Kajian Subuh di Negeri Ginseng: Saat Khauf Menjadi Jalan Pulang yang Menyelamatkan bagi Para Perantau

0

RISALAH NU ONLINE DAEJEON, KOREA SELATAN – Suasana khidmat menyelimuti Masjid An-Noor, Daejeon, Korea Selatan, pada Sabtu (21/2) pagi, saat puluhan Pekerja Migran Indonesia (PMI) berkumpul mengikuti Kajian Subuh berjamaah. Pertemuan tersebut menjadi momentum muhasabah bagi para perantau melalui penyampaian materi dari kitab klasik Tanbih al-Ghafilin karya Abu al-Layth al-Samarqandi yang mengupas tuntas tentang urgensi menjaga hati di tengah godaan duniawi.

Dalam ceramahnya, Ustadz Muhammad Hidayat mengisahkan sejarah seorang ahli ibadah dari kaum Bani Israil yang hampir tergelincir ke dalam lembah maksiat bersama seorang perempuan pezina. Melalui narasi tersebut, digambarkan bagaimana syahwat mampu menguji keteguhan iman seseorang yang paling taat sekalipun. Lelaki dalam kisah tersebut diceritakan sempat menjual hartanya demi memenuhi syarat untuk mendekati sang perempuan, namun ia terselamatkan oleh hadirnya rasa takut yang luar biasa kepada Allah tepat sebelum kemaksiatan terjadi.

Kisah tersebut ditekankan sebagai refleksi bagi para PMI yang hidup jauh dari pengawasan keluarga di Korea Selatan. Penekanan utama diberikan pada konsep muraqabah, yakni kesadaran penuh bahwa Allah senantiasa mengawasi setiap gerak-gerik hamba-Nya. Fenomena ini relevan dengan tantangan kehidupan di negeri perantauan yang sering kali menghadirkan ujian integritas moral dan spiritual bagi para pekerja migran.

Lebih lanjut, kajian ini menyoroti dampak domino dari sebuah ketakwaan. Sikap konsisten sang ahli ibadah yang membatalkan niat buruknya ternyata menjadi wasilah hidayah bagi sang perempuan untuk bertaubat secara total. Hal ini membuktikan bahwa keteladanan melalui tindakan nyata sering kali lebih efektif dalam menyentuh nurani dibandingkan sekadar retorika panjang lebar.

Menutup kegiatan tersebut, para jamaah diajak untuk terus memupuk rasa takut kepada Allah sebagai benteng terakhir dalam menjaga iman. Kajian ini diakhiri dengan harapan agar Masjid An-Noor terus menjadi pusat penguatan mental dan spiritual bagi komunitas Muslim Indonesia di Korea Selatan, sekaligus tempat kembalinya hati menuju ketakwaan di tengah kesibukan bekerja di tanah rantau.

(Delia/Muhammad Hidayat)

Leave A Reply

Your email address will not be published.