2 Kader Terbaik Rebutkan Kursi Ketua PW IPNU DKI

0

RISALAH NU ONLINE, JAKARTA – Perebutan kursi ketua Pimpinan Wilayah (PW) Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (IPNU) DKI Jakarta memasuki babak krusial. Dua kandidat, Madi Ramadhan nomor urut 1 dan Alaika Syahri Ridho nomor urut 2 memaparkan visi serta program unggulan mereka dalam forum debat yang digelar di Gedung PWNU DKI Jakarta, Kamis (5/2/2026) kemarin.

Kedua calon pemimpin organisasi pelajar NU tingkat wilayah ini membawa fokus yang berbeda dalam membangun IPNU DKI Jakarta tiga tahun ke depan. Madi Ramadhan mengawali pemaparannya dengan menegaskan bahwa kepemimpinannya akan lebih menitikberatkan pada kebijakan strategis dibanding sekadar program seremonial. Ia menyoroti pentingnya digitalisasi dan penguatan internal organisasi melalui instruktur kaderisasi.
“Kaderisasi adalah harga mati. Komitmen saya adalah melakukan percepatan instruktur selama enam bulan pertama melalui kebijakan yang sistematis,” ujar Madi.

Madi menilai saat ini belum ada kurikulum baku dalam kaderisasi IPNU yang mampu menjawab tantangan industri global dan memberikan kemampuan influencing bagi para pimpinan di tingkat cabang maupun anak cabang. Selain isu internal, ia berencana mengaktifkan Student Crisis Center (SCC) sebagai lembaga advokasi bagi pelajar.
“saya akan memanfaatkan Student Crisis Center (SCC) untuk membangun lembaga advokasi, rumah bagi para pelajar menyampaikan keluh kesah, aspirasi ataupun menangani kasus-kasus yg berkaitan dengan pelajar” tambahnya.

Sementara itu, Rekan Alaika, membawa narasi kolaborasi sebagai motor penggerak organisasi. Alaika memandang IPNU harus lebih responsif terhadap isu-isu sosial yang saat ini menghimpit para pelajar, seperti perundungan (bullying), kekerasan, dan kesehatan mental.
“IPNU harus hadir di ruang-ruang tersebut. Hari ini banyak pelajar yang mengalami perundungan namun hanya diam dan tidak berani bersuara,” tegas Alaika.

Dalam strateginya, Alaika menekankan pengaktifan Student Crisis Center (SCC) yang akan bekerja sama dengan instansi terkait untuk masuk ke sekolah-sekolah. Menurutnya, kolaborasi lintas sektoral adalah kunci agar kehadiran IPNU dapat dirasakan langsung oleh masyarakat dan pelajar di Jakarta.
Adu Strategi SCC

Menariknya, kedua kandidat sama-sama menyinggung optimalisasi lembaga Student Crisis Center. Jika Madi melihat SCC sebagai rumah aspirasi dan advokasi yang sistematis, Alaika lebih menekankan pada aksi nyata di lapangan melalui kemitraan strategis untuk menangani krisis mental dan fisik pelajar.
Forum debat ini menegaskan bahwa siapapun yang terpilih nantinya, digitalisasi dan manajemen basis data akan menjadi agenda prioritas PW IPNU DKI Jakarta masa khidmat berikutnya. (delia)

Leave A Reply

Your email address will not be published.