Dr. KH. Zakky Mubarak, MA
Manusia sebagai makhluk yang paling sempurna, diberikan amanah oleh Allah s.w.t. agar mengelola alam semesta dengan baik dan diarahkan agar mendatangkan manfaat yang sebesar-besarnya.
Untuk mencapai tujuan itu, setiap orang yang berakal akan mengetahui bahwa hal itu dicapai dengan pengendalian diri dan memerangi hawa nafsu.
Setiap orang yang berakal pasti menyadari bahwa siapapun yang memperturutkan hawa nafsunya akan tercampakkan dalam kehinaan yang sangat mengerikan. Pada kenyataan dalam kehidupan sehari-hari, dewasa ini, menunjukkan betapa banyaknya manusia yang dilanda nestapa, akibat tidak mampu mengendalikan dirinya dan memerangi hawa nafsunya.
Dengan demikian, mereka melakukan berbagai perbuatan yang tercela yang dilarang oleh ajaran agama. Islam mengajarkan umat manusia agar menjadikan hidayah Ilahi sebagai satu-satunya petunjuk yang lengkap dan bersifat abadi. Ia merupakan satu-satunya sistem yang harus dijadikan dasar oleh manusia dalam membentuk pribadinya dan mengendalikan nafsu syahwatnya.
Dalam al-Qur’an banyak dijumpai