Oleh: Febiola Cindi Fatika Dita, PP Miftahul Ulum 2, Bantul, Yogyakarta
Suasana yang ramai memang selalu menjadi ciri khas Pondok Pesantren Az Zahra. Pondok pesantren tersebut terbagi menjadi beberapa komplek dengan lembaga pendidikan lengkap, mulai dari TPQ, MI, MTS, MA hingga perguruan tinggi.
Tentunya yang sekarang menjadi primadona dari Pondok Pesantren Az Zahra adalah perguruan tingginya, yaitu Institut Ilmu Alquran Az-Zahra yang diusung sejak 2013 silam. Semakin lama, pamor Institut Ilmu Alquran Az-Zahra berkembang dan mengudara. Santri santri dari luar daerah hingga luar pulau jawa menjadikan IIQ az-Zahra menjadi tempat menuntut ilmu sarjana. Hal tersebut tentu tidak lepas dari kualitas yang semakin baik dari waktu ke waktu.
Suasana yang ramai di komplek Khodijah yang merupakan salah satu komplek putri di Pondok Pesantren Az-Zahra sungguh beragam. Ada yang bercanda ria dengan teman sebayanya karena baru saja pulang dari sekolah. Ada beberapa santriwati yang khusyuk dengan Al-Qur’an di hadapannya, ada segerombolan santri baru yang menangis karena masih beradaptasi dengan lingkungan pondok pesantren. Dan yang paling menarik perhatian adalah segerombolan mahasiswa akhir di pojok ruangan yang wajahnya menyimpan muram.
Faqihah dan Rissa terdiam melihat teman-teman seperjuangannya kalang kabut. Ada yang diam saja merenung, ada yang bolak balik dengan gusar, ada yang mengoceh dengan marah tanpa henti dan ada yang merengek. Mereka sibuk sendiri-sendiri dengan cara mereka mengekspresikan perasaan. Tak jauh berbeda dengan mereka berdua, Faqihah dan Rissa merasakan gundah gulana yang sama.
“Gimana nih Faqihah, tugas kita belum kelar ini. Besok pagi harus dikumpulin.” Untuk kesekian kali Faqihah harus mendengar rengekan sahabatnya, siapa lagi kalau bukan Rissa.
Faqihah hanya bisa diam lalu berpikir keras, sebenarnya ia gelisah juga. Tugas ini adalah pengumpulan laporan KKN, deadlinenya adalah besok pagi. Sedangkan semua santri mahasiswa belum ada yang sempat mengerjakan. Hal itu dikarenakan seusai KKN, tibalah jadwal libur kuliah. Kendalanya adalah selama liburan kuliah, santriwati tidak diperbolehkan untuk membuka laptop dan tidak diperbolehkan keluar dari gedung pesantren karena tidak ada jadwal kuliah.
“Faqihah, kok diam sih.” Rissa terus menuntut jawaban dari sahabatnya ini. Faqihah sengaja tidak merespon Rissa, karena ia tahu jika semakin direspon, Rissa akan semakin merengek. Dan hal itu tidak akan menyelesaikan permasalahan yang sedang mereka hadapi. Dua sahabat yang berbeda sifat namun saling melengkapi. Mereka selalu bersama di segala situasi, meski seringkali respon keduanya dalam menghadapi permasalahan amat berbeda.
Faqihah melangkahkan kaki ke lantai bawah. Rissa membuntutinya dengan berbagai pertanyaan di kepala. Tapi dia hanya diam, Rissa begitu percaya pada Faqihah karena banyak hal yang bisa Faqihah selesaikan walau dengan diam.
“Assalamualaikum Mbak Atul.” Mereka sampai di kamar pengurus, Rissa sudah bisa menebak yang akan dilakukan oleh Faqihah, untuk kesekian kalinya Rissa beryukur memiliki sahabat yang sangat bisa diandalkan.
“Waalaikumsalam, Faqihah Rissa. Ada apa?” Mbak Atul muncul membukakan pintu.
“Maaf mbak boleh ngobrol sebentar?” Faqihah memulai obrolan, Mbak Atul menyambut hangat dan mempersilahkan dua santriwati itu untuk masuk ke kamar pengurus.
