Mawar Biru Yang Tak Pernah Layu 

0

Oleh: Alis, Santri (Ihya Ulumiddin Pamarican, Ciamis)

Malam itu pesantren diselimuti duka. Namun aroma mawar biru yang tertiup angin  seakan membawa pesan rahasia, meninggalkan kisah tentang seorang perempuan dan cahaya  yang menolak padam meski pemiliknya telah tiada. 

***  

Malam Jum’at adalah malam yang sakral bagi kami. Biasanya, setiap komplek  menjalankan kegiatan ekstra, tapi malam ini berbeda. Secara mendadak, santri putra dan  santri putri digiring ke mushala utama.  

Suara riuh santri putri yang membawa mushaf Al-Qur’an, terdengar di mana-mana.  Beberapa masih berusaha menyempurnakan wudhu, ada pula yang berteriak, “Eh, sandalku di  mana?”. Suasana malam itu begitu ramai dan penuh tawa. 

Hingga kang Ramdan naik ke mimbar. Semua santri dipaksa tenang. Matanya  menyapu seluruh sudut mushola, seakan memastikan semua sudah siap dan khidmat  mendengarkan. 

Setelah salam singkat dan tanpa basa-basi panjang, suaranya melirih “Mari kita  bersama, berdoa untuk kesembuhan Bu Nyai. Semoga segera pulih dan kembali sehat seperti  sediakala. Silakan dibuka surat Ar-Ra’ad!” 

Aku tercekat. Dadaku mendadak sesak. Surat itu seperti tanda yang tak ingin  kuterima. Ada apa sebenarnya? Mengapa tiba-tiba surat ArRa’ad yang harus dibaca?  

Aku menunduk pasrah, membiarkan suara tawasul yang menggema masuk ke telinga,  namun pikiranku tak kunjung menemukan ketenangan. Justru semakin lama, resah itu  semakin berdesakan, berloncatan ke mana-mana, menolak diam, menolak tenang. 

***  

Saat itu sekitar pukul dua belas lewat empat puluh lima pagi, aku masih terlelap.  Sebuah tangan menggenggam erat telapak tanganku, isak tangis yang tertahan terdengar  menyusup telinga. Aku terbangun. 

“Mbak… Ibu…“. Mira belum melanjutkan pembicaraannya. 

Perasaanku sudah tidak enak. “Sudah tiada.” suaranya pelan disertai isak tangis yang  pecah tak tertahan.  

“Apa?” Aku menatap sekeliling, mencoba mencerna kata-kata yang datang bagai  guntur dimalam kelam tanpa hujan

“Apakah aku sedang bermimpi?” jawabku linglung. Sambil memastikan keadaan. 

Tidak ada jawaban, hanya tangis Mira yang tidak kunjung reda. Orang-orang di  sekitar mulai terbangun, telingaku mendadak mati rasa. Aku tidak menangkap apa pun selain  gema hatiku sendiri: Mengapa? Bukan pulang ini yang ku maksud Bu… 

Air mata jatuh tanpa bisa kutahan. Pikiranku kacau, tapi aku tidak bisa terlarut-larut.  Ning Khilma bergerak sigap, menyiapkan semuanya seolah harus sempurna sebelum  rombongan jenazah tiba. 

Aku menatapnya. Putri pertama ibu itu begitu cekatan, tanpa henti. Rasa malu  menyusup_aku hanya terdiam dalam kesedihan, sementara dia tegap menopang keadaan. Aku  mengumpulkan sisa tenaga, menahan tangis, dan mulai menyiapkan hidangan sahur untuk  para santri dan beberapa orang penggali kubur

***  

Sahur pagi berjalan seperti biasa, meski hati dan pikiran begitu porak poranda.  Sebelum adzan shubuh benar-benar berkumandang, suara sirine ambulans terdengar  menembus kesunyian, suara yang seakan mengoyak perasaan, dan memberi tanda bahwa  sesuatu yang tak pernah kami bayangkan kini benar-benar tiba. 

“…Ibu…!” 

Suara orang berlarian dan teriakan pecah bersamaan. Satu demi satu isak tangis  memenuhi udara. Aku limbung, tubuhku lemas. Ini benar-benar terjadi. Air mataku jatuh lagi  dan lagi, tidak mau berhenti. 

