Lingkar Hiruk Piruk Santriwati 

0

Oleh: Zahirotun Nafisah,  (Mamba’ul Hisan Sidayu, Gresik, Jawa Timur)

Lingkup kepesantrenan, mungkin kata “anti” yang terpaku pada benak pemuda zaman now  ketika mendengar kata pesantren. Yang mereka pikirkan hanyalah tentang kurungan,  kekangan, antrian dan segala yang menurut mereka menyebalkan, tapi mereka tak tahu sudut  pandang lain tentang pesantren. 

” hei, anak sialan, udahlah masuk pesantren aja sana lu, dasar beban!” bentak lelaki tua yang  di sebut ayah oleh anak perempuan berusia 13 tahun bernama Maya. Maya termenung tak  berkata sepatah kata pun. ” gapapa nak, berangkat saja ke pesantren, supaya kamu menjadi  anak sholeha yang bisa mendo’akan ibu dan ayah ketika kelak tiada” ucap wanita paruh baya  yang kini duduk di sebelah ku, di kasur usang itu sembari mengusap lembut kepala anak  perempuan lemah ini. Kuraih tubuh rapuh itu berharap mendapat ketenangan di bawah  lekukan leher wanita berkaki surga itu.  

Beberapa kerikil kecil tak menghalangi langkah gontai dua pasang kaki saling menguatkan  menelusuri jalan setapak, hingga sampailah pada bangungan gedung tak begitu megah  dengan lingkungan yang tampak ramai dengan ocehan, candaan dan suara tawa. Semua  berlalu lalang terlihat riang, dan saling menghargai , suasana yang jarang bahkan tak pernah  ku lihat di luaran sana. “hai, anak baru ya?” ucapan yang sontak membubarkan lamunanku ,  sapaan itu tak lain dari santriwati berkerudung hitam di depanku. ” namamu siapa?” di  tumpuk oleh pertanyaan satu santriwati lain di sampingnya sembari mengulurkan tangan ke  arahku. Kuterima dengan ramah uluran tangan itu dan memperkenalkan diriku. ” aku Maya”.  ” oh iya Maya, semoga betah ya di pesantren ini, kenalin aku Nabila dan ini Amna” ucap  santriwati berkerudung hitam yang ternyata bernama Nabila itu. ” iya semoga saja,  terimakasih, senang mengenal kalian” jawabku menunjukkan senyum merekah sangking  senangnya. 

” jadi penghafal Al Qur’an itu mulia, di akhirat kelak mereka akan memberikan mahkota pada  ibunya, mereka yang menjaga kalam Allah akan di muliakan dan di istimewakan di sisi  Allah”. Itu kalimat yang dapat ku tangkap dari beberapa nasihat pengaosan abah yai  mengenai Al Qur’an tadi pagi. 

Jam mulai menunjukkan angka 03.00 pagi, waktu yang mustajabah, waktu paling syahdu  perbincangan hamba dan pencipta. Ku ambil wudhu, ku basuh semua anggotanya, lalu ku beber sajadah menyudut pada kiblat mengungkur bersujud pada pemilik alam semesta, 

berdialog ringan ” tuhan, apa aku pantas menjaga kalam mu?”. Satu kata berhias air bening  asin mengalir pada pelipisku, hingga malam berlalu. 

” Mayaaa, di timbali ning Naily di ndalem” teriak salah satu santriwati ke arahku. Langkahku  ku perlebar bergegas menuju ndalem ( tempat ning Naily berada ). 