“Mbak Atul, mohon maaf ini agak mendesak, boleh gak kalau santri mahasiswa yang KKN minta kelonggarannya buka laptop malam ini? Besok pagi ada deadline pengumpulan laporan KKN, dari awal liburan kuliah kami tidak bisa untuk mengerjakan karena tidak diperbolehkan buka laptop. Apakah ada kelonggaran, Mbak?” Faqihah mencoba menjelaskan dengan amat santun.
Mbak Atul nampak berpikir sejenak, ia tidak langsung menjawab permintaan Faqihah. “Mbak Atul tanyakan dulu ya ke Mbak Rina ya, karena keputusan itu ada di Mbak Rina sebagai lurah.” Setelah mendapat anggukan dari Faqihah dan Rissa, Mbak Atul melangkah ke ruangan sebelah, tempat mbak Rina berada. Mereka berdua menunggu cukup lama. Mereka cukup
khawatir menunggu jawaban dari Mbak Rina. Mereka tahu betul, Mbak Rina lumayan tegas dengan aturan yang sudah berlaku secara tertulis dan sudah diterapkan sejak lama. Mereka seperti menunggu keajaiban datang.
Akhirnya Mbak Atul datang, Faqihah dan Rissa sudah menunggu jawaban dengan tidak sabar. “Faqihah Rissa maaf ya, Mbak Rina gak bisa kabulin, katanya besok aja ketika jam kuliah.” Mbak Atul melihat wajah kecewa dari kedua santriwati di depannya, ia cukup lama di ruangan Mbak Rina karena berdebat mengenai hal ini. Sebenarnya ia paham apa yang sedang dialami oleh santri mahasiswa. Namun, ia tidak punya kapasitas untuk memutuskan sesuatu.
Faqihah dan Rissa berterimakasih sambil berpamitan dengan wajah yang masam. Namun nampaknya Faqihah tidak hanya hilang semangat untuk memperjuangkan, meski tinggal sehari lagi untuk deadline. Mereka sudah memikirkan jauh-jauh hari, namun tidak kunjung dapat solusi. Kini Faqihah merasa inilah satu-satunya solusi.
Faqihah bergegas ke ruangan Mbak Rina. Rissa masih membututi di belakang. “Faqihah, serius mau ngomong sama Mbak Rina?” Rissa mempertanyakan hal itu karena ia sendiri segan untuk menghadap langsung ke Mbak Rina. “Kamu percaya sama aku kan Ris?” Pertanyaan Faqihah membuat Rissa terdiam. Rissa memuji nyali Faqihah yang berani menghadap langsung ke lurah pondok. Mbak Rina terkenal tegas dan sangat menegakkan aturan. Jika aturan sudah ketok palu, dia akan tetap berprinsip pada aturan tersebut apapun yang terjadi.
“Aku tahu maksudmu Faqihah, aku dulu juga kuliah. Aku juga punya permasalahan yang sama denganmu, tetapi setiap tantangan itu ada solusinya. Coba kalian berpikir bagaimana cara menyelesaikan tantangan tanpa melanggar aturan ya.” Sebenarnya berbicara dengan Mbak Rina tidak semengerikan yang mereka kira. Mbak Rina tetap mengemukakan argumen dengan santun dan bijaksana, meski tetap tidak bisa menghilangkan aura tegasnya.
“Betul Mbak, tapi kami tidak bermaksud untuk melanggar aturan. Kami hanya minta kelonggaran karena hal mendesak, deadline tugasnya besok.” Faqihah masih mencoba merayu Mbak Rina dengan argumen yang logis.
“Tidak bisa Faqihah, aturan tetaplah aturan.” Faqihah menghela napas dalam, gagal. Ia tidak bisa memaksa lagi.
Mereka berdua kembali ke kamar dengan muka muram. Ternyata di kamar mahasiswa sekitar 30 santri menunggu jawaban dari perjuangan mereka berdua. Ketika melihat muka Faqihah dan Rissa yang muram, mereka jelas sudah tau jawabannya. Maka mereka harus siap dengan kemungkinan besok pagi. Rasa gundah tidak bisa terelakan dari mahasiswa tingkat akhir itu. Karena perkara tersebut, mereka kompak tidak mengaji malam ini. Mereka terus memikirkan nasib tugas KKN. Meski mereka paham, dosen tidak akan memarahi. Namun rasa tidak enak tetap mengerjap, bagaimanapun tugas tersebut adalah sebuah tanggung jawab.