Jenazah akhirnya dibawa masuk ke ruang tamu. Semua orang berkumpul melingkar,  duduk dengan kepala tertunduk, memanjatkan doa dengan suara bergetar. Para santri  dipersilakan maju satu per satu, mencium tangannya. Sebuah penghormatan terakhir, tanda  bakti yang tidak akan pernah cukup untuk membalas kasih sayang seorang Ibu. 

Aku duduk terpaku, menatapnya lekat.

“Ibuu…” bisikku lirih, nyaris tidak bersuara. 

Matanya terpejam rapat, wajahnya begitu berseri, seakan tidur panjang tanpa rasa  sakit ini yang beliau inginkan. 

Air mataku jatuh, bukan hanya karena kehilangan, tapi juga karena rasa  syukur_betapa bahagianya Allah menganugerahi kami kesempatan melihat beliau untuk  terakhir kalinya, sedekat dan seindah ini.  

Mana mungkin kami berani berebut dengan-Mu, sementara Engkau sendiri yang  menjanjikan tempat paling indah untuk Ibu 

Dengan gemetar, aku meraih dan mencium tangannya, tetap harum_sama seperti  aroma yang selalu menenangkan setiap kali kucium usai salat berjamaah. “Bu, aku janji. Aku  ingat semuanya”  

*** 

Tepat di hari ketujuh Ramadhan itu, doa-doa duka berdatangan, membawa harum  bunga belasungkawa. Hatiku bergetar ketika sadar: tanggal ini bukanlah tanggal biasa, ini  bertepatan dengan tanggal wafatnya Hadratussyaikh K.H. Hasyim Asy’ari (tokoh pendiri  Organisasi Nahdlatul Ulama/1926). 

“Adakah rahasia di balik semua ini?”. Cinta Ibu pada perjuangan, kasihnya pada  santri, tanggung jawabnya pada jama’ah muslimat, kini berbuah penghormatan yang tidak  terbayangkan. 

Setelah rombongan Abah tiba, suasana menjadi semakin khidmat. Jenazah Ibu lalu  dimandikan dengan penuh kehati-hatian. Di loteng lantai dua, aku duduk terdiam, tak kuasa  untuk menyaksikan.  

Entah kebetulan atau berkah Ramadhan, udara yang sejak pagi teriknya terasa  menggigit kulit, mendadak semakin menyejukkan. Angin berhembus pelan, seolah menghibur  para pelayat yang sejak tadi berdiri tanpa atap blandongan.  

Setelah selesai dimandikan, tubuh ibu dikafani dengan teliti, Mataku perih  menatapnya. Sosok yang selalu bergerak sigap membangunkan shubuh dengan tasbih yang  bergelantung di tangannya, kini terbaring tenang, damai, dan bersih tanpa noda.

Jenazah kemudian dipindahkan ke mushala putra. Ramai sekali suara bacaan Al Qur’an yang menggema, silih berganti dari santri ke santri hingga tamu yang baru datang dari  ibu kota. Lantunan itu mengisi setiap sudut ruang, menghadiahkan pahala bacaan untuk Bu  Nyai tercinta. 

Ya Allah, Bu… mushala ini akhirnya seramai yang engkau impikan. Inilah warisan  terindahmu, batinku bergetar. 

Selepas salat Jumat, jamaah masih terus berdatangan. Mereka bergiliran menyalati  jenazah, sementara lantunan Al-Qur’an tetap mengalun tanpa henti. Hari itu terasa begitu  Panjang nan syahdu, seakan waktu pun melupakan tugasnya untuk terus berputar. 

***  

Menjelang Ashar, setelah semua keluarga jauh berdatangan, jenazah Ibu akhirnya  dibawa keluar dari mushala menuju pemakaman yang tak jauh dari kompleks putri. Jalan  sempit menuju pemakaman sesak dipenuhi jamaah yang mengiringi. Shalawat menggema  dari setiap sudut, seakan-akan suara itu menjadi sayap yang mengantarkan ibu ke tempat  peristirahatan terakhirnya.  

Aku berdiri di serambi bersama para santriyah lain. Mataku terus mengikuti langkah  demi langkah, tubuh terasa ringan namun dadaku semakin sesak. Gang yang biasanya  lengang kini padat, dipenuhi wajah-wajah yang larut dalam duka. 

BACA JUGA

 BPJS 

Saat jenazah hendak diturunkan ke liang lahat, langit berubah muram dan tanpa  peringatan hujan deras turun tiba-tiba_tidak seorang pun mundur. Jamaah justru semakin  rapat, tetap bershalawat dengan suara yang semakin lantang. Air mata bercampur dengan air  hujan, membasahi wajah, menyembunyikan setiap kesedihan.  