” Assalamualaikum” ucapku perlahan memasuki ruangan persegi berhias jajaran kitab kuning  di etalase yang memenuhi ruangan ini. “Waalaikum salam silahkan masuk nduk” aku terkejut  mendengar jawaban begitu halus itu. ” sini nduk, saya mau biacara” lanjut ning Naily,  langsung ku hampiri sosok cantik bermukena putih itu. Ku terduduk tertunduk penuh hormat,  berusaha mendengarkan apa yang ingin beliau bicarakan. ” nduk, saya dengar kalau sampean  mau menghafal Al Qur’an, apa itu benar?” ucap ning Naily mengejutkanku, pasalnya dari  mana beliau tahu tentang apa yang akhir akhir ini menjadi pertanyaan di pikiranku. ” kalau  sampean serius, saya bisa bantu, jadi nanti setiap pagi sebelum berangkat sekolah, sampean  setoran ke saya, bagaimana apa sampan mau?” tawaran yang sangat mengejutkan ” apa ini  jawabanmu tuhan?” batinku tersenyum. Tak pikir panjang ku jawab i tawaran ning Naily itu  dengan kata ” enggeh ning” dengan anggukan pelan, ku salami tangan bercahaya itu  berterimakasih pada beliau, ning Naily pun tersenyum dan menjawab i ” engeh mbak sami  sami”. 

Beberapa bulan berlalu dengan lancar dan nyaman sebelum…  

” Mayaaa, ada orang laki laki yang katanya mau jemput kamu, katanya ada acara keluarga,  sekarang orangnya nunggu di ruang sambangan” ujar mbak Shila, salah satu pengurus di  pesantren ini. ” iya mbak terimakasih, saya akan menemui nya” jawabku bergegas menemui  siapa yang mencariku. Ku putar bolamata berusaha menemukan siapa orang yang mencariku,  hingga bertemu satu tatapan tak asing bagiku, mata sayu itu milik Pak Joko, tetangga yang  hanya berjarak beberapa cm mungkin dari rumahku, Pak Joko sudah ku anggap sebagai ayah  ku sendiri, karna sedari kecil tak pernah ku temukan kasih sayang dari seorang ayah.  ” nak, ayo ikut Pak Joko pulang, soalnya ada acara keluarga di rumah dan kamu harus ikut”  jelas Pak Joko membuat ku penasaran,tapi ada sedikit keheranan pasalnya wajah Pak Joko  terlihat lebih lelah dan sayu daripada biasanya. ” sudahlah nak, ayo pulang dulu, nanti kamu  akan tahu” jawabnya santai. 

Ku susuri jalan setapak bersama Pak Joko dan sepeda supra yang umurnya mungkin lebih tua  dariku dengan hati yang bimbang atas alasan penjemputan ini. Hingga sampailah kita pada  latar rumah yang sama sekali tak asing bagi pengelihatanku, tetapi ” pak, ini siapa yang 

meninggal?” tanyaku gemetar setelah melihat bendera kuning berkibar dan suasana ramai  menyelimuti kediamanku. “nak,yang sabar ya, ibumu mengidap tumor dan sudah cukup lama,  tapi baru di ketahui dan tadi malam di nyatakan meninggal dunia” jawab Pak Joko  menunduk. Ku berlari menghampiri bungkusan kafan yang tergeletak di ruang tamu di  kelilingi beberapa orang membaca lantunan ayat suci Al Qur’an, ku buka jarik penutup wajah  penuh kapas tak berwarna itu, tak kuasa ku bendung air mataku, sosok yang selalu menjadi  penyemangat dan alasanku bertahan, kini berbaring tanpa nyawa. ” ibu, membahagiakanmu  belum terwujud, namun mengapa ibu pulang begitu cepat?” tangis tak dapat ku bendung, tapi  aku teringat dawuh abah yai ” hidup ta luput dari kata kehilangan, karna sejatinya semua itu  sementara dan milik Allah semata, kita sebagai mahkluk Nya harus ikhlas dan menerima  apapun keputusan pencipta”. Perlahan, ku usap air mataku berusaha kuat dan ikhlas, karna  semakin aku sedih ibu pasti lebih sedih di sana. 

” yah kan, jadi mellow, udah ah May, itukan udah berlalu, kamu doa’in aja ibumu di sana”  ucap Nabila menepuk pundakku. ” terus, menurut kalian aku lanjut nge hafal Al Qur’an gak?”  pertanyaan spontan keluar dari mulutku.” Ya harus lah bocah, gimana sih, katanya mau nge  bahagiain ibu, gajelas lu bocahh” dekis Amna kesal. ” hahaha siapa juga yang mau  berhenti”.tawa kita bertiga memenuhi ruang kamar “Robi’ah Adawiyah” siang itu.  Nampaknya melingkar dan saling bertukar cerita tak terlalu buruk, kita dapat mengambil  pelajaran dari beberapa kisah kehidupan . ” sekarang giliran kamu Bil yang cerita” ujarku  menghentikan gelak tawa kami bertiga, Nabila tampak termenung berusaha mengingat kisah  yang kami tahu juga tidak mudah. 

