Kisah Mualaf Warga Jepang, Zaki Tazuke San: Terinspirasi Puasa, Temukan Hidayah

0

RISALAH NU ONLINE, JEPANG – Dalam Islam, hidayah atau petunjuk Allah diberikan kepada hamba-hamba yang dikehendaki oleh-Nya. Rupanya hidayah itu menyapa relung hati seseorang yang merupakan warga asli Jepang. Orang itu bernama Zaki Tazuke san, dalam komunitas muslim di Tokyo, beliau sering disapa dengan Zaki San. Penyebutan “San” dalam tradisi orang Jepang merujuk pada panggilan yang bermakna “Tuan”, untuk menghormati seseorang karena karakter dan integritasnya.

Selama berada Akihabara, Prefektur Tokyo, Jepang, saya bertemu dengan berbagai macam orang dengan latar belakang agama, ras, bangsa, dan negara. Karena, Tokyo sendiri merupakan Capital Region atau Ibukota negara Jepang. Jadi, otomatis kota tersebut menjadi wilayah kosmopolit yang multicultural dan multi religious. Meskipun, pada sisi yang lain, agama di Tokyo bukanlah sesuatu yang harus disuarakan ke ranah publik. Karena itu, menemukan masjid bagi komunitas muslim yang ingin beribadah tidaklah begitu sulit.

Salah satu masjid yang menjadi destinasi dakwah penulis, sekaligus menjadi tempat komunitas muslim Tokyo dalam beribadah adalah Masjid Nusantara Akihabara Tokyo. Secara administratif, masjid ini dikelola oleh Pengurus Cabang Istimewa Nahdlatul Ulama Jepang. Jadi amaliah keseharian di dalam masjid ini adalah amaliah ahlusunnah wal jama’ah al-Nahdliyah, meskipun jamaah yang mengikuti kegiatan ibadah di dalamnya terdiri dari lintas mazhab dan golongan.

Uniknya, salah satu pengurus Dewan Kemakmuran Masjid atau DKM Masjid Nusantara Akihabara adalah Zaki Tazuke San, seorang pemuda yang mendapatkan secercah cahaya iman di dalam relung hatinya sehingga menjadi muallaf. Pengembaraan spiritualnya sehingga menjadi seorang muallaf bermula dari setelah lulus kuliah di Tokyo University of Agriculture, sebuah universitas terkemuka di bidang pertanian dan biosains di Jepang.

Zaki Tazuke San kemudian bekerja di sebuah perusahaan yang bergerak di bidang peternakan ayam petelur. Karena tempat kerjanya di peternakan, ia seringkali bertemu dengan orang asing yang juga sama-sama bekerja di perusahaan tersebut, terutama saat masuk kendang ayam. Bagi Tazuke, ia tidak gengsi bekerja di kandang ayam, meskipun kebanyakan para pemuda asli Jepang tidak mau bekerja seperti itu dengan beragam alasan. Pemuda asli Jepang inginnya bekerja di meja kantor, duduk di atas kursi yang empuk, demi menjaga privilege.

Di kandang ayam tempat Tazuke San bekerja itulah ia melihat banyak orang asing yang satu profesi dengannya, terlebih orang Indonesia. Pada suatu waktu, ia heran dengan sebuah fenomena kebiasaan orang Indonesia yang ia lihat di tempat kerjanya. Di saat waktu makan siang, ia tidak melihat orang Indonesia makan. Ia menjadi heran, lalu bertanya mengapa tidak makan? Pertanyaan itu kemudian dijawab oleh orang Indonesia bahwa ia berpuasa. Tazuke San mengernyitkan dahi, dalam hatinya ia berujar, segitunya orang Indonesia beragama sampai tidak mau makan karena menjalankan perintah agamanya.

Tazuke San berpikir dalam-dalam sambil merenung, jika seseorang sampai tidak mau makan karena menjalankan perintah agamanya, tentu ada kekuatan dahsyat yang menguatkan mereka untuk melakukan itu. Ia mulai penasaran dan ingin mengetahui lebih mendalam mengenai Islam. Singkat cerita, Tazuke San memutuskan untuk mempelajari Islam. Ia tidak datang ke Timur Tengah maupun ke negara-negara muslim lainnya. Justru ia tertarik mempelajari Islam dengan ke Indonesia, tepatnya di Bandung dan Tasikmalaya.

Di kedua tempat itulah ia banyak mengamati bagaimana keindahan Islam yang dianut oleh mayoritas masyarakat Indonesia. Sebuah ajaran agama yang dibalut dengan budaya lokal, namun tidak kehilangan esensi ajarannya. Dari pengamatan terhadap Islam yang ia lakukan selama kurang lebih enam bulan itulah, ia kemudian memutuskan untuk memeluk Islam.

Setelah masuk Islam, ia pulang ke Jepang. Di tanah kelahirannya itulah, ujian keimanan datang, ia diusir oleh keluarganya, sehingga harus luntang-lantung dari satu tempat ke tempat lain. Untung saja, ia bisa tidur di salah satu masjid yang ada di Tokyo, karena dalam ingatannya selama melakukan pengamatan terhadap Islam di Indonesia, teras masjid bisa dibuat tidur dan tempat untuk makan.

Seiring perjalanan waktu, akhirnya Tazuke San menemukan dambaan hatinya, seorang gadis asal Makasar, Sulawesi Selatan yang juga beragama Islam. Keduanya lalu membina rumah tangga dalam naungan syariat Islam dan hidup Bahagia. Hingga kini Zaki Tazuke San menjadi ketua Muallaf Center PCINU Jepang, dan banyak melakukan pembinaan terhadap para muallaf. Semoga Zaki Tazuki San senantiasa istiqamah dalam menjalankan kewajiban sebagai seorang muslim, dan saya kagum kepadamu wahai tuan. (Mohammad Khoiron)

Leave A Reply

Your email address will not be published.