RISALAH NU ONLINE, JAKARTA – Sebanyak 16 ormas Islam menyatakan kesepahaman dan dukungan terhadap langkah Presiden RI untuk menempuh upaya strategis dan realistis dalam membantu perjuangan Palestina melalui jalur diplomasi internasional, termasuk Board of Peace.
Dukungan tersebut disampaikan usai pertemuan Presiden dengan pimpinan ormas-ormas Islam, kiai sepuh, dan pimpinan pondok pesantren dari berbagai daerah. Dalam pertemuan itu, Presiden menyampaikan pertimbangan kebijakan terkait situasi Palestina dan peluang diplomasi internasional yang dapat ditempuh Indonesia.
Selaku perwakilan, Ketua Umum PBNU, KH. Yahya Cholil Staquf (Gus Yahya) menjelaskan bahwa seluruh ormas Islam sepakat pada tataran nilai dan prinsip untuk menolak segala bentuk penjajahan serta memperjuangkan kemerdekaan Palestina.
“Kami mendapatkan penjelasan yang ekstensif dari Presiden mengenai pertimbangan-pertimbangan realistis,” kata Gus Yahya, dikutip dari YouTube Resmi Sekretariat Presiden, Rabu, (04/02/26).
“Mengejar hasil yang lebih nyata berdampak untuk menolong Palestina termasuk dengan mengikuti atau berpartisipasi di dalam inisiatif yang dibuat oleh Amerika yaitu Board of Peace ini,” tambahnya.
Beliau mengungkapkan Presiden juga menegaskan bahwa keterlibatan Indonesia dalam Board of Peace akan dilakukan dengan kewaspadaan tinggi dan prinsip yang tidak bisa ditawar, yakni menjaga, membela, dan melindungi rakyat Palestina, khususnya di Gaza, serta memperluas ikhtiar hingga ke wilayah Tepi Barat.
Dalam kesempatan yang sama, Presiden menyampaikan komitmen Indonesia untuk berpartisipasi dalam pengiriman pasukan perdamaian dengan mandat utama melindungi warga sipil Palestina. Langkah tersebut merupakan bagian dari agenda internasional yang membutuhkan dukungan pembiayaan bersama dari negara-negara yang terlibat.
Selain isu Palestina, pertemuan juga membahas penguatan komunikasi antara Presiden dan pimpinan ormas Islam. Presiden menyetujui perlunya mekanisme komunikasi dan konsolidasi yang lebih intensif dengan tokoh-tokoh keagamaan untuk membahas isu-isu strategis nasional dan internasional ke depan.
(Anisa).