AMAR, SANG BINTANG JUARA

0

Oleh: HASAN ABDILLAH, SMAQT YANBUUL QURAN 1 PATI

“Walhamdulillahi rabbil alamiin. Al fatihah” doa tahlil selesai dipanjatkan, untuk seorang sahabat yang tak akan pernah terlupakan, kepada sahabat yang tak akan pernah hilang dalam kenangan, juga seorang teman yang selalu bersinar layaknya bintang.

Namanya Amar, seorang imam Syafii sekaligus Isaac Newton muda. Prestasinya selalu menyangkut di mana-mana, mulai dari khatam Alquran saat umur 8 tahun, khatam Alfiyah saat umur 12 tahun, dan hafal sekitar 400an hadis. Ia juga pernah memenangkan lomba kaligrafi tingkat nasional, baca kitab seprovinsi, OSN, hingga lomba-lomba International. Bahkan, dirinya juga sempat dipilih sebagai peserta Bahtsul Masail berkali-kali.

Lomba terakhirnya adalah seleksi menuju ke China dalam lomba International Science and Technology (ISTO) seprovinsi 3 hari lalu. Namun, hari ini beliau sedang berbaring di depan kami semua dengan kain putih. Seluruh penghuni ponpes kini tengah menangis, kehilangan sang bintang juara. Di saat sedang perjalanan menuju ke tempat seleksi, 2 mobil tidak sengaja bertabrakan keras dengan truk kontainer. Salah satu korbannya adalah amar, terakhir dilihat ia sedang mendaras Alqurannya.

Setiap harinya, ia selalu membawa bolpoin dan buku saku di dalam saku bajunya. Setiap ia mendapat ilmu/ide, ia tulis dan ia simpan baik-baik di buku sakunya.

Setiap malam, sebelum tidur, ia selalu sempatkan untuk menulis rangkuman pelajaran juga catatan harian di salah satu bukunya.

Di dalam salah satu catatannya yang berisi tentang ‘Evaluasi harian’ ia menulis bahwa…

“Dalam memahami sesuatu, kita perlu pendekatan terhadap sesuatu tersebut. Seperti halnya memahami hewan, kita perlu konsisten dalam memberi makan di jam-jam tertentu. Namun dalam kasus pendidikan ini, pendekatan yang harus kita lakukan adalah pendekatan hati.

Sebodoh-bodohnya kita dalam suatu pelajaran, apabila kita cinta terhadap pelajaran/guru yang mengajar, pasti akan paham juga. Begitu pula sebaliknya”

(22/06/16)

Suatu waktu, jika ia ingin pergi ke kamar mandi, ia akan menitipkan barang berharganya kepadaku.

“Di, Abdi. Aku mau ke kamar mandi, titip barang ya” “Siap pak kyai” candaku dengan cita-citanya kala itu.

Tetapi, kali ini ia benar-benar berhenti mengejar cita-citanya.

 

Dahulu saat kami pertama kali berkenalan di halaqoh. Ia dengan bangga menyebutkan cita- citanya tanpa diminta.

“Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. Perkenalkan, nama saya Amar makruf, biasa dipanggil Amar, berasal dari pekalongan, dan bercita-cita sebagai GURU” ucapnya dulu sambil menekankan kata guru.

Seluruh teman-teman menertawakan, Aku, sebagai yang paling dekat dengannya, tidak ikut tertawa karena merasa aneh. Bukankah cita-cita itu gratis?, lalu mengapa hanya memilih yang biasa-biasa saja?, bukankah guru adalah cita-cita yang mulia?,

Setelah semuanya tertawa, ia menjelaskan.

 

“Alasan saya ingin menjadi guru adalah…” ia membuka buku dan melanjutkan, “Mengacu pada hadis nabi bahwa ‘ sebaik-baik dari kalian ialah yang mempelajari Alquran dan mengajarkannya’”.

 

Semuanya terdiam, aku pun tercengang. ‘bocah ini.. bukan sembarang bocah biasa’ ucapku dalam hati.

 

Dugaanku benar, ketika kelas 3 MTS, ia diminta oleh seorang guru dalam mengajar kitab tafsir Jalalain di kelas 1. dan dampaknya tidak main-main, meski hanya menjelaskan 1 surat pendek, yaitu An-nas, seluruh kelas takjub dan kagum dengan penjelasannya.

Begitu pula saat ngaji posonan, ia pernah diminta kurang lebih 4 kali untuk mbadali ngaji kitab Bulughul Marom di kelas 1 MTS.

Suatu ketika, dalam acara penutupan ngaji posonan, ia didawuhi oleh pak kyai Yusuf untuk menjawab pertanyaan darinya.

“Coba maknani kalimat ini”, Amar bersiap, memegangi mik sambil berdebar kencang. “Tapi nganggo jawa pegon. Setuju?” lanjut pak kyai Yusuf.

“SETUJU!!” jawab serempak seluruh santri.

“The live is beutiful, and the love is wonderful. But the giving is powerful”.

 

Seluruh santri riuh berbisik-bisik, memikirkan jawaban yang benar dari kalimat tersebut.

 

“The live utawi kahuripan, is beutiful iku endah. The love utawi tresno is wonderful iku

nakjubake. But the giving, lamun utawi peparingan, is powerful iku syadidul quwwah” jawab Amar dengan penuh keyakinan.

Kyai Yusuf tersenyum bangga, lalu bercanda bahwa kelak Amar akan menjadi menantunya. Seluruh ruangan bersorak, merayakan candaan pak kyai Yusuf kala itu.