Seisi kamar tidak ada yang bisa tenang, bahkan walaupun tidak mengaji. Tidak ada kegiatan berarti yang mereka lakukan. Untuk memejamkan matapun enggan. Rasanya besok
mereka enggan untuk berangkat kuliah, tidak sanggup menanggung malu menjawab pertanyaan dari dosen mengenai tugas.
—
Benar saja, dosen mereka memaklumi atas apa yang terjadi, bagaimanapun dosen sudah tahu bahwa institute ini satu yayasan dengan pesantren, maka aturan pesantren sedikit banyak mewarnai aturan di institut juga. Para mahasantri tidak diberikan omelan seperti yang sudah mereka bayangkan. Namun tetap ada konsekuensi yang harus ditanggung, mereka diberi tugas tambahan untuk membuat esai tentang pentingnya KKN dalam lingkungan perguruan tinggi. Sejujurnya, hal itu berat juga karena tugas mereka menjadi dobel. Namun karena ini adalah konsekuensi, maka mereka menerima dengan lapang dada.
Santri mahasiswa semakin risau, amarah di hati mereka semakin pekat, jauh lebih dari sebelumnya. “Gimana nih kalau terus-terusan begini, tugas menumpuk tanpa bisa dikerjakan satupun.” Muna salah satu dari mereka mengomel, entah berapa kali dia mengomel.
“Mau gimana lagi, Mun.” Rissa mencoba menenangkan, tetapi layaknya usahanya tersebut tidak berhasil. Sesungguhnya ia pun mengerti, wajar jika ada kekecewaan yang menumpuk di hati teman-temannya. Tidak hanya Muna yang mengomel, hamper semua dari mereka mengomel, merutuki nasib mereka masing-masing.
Ternyata tumpukan tugas dan kekecewaan pada kebijakan pesantren membuat semangat mengaji para santri mahasiswa berkurang. Di jam-jam kuliah mereka menghabiskan waktu di kampus, tentunya mereka mengisi jadwal kosong dengan mengerjakan tugas yang menumpuk. Meski sudah di pesantren, mereka tetap memilih untuk meliburkan diri dari mengaji Al-Qur’an dan kitab.
Hal ini membuat Bu Nyai Ana selaku pengasuh menyadari bahwa ada sesuatu yang tidak beres dengan santri mahasiswa. Tidak biasanya santri satu agkatan tidak kelihatan saat kegiatan mengaji. Lekas bu nyai ambil tindakan, Bu Nyai Ana mencoba untuk mencari jawaban kepada pengurus, Mbak Rina mencoba menjelaskan kemungkinan-kemungkinan yang terjadi. Atas dasar keluhan dari Faqihah dan Rissa tempo hari. Maka demi kemaslahatan, bu nyai meminta pihak pengurus memanggil perwakilan santri mahasiswa untuk menghadapnya. Persoalan ini harus segera diselesaikan.
“Assalamualaikum, mohon perhatian. Salah satu perwakilan santri mahasiswa diminta menghadap bu nyai sekarang!” Suara Mbak Atul terdengar di seluruh penjuru komplek
Khodijah. Meski agak takut, tapi santri mahasiswa sudah bisa menebak yang menjadi pokok permasaahan.
Tentu saja mereka semua mengajukan Faqihah untuk menghadap bu nyai. Siapa lagi yang mempunyai nyali untuk berbicara di depan publik terutama bu nyai, jika bukan Faqihah. Faqihah yang paham akan kode teman-temannya mau tidak mau melangkah menuju ndalem. Tidak lupa ia menarik tangan Rissa untuk ikut serta dengannya.
Ketika sampai di ndalem, langsung ke inti pembicaraan, Bu Nyai Ana tanpa basa basi membuka perbincangan, “Kenapa Nduk, kok santri mahasiswa tidak pernah ngaji sudah sekitar dua minggu?” Mereka berdua hanya menunduk, tentu saja merasa bersalah. Bagaimanapun, apa yang mereka lakukan adalah sebuah kesalahan.
“Gapapa Nduk, ngomong aja.”
“Mohon maaf sebelumnya Ibu, kami santri mahasiswa mengakui kesalahan karena sudah lalai dalam mengaji akhir-akhir ini.” Faqihah berhenti berbicara. Menunggu respon dari Bu Nyai Ana.
“Apakah ada permasalah, Nduk?” Bu nyai bertanya sekali lagi, menuntut jawaban.
Rissa melihat Faqihah kesulitan menjawab, ia tahu betul bahwa Faqihah sulit untuk berargumen kepada guru, tak lepas karena rasa takzimnya. Meski kalau berbicara di dalam forum dia paling lantang.
