Ruang dalam Taat 

0

Oleh: Febiola Cindi Fatika Dita, PP Miftahul Ulum 2, Bantul, Yogyakarta

Suasana yang ramai memang selalu menjadi ciri khas Pondok Pesantren Az Zahra.  Pondok pesantren tersebut terbagi menjadi beberapa komplek dengan lembaga pendidikan  lengkap, mulai dari TPQ, MI, MTS, MA hingga perguruan tinggi.  

Tentunya yang sekarang menjadi primadona dari Pondok Pesantren Az Zahra adalah  perguruan tingginya, yaitu Institut Ilmu Alquran Az-Zahra yang diusung sejak 2013 silam.  Semakin lama, pamor Institut Ilmu Alquran Az-Zahra berkembang dan mengudara. Santri santri dari luar daerah hingga luar pulau jawa menjadikan IIQ az-Zahra menjadi tempat menuntut ilmu sarjana. Hal tersebut tentu tidak lepas dari kualitas yang semakin baik dari  waktu ke waktu.  

Suasana yang ramai di komplek Khodijah yang merupakan salah satu komplek putri di  Pondok Pesantren Az-Zahra sungguh beragam. Ada yang bercanda ria dengan teman  sebayanya karena baru saja pulang dari sekolah. Ada beberapa santriwati yang khusyuk dengan  Al-Qur’an di hadapannya, ada segerombolan santri baru yang menangis karena masih  beradaptasi dengan lingkungan pondok pesantren. Dan yang paling menarik perhatian adalah  segerombolan mahasiswa akhir di pojok ruangan yang wajahnya menyimpan muram.  

Faqihah dan Rissa terdiam melihat teman-teman seperjuangannya kalang kabut. Ada  yang diam saja merenung, ada yang bolak balik dengan gusar, ada yang mengoceh dengan  marah tanpa henti dan ada yang merengek. Mereka sibuk sendiri-sendiri dengan cara mereka  mengekspresikan perasaan. Tak jauh berbeda dengan mereka berdua, Faqihah dan Rissa  merasakan gundah gulana yang sama.  

“Gimana nih Faqihah, tugas kita belum kelar ini. Besok pagi harus dikumpulin.” Untuk  kesekian kali Faqihah harus mendengar rengekan sahabatnya, siapa lagi kalau bukan Rissa.  

Faqihah hanya bisa diam lalu berpikir keras, sebenarnya ia gelisah juga. Tugas ini  adalah pengumpulan laporan KKN, deadlinenya adalah besok pagi. Sedangkan semua santri  mahasiswa belum ada yang sempat mengerjakan. Hal itu dikarenakan seusai KKN, tibalah  jadwal libur kuliah. Kendalanya adalah selama liburan kuliah, santriwati tidak diperbolehkan  untuk membuka laptop dan tidak diperbolehkan keluar dari gedung pesantren karena tidak ada jadwal kuliah. 

“Faqihah, kok diam sih.” Rissa terus menuntut jawaban dari sahabatnya ini. Faqihah  sengaja tidak merespon Rissa, karena ia tahu jika semakin direspon, Rissa akan semakin  merengek. Dan hal itu tidak akan menyelesaikan permasalahan yang sedang mereka hadapi. Dua sahabat yang berbeda sifat namun saling melengkapi. Mereka selalu bersama di segala  situasi, meski seringkali respon keduanya dalam menghadapi permasalahan amat berbeda.  

Faqihah melangkahkan kaki ke lantai bawah. Rissa membuntutinya dengan berbagai  pertanyaan di kepala. Tapi dia hanya diam, Rissa begitu percaya pada Faqihah karena banyak  hal yang bisa Faqihah selesaikan walau dengan diam.  

“Assalamualaikum Mbak Atul.” Mereka sampai di kamar pengurus, Rissa sudah bisa  menebak yang akan dilakukan oleh Faqihah, untuk kesekian kalinya Rissa beryukur memiliki  sahabat yang sangat bisa diandalkan.  

