
Oleh: Nafisah Binti Hidayah, PP TRI BHAKTI AT-TAQWA LAMPUNG TIMUR
Bunyi detak jarum jam terus mengalun, menggema di tengah-tengah aula yang sepi, menemani gadis bermata monolid yang kini tampak disibukkan dengan lembar kertas dan tintanya. Waktu menunjukkan pukul setengah dua belas malam. Lampu sentir yang menyala remang memenuhi tiap sudut aula, turut membersamai tiap goresan abjad dan pegon yang kini tampak akrab menyatu dalam lembar yang sama.
Suara rintik dan gemercik air hujan yang berpadu, beruntun jatuh membumi, dari genting yang kini tampak menghitam, lusuh, dan usang karena termakan usia, pun dengan dindingnya. Bangunan yang tampak sederhana namun dipenuhi dengan ilmu agama dan brankas kasih sayang didalamnya.
Pesantren Darusyafaah, lembaga pendidikan Islam yang didirikan oleh Kyai Ahmad Shobirin beserta istri dengan pondasi tekad dan semangat yang kuat untuk mencerdaskan kehidupan yang islami di era gerusan zaman yang menggila di wilayah Bangka kala itu, kini menjadi tempat yang dipilih Irna untuk mendalami ilmu agama dan menjadi jembatan mewujudkan cita-cita.
Irna Hanin Taqiyya, gadis pinggir zaman yang mempunyai himmah sangat luar biasa, dengan segudang mimpinya. Semangatnya memburu ilmu di pesantren, selalu dibayangi tekadnya yang mulia, yaitu “mengubah nasib diluar garis nasab”. Ia mempunyai banyak serpihan mimpi dan harapan untuk kaum hawa di telapak tangannya. Kini harapannya selalu bertunas setiap harinya. Ia yakin bahwa mimpinya ini tidak semu. Gigih pantang menyerah, dan semangat menekuni ilmu agama selalu ia prioritaskan sejak lulus sekolah dasar hingga kini di usianya yang hampir memasuki kepala dua.
Malam ini semua santri beristirahat dengan tenang di dalam kamarnya, kecuali Irna dan dua temannya yang kini tengah disibukkan dengan tumpukan buku, pena, dan kitabnya. ditemani teh hangat yang mereka pesan di kantin umum pesantren. irna sibuk melingkari angka yang ia buat seperti kalender di buku catatannya. sementara tangan kirinya sibuk membolak-balik
lembaran kitab bersampul biru gradasi itu, bertuliskan “Uyunul Masail Linnisa”. Kitab yang didalamnya penuh membahas tentang semua lingkup yang dialami wanita. Terbitan Lirboyo, Kediri, Jawa Timur. Terkadang di sela dengan candaan tawa Latif dan Esni, yang sedikit mencairkan suasana malam itu.
Langit malam mulai menggelap, tapi alur cerita dari mereka tidak usai, bercerita tentang awamnya kehidupan desanya. Hingga mirisnya pemikiran masyarakat yang menganggap bahwa fikih wanita itu tidak penting, sepele, dan dianggap rendah. Kompak memegang dada dan mengelus lembut sembari berucap, “ astagfirullah.”
Langkah-langkah kecil tetap bercerita, tentang hari esok yang masih bernyawa, tentang langit yang tak selalu gelap, tentang hati yang belajar tegap. Kantuk mulai menyerang mereka bertiga, sembari menyangga dagu dengan tangan kirinya, Irna melanjutkan muthola’ahnya. Esni mulai menguap, “huaam… Irna, Latif, kalian belum mengantuk ? mataku sudah tak sanggup melihat dunia ini. Kita lanjut besok ya ? bagaimana ?” keduanya mengangguk, kemudian menutup kitabnya masing-masing, dan ditutup dengan doa penutup majelis. Lampu sentir yang menemani mereka muthola’ah dibiarkan hidup, supaya pondok sederhana itu masih bercahaya di tengah gelapnya malam yang menembus hening kehidupan. Keesokan paginya, keamanan pondok beserta salah satu abai ndalem Abah Yai mencari mereka bertiga. Dalam hati Irna, “aku membuat kesalahan apa hingga dicari keamanan seperti ini ?” “kamu yang muthola’ah hingga tengah malam lebih di musholla tadi malam beserta temanmu ?” tanya keamanan pondok. Irna menjawab dengan sopan, “iya mbak.” Sekarang kalian bertiga diminta menemui Abah Yai di ndalem (rumah Abah Yai) segera!”. Bak hati disambar petir, gelisah dan gugup ia rasakan secara bersamaan. Dengan langkah yang gemetar mereka bertiga menuju ndalem. Sesampainya disana, ternyata Abah Yai sudah lama menunggu mereka.
