Risalah NU Online,Toyohashi – Langkah dakwah global yang diinisiasi Lembaga Dakwah PBNU mengantarkan dua dai muda Nahdlatul Ulama ke Jepang dalam program NU Worldwide Dakwah 2026. Dari delapan negara tujuan seperti Australia, Selandia Baru, Korea Selatan, Taiwan, Timor Leste, Jerman, Hong Kong, dan Jepang, Negeri Sakura menjadi salah satu titik penting penguatan misi Islam Ahlussunnah wal Jamaah An-Nahdliyah di kawasan Asia Timur.
Dua dai yang ditugaskan ke Jepang adalah KH. Mohammad Khoiron asal Madura yang berdomisili di Kota Bekasi dan Dr. KH. Saiful Amar, Lc, M.Si yang ditempatkan di wilayah berbeda. Keduanya tiba bersamaan di Bandara Haneda, Tokyo, dan disambut langsung jajaran pengurus PCINU Jepang, termasuk Ketua Tanfidziyah KH. Ahmad Gazali, Ph.D., bersama perwakilan pengurus komunitas setempat. Sambutan hangat itu terasa kontras dengan suhu musim dingin Tokyo yang mencapai 15 derajat Celsius.
KH. Mohammad Khoiron mendapat amanah berdakwah di Masjid Nusantara Akihabara, Prefektur Tokyo, serta Masjid Tsubame di Prefektur Niigata. Sementara itu, Dr. KH. Saiful Amar, Lc, M.Si ditempatkan di Masjid Al-Hidayah Toyohashi, Prefektur Aichi, sekitar 290 kilometer dari ibu kota Jepang.
Perjalanan menuju Toyohashi ditempuh menggunakan kereta cepat Shinkansen selama dua jam delapan menit. Moda transportasi yang dikenal presisi itu menjadi simbol kedisiplinan Jepang. Karena, keterlambatan satu menit saja bisa menjadi perhatian publik nasional, sebagaimana disampaikan Gus Hasan al-Rasyid warga Indonesia yang menetap di sana.
Wakaf Warga Semarang
Masjid Al-Hidayah Toyohashi berdiri relatif baru, diresmikan pada Januari 2025. Keberadaannya tidak lepas dari wakaf seorang warga Indonesia, Sartono, asal Boyolali yang kini berdomisili di Semarang. Ia mewakafkan separuh rumah pribadinya untuk dijadikan masjid, sebuah langkah nyata dakwah bil hal di tengah komunitas Muslim minoritas.
Pembangunan masjid dua lantai dengan sentuhan arsitektur Jepang itu didukung gotong royong komunitas Muslim lintas negara. Selain Indonesia, partisipasi datang dari Malaysia, Pakistan, dan Bangladesh. Tradisi patungan dan donasi bersama menjadi praktik umum di Jepang dalam membangun fasilitas ibadah, tanpa bergantung pada sponsor pemerintah.
Islam di Jepang memang berstatus agama minoritas, namun menunjukkan pertumbuhan yang stabil. Populasi Muslim diperkirakan mencapai 185.000 hingga 230.000 jiwa, kurang dari 0,2 persen total penduduk yang sebagian besar terdiri atas pelajar, pekerja migran, dan ekspatriat dari Indonesia, Pakistan, dan Bangladesh. Di Toyohashi, komunitas Muslim didominasi para pekerja dan mahasiswa dari negara-negara tersebut.
Titik Temu Beragam Komunitas
Wilayah Toyohashi dikenal sebagai salah satu kantong komunitas Muslim di Prefektur Aichi. Di kawasan ini pula berdiri Masjid Darussalam yang pernah menjadi pusat pertemuan Jamaah Tabligh terbesar di Jepang. Penggagasnya juga merupakan warga Indonesia.
Masjid Al-Hidayah kini menjadi ruang perjumpaan berbagai latar belakang organisasi dan mazhab. Selain warga NU, jamaah dari kalangan Jamaah Tabligh, baik asal Indonesia, Malaysia, Afghanistan, Pakistan, maupun Bangladesh juga ikut rembug memakmurkan kegiatan ibadah dan pengajian. Pengelolaan masjid dijalankan oleh para pekerja Indonesia yang sebagian besar telah menyelesaikan pendidikan di universitas-universitas Jepang.
Keberadaan masjid wakaf ini bukan sekadar tempat ibadah, tetapi juga simbol solidaritas diaspora Muslim. Di tengah posisi sebagai minoritas, kolaborasi lintas negara menjadi fondasi utama dalam menjaga keberlangsungan syiar Islam.
Program Worldwide Dakwah yang diamanahkan PBNU menjadi bagian dari upaya memperkuat jejaring Islam moderat Indonesia di kancah internasional. Amanah yang disampaikan Wakil Ketua PBNU, KH. Zulfa Musthofa, saat pelepasan dai, menekankan pentingnya membawa nilai-nilai Ahlussunnah wal Jamaah ke ruang global. Artinya mengenalkan nilai-nilai aswaja an-Nahdliyyah bukan sekedar ceramah, melainkan melakukan upaya diplomasi kebudayaan dan keteladanan sosial.
Di Toyohashi, dakwah tidak hanya berbicara tentang mimbar dan pengajian, tetapi juga tentang merawat persaudaraan lintas bangsa. Masjid wakaf warga Semarang itu kini menjadi rumah bersama bagi komunitas Muslim dari lima negara, yakni Indonesia, Malaysia, Pakistan, Bangladesh, dan Afghanistan yang berupaya meneguhkan iman di tengah kehidupan modern Jepang. (Saiful Amar).