Jejak Dakwah di Negeri Formosa: Menjemput Maghrib di Balik Megahnya Chiang Kai-shek Memorial Hall

0

RISALAH NU ONLINE, TAIPEI – Semangat “Da’i Go Global Nahdlatul Ulama Worlduide Dakwah” bukan sekadar slogan, melainkan aksi nyata yang ditunjukkan oleh delegasi da’i Indonesia saat melakukan kunjungan syiar di Taiwan. Setelah menyisir keindahan alam, perjalanan dakwah kali ini ditutup dengan momen syahdu ibadah di ruang publik jantung kota Taipei.

Perjalanan dimulai dengan agenda tadabbur alam di Lekang Village, Distrik Neihu, Taipei. Bersama pengurus PCI (Pengurus Cabang Istimewa) Taiwan, para da’i menikmati pesona bunga sakura yang tengah mekar sempurna. Keindahan merah muda sakura di Neihu menjadi pengingat akan keagungan ciptaan Sang Khalik di tanah minoritas.

“Melihat sakura ini adalah refleksi keindahan Islam yang harus mekar di mana saja, termasuk di Taiwan,” ujar salah satu da’i Ustadz Rifki Yusak.

Usai memanjakan mata di Neihu, perjalanan berlanjut ke ikon sejarah paling prestisius di Taiwan, yakni Chiang Kai-shek (CKS) Memorial Hall. Di sini, para da’i mempelajari narasi sejarah dan budaya masyarakat Taiwan yang sangat menghargai disiplin serta keteraturan.

Tantangan muncul ketika sang surya mulai tenggelam dan waktu Maghrib tiba. Berada di area monumen raksasa yang padat wisatawan tidak menyurutkan langkah para da’i untuk menunaikan kewajiban.

Tanpa ragu namun tetap menjaga ketertiban, rombongan memilih sebuah sudut gedung yang bersih dan tenang di area CKS Memorial Hall untuk menggelar sajadah. Di sana, sholat Maghrib berjamaah dilaksanakan dengan khusyuk.

Pemandangan ini sempat menarik perhatian beberapa wisatawan lokal. Namun, dengan sikap santun dan rapi yang ditunjukkan para da’i, prosesi ibadah berlangsung lancar tanpa mengganggu kenyamanan publik. Hal ini sekaligus menjadi bentuk dakwah visual (dakwah bil hal) bahwa Islam adalah agama yang fleksibel dan cinta damai.

Kunjungan ini menegaskan bahwa menjadi Da’i Go Global berarti siap beradaptasi dengan lingkungan tanpa meninggalkan prinsip akidah. Dukungan penuh dari PCI Taiwan memudahkan mobilitas para da’i dalam menjangkau titik-titik penting di Taiwan.

” Kuncinya adalah komunikasi. Masyarakat Taiwan umumnya sangat toleran. Kalau kita sholat di pojokan taman atau area bersih di tempat kerja, biasanya mereka menghormati asal kita tidak menghalangi jalan,” ujar ketua LD PCI Taiwan Ustadz Harun Ismail.

Perjalanan hari itu diakhiri dengan diskusi ringan mengenai perkembangan dakwah di Taiwan, membuktikan bahwa di balik gemerlap kemajuan Taipei, cahaya iman tetap menyala melalui langkah-langkah kecil namun pasti dari para pendakwah nusantara.

Penulis : Muhammad Ibnu Kafa

Leave A Reply

Your email address will not be published.