“Waalaikumsalam, Faqihah Rissa. Ada apa?” Mbak Atul muncul membukakan pintu.  

“Maaf mbak boleh ngobrol sebentar?” Faqihah memulai obrolan, Mbak Atul  menyambut hangat dan mempersilahkan dua santriwati itu untuk masuk ke kamar pengurus.  

“Mbak Atul, mohon maaf ini agak mendesak, boleh gak kalau santri mahasiswa yang  KKN minta kelonggarannya buka laptop malam ini? Besok pagi ada deadline pengumpulan  laporan KKN, dari awal liburan kuliah kami tidak bisa untuk mengerjakan karena tidak  diperbolehkan buka laptop. Apakah ada kelonggaran, Mbak?” Faqihah mencoba menjelaskan  dengan amat santun.  

Mbak Atul nampak berpikir sejenak, ia tidak langsung menjawab permintaan Faqihah.  “Mbak Atul tanyakan dulu ya ke Mbak Rina ya, karena keputusan itu ada di Mbak Rina sebagai  lurah.” Setelah mendapat anggukan dari Faqihah dan Rissa, Mbak Atul melangkah ke ruangan  sebelah, tempat mbak Rina berada. Mereka berdua menunggu cukup lama. Mereka cukup 

khawatir menunggu jawaban dari Mbak Rina. Mereka tahu betul, Mbak Rina lumayan tegas dengan aturan yang sudah berlaku secara tertulis dan sudah diterapkan sejak lama. Mereka  seperti menunggu keajaiban datang.  

Akhirnya Mbak Atul datang, Faqihah dan Rissa sudah menunggu jawaban dengan tidak  sabar. “Faqihah Rissa maaf ya, Mbak Rina gak bisa kabulin, katanya besok aja ketika jam  kuliah.” Mbak Atul melihat wajah kecewa dari kedua santriwati di depannya, ia cukup lama di  ruangan Mbak Rina karena berdebat mengenai hal ini. Sebenarnya ia paham apa yang sedang  dialami oleh santri mahasiswa. Namun, ia tidak punya kapasitas untuk memutuskan sesuatu. 

Faqihah dan Rissa berterimakasih sambil berpamitan dengan wajah yang masam.  Namun nampaknya Faqihah tidak hanya hilang semangat untuk memperjuangkan, meski  tinggal sehari lagi untuk deadline. Mereka sudah memikirkan jauh-jauh hari, namun tidak  kunjung dapat solusi. Kini Faqihah merasa inilah satu-satunya solusi.  

Faqihah bergegas ke ruangan Mbak Rina. Rissa masih membututi di belakang.  “Faqihah, serius mau ngomong sama Mbak Rina?” Rissa mempertanyakan hal itu karena ia  sendiri segan untuk menghadap langsung ke Mbak Rina. “Kamu percaya sama aku kan Ris?”  Pertanyaan Faqihah membuat Rissa terdiam. Rissa memuji nyali Faqihah yang berani  menghadap langsung ke lurah pondok. Mbak Rina terkenal tegas dan sangat menegakkan  aturan. Jika aturan sudah ketok palu, dia akan tetap berprinsip pada aturan tersebut apapun yang  terjadi.  

“Aku tahu maksudmu Faqihah, aku dulu juga kuliah. Aku juga punya permasalahan  yang sama denganmu, tetapi setiap tantangan itu ada solusinya. Coba kalian berpikir  bagaimana cara menyelesaikan tantangan tanpa melanggar aturan ya.” Sebenarnya berbicara  dengan Mbak Rina tidak semengerikan yang mereka kira. Mbak Rina tetap mengemukakan  argumen dengan santun dan bijaksana, meski tetap tidak bisa menghilangkan aura tegasnya.  

