mandi. Anak-anak yang sudah datang, kadang berebut salam. Sebuah kebahagian kecil di sore hari. 

Tidak ada musik. Tidak ada juga ponsel pintar yang dibawa. Anak-anak akan berkejaran sambil menunggu Fikri mandi dan bersiap mengimami salat magrib. Fikri pun dengan senang mendengarkan canda tawa mereka sebagai lagu alami penenang hati. Bahkan ayahnya yang sakit-sakitan sama sekali tak keberatan. 

“Rumah menjadi hidup setelah kamu pulang, anakku,” katanya saat Fikri menyuapinya. Saat itu Fikri terharu mendengarnya. Semangatnya makin menjadi-jadi. Dia pun juga menyediakan snack agar anak-anak bisa jajan sambil mengaji sampai isya datang.

Rumah Fikri menjadi musala dadakan karena kebetulan masjid hanya ada satu di kampung dan itu jauh dari rumahnya. Fikri kian senang. Dia yakin amanah kiainya benar. Al-Qur’an diturunkan oleh Allah dan Dia-lah yang akan menjaganya. Oleh karena itu, Fikri yakin. Jika dirinya mengajar Al-Qur’an, maka dia dan ayahnya akan dijaga oleh Allah. Jajanan yang Fikri sediakan selalu habis dengan penghasilan yang lumayan. Uang itu dapat Fikri gunakan untuk merawat ayahnya yang makin rapuh. Namun semuanya berubah saat seorang anak membawa ponsel pintar dan bermain di pojok ruangan. 

Riuh tawa anak-anak mulai tak terdengar. Mereka juga tak lagi menyambut Fikri yang baru pulang dari sawah. Anak-anak fokus melihat tangan teman mereka yang memijat-mijat ponselnya. Terdengar suara-suara seperti sabetan pedang dari sana. Awalnya Fikri membiarkannya dan menganggap sebagai hiburan lain. Nahasnya anggapan dia salah besar. 

Satu per satu anak mulai punya ponsel pintar. Mereka tak lagi berlarian, berkejaran di halaman. Mereka lebih asyik dengan kesendirian masing-masing. Tak ada lagi teriakan atau canda tawa yang terdengar. Dan yang lebih membuat Fikri kecewa adalah anak-anak lebih susah untuk diperintah. Mereka bisa menjawab dan lebih memilih mengakhirkan salat berjemaah. 

“Tanggung, Pak!” kata seorang anak pada waktu itu. 

Fikri duduk di samping anak itu. “Sholat nggak bisa nanti-nanti, Nak!” kata Fikri menasehati. 

Namun anak itu tetap tak berkutik. Jemarinya masih sibuk mengotak-atik ponsel pintarnya. Fikri pun tak ada pilihan selain menyitanya. Anak itu pun menangis dan berakhir pulang. 

Fikri kira masalahnya selesai sampai di situ. Ternyata orang tua dari si anak datang marah-marah. Anak itu bilang ponselnya direbut Fikri dan tidak akan dikembalikan. Padahal Fikri hanya ingin salat magrib berjemaah segera dimulai. Fikri pun meminta maaf dan mengembalikan ponsel si anak. Tapi setelah itu, anak itu pun tak pernah berangkat mengaji kembali. 

*** 

Malik menepuk pundak temannya. “Menunggu siapa lagi, Fik? Masih sisa berapa anak didikmu?”

Mendengar apa yang dikatakan Malik, Fikri hanya bisa tersenyum getir. Jumlah Al-Qur’an di meja adalah jawaban dari pertanyaan Malik. Dan sudah jelas yang bertanya tahu jawabannya. Jumlah Al-Qur’an yang ditumpuk itu bahkan tak genap hitungan jari tangan. 

“Setidaknya masih ada yang mengaji,” kata Fikri berusaha menguatkan diri. “Sampai kapan?” 

Fikri diam. Dia juga tak tahu sampai kapan sisa muridnya akan bertahan. Dia juga tak tahu sampai kapan obat-obat ayahnya akan tetap ada. Semakin sedikit anak yang mengaji, semakin sedikit juga yang membeli snack kecil dari dirinya. Bahkan tadi malam, tidak ada yang datang sama sekali. 

Kasus satu anak bermain ponsel pintar itu berkembang dengan cara yang berbeda. Anak-anak tak mau lagi mengaji dengan alasan mendapat banyak PR, sedang orang tua mereka tak mampu mendampingi. Maka mereka pun mendatangkan guru les di sore hari dan malamnya dibiarkan istirahat. Tidak ada lagi orang tua yang mewajibkan anaknya mengaji. 

“Di kota, kamu bisa tinggal di kontrakanku, Fik. Ayahmu juga bisa mendapat perawatan lebih baik. Dekat dengan rumah sakit. Kamu bisa bekerja dengan upah yang layak.” Malik tak berhenti bicara. Dia prihatin dengan teman sejak kecilnya ini. 

“Jika aku pergi, anak-anak siapa yang ngajar?” tolak Fikri. 

