RISALAH NU ONLINE, JAKARTA – Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) KH Anwar Iskandar mengimbau umat Islam untuk saling menghormati terkait potensi adanya perbedaan awal Ramadhan 1447 H.
Diketahui, pemerintah memprediksi puasa dimulai pada 19 Februari 2026 karena posisi hilal masih berada di bawah ufuk sehingga bulan Syaban digenapkan 30 hari. Sedangkan Muhammadiyah menetapkan 1 Ramadan jatuh pada 18 Februari 2026 berdasarkan metode hisab global.
Kiai Anwar Iskandar menjelaskan, perbedaan awal Ramadhan bukan sebuah persoalan karena bagian dari ijtihad para ulama yang bisa salah dan bisa benar.
“Kalau benar dapat dua pahala, kalau salah dapet satu pahala. Artinya ada ruang untuk berbeda itu ada. Yang penting buat umat Islam adalah menjaga persaudaraan umat Islam,” kata Kiai Anwar disela-sela acara Mukernas I MUI di Hotel Grand Sahid Jaya, Jakarta Pusat, Kamis (12/22026).
Kiai Anwar menegaskan, potensi terjadinya penetapan awal Ramadhan tidak menjadi masalah dan harus disikapinya dengan saling menghormati.
“Jadi tidak masalah perbedaan itu terjadi dan kita hormati ya yang penting itu saling menghormati,” ujarnya.
Kiai Anwar menjelaskan, perbedaan itu bisa muncul di tengah umat karena mengikuti sidang Isbat yang ditetapkan oleh pemerintah, kemudiaan Ormas Islamnya dan pesantrennya.
“Itu bisa beda juga dan ini bagusnya. Jadi artinya kita itu egaliter, menghargai perbedaannya. Yang penting jangan mengkafirkan sesama Muslim dulu, saudara mempunyai kebebasan untuk memilih mana yang ada sukai sesuai dengan keyakinan Anda,” ujarnya.
Kiai Anwar menyatakan, sikap MUI mengikuti keputusan sidang Isbat yang digelar oleh pemerintah melalui Kementerian Agama RI. Kiai Anwar menjelaskan, pemerintah memiliki otoritas untuk menjadi hakim.
“Jadi menurut agama Islam, hukmul hakim itu rukmul khilaf, bahwa keputusan negara itu menghilangkan perbedaan. Kalau kita masih ada perbedaan, ya kita hormati, karena itu sebuah ijtihad, sebuah keyakinan yang dihargai oleh agama, terimakasih,” pungkasnya. (hud/dam)