“Betul Mbak, tapi kami tidak bermaksud untuk melanggar aturan. Kami hanya minta  kelonggaran karena hal mendesak, deadline tugasnya besok.” Faqihah masih mencoba merayu  Mbak Rina dengan argumen yang logis.  

“Tidak bisa Faqihah, aturan tetaplah aturan.” Faqihah menghela napas dalam, gagal. Ia  tidak bisa memaksa lagi.  

Mereka berdua kembali ke kamar dengan muka muram. Ternyata di kamar mahasiswa  sekitar 30 santri menunggu jawaban dari perjuangan mereka berdua. Ketika melihat muka  Faqihah dan Rissa yang muram, mereka jelas sudah tau jawabannya. Maka mereka harus siap  dengan kemungkinan besok pagi. Rasa gundah tidak bisa terelakan dari mahasiswa tingkat  akhir itu. Karena perkara tersebut, mereka kompak tidak mengaji malam ini. Mereka terus  memikirkan nasib tugas KKN. Meski mereka paham, dosen tidak akan memarahi. Namun rasa  tidak enak tetap mengerjap, bagaimanapun tugas tersebut adalah sebuah tanggung jawab.  

Seisi kamar tidak ada yang bisa tenang, bahkan walaupun tidak mengaji. Tidak ada  kegiatan berarti yang mereka lakukan. Untuk memejamkan matapun enggan. Rasanya besok 

mereka enggan untuk berangkat kuliah, tidak sanggup menanggung malu menjawab  pertanyaan dari dosen mengenai tugas.  

— 

Benar saja, dosen mereka memaklumi atas apa yang terjadi, bagaimanapun dosen sudah  tahu bahwa institute ini satu yayasan dengan pesantren, maka aturan pesantren sedikit banyak  mewarnai aturan di institut juga. Para mahasantri tidak diberikan omelan seperti yang sudah  mereka bayangkan. Namun tetap ada konsekuensi yang harus ditanggung, mereka diberi tugas  tambahan untuk membuat esai tentang pentingnya KKN dalam lingkungan perguruan tinggi.  Sejujurnya, hal itu berat juga karena tugas mereka menjadi dobel. Namun karena ini adalah  konsekuensi, maka mereka menerima dengan lapang dada.  

Santri mahasiswa semakin risau, amarah di hati mereka semakin pekat, jauh lebih dari  sebelumnya. “Gimana nih kalau terus-terusan begini, tugas menumpuk tanpa bisa dikerjakan  satupun.” Muna salah satu dari mereka mengomel, entah berapa kali dia mengomel.  

“Mau gimana lagi, Mun.” Rissa mencoba menenangkan, tetapi layaknya usahanya  tersebut tidak berhasil. Sesungguhnya ia pun mengerti, wajar jika ada kekecewaan yang  menumpuk di hati teman-temannya. Tidak hanya Muna yang mengomel, hamper semua dari  mereka mengomel, merutuki nasib mereka masing-masing.  

Ternyata tumpukan tugas dan kekecewaan pada kebijakan pesantren membuat  semangat mengaji para santri mahasiswa berkurang. Di jam-jam kuliah mereka menghabiskan  waktu di kampus, tentunya mereka mengisi jadwal kosong dengan mengerjakan tugas yang menumpuk. Meski sudah di pesantren, mereka tetap memilih untuk meliburkan diri dari mengaji Al-Qur’an dan kitab.  

Hal ini membuat Bu Nyai Ana selaku pengasuh menyadari bahwa ada sesuatu yang  tidak beres dengan santri mahasiswa. Tidak biasanya santri satu agkatan tidak kelihatan saat  kegiatan mengaji. Lekas bu nyai ambil tindakan, Bu Nyai Ana mencoba untuk mencari jawaban  kepada pengurus, Mbak Rina mencoba menjelaskan kemungkinan-kemungkinan yang terjadi.  Atas dasar keluhan dari Faqihah dan Rissa tempo hari. Maka demi kemaslahatan, bu nyai  meminta pihak pengurus memanggil perwakilan santri mahasiswa untuk menghadapnya.  Persoalan ini harus segera diselesaikan.  