BACA JUGA

 BPJS 

” sayang, Nabila mau kan nak, mama pengen kamu masuk pesantren biar kamu pinter, biar  bisa ilmu agama” rayuan maut mama membuatku risih. ” yaudah iya deh iyaa, tapi sebulan  aja ya” jawabku kesal sedikit meminta kortingan. Aku Nabila Syaqia, anak tunggal keluarga  harmonis yang sangat berkecukupan, tapi tak tahu mengapa mama selalu mendorongku untuk  menuntut ilmu di pesantren. 

Roda empat mobil bertulis pajero sport berhenti tepat di depan bangunan tak begitu megah  bercorak agamis sore itu. ” selamat datang di pondok pesantren Darussalam , ada yang bisa  kami bantu?” ucap wanita berusia kira kira 20 tahun itu, namanya Fifi, aku mengetahuinya  dari nametag pengurus yang dia pakai. ” ini loh mbak, saya mau masukin anak saya ke  

pesantren, saya titip dia ya mbak” sahut mama tampak bersemangat menjawabi pertanyaan  wanita bernama mbak Fifi itu.

Ku masuki ruangan persegi bercat serba putih di antar oleh mbak Fifi, mereka menyebutnya  dengan kamar, akupun heran ” dimana kasurnya?” di sini hanya ada bantal dan beberapa  lemari kecil di sekelilingnya. ” di sini tidurnya ngga pakai kasur” jawabnya dengan santainya.  Ku menelan saliva dalam dalam , tapi aku mengingat perkataan mama ” satu bulan kamu  bertahan di pesantren, dan mama akan memberi kamu hadiah yang kamu inginkan”  mengingat ucapan itu, akupun tak keberatan jika hanya satu bulan merasakan encok karna  ketiadaan kasur ini. 

Tiga minggu berlalu , dan anehnya pesantren ta seburuk itu, di sini aku belajar tentang  kemanusiaan, arti hidup, kebersamaan dan hal hal lainnya. 

Tepat satu bulan… 

” Nabilaaaaa, sambanggg” teriak Amna merusak gendang telingaku. ” heh iyaaa santai bisa  ngga sih kalo ngmong tuh” ucapku menutup rapat rapat mulut gadis cerewet itu. “btw  makasih” ucapku sembari melesat secepat kilat menuju ruang sambangan menemui sosok  sosok yang sangat ku rindu itu. ” mamaaaaaa…” teriakku memeluk erat tubuh beraroma khas  vanilla itu, meskipun terdengar lebay, namun aku menganggapnya sebagai hal yang wajar,  pasalnya ini adalah kali pertamanya aku jauh dari mereka. ” udah satu bulan kamu di sini, dan  seperti yang mama janjikan, sekarang apa yang kamu mau?” tanya mama membuatku  bergembira. ” sekarang Nabila hanya ingin lebih lama di tempat ini, bukan hanya satu bulan  ma” ujarku sontak membuat tawa di bibir mama semakin melebar. “tapi, Nabila mau cerita  ma, di sebelah telinga Nabila ada benjolan dan ini sakit banget ma, awalnya Nabila ngga  mikirin, tapi lama lama sakitnya nambah” penjelasanku membuat mama heran, ” yaudah,  mama izinin pengurus dulu, kita ke rumah sakit ya nak, buat periksa” ucap mama sembari  menuju ruang pengurus. 