“Iya Ibu, selepas KKN tempo hari, para mahasiwa diberi tugas untuk membuat laporan hasil kegiatan KKN. Namun setelah selesai KKN langsung libur semester, maka kami tidak ada kesempatan untuk membuka laptop di kampus. Aturan pesantren jika sedang libur kuliah santriwati dilarang pergi ke kampus dan tidak diperkenankan juga membuka laptop di dalam pondok.” Rissa melirik sebentar bu nyai, karena ia berbicara sambil menunduk. Tapi ia melihat Bu Nyai Ana menyimak ceritanya dengan khidmat, maka ia melanjutkan cerita.
“Dikarenakan kurang waktu dalam mengerjakan tugas, jadilah kami tidak bisa mengumpulkan tugas tepat waktu. Hal tersebut membuat kami diberikan tugas tambahan sebagai pertanggung jawaban. Kami merasa agak terbebani, karena laporan KKN yang seharusnya sudah dicicil dua bulan lalu harus kami kebut, kemudian ada tambahan tugas lagi.”
Bu nyai mengangguk setelah mendengar cerita Rissa hingga selesai. Faqihah memandang sahabatnya penuh terimakasih karena sudah bekerjasama dengan baik dalam menghadapi bu nyai. Rissa membalas dengan senyum tulusnya.
“Terus dari santri mahasiswa apa ada solusi untuk mengatasi masalah ini?”
“Mohon maaf ibu, untuk aturan mahasiswi lumayan memberatkan, mengingat santri putra yang juga kuliah memiliki akses bebas untuk membuka laptop dan HP. Kenapa kami dibedakan? Kami bukan bermaksud ingin melanggar aturan yang sudah ditetapkan, namun kami meminta sedikit kelonggaran agar kejadian seperti ini tidak terulang kembali. Adalah juga tanggung jawab kami sebagai mahasiswa untuk mengerjakan tugas sesuai waktu yang ditentukan.” Kali ini Faqihah mengambil alih, ia mati-matian mengubur rasa segan pada bu nyai.
Lagi-lagi Bu Nyai Ana mengangguk, Bu Nyai Ana mengerti apa yang sedang dihadapi santrinya. Tetapi aturan yang sudah terlaksana tidak bisa begitu saja diubah. Harus melewati proses. Tidak bisa diputuskan begitu saja secara sepihak.
“Baik, terimakasih ya sudah jujur. Untuk aspirasinya, ibu diskusikan dahulu dengan abah.” Faqihah dan Rissa mengangguk takzim, menyalami bu nyai dan berpamitan kembali ke pondok pesantren.
Santri mahasiswa kembali mengikuti kegiatan pesantren dengan semangat. Harap harap cemas semoga bu nyai dan bapak kiai memberikan kelonggaran untuk mereka. Para santri bersiap untuk melaksanakan salat maghrib karena sebentar lagi azan akan berkumandang. Para santri mengikuti jamaah salat magrib dengan khusuk dilanjutkan dengan membaca surat al-mulk.
“Pengumuman, untuk mengaji malam ini diliburkan, khusus untuk santri mahasiswa dan pengurus silakan dalam waktu 20 menit mempersiapkan diri di aula. Karena akan diadakan rapat.”
Pengumunan tadi cukup mengejutkan santri mahasiswa, satu sisi mereka tidak menyangka bahwa protes mereka direspon dengan sangat cepat. Santri mahasiswa dengan cepat melangkah ke kamar untuk bersiap dan berganti pakaian, suasana kembali gaduh, dalam hati mereka juga bergetar, apa ya yang akan terjadi?
Setelah semua santri mahasiswa dan pengurus siap. Pak kiai dan bu nyai datang ke forum. Terlihat Mbak Rina dan Mbak Atul turut mengekor di belakangnya.
Forum sudah dimulai, para santri mahasiswa tidak bisa menyembunyikan ketegangannya. Bisik-bisik dan suara gaduh mulai terdengar. Berbeda dengan wajah pengurus yang biasa-biasa saja. Mungkin karena mereka telah menghadapi berbagai problem santri, jadi hal begini adalah sesuatu hal kecil.
“Assalamualaikum wr.wb. Alhamdulillah wa syukurilah kita bisa berkumpul di tempat ini dengan keadaan sehat wal afiat.” Mbak atul membuka forum. Seketika suara berbisik-bisik dari santri mahasiswa hilang, mereka dengan takzim mengikuti forum.