“Assalamualaikum, mohon perhatian. Salah satu perwakilan santri mahasiswa diminta  menghadap bu nyai sekarang!” Suara Mbak Atul terdengar di seluruh penjuru komplek 

Khodijah. Meski agak takut, tapi santri mahasiswa sudah bisa menebak yang menjadi pokok  permasaahan. 

Tentu saja mereka semua mengajukan Faqihah untuk menghadap bu nyai. Siapa lagi  yang mempunyai nyali untuk berbicara di depan publik terutama bu nyai, jika bukan Faqihah.  Faqihah yang paham akan kode teman-temannya mau tidak mau melangkah menuju ndalem.  Tidak lupa ia menarik tangan Rissa untuk ikut serta dengannya.  

Ketika sampai di ndalem, langsung ke inti pembicaraan, Bu Nyai Ana tanpa basa basi  membuka perbincangan, “Kenapa Nduk, kok santri mahasiswa tidak pernah ngaji sudah sekitar  dua minggu?” Mereka berdua hanya menunduk, tentu saja merasa bersalah. Bagaimanapun,  apa yang mereka lakukan adalah sebuah kesalahan.  

“Gapapa Nduk, ngomong aja.” 

“Mohon maaf sebelumnya Ibu, kami santri mahasiswa mengakui kesalahan karena  sudah lalai dalam mengaji akhir-akhir ini.” Faqihah berhenti berbicara. Menunggu respon dari  Bu Nyai Ana.  

“Apakah ada permasalah, Nduk?” Bu nyai bertanya sekali lagi, menuntut jawaban. 

Rissa melihat Faqihah kesulitan menjawab, ia tahu betul bahwa Faqihah sulit untuk  berargumen kepada guru, tak lepas karena rasa takzimnya. Meski kalau berbicara di dalam  forum dia paling lantang.  

“Iya Ibu, selepas KKN tempo hari, para mahasiwa diberi tugas untuk membuat laporan  hasil kegiatan KKN. Namun setelah selesai KKN langsung libur semester, maka kami tidak  ada kesempatan untuk membuka laptop di kampus. Aturan pesantren jika sedang libur kuliah  santriwati dilarang pergi ke kampus dan tidak diperkenankan juga membuka laptop di dalam  pondok.” Rissa melirik sebentar bu nyai, karena ia berbicara sambil menunduk. Tapi ia melihat  Bu Nyai Ana menyimak ceritanya dengan khidmat, maka ia melanjutkan cerita. 

“Dikarenakan kurang waktu dalam mengerjakan tugas, jadilah kami tidak bisa  mengumpulkan tugas tepat waktu. Hal tersebut membuat kami diberikan tugas tambahan  sebagai pertanggung jawaban. Kami merasa agak terbebani, karena laporan KKN yang  seharusnya sudah dicicil dua bulan lalu harus kami kebut, kemudian ada tambahan tugas lagi.”

Bu nyai mengangguk setelah mendengar cerita Rissa hingga selesai. Faqihah  memandang sahabatnya penuh terimakasih karena sudah bekerjasama dengan baik dalam  menghadapi bu nyai. Rissa membalas dengan senyum tulusnya.  

“Terus dari santri mahasiswa apa ada solusi untuk mengatasi masalah ini?” 

“Mohon maaf ibu, untuk aturan mahasiswi lumayan memberatkan, mengingat santri  putra yang juga kuliah memiliki akses bebas untuk membuka laptop dan HP. Kenapa kami  dibedakan? Kami bukan bermaksud ingin melanggar aturan yang sudah ditetapkan, namun  kami meminta sedikit kelonggaran agar kejadian seperti ini tidak terulang kembali. Adalah juga  tanggung jawab kami sebagai mahasiswa untuk mengerjakan tugas sesuai waktu yang  ditentukan.” Kali ini Faqihah mengambil alih, ia mati-matian mengubur rasa segan pada bu  nyai. 

