RISALAH NU ONLINE JAKARTA – Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) menerima kunjungan kehormatan dan dialog strategis dari delegasi Malaysian Chinese Association (MCA) di Kantor PBNU, Jakarta Pusat, Rabu (22/4). Pertemuan ini bertujuan mempererat kerjasama lintas negara di sektor pendidikan, ekonomi kerakyatan, dan penguatan nilai-nilai inklusivitas.
Ketua Umum PBNU, KH Yahya Cholil Staquf (Gus Yahya), menyambut hangat delegasi yang dipimpin oleh Naib Presiden MCA, Datuk IR. Lawrence Low. Dalam sambutannya, Gus Yahya menekankan bahwa engagement antara NU dan MCA merupakan pintu masuk penting bagi kolaborasi civil society yang lebih luas antara Indonesia dan Malaysia.
“Kami mengapresiasi kerja sama yang telah terjalin selama ini, baik formal maupun informal. NU sebagai organisasi muslim terbesar dengan basis massa mencapai 57,2% populasi Indonesia, berkomitmen penuh pada konsekuensi sosial yang luas. Kami berharap dialog ini menjadi kanal bagi hubungan masyarakat sipil yang lebih kuat di kedua negara,” ujar Gus Yahya.
Naib Presiden MCA, Datuk IR. Lawrence Low, menyatakan kekagumannya terhadap peran NU dalam menjaga moderasi dan toleransi di Indonesia. Ia secara khusus menyoroti peran NU dalam mendukung eksistensi budaya dan bahasa Tionghoa di Indonesia yang sempat terhambat selama puluhan tahun.
“NU adalah organisasi yang moderat, toleran, dan inklusif. Kami melihat bagaimana NU sangat memperhatikan kepentingan rakyat tanpa memandang latar belakang agama dan budaya. Ini adalah pencapaian yang luar biasa,” ungkap Datuk Lawrence.
Dalam dialog tersebut, delegasi MCA turut memaparkan berbagai inisiatif organisasi mereka, mulai dari kepemilikan dua universitas dan rumah sakit yang menggabungkan metode medis Barat serta tradisional, hingga lembaga pendidikan vokasi. Sektor ekonomi juga menjadi bahasan, dimana MCA mengelola koperasi permodalan bagi pelaku usaha kecil menengah serta perusahaan yang bergerak di bidang perkebunan kelapa sawit dan media.
Fokus diskusi kemudian mengarah pada sektor pendidikan teknologi, di mana perwakilan lembaga pendidikan MCA menawarkan peluang kerjasama terkait kurikulum STEM dan kecerdasan buatan (AI). Program ini telah diuji coba pada berbagai sekolah di Malaysia dan diharapkan dapat bersinergi dengan lembaga pendidikan di bawah naungan NU untuk menyiapkan generasi muda menghadapi tantangan teknologi masa depan. Gus Yahya menyambut baik gagasan tersebut sebagai bagian dari idealisme NU dalam mengayomi dan melindungi seluruh warga demi menciptakan harmoni yang berkelanjutan.
(Delia)