Ku berjalan bersandingan dengan mama, menuju mobil hitam yang di kendarai pak Supri,  sopir kepercayaan papa. Tak lama perjalanan sekitar 15 menit dari pesantren, sampailah kita  pada bangunan megah berlogo plus itu, dengan langkah santai ku masuki bilik demi bilik  rumah sakit, hingga tepat berhenti pada ruangan dengan papan bertulis “DOKTER  HENDRA”. Setelah ku memasuki ruangan itu, aku melihat lelaki berusia kira kita tak jauh  dari mama sedang duduk santai dan menulis entah apa itu. ” silahkan berbaring di sana nona  Nabila” ucap dokter yang entah dari mana mengetahui tentang namaku. Perlahan dokter  Hendra memeriksa dan menanyakan lebih dalam tentang keluhanku, setelah cukup lama,  dokter Hendra pun kembali ke tempatnya semula dan memberi penjelasan pada mama. ” anak 

ibu mempunyai benjolan yang tidak wajar, sebaiknya Nabila harus menjalani proses lab, agar  saya mengetahui lebih lanjut tentang penyakit yang sebenarnya di derita oleh Nabila” jelas  dokter membuat mama panik. ” baik dok, lakukan apapun untuk kesembuhan anak saya”  permohonan mama yang di jawabi anggukan pelan oleh dokter Hendra.  

Keesokan harinya, aku dan mama kembali ke rumah sakit, menuruti apa yang di katakan oleh  dokter Hendra, ku terlentang pada kasur rumah sakit dengan di kelilingi segala macam alat  medis dan kebisingan oleh monitor, serangkaian proses lab ku lakukan dan tiba akhirnya hasil  di berikan. Suara langkah sepatu mendekat, ku mendongak berusaha melihat siapa sosok  bersepatu itu yang tak lain adalah dokter Hendra, dia memberikan selembar kertas pada  mama, aku tak tau apa tulisan yang tercatat pada lembaran itu, aku hanya melihat buliran  bening yang mulai membasahi pipi mama. ” bu, Nabila menderita kelenjar getah bening dan  harus segera melakukan oprasi, jika tidak benjolan ini akan semakin besar dan lama  kelamaan akan menjadi tumor” jelas dokter Hendra membuatku merinding. ” dok, lakukan  jika itu bisa menyembuhkan anak saya” ucap mama dengan nada memohon. 

Tiba hari di mana proses oprasi akan di lakukan, ku awali dengan do’a dan dzikir yang telah  di ajarkan oleh abah yai beberapa waktu lalu, aku bersiap dan.. 

” eh bentar bill” potong Amna menghentikan dongeng Nabila. “eh gimana sih kamu Amna,  kan Nabila belum selesai ceritanya” celetuk Maya kesal. ” kalian lupa kalo aku bisa nangis,  seandainya Nabila nge lanjutin ceritanya” ujar Amna penuh pengakuan. ” oh iya, kan kamu  takut darah, terus kamu gampang banget mellow hahaha dasar bocah” ucap Maya meledek. ”  

yaudah iyaaa, aku yang salah, yaudah kita sama sama berdo’a aja biar di jauhkan dari segala  musibah, kesusahan dan penyakit” ucap Amna sok bijaksana “amiinnn” ujar kita bertiga  bersama. ” oke sekarang tinggal kamu yang belum cerita” ucap Nabila menagih Amna. “oke  kita mulai” jawab Amna semangat. 

“aku adalah anak dari keluarga kurang mampu, bahkan untuk membeli kebutuhan saja susah,  setiap harinya aku di hantui dengan keinginan bekerja dan membantu orang tua, tapi di sini  aku menemukan kalian dan teman teman yang lain, teman rasa keluarga, kalian menerimaku  dan memberikanku pelajaran tentang arti hidup, bahwa ada yang lebih susah di bawah kita,  tak semua orang mempunyai ujian seperti kita, karna Allah memberikan ujian kepada  hambanya sesuai kemampuan masing masing dan ketika kita di uji, itu tandanya Allah sayang  sama kita, Allah juga tahu kalo kita mampu, sepertinya itu saja yang dapat saya sampaikan,  kurang lebihnya saya mohon maaf, wassalamu’alaikum” singkat Amna, membuat haru 

menyelimuti lingkaran tiga santriwati ini. Kamipun saling berpelukan, menguatkan dan kami  tutup lingkaran hiruk piruk santriwati ini dengan do’a.

Leave A Reply

Your email address will not be published.