Lagi-lagi Bu Nyai Ana mengangguk, Bu Nyai Ana mengerti apa yang sedang dihadapi  santrinya. Tetapi aturan yang sudah terlaksana tidak bisa begitu saja diubah. Harus melewati  proses. Tidak bisa diputuskan begitu saja secara sepihak.  

“Baik, terimakasih ya sudah jujur. Untuk aspirasinya, ibu diskusikan dahulu dengan  abah.” Faqihah dan Rissa mengangguk takzim, menyalami bu nyai dan berpamitan kembali ke  pondok pesantren. 

Santri mahasiswa kembali mengikuti kegiatan pesantren dengan semangat. Harap harap cemas semoga bu nyai dan bapak kiai memberikan kelonggaran untuk mereka. Para  santri bersiap untuk melaksanakan salat maghrib karena sebentar lagi azan akan  berkumandang. Para santri mengikuti jamaah salat magrib dengan khusuk dilanjutkan dengan  membaca surat al-mulk.  

“Pengumuman, untuk mengaji malam ini diliburkan, khusus untuk santri mahasiswa  dan pengurus silakan dalam waktu 20 menit mempersiapkan diri di aula. Karena akan diadakan  rapat.” 

Pengumunan tadi cukup mengejutkan santri mahasiswa, satu sisi mereka tidak  menyangka bahwa protes mereka direspon dengan sangat cepat. Santri mahasiswa dengan  cepat melangkah ke kamar untuk bersiap dan berganti pakaian, suasana kembali gaduh, dalam  hati mereka juga bergetar, apa ya yang akan terjadi?

Setelah semua santri mahasiswa dan pengurus siap. Pak kiai dan bu nyai datang ke  forum. Terlihat Mbak Rina dan Mbak Atul turut mengekor di belakangnya.  

Forum sudah dimulai, para santri mahasiswa tidak bisa menyembunyikan  ketegangannya. Bisik-bisik dan suara gaduh mulai terdengar. Berbeda dengan wajah pengurus  yang biasa-biasa saja. Mungkin karena mereka telah menghadapi berbagai problem santri, jadi  hal begini adalah sesuatu hal kecil. 

Assalamualaikum wr.wb. Alhamdulillah wa syukurilah kita bisa berkumpul di tempat  ini dengan keadaan sehat wal afiat.” Mbak atul membuka forum. Seketika suara berbisik-bisik dari santri mahasiswa hilang, mereka dengan takzim mengikuti forum. 

“Baik selanjutnya, untuk menindaklanjuti keresahan santri mahasiwa yang sudah  menjadi isu belakangan ini, kita akan mengadakan rapat terkait penggunaan laptop dan hp.  Perkenankan saya selaku moderator untuk memimpin rapat kali ini.” 

“Pertama, untuk perwakilan santri mahasiswa silahkan mengutarakan keresaahannya.”  Setelah Mbak Atul selesai berbicara, suasana sedikit gaduh bersumber dari mahasiswa. Mereka  menunjuk Faqihah untuk mewakili dalam diskusi ini.  

Faqihah menarik napas panjang. “Terimakasih atas waktu yang diberikan oleh Mbak  Atul sebagai moderator. Perkenankan saya Faqihah, perwakilan dari santri mahasiswa yang  akan mengungkapkan keresahan kami terkait penggunaan laptop dan HP.” Faqihah mulai  membuka diskusi. Semua mata teruju padanya 

Tempo hari kami ada kendala dalam pengerjaan tugas KKN, sudah kami sampaikan  kepada mbak pengurus dan kepada ibu nyai. Kendala tersebut dilatarbelakangi karena tidak  memiliki akses yang cukup untuk penggunaan laptop dan hp.” Faqihah berhenti sejenak,  teman-teman mahasiswa lain mendengarkan ucapan Faqihah dengan tegang. Harap-harap  cemas, Mereka merasa kali ini Faqihah lebih berani dari biasanya.  