“Assalamualaikum, Abah.”
“Waalaikumussalam, apakah benar kalian bertiga yang tadi malam muthola’ah di musholla hingga larut malam ?”
“Benar, Abah.” mereka menjawab sembari menunduk.
“Nak, Abah mengapresiasi semangat, dan himmah kalian dalam belajar. Tadi malam Abah kontrol pesantren ditemani Kang Irfan, dan Abah melihat kalian sedang muthola’ah bersama hingga larut malam. Abah senang melihatnya. Sebagai wujud apresiasi dari abah dan keluarga, Abah minggu depan ke Jawa, sowan guru dan ziarah waliyullah. Kalian Abah ajak, ikut ya.. bagaimana..?”
Mereka kompak mengangguk dengan semangat dan mengucapkan banyak terima kasih kepada Abah Yai, seraya mengucapkan alhamdulillah. Senyum sumringah menghiasi wajah mereka yang sedang berbahagia.
Di akhir Abah menambahi pesan untuk mereka. Sembari tersenyum Abah berkata, “ Nak, perempuan adalah tiang. Tiang tidak harus cantik, tapi harus kuat. kuat doanya, kuat tirakatnya, kuat sabarnya, kuat mengampuni, dan kuat menerima segala sesuatu dengan penuh.” Selepas itu Abah pamit meninggalkan mereka bertiga di teras depan. Abah memasuki ndalem karena Ibu Nyai meminta untuk segera sarapan dan bersiap menghadiri acara walimah.
Selepas Abah Yai memasuki ndalem, Irna, Latif, dan Esni, saling bertatapan. Tatapan yang tidak bisa berbohong, binar mata yang berkaca penuh haru dan bahagia, seindah ini kejutan dari Tuhan yang maha esa. Rasa tidak disangka masih membumbui suasana pagi itu, tanpa
pikir panjang mereka bertiga saling berpelukan di teras ndalem, mereka berjanji akan menggunakan kesempatan yang diberikan Abah Yai ini dengan sebaik mungkin. Pesantren merupakan sekolah kehidupan. Pesantren bukan hanya sekedar lembaga untuk belajar agama, tapi juga sekolah kehidupan. Belajar mandiri, kebersamaan, disiplin, hidup sederhana, tanggung jawab yang penuh, dan peduli dengan sesama dibaluri kasih sayang yang utuh. Di pesantren perbedaan bukan penyekat, tapi pemersatu. Belajar menghargai karakter yang berbeda beda, dan menyusunnya secara utuh menjadi keluarga. Banyak ulama besar yang lahir dari rahim pesantren, menjadi tumpuan utama untuk menyelami ilmu agama, hingga jasanya dikenang sepanjang masa.
Bumi Bangka ini menjadi saksi bisu jerih payah Irna beserta 2 sahabatnya menenun mimpi. Seperti orang yang menenun kain, terkadang benangnya tidak beraturan, kusut, dan motif yang salah serta berantakan. Prosesnya yang rumit, serta tidak mudah, namun dengan telaten dan sabar, serta rasa yakin yang kuat, tenunan akan menghasilkan karya yang hangat, indah, dan berkualitas. Di bumi Bangka ini mereka menggali mimpinya dari butiran hingga bongkahan, dari yang belum pandai mengeja hingga mahir membaca. Dibersamai dengan uletnya tekad, dan kukuhnya rapalan doa. Diiringi sabarnya Abah Yai dan Ibu Nyai dalam membimbing, mengajarkan, dan mengarahkan pada hal yang berpotensi memperbaiki akhlak, dan kemajuan dalam berfikir kritis di era zaman yang menuntut inovasi. Selepas dari rumah Abah Yai, mereka bertiga kembali ke asrama masing masing, namun tidak dengan Irna, ia berpamitan untuk ke kantor pondok putri terlebih dahulu. Ia ingin menelpon orang tuanya, tentu Esni dan Latif tidak keberatan, sesampainya di kantor ia menemui ketua keamanan pondok putri yaitu Mbak Hana.
“Assalamu’alaikum mbak.”
“Waalaikumsalam, ada apa?”
“Mbak, izin menelpon rumah.”
“Oh ya, sebentar ya dek.”
Mbak Hana mengambil HP yang khusus difasilitaskan untuk santri menelpon rumah, santri yang masih bersekolah tidak diperkenankan menggunakan alat elektronik bentuk apa pun. Dering telepon masih menyala, menunggu diangkat dari seberang sana. Suara Ibu menjadi pembuka obrolan “Assalamu’alaikum Nak.”