Ya Allah Bu,… bahkan langit pun ikut merindu. Apakah ini bentuk rahmat dan kasih  sayang-Mu?. Ratapku bersama hujan.  

Hingga sholawat berhenti, langit kembali menarik hujan. Seolah doa menembus tirai  langit, naik bersama malaikat penyampai pesan. Dan di saat itulah aku merasa: Ibu tidak  pernah benar-benar pergi. Ia hanya berpulang dengan cara yang paling indah, diiringi kasih  semesta, diantar dengan shalawat yang menggema menuju tempat yang diimpikan_ dijanjikan-Nya. 

*** 

Pagi ketiga setelah kepergian Ibu, pengajian Tafsir Jalalain kembali dimulai seperti  biasa. Aku sempat mengira kegiatan akan berhenti sampai tujuh hari tahlilan selesai. Namun  Abah tetap duduk di hadapan kami dengan ketegaran yang sulit kujelaskan_seolah ingin  menegaskan, hidup harus tetap berjalan.  

Ragaku duduk di mushala putra, mengikuti lantunan ayat yang Abah baca dengan  logat Sundanya. Tapi pikiranku masih melayang_ kuatkah Ramadhan ini tanpa Bu Nyai.  

Suasana pengajian begitu hening. Sesekali aku melirik ke arah luar jendela: kicauan  burung yang hinggap mencari sarapan, matahari pagi memantulkan cahaya pada bunga-bunga  di halaman dan hangatnya memeluk tubuh kami yang kedinginan. Sungguh pagi yang  menenangkan.  

Hingga tiba-tiba bacaan Abah terhenti. Suaranya berat, bergetar, mengucapkan ayat  “Alladzīna idzā aṣābat-hum muṣībatun qālū innā lillāhi wa innā ilaihi rāji‘ūn…” 

Aku terdiam, napasku tercekat, ludahku terasa tertahan di tenggorokan. Ayat dari surat  Al-Baqarah itu seolah ditujukan langsung untuk kami. Allah sedang mengajarkan arti sabar  melalui pengajian pagi ini. 

“Jika ditimpa musibah,” suara Abah terdengar serak bergetar, “ucapkanlah inna lillahi  wa inna ilaihi raji‘un. Karena segala sesuatu milik Allah, dan akan kembali kepada-Nya.” 

Tanganku menggenggam kitab erat-erat, berusaha menahan air mata. Abah  menambahkan dengan suara yang patah: 

“Abah itu sangat beruntung bisa jadi suaminya Ibu. Dulu Abah hanya mendirikan  rumah dan mushola kecil disini, niatnya sekadar supaya santri bisa ngaji. Abah hanya tahu  mengajar, tidak berharap banyak_membayangkan pondok bertambah santrinya, bangunan  sebesar sekarang, dengan yayasan yang semakin berkembang. Semua itu tiada lain adalah  perjuangan Ibu.” 

Pandanganku buram, aku buru-buru mengusap kelopak yang hampir menjatuhkan  kristal beningnya, takut jatuh ke kitab dan mengacaukan suasana. Tapi suaranya terus  mencabik-cabik perasaan. 

“Abah bisa tahan rindu kalau Ibu pergi haji empat puluh hari…bahkan mau itu  berkali-kali. Suaranya terjeda, “tapi, kalau ditinggal seperti ini, Abah juga tidak kuat.”

Ia menunduk, menyibukan diri membaca kitab, suaranya tetap bergetar. “Allahu  Akbar… MasyaAllah…” 

Dan di detik itu, aku benar-benar mengerti: ketegaran Abah bukan tanpa alasan. Ia  sabar karena sepanjang hidupnya ia belajar_bersama Bu Nyai. Dan kini, dengan segala luka,  ia sedang mengamalkannya_sendiri. 

***  

Tujuh hari tahlilan berjalan lancar, tanpa mengganggu pengajian Ramadhan. Aku  mulai merasa_kami bisa bangkit dengan saling menguatkan. Namun setiap kali bertemu  orang, pertanyaan-pertanyaan yang menyesakkan itu kembali menghujam, seolah ingin  menguji daya tahan kami yang baru saja kehilangan tiang utamanya. 

“Kasihan sekali abah yai pasti kesepian” 

“Pesantren sekarang, pasti sepi ya tanpa Ibu?” 