“Kami mau mengkritisi mengenai aturan penggunaan laptop, mungkin bisa dikaji  ulang. Karena kami mahaswa seringkali mmbutuhkan laptop di luar jam kuliah. Mengingat jam  kuliah sudah padat, dan tugas kuliah seringkali menumpuk. Lalu kapan lagi kami mengerjakan  jika hanya diberikan waktu selama jam kuliah?” Faqihah semakin berani, Rissa sampai  menggigit bibirnya. Tadi di depan bu nyai, Faqihah seperti kehilangan keberanian. Sekarang  ia lantang menyuarakan suaranya. 

Faqihah berhenti bicara, ia sudah selesai mengungkapkan maksudnya. Sementara  suasana menjadi agak gaduh, santri mahasiswa berbisik-bisik. Jujur saja dada Faqihah  berdegup kencang. 

“Baik, silahkan untuk pihak pengurus menanggapi terlebih dahulu keluhan dari pihak  mahasiswa, yang diwakili oleh Faqihah.” 

“Terimakasih Faqihah, kami dari pihak pengurus berusaha menanggapi secara objektif.  Seperti yang sudah saya kemukakan tempo hari kepada Faqihah. Sesuai dengan peraturan yang  sudah ditentukan sejak bertahun lalu. Bahwa aturan memakai laptop adalah hanya ketika di  jam kuliah dan di dalam lingkup kampus, tidak boleh di dalam gedung pesantren. Aturan itu  diberlakukan bukan tanpa pertimbangan, tetapi agar tidak terjadi kesenjangan antara pelajar,  santri khusus hafalan dan santri mahasiswa. Selain itu, untuk mencegah adanya kecurangan  dan keburukan yang dilakukan karena bebas mendapatkan akses. Hal tersebut juga diperkuat  pengalaman dahulu sebelum ada peraturan ketat dari pesantren mengenai laptop, beberapa  santri tidak menggunakan laptop sesuai aturan.” Mbak Rina berbicara panjang lebar.  

“Tapi aturan tersebut sudah tidak relevan!” tiba-tiba Muna menyahut, nadanya amat  emosional. Suara Muna tersebut seperti pancingan, mendadak terdengar suara gaduh protes  dari santri mahasiswa. Mbak Atul memberi himbauan pada mereka untuk tenang. Faqihah yang  ada di sebelah Muna mencoba menenangkan dengan menggenggam tangannya.  

Pak kiai dan bu nyai menyimak dengan seksama, sesekali mengangguk jika menyetujui  hal-hal yang disampaikan oleh pihak mahasiswa dan pengurus. Juga memaklumi sikap santri  yang sedang gaduh.  

Setelah forum tenang kembali, Mbak Atul melanjutkan acara. “Silahkan tanggapan dari  pihak santri.” Suara Mbak Atul menengahi forum. 

“Kami sangat menghormati aturan pesantren. Tapi kita sebagai santri tetap harus  mengikuti perkembangan zaman. Pesantren ini sudah memiliki lembaga pendidikan perguruan  tinggi. Hal itu harus berbanding lurus dengan kesempatan santri untuk menggunakan teknologi,  dengan batas-batas yang pantas. Dan satu yang perlu digaris bawahi, santri putra mahasiswa  diperbolehkan membawa hp, kenapa kita tidak? Sekedar laptop saja dibatasi. Apa beda laki 

laki dan perempuan?” Kali ini Rissa buka suara. Faqihah tersenyum lebar, akhirnya bisa  melihat Rissa semakin berani berbicara di depan forum.