“Kalau kamu tidak pergi dan ayahmu sakit? Siapa yang akan membayar perawatannya? Orang tua muridmu itu? Mereka bahkan mengolok-ngolokmu ketika kamu menyuruh anak mereka berhenti bermain hp!” 

Fikri diam. Dia paham tentang semua yang dikatakan Malik adalah benar. Namun janjinya pada romo kiai di pondok tak dapat dia hiraukan. 

Melihat Fikri yang terusan diam, membuat Malik jengkel sendiri. Malik merasa dirinya seperti pengemis yang meminta-minta untuk dikasihani. Padahal bukan dia yang butuh. “Terserahlah kau, Fik. Kamu tahu di mana aku berada!” pungkasnya kemudian. Malik pun mengucapkan salam lantas pergi, meninggalkan Fikri dengan segala pikirannya. 

Beberapa saat setelah Malik pulang, Fikri pun masuk rumah. Dimatikannya lampu teras dan dilihatnya sang ayah yang sudah terbujur di kasur.

“Maaf belum bisa jadi anak yang membanggakan, Yah …,” lirih Fikri. 

Belum sempat Fikri menutup pintu dengan rapat, suara batuk ayahnya, menahannya. Fikri pun segera mengambil air putih hangat dan memberikannya ke ayahnya. 

Ayah Fikri bangun dengan dibantu oleh Fikri. Dia pun perlahan meminum air hangat yang disediakan putranya lantas merebahkan diri lagi. Samar, tapi dapat dia lihat kalau anak semata wayangnya ini tengah dilanda kekalutan. 

“Jangan bimbang, Fik … jangan bimbang!” ujar Ayahnya. 

Fikri tersenyum. Dia mengangguk lantas mencium tangan ayahnya. Ayahnya membelai kepala putranya dan tersenyum balik. 

“Doakan Fikri, ya, Yah!” ujar Fikri lalu pergi dan menutup pintu. 

*** 

Pagi menjelang dan Fikri sudah duduk di dalem. Dia bersimpuh di bawah, alih-alih duduk di atas mebel. Fikri tengah menunggu, menunggu kiai. Dia sadar bahwa dirinya tengah dilanda kebimbangan. Tawaran Malik beberapa waktu lalu menghantamnya bagai badai. Sebagian hatinya ingin pergi agar kebutuhan finansialnya terpenuhi, tapi sebagian hatinya menolak. Masih ada murid yang mengaji padanya, meski itu hanya satu orang. 

“Bagaimana kabar, Fikri?” tanya sang kiai setelah menjawab salam yang Fikri lontarkan tadi. 

Fikri berjalan dengan lututnya. Dia mendekat lalu menyalami dan mengecup tangan kiainya itu. Fikri lantas mundur beberapa keramik. 

“Alhamdulillah, Romo,” jawab Fikri singkat. 

“Alhamdulillah …. Hanya saja, saya lihat wajahmu sedang murung,” ungkap romo kiai. 

Fikri tertegun. Seperti inilah romo kiainya. Tanpa Fikri utarakan, permasalahannya seperti telah diketahui. Fikri pernah dengar bahwa santri selalu dijaga oleh doa kiainya. Dan sepertinya itu benar. 

“Anak-anak sudah tidak ada yang mengaji lagi, Romo. Maaf. Saya tidak bisa menjaga amanah jenengan!” ujar Fikri berterus terang.

Romo kiai mengembuskan napas. Dia berdiri. “Sebentar!” titahnya kemudian. Dia pun mundur, masuk ke dalem. 

Fikri mengangguk. Pandangannya masih terjatuh pada keramik kuning dalem. Sesekali dia melirik, menyapu pandang ruang tamu gurunya itu. Ruang tamu ini tetap sama sejak Fikri berpamitan pulang. Kursi tamu tua, lampu antik, dan dinding yang sudah mau berganti warna. Romo kiai masih sama seperti dulu, tetap sederhana meski santrinya terbilang ratusan. 

Tak berapa lama, romo kiai keluar. Di tangannya terdapat bungkusan air doa. “Ayahmu masih sakit?” 

“Masih Romo,” jawab Fikri. 

“Berikan air doa ini. Insya Allah dengan izin Allah akan segera sembuh.” “Nggih, Romo!” 

Hening sejenak. Fikri tak tahu apa yang akan dia katakan lagi. 

“Sekali santri akan tetap jadi santri, Fik.” 

Fikri mendongakkan kepalanya. Kata-kata kiainya sungguh menyentuh jiwa Fikri yang tengah bimbang. 

“Kemana pun kamu melangkah, restu dan doaku akan menyertaimu. Pesanku masih tetap sama. Mengajarlah di mana pun kamu berada,” lanjut sang kiai. 

Fikri langsung tertunduk. Jiwanya yang teramat bimbang kini kembali tenang. Rasa resah di sana, terasa terhempas. Fikri pun kembali mendekat dan menyalami kiainya. Dia pamit. 

“Buat obat Ayahmu!” ujar sang kiai sambil menyelipkan amplop di saku baju Fikri. “Masya Allah … Romo. Ndak usah,” tolak Fikri halus. 

“Ini rezekimu yang Allah datangkan lewat diriku, Fik. Terimalah!” 

Air mata Fikri menetes. Dia kembali mengecup tangan kiainya. Kini hatinya benar-benar kembali kokoh. Dia tahu bahwa kapan pun dia kehilangan arah, akan ada kiai yang menuntunnya.

*** 

Setelah sowan dan kembali merenung panjang, Fikri akhirnya membuat keputusan sulit. Demi kesembuhan ayahnya, ia menerima tawaran Malik. Ia memutuskan untuk berpindah ke kota. 

Di sana, Fikri tidak pernah lupa mengamalkan ajaran kiainya. Dia juga mencari-cari kesempatan bagaimana membuat dirinya menjadi guru agar bisa menyebarkan ilmu yang dia dapat dari pesantren. Dia tak mungkin mengecewakan kiainya lagi. Dia juga tak mau menyimpan kebaikan untuk dirinya sendiri. 

“Khotibnya tidak datang. Dia kecelakaan,” sebuah bisikan takmir masjid terdengar agak riuh. 

“Khotib yang lain?” 

“Tidak ada yang hadir.” 

Fikri yang tengah membaca Al-Qur’an pun memberanikan diri bertanya. Dia sadar kalau ini kesempatannya untuk membuktikan diri 

“Maaf, Pak! Apa boleh saya yang menjadi khotibnya?” tanya Fikri sopan. 

Sontak kedua takmir yang tengah berdiskusi itu menatap Fikri heran. Mata mereka memandang penampilan Fikri dari bawah sampai ke atas. Fikri yang masih memakai seragam pekerja kasar pun dinilai sebelah mata. 

“Emang bisa?” tanya salah seorang, meremehkan. 

Sakit, memang. Tapi Fikri mencoba untuk tetap tersenyum. “Insya Allah, Pak. Saya santri,” jawab Fikri. 

Kedua takmir masjid itu terdiam. Mereka menyapu pandang, melihat jemaah yang tak lagi khusuk di masjid. Beberapa ada yang sibuk melihat jam tangan. Beberapa lagi ada yang sibuk melihat ke arah takmir. Dan beberapa lagi, sibuk menenangkan anak mereka yang makin sulit ditenangkan. 

Sadar karena tak punya lagi pilihan, salah satu dari mereka pun akhirnya mengiyakan permintaan Fikri. 

“Tapi bajunya?” sanggah seorang yang lain.

“Sudah tidak ada waktu!” 

Adzan pun segera dikumandangkan dan Fikri bersiap di depan mimbar. Lalu saat dia naik ke mimbar, semua orang pun heran. Bos Fikri yang biasanya sibuk menguap ketika khotbah berlangsung, langsung fokus menatap Fikri. Dia heran sekaligus kagum ada pekerjanya yang menjadi khotib mendadak. 

Setelah kejadian itu, Fikri langsung dipanggil atasan. Awalnya Fikri merasa gugup. Dia bertanya-tanya apakah dinilai keterlaluan dan memperburuk citra perusahaan. Fikri bahkan hampir tak berani membuka pintu ruangan bosnya. Tangannya mengeluarkan keringat, begitu juga dengan dahinya. Jantungnya berdegup tidak keruan dan berulang kali Fikri menelan ludah. 

Namun semua itu hanyalah imajinasinya semata. Bos Fikri tersenyum kala Fikri masuk. Dia menyuruh Fikri duduk. Rasa gugup Fikri pun berangsur memudar. 

“Langsung saja. Saya terkesan dengan keberanianmu menggantikan khotib di masjid tadi.” 

“Terima kasih, Pak.” Hanya itu yang bisa Fikri katakan. Dia masih bingung dengan apa yang terjadi. 

“Apa yang kamu sampaikan benar-benar menggugah. Kamu tidak membosankan kayak khotib-khotib tua itu,” lanjut si bos. 

“Saya hanya santri, Pak,” ujar Fikri. 

“Itu yang saya suka dari kamu. Daripada kerja kasar di pabrik, kamu mau mengurus yayasan saya?” 

Fikri langsung terperanjat. “Maksud, Bapak?” 

“Saya punya yayasan. Tapi selama ini selalu mengundang kiai dari luar untuk mengisi tausiyah. Menurut saya mereka kurang bagus. Jadi apa kamu mau?” 

“Mau, Pak. Tapi maaf saya punya Ayah yang sudah tua. Jadi kalau ….” Jawaban Fikri menggantung. 

“Justru kamu bisa bawa Ayahmu ke rumah yang saya sediakan di sana. Kamu jadi bisa mengurusinya sepanjang waktu, kan?”

Mata Fikri seketika berkaca-kaca. Hari ini, apa yang disampaikan kiainya benar, Allah yang menurunkan Al-Qur’an dan Allah juga yang akan menjaganya. Maka barang siapa yang terus mengajar Al-Qur’an beserta isinya, akan dijaga oleh Allah. Kini Fikri tak perlu lagi khawatir akan ayahnya dan dia juga bisa menyebarkan ilmunya, seperti amanah kiainya.

Leave A Reply

Your email address will not be published.