“Apa kamu tidak bermaksud pulang saja? Kan Ibu sudah tidak ada. Siapa lagi yang  akan kau ikuti setelah ini?” 

Dadaku terasa dihujam benda keras. Pertanyaan-pertanyaan itu seperti garam yang  ditaburkan saat luka masih menganga. Tapi aku menahan diri, memaksa untuk tetap tegar. 

“Baik-baik saja,” jawabku akhirnya dengan senyum tipis dan suara tenang, meski aku  sedikit marah yang entah harus pada siapa. “Kami masih punya Abah, juga seluruh keluarga  yang kuat dan ikhlas menjalaninya.” 

Tatapanku beralih pada bangunan pondok, menara tinggi menjulang dengan cahaya  lampu yang menembus gelap malam. Aku menghela napas panjang, dan dalam hati berbisik  lirih, seolah mengirim doa ke tempat Ibu kini beristirahat. 

Air mataku jatuh lagi, tapi kali ini tak hanya karena luka_ada keteguhan yang tumbuh  bersamanya. 

Bu… kami tidak akan menyerah begitu saja. 

***  

Bunga-bunga di halaman pesantren itu tetap tumbuh, seolah enggan menyerah pada  waktu. Meski tangan yang dulu menanam dan merawatnya telah tiada, setiap kelopak yang  mekar selalu mengingatkan kami bahwa kasih sayang dan keteladanan tidak pernah benar-

benar pergi. Begitulah warisan cinta dan perjuangan beliau_tidak berhenti, hanya berubah  wujud. 

Suatu pagi, aku masih ingat jelas bagaimana beliau berdiri di halaman, memandang  bunga-bunga itu. 

“Teh, coba pindahkan kamboja itu. Kasihan, tumbuhnya berdempetan. Kalau diberi  ruang, mereka bisa lebih besar dan indah,” katanya lembut. 

Aku segera mengangguk. “Nggih, Bu.” 

Beliau tersenyum tipis. “Ingat baik-baik ya, untuk melihat keindahan itu tidak perlu  jauh-jauh, apalagi yang mahal. Rawat saja apa yang sudah ada. Lihat bunga-bunga ini, kalau  rajin disiram, bahkan di musim kemarau pun mereka tetap segar.” 

Tangannya lincah memotong ranting kering sambil menata pot bunga kertas. “Ibu  senang kalau halaman terlihat hidup dan berbunga. Jadi kalau ada wali santri atau tamu  datang, mereka merasa betah. Coba perbanyak tanaman yang berbunga ya, biar indah  dipandang.” 

Aku mengangguk, mataku mengikuti setiap gerakannya. Namun beliau belum  berhenti. Pandangannya beralih ke deretan pot kosong di dekat aula putra. 

“Ya Allah, ini sayang sekali. Banyak pot kosong dibiarkan begitu saja. Padahal  tanahnya bisa diganti dengan yang lebih subur, lalu ditanami bunga kertas lagi”. Wajahnya  terlihat sedih. 

“Teh, tahu nggak?. Berkata sambil tetap sibuk mencabuti rumput liar di salah satu  potnya. “Menghidupkan tanah yang mati itu ada hadistnya. Setiap yang kita hidupkan, ada  pahalanya”. 

Aku tercekat. Benar juga ya. Aku tertunduk malu. Sejak saat itu aku sadar_bersama  Bu Nyai, setiap percakapan adalah ilmu dan setiap gerakan adalah teladan. Ia mengajarkan  bahwa belajar tidak hanya di ruang kelas, tapi juga dari hal-hal sederhana, seperti menanam  bunga. Ia pula yang mengajarkan bahwa perempuan tak cukup hanya bisa mengaji, tapi harus  berdaya dan berdampak bagi lingkungannya. 

Kini, setiap kali aku melihat halaman pesantren yang penuh bunga, hatiku seperti  mendengar suaranya kembali. Seolah beliau berbisik lembut, menegaskan pesan yang selalu  diulang pada kami:

“Jadi perempuan itu harus sergep lan gemati.” 

Aku sadar, itu bukan sekadar nasihat, melainkan cermin hidup beliau  sendiri_keteguhan, kesabaran, dan kasih sayang yang akan terus hidup, meski raganya telah  tiada. Seperti mawar biru di halaman Pesantren ini, selalu tumbuh, mekar dan mewangi. 

Tamat. 

Leave A Reply

Your email address will not be published.