“Baik, bapak kiai yang terhomat. Dipersilahkan untuk memberikan pandangan dan  keputusan.” Mbak Atul kembali memimpin jalannya diskusi. 

“Terimakasih kepada anak-anakku yang sudah memberikan pendapatnya masing masing. Kami selaku pengasuh pesantren sangat setuju dengan Faqihah dan Rissa bahwa  perkembangan zaman harus selalu diikuti. Tentunya dengan batas-batas tertentu selagi tidak  melanggar syariat agama. Dan betul, tidak ada beda antara santri putra dan putri.” 

“Begitu juga pengurus yang diwakili oleh Mbak Rina, aturan-aturan yang ada tentu  sudah dipertimbangkan baik buruknya, juga dari pengalaman yang sudah-sudah. Jadi apa yang  disampaikan Mbak Rina ini betul.” 

Pak kiai meminta izin kepada forum untuk berdiskusi dengan bu nyai sebentar. Bu nyai  dan pak kiai masuk ke dalam ndalem. Sontak suara para santri mahasiswa gaduh. Entah apa  yang mereka ributkan. Yang pasti mereka harap-harap cemas, semoga pak kiai memihak pada  mahasiswa.  

Suara gaduh menjadi hening seketika, pak kiai dan bu nyai sudah kembali ke forum  diskusi. “Bismillah, sebelumnya kami tekankan bahwa keputusan ini tidak memihak manapun.  Keputusan ini murni dibuat dengan berbagai pertimbangan. Setelah mempertimbangkan baik  buruknya dari usulan dan diskusi maka kami pihak pengasuh memutuskan untuk  memperbolehkan santri mahasiswa membuka laptop di jam luar kuliah. Kami akan sediakan  ruang khusus untuk membuka laptop. Dan hanya dengan keperluan kuliah. Namun untuk HP  kami rasa belum perlu dan cukup menggunakan laptop untuk keperluan kuliah. Kami serahkan  kepada kalian segala bentuk tanggung jawab dan kejujuran. Jika terjadi pelanggaran maka  santri mahasiswa siap menerima sanksi dan bisa saja aturan diubah.” Mereka tercekat sejenak  namun setelah itu bersorak gembira.  

Santri mahasiswa bernapas lega, tidak ada permasalahan yang perlu dirisaukan lagi  mengenai alat komunikasi yang terbatas, suasana begitu riuh. 

“Kami dari pihak santri mahasiswa berterimakasih atas keputusan bapak kiai yang  sangat mengerti keadaan kami. Kami akan memaksimalkan kesempatan ini dengan baik dan  dengan kejujuran” Rissa berbicara dengan mata berbinar.  

Keputusan pak kiai yang menurut para santri mahasiswa sangat bijaksana ini  memberikan angin segar bagi mereka. Mereka sangat bersyukur karena bisa dengan mudah 

mengakses kepentingan perkuliahan. Dari situ juga mereka bertekad untuk semakin giat dalam  mengaji.  

Faqihah dan Rissa bertatapan. Secara otomatis tangan mereka bertautan, sejurus dengan  itu Faqihah dan Rissa berpelukan. Ternyata komunikasi dan langkah-langkah bijaksana  menghasilkan hasil yang baik. Tidak perlu melulu harus menggunakan cara yang tidak benar  untuk memperjuangkan sesuatu.  

Kepada bapak dan ibu nyai yang selama ini mengasuh, mereka berterimakasih sebesar besarnya. Meski sudah biasa melihat kebijaksanaan gurunya, para santri masih belum  menyangka ternyata pak kiai dan ibu nyai mengerti mereka sebegininya. 

Dengan kepala dingin, berdiskusi, membicarakan kendala dan keadaan hati. Semua  jauh lebih ringan. Dan ketenangan dan keberanian adalah kuncinya. Faqihah dan Rissa belajar  banyak hal dari kejadian ini. 

Leave A Reply

Your email address will not be published.