RISALAH NU ONLINE, JAKARTA — Ketua Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) Bidang Media, IT, dan Advokasi Mohamad Syafi’ Alielha (Savic Ali) menegaskan bahwa transformasi Nahdlatul Ulama (NU) di abad kedua harus berpijak pada pengalaman sejarah panjang organisasi serta kemampuan membaca tantangan zaman yang terus berubah.
“Kalau kembali kepada tema transformasi Nahdlatul Ulama di abad kedua, saya kira kita enggak bisa tidak, kita harus mengacu ke belakang,” ujar Savic dikutip dari YouTube RuangPublikIDN pada Jum’at, (06/02/26).
Ia menjelaskan bahwa NU memiliki periodisasi perjuangan yang sangat panjang, mulai dari fase sosial-keagamaan hingga keterlibatan dalam ruang politik nasional. Savic menyebut bahwa sejak awal berdiri, NU tidak hanya bergerak dalam isu keagamaan, tetapi juga kebangsaan.
Dalam perjalanan sejarahnya, NU pernah memilih jalur sebagai organisasi sosial keagamaan dan pernah pula terlibat langsung dalam politik melalui partai. Namun, menurut Savic, dinamika tersebut selalu berkaitan dengan konteks zaman. Memasuki abad kedua, Savic menilai tantangan NU semakin besar, terutama karena jumlah warganya yang sangat besar.
“Jumlah warga NU berdasar survei 54 sampai 57 persen dari jumlah Muslim Indonesia. Artinya separuh lebih jumlah warga NU dua kali lipat penduduk Malaysia,” ujarnya.
Ia menekankan bahwa besarnya jumlah warga tersebut membawa konsekuensi berat bagi NU sebagai organisasi kemasyarakatan.
Savic juga menyoroti pentingnya sektor ekonomi agraria yang selama ini menopang kultur NU. Menurutnya, perubahan pada sektor tersebut akan berdampak langsung pada kekuatan sosial NU. Selain itu, sektor pendidikan dinilai menjadi faktor kunci masa depan NU. Tantangan lain yang tidak kalah penting adalah perubahan karakter generasi akibat perkembangan dunia digital. Savic menilai bahwa pola hubungan otoritas juga mengalami pergeseran.
“Hari ini di NU juga enggak bisa mengandaikan bahwa PBNU dipimpin oleh sebuah figur karismatik kebapakan yang kemudian di bawahnya samina wa atha’na,” ujarnya.
Menurutnya, generasi hari ini membutuhkan penjelasan yang rasional selain keteladanan moral. “Orang bisa dipercaya secara moral, tetapi hari ini dia butuh dasar rasional atas keputusan,” katanya.
(Anisa).