“Baik selanjutnya, untuk menindaklanjuti keresahan santri mahasiwa yang sudah menjadi isu belakangan ini, kita akan mengadakan rapat terkait penggunaan laptop dan hp. Perkenankan saya selaku moderator untuk memimpin rapat kali ini.”
“Pertama, untuk perwakilan santri mahasiswa silahkan mengutarakan keresaahannya.” Setelah Mbak Atul selesai berbicara, suasana sedikit gaduh bersumber dari mahasiswa. Mereka menunjuk Faqihah untuk mewakili dalam diskusi ini.
Faqihah menarik napas panjang. “Terimakasih atas waktu yang diberikan oleh Mbak Atul sebagai moderator. Perkenankan saya Faqihah, perwakilan dari santri mahasiswa yang akan mengungkapkan keresahan kami terkait penggunaan laptop dan HP.” Faqihah mulai membuka diskusi. Semua mata teruju padanya
Tempo hari kami ada kendala dalam pengerjaan tugas KKN, sudah kami sampaikan kepada mbak pengurus dan kepada ibu nyai. Kendala tersebut dilatarbelakangi karena tidak memiliki akses yang cukup untuk penggunaan laptop dan hp.” Faqihah berhenti sejenak, teman-teman mahasiswa lain mendengarkan ucapan Faqihah dengan tegang. Harap-harap cemas, Mereka merasa kali ini Faqihah lebih berani dari biasanya.
“Kami mau mengkritisi mengenai aturan penggunaan laptop, mungkin bisa dikaji ulang. Karena kami mahaswa seringkali mmbutuhkan laptop di luar jam kuliah. Mengingat jam kuliah sudah padat, dan tugas kuliah seringkali menumpuk. Lalu kapan lagi kami mengerjakan jika hanya diberikan waktu selama jam kuliah?” Faqihah semakin berani, Rissa sampai menggigit bibirnya. Tadi di depan bu nyai, Faqihah seperti kehilangan keberanian. Sekarang ia lantang menyuarakan suaranya.
Faqihah berhenti bicara, ia sudah selesai mengungkapkan maksudnya. Sementara suasana menjadi agak gaduh, santri mahasiswa berbisik-bisik. Jujur saja dada Faqihah berdegup kencang.
“Baik, silahkan untuk pihak pengurus menanggapi terlebih dahulu keluhan dari pihak mahasiswa, yang diwakili oleh Faqihah.”
“Terimakasih Faqihah, kami dari pihak pengurus berusaha menanggapi secara objektif. Seperti yang sudah saya kemukakan tempo hari kepada Faqihah. Sesuai dengan peraturan yang sudah ditentukan sejak bertahun lalu. Bahwa aturan memakai laptop adalah hanya ketika di jam kuliah dan di dalam lingkup kampus, tidak boleh di dalam gedung pesantren. Aturan itu diberlakukan bukan tanpa pertimbangan, tetapi agar tidak terjadi kesenjangan antara pelajar, santri khusus hafalan dan santri mahasiswa. Selain itu, untuk mencegah adanya kecurangan dan keburukan yang dilakukan karena bebas mendapatkan akses. Hal tersebut juga diperkuat pengalaman dahulu sebelum ada peraturan ketat dari pesantren mengenai laptop, beberapa santri tidak menggunakan laptop sesuai aturan.” Mbak Rina berbicara panjang lebar.
“Tapi aturan tersebut sudah tidak relevan!” tiba-tiba Muna menyahut, nadanya amat emosional. Suara Muna tersebut seperti pancingan, mendadak terdengar suara gaduh protes dari santri mahasiswa. Mbak Atul memberi himbauan pada mereka untuk tenang. Faqihah yang ada di sebelah Muna mencoba menenangkan dengan menggenggam tangannya.
Pak kiai dan bu nyai menyimak dengan seksama, sesekali mengangguk jika menyetujui hal-hal yang disampaikan oleh pihak mahasiswa dan pengurus. Juga memaklumi sikap santri yang sedang gaduh.
Setelah forum tenang kembali, Mbak Atul melanjutkan acara. “Silahkan tanggapan dari pihak santri.” Suara Mbak Atul menengahi forum.
“Kami sangat menghormati aturan pesantren. Tapi kita sebagai santri tetap harus mengikuti perkembangan zaman. Pesantren ini sudah memiliki lembaga pendidikan perguruan tinggi. Hal itu harus berbanding lurus dengan kesempatan santri untuk menggunakan teknologi, dengan batas-batas yang pantas. Dan satu yang perlu digaris bawahi, santri putra mahasiswa diperbolehkan membawa hp, kenapa kita tidak? Sekedar laptop saja dibatasi. Apa beda laki
laki dan perempuan?” Kali ini Rissa buka suara. Faqihah tersenyum lebar, akhirnya bisa melihat Rissa semakin berani berbicara di depan forum.
“Baik, bapak kiai yang terhomat. Dipersilahkan untuk memberikan pandangan dan keputusan.” Mbak Atul kembali memimpin jalannya diskusi.
“Terimakasih kepada anak-anakku yang sudah memberikan pendapatnya masing masing. Kami selaku pengasuh pesantren sangat setuju dengan Faqihah dan Rissa bahwa perkembangan zaman harus selalu diikuti. Tentunya dengan batas-batas tertentu selagi tidak melanggar syariat agama. Dan betul, tidak ada beda antara santri putra dan putri.”
“Begitu juga pengurus yang diwakili oleh Mbak Rina, aturan-aturan yang ada tentu sudah dipertimbangkan baik buruknya, juga dari pengalaman yang sudah-sudah. Jadi apa yang disampaikan Mbak Rina ini betul.”
Pak kiai meminta izin kepada forum untuk berdiskusi dengan bu nyai sebentar. Bu nyai dan pak kiai masuk ke dalam ndalem. Sontak suara para santri mahasiswa gaduh. Entah apa yang mereka ributkan. Yang pasti mereka harap-harap cemas, semoga pak kiai memihak pada mahasiswa.
Suara gaduh menjadi hening seketika, pak kiai dan bu nyai sudah kembali ke forum diskusi. “Bismillah, sebelumnya kami tekankan bahwa keputusan ini tidak memihak manapun. Keputusan ini murni dibuat dengan berbagai pertimbangan. Setelah mempertimbangkan baik buruknya dari usulan dan diskusi maka kami pihak pengasuh memutuskan untuk memperbolehkan santri mahasiswa membuka laptop di jam luar kuliah. Kami akan sediakan ruang khusus untuk membuka laptop. Dan hanya dengan keperluan kuliah. Namun untuk HP kami rasa belum perlu dan cukup menggunakan laptop untuk keperluan kuliah. Kami serahkan kepada kalian segala bentuk tanggung jawab dan kejujuran. Jika terjadi pelanggaran maka santri mahasiswa siap menerima sanksi dan bisa saja aturan diubah.” Mereka tercekat sejenak namun setelah itu bersorak gembira.
Santri mahasiswa bernapas lega, tidak ada permasalahan yang perlu dirisaukan lagi mengenai alat komunikasi yang terbatas, suasana begitu riuh.
“Kami dari pihak santri mahasiswa berterimakasih atas keputusan bapak kiai yang sangat mengerti keadaan kami. Kami akan memaksimalkan kesempatan ini dengan baik dan dengan kejujuran” Rissa berbicara dengan mata berbinar.
Keputusan pak kiai yang menurut para santri mahasiswa sangat bijaksana ini memberikan angin segar bagi mereka. Mereka sangat bersyukur karena bisa dengan mudah
mengakses kepentingan perkuliahan. Dari situ juga mereka bertekad untuk semakin giat dalam mengaji.
Faqihah dan Rissa bertatapan. Secara otomatis tangan mereka bertautan, sejurus dengan itu Faqihah dan Rissa berpelukan. Ternyata komunikasi dan langkah-langkah bijaksana menghasilkan hasil yang baik. Tidak perlu melulu harus menggunakan cara yang tidak benar untuk memperjuangkan sesuatu.
Kepada bapak dan ibu nyai yang selama ini mengasuh, mereka berterimakasih sebesar besarnya. Meski sudah biasa melihat kebijaksanaan gurunya, para santri masih belum menyangka ternyata pak kiai dan ibu nyai mengerti mereka sebegininya.
Dengan kepala dingin, berdiskusi, membicarakan kendala dan keadaan hati. Semua jauh lebih ringan. Dan ketenangan dan keberanian adalah kuncinya. Faqihah dan Rissa belajar banyak hal dari kejadian ini.