“Waalaikumussalam Ibuu.”
Irna menanyakan kabar Ibu, dan Bapak, serta adik nya di seberang pulau, apakah mereka sehat di Lampung sana?
Mendengar suara sang Ibu yang merekah membuat Irna mengukir senyum dan matanya menyipit membentuk bulan sabit. Irna sangat bahagia sekali setiap mendengar suara Ibu dan Bapaknya, menjadi pelipur yang candu untuk selalu mengulangnya. Obrolan yang penuh makna itu selalu disertai semangat dan dukungan diakhirnya, kalimat penenang dari sang Ibu untuk buah hatinya. Setelah menceritakan ajakan Abah Yai, Irna akhirnya menutup teleponnya. Lega dan bahagia menyelimuti atmosfer ruangan keamanan pagi itu, euforia nya sampai dirasakan Mbak Hana yang mendengar cerita dari mulut Irna.
“Mbak Hana ikut bahagia ya dek.” ( ucap Mbak Hana)
“Terima kasih ya Mbak Hana.” (Irna mengucapakan sembari tersenyum simpul) “Tetap menjadi gadis yang tekun, istiqomah, rajin, dan ceria ya Irna, Mbak Hana dan teman teman juga ikut bangga dan bahagia.”
“Iya Mbak, sekali lagi makasih ya Mbak.”
Sehabis keluar dari kantor pondok putri, Irna kembali ke asrama. Sesampainya di asrama suara riuh dan gaduh teman teman menyambut kedatangan Irna
“Barakallah Irnaaaaaaa,
Yeay minggu depan ke Jawa naik kapal sama Abah dan keluarga ndalem, jangan lupa oleh-oleh nya Irna.”
Suara teman-teman Irna ramai sekali, dukungan semangat memang terkadang hadir dan didapatkan dari lingkungan serta orang orang terdekat kita.
Irna akhirnya bersuara, “kalian kok tahu, dari siapa? ”
“Dari Kang Irfan hahahaha, (semuanya tertawa tanpa satupun yang tertinggal), soalnya tadi pas kita ngantri ngambil nasi Kang Irfan bilang gini Ir, “cieeee temannya ada yang mau ke Jawa bareng Abah, dan Ibu.”
Kita semua kaget Ir, terus Maya tanya
“Hah, siapa Kang? ”
Terus Kang Irfan jawab
“Irna, Latif, dan Esni.”
“Kang Irfan tahu dari mana ?”
“Tadi pas temanmu dipanggil Abah Yai di ndalem, Kang Irfan lagi nyuci mobil Abah jadi denger. ”
Seluruh anggota kamar Alhidayah 1 kompak tertawa bersama, mereka menjadi saksi bagaimana kesungguhan Irna, Esni, dan Latif dalam belajar setiap harinya. Selalu menahan kantuk hingga larut malam, dan keistiqomahan nya dalam bermusyawarah pelajaran layak mendapatkan apresiasi. Teman-temanya mengakui perjuangan hebat mereka. Hadiah yang diberikan Abah Yai untuk mereka bertiga sebagai motivasi untuk yang lainnya, supaya mau lebih giat belajar, dan semangat dalam menuntut ilmu di pesantren. Pesantren tidak menjanjikan jabatan maupun penghasilan, namun di pesantren kita diajarkan bagaimana menolong keluarga di akhirat kelak, disaat uang dan jabatan tidak mampu menolong mereka.
Begitu pun dengan perempuan. Perempuan dan pendidikan adalah perpaduan yang tidak bisa dipisahkan. Seperti dawuh beliau Ning Sheila Hasina dari Lirboyo Kediri Jawa Timur, beliau menegaskan bahwa “perempuan itu haruslah terdidik dahulu, sebelum mendidik”,dan di pesantren lah kita mendapatkan semua bekal itu untuk kehidupan dimasa yang akan mendatang. Perempuan juga bukan hanya tentang wajah saja, perempuan adalah kesatuan yang utuh, kesatuan dari cerdasnya akal, lembutnya hati, kuatnya iman, ikhlasnya laku, dan mustajabnya doa. Perempuan juga penuh hikmah, bukan hanya tentang sumber fitnah. Perempuan harus berdaya, kuat doanya, dan kuat pondasinya. Kita yakini bahwa semua perempuan mampu mencetak generasi yang unggul dan berakhlak sesuai dengan anjuran Al Quran.