Usung Semangat “Pelajar Berdampak,” PC IPNU IPPNU Jakarta Barat Resmi Dilantik

0

RISALAH NU ONLINE JAKARTA – Pimpinan Cabang (PC) Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (IPNU) dan Ikatan Pelajar Putri Nahdlatul Ulama (IPPNU) Jakarta Barat Masa Khidmat 2025-2027 resmi dilantik. Acara pelantikan berlangsung khidmat di Kantor Walikota Administrasi Jakarta Barat pada Sabtu, 14 Februari 2026.

Hadir dalam acara tersebut Ketua Tanfidziyah PCNU Jakarta Barat KH. Agus Salim, Ketua PW IPNU DKI Jakarta Rekan Alaika Syahri Ridho, Ketua PW IPPNU DKI Jakarta Rekanita Fitri Farhana, Rekanita Qathrun Nada mewakili PP IPPNU serta jajaran Majelis Alumni Cabang Jakarta Barat yang memberikan dukungan penuh bagi kepengurusan baru ini.

Acara yang dibuka langsung oleh KH. Agus Salim ini turut dimeriahkan oleh penampilan seni tari dari Sudin Kebudayaan Pemprov DKI Jakarta serta atraksi bela diri yang memukau dari Silat Pagar Nusa Kebon Jeruk.

Dalam sambutannya, Ketua PC IPNU Jakarta Barat, Muhammad Iqbal, menegaskan tema pelantikan “Pelajar NU Hadir untuk Solusi: Bergerak, Berkarya, dan Berdampak.” Ia menekankan bahwa kader IPNU-IPPNU tidak boleh hanya aktif di ruang internal organisasi, melainkan harus berani mengambil peran di lingkup yang lebih luas.

“Diharapkan pelajar-pelajar NU bukan hanya bisa aktif di ruang internal organisasi, IPNU-IPPNU dapat bergerak, belajar, dan tumbuh di lingkup yang lebih luas, di masyarakat, bangsa, dan negara,” ujar Iqbal.

Senada dengan visi tersebut, Ketua PC IPPNU Jakarta Barat, Chintya Haryani Putri Efendi, menyoroti pentingnya pemberdayaan perempuan. Ia menyatakan bahwa saat ini perempuan bukan lagi sekadar pelengkap, melainkan pemimpin yang mampu membawa perubahan. Ia pun berencana membangun sinergi strategis bersama Sudin PPAPP untuk memperkuat peran perempuan di Jakarta Barat.

“Kita sebagai kader IPPNU tidak boleh merasa kecil. Jangan pernah berpikir usia kita masih muda atau hanya pelajar sehingga belum mampu. Justru di organisasi inilah kepemimpinan kita dilatih. Perempuan bukan hanya bisa, tapi memang pantas untuk memimpin dan membawa kebermanfaatan,” tegas Chintya.

Sebagai “orang tua” organisasi, KH. Agus Salim memberikan pesan mendalam mengenai filosofi NU sebagai rumah besar bagi seluruh badan otonomnya. Beliau mengibaratkan Ansor dan Fatayat sebagai anak dewasa, sementara IPNU dan IPPNU adalah anak muda yang sedang bertumbuh.

“Anak itu akan menjadi baik atau melawan orang tua, itu tergantung bagaimana orang tua mendidiknya. Kuncinya di NU adalah adabnya. Apapun itu masalahnya, kalau dibicarakan akan selesai,” pungkas KH. Agus Salim dalam sambutannya sebelum membuka acara secara resmi.

(Delia)

Leave A Reply

Your email address will not be published.