Masa-masamu sungguh indah, seperti taman bunga yang sekarang berada di surgamu sana. Kini, sang bintang juara kehilangan cahayanya. Ia berhenti bersinar, bertransformasi menjadi redup total. Namun, ketika sebuah bintang telah padam, ia akan berubah menjadi katai putih, sebuah bola planet yang sangat menawan, putih permatanya tak ada yang bisa menandinginnya.

“Acara selanjutya yaitu pembacaan pesan-pesan sang bintang juara oleh sahabat terpilih. Untuk kang Abdi, kami persilahkan maju ke depan”.

Aku berdiri, lalu menuju ke belakang mimbar. Sebuah buku saku gelatik kebar berwarna hijau ku keluarkan. Kubuka halaman terakhir yang pernah ditulisnya.

“Assalamualaikum warahmatullahi wbarakatuh” awalku memulai. Kutatap seluruh oorang di

aula sini, lalu kuambil nafas singkat.

 

“Yang terhormat, Abah kyai Yusuf. Yang kami hormati, para Asatidz. Yang Saya banggakan kan, rekan-rekan seperjuangan.”

“Kita di sini sedang kehllangan figur utama di pondok ini. Seorang santri dengan prestasi menjurang, seorang santri dengan ilmu tak terbandingkan, seorang santri dengan akhlak yang sangat ber-Alquran. Beliau adalah Amar, murid sekaligus teman kita semua di sini, beliau adalah sahabat yang paling setia, tidak pernah menanam hutang, tidak pernah merusak janji, dan sekalipun tidak pernah kulihat ia berkenalan dengan semua hal yang tercela.”

“Rekan-rekan santri semua. Kita semua tahu pasti, bahwa kemanapun ia berada, buku saku pasti ia bawa, tak lupa dengan bolpoin yang selalu menghiasi sakunya” aku mengangkat dua benda yang kusebut tadi ke atas. Sebagian berbisik pelan, sebagian masih terdiam.

“Di seluruh buku sakunya, kita bisa mengetahui isis pikirannya. Apa pendapatnya tentang

hari ini, kemarin, dan hari-hari sebelumnya. Beberapa halaman juga dituliskan ketika beliau

merasa mendapat cahaya ilmu.” Aku berhenti sejenak, mencoba menguatkan diri. Kuambil kacamata dari sakuku dan kupakai kacamata itu.

“Salah satu tulisannya, yaitu pendapatnya tentang negara ita tercinta, Indonesia. Di sini ia menulis bahwa pada tanggal 16 Agustus 2019

 

#Indoensia, salah satu pecahan Surga yang turun ke Bumi. Di dalamnya, keindahan dan kekayaan alam menjadikannya salah satu harta karun Dunia yang patut dijaga dan dilestarikan.

Sebelum HUT RI yang ke-74 ini, saya ingin mengutip sedikit dari salah satu buku yag saya baca

Tanpa pasukan, kita tak bisa membangun benteng pertahanan. Tanpa masukan, kita tak bisa mengembangkan masa depan.

Di zaman ini, pemerintah Indonesia extra kreatif terhadap masyarakatnya. Mereka harus diperhatikan dengan cara yang berbeda-beda, mereka harus digiring dengan banyak cara untuk maju. Namun dengan dua syarat : HALAL DAN TIDAK MERESAHKAN.

Dari kutipan buku tersebut, santri sangat berperan sebagai masukan. Santri yang sejak dahulu selalu dikenal sebagai anak yang paling taat agama, yang paling paham agama, dll. Kini sosok yang bernama santri sudah bertambah keahliannya, yaitu kreativitas.

Ibaratnya, seperti katak dalam tempurung. Ia selalu buta terhadap dunia luar, tapi selama di tempurung itulah sang katak belajar memahami dunia luar dan menganalisisnya.

Ketika ia keluar, ia hanya tinggal mengaplikasikan apa yang telah ia pelajari. Bayangkan saja begini, Siswa yang belajar selama 12 jam dengan Santri yang belajar 24 jam plus khidmah, kira-kira lebih baik mana?. Apabila metode pengajaran mereka sama, besar kemungkinan Santri yang belajar selama 24 jam plus khidmah lebih berkualitas dibanding Siswa yang hanya belajar selama 12 jam saja. Bukankah kita semua ingin Indonesia selalu maju?.

Santri itu hebat, mereka selalu bisa memecahkan sebuah masalah, meski dengan cara yang aneh dan tidak terduga. Namun, sehebat-hebatnya Santri mereka juga bisa membuat kesalahan.

INGAT!, kisah kemerdekaan kita tak pernah lepas dari perjuangan para Santri, selama itu juga negara kita dibangun oleh Santri.

Untuk Indonesiaku, jangan lupakan SDM Santri yang melimpah, semoga engkau selalu bisa jaya dan berkah.

Selamat menuju HUT RI yang ke-74 Indonesia.”.

 

Aku menutup buku gelatik merah, kulepas kacamataku dan kupandang seluruh hadirin. Kutarik nafas sejenak sambil mengenang sekilas perjalanannya.

“Rekan-rekanku sekalian, seperti yang telah saya bacakan sebelumnya, ia sangat peduli terhadap Indonesia tercinta. Dahulu, saya pernah berandai-andai kecil, akan menjadi seperti apa Amar ketika ia boyong dari pondok ini. Aku membayangkan ia akan menjadi guru yang selalu disegani oleh semua orang, mulai dari anak kecil, remaja, dewasa, bahkan orang tua. Namun, sebuah keadaan yang tak memungkinkan datang menghampirinya. Ia telah berpulang, menghampiri kekasih tercinta di surga sana. Sebelum saya akhiri, saya ingin kita semua berdoa, semoga ia diterima di sisinya dan menyampaikan salam kita semua.

Alfatihah”.

@haasan_abdillah (05/10/25)

Leave A Reply

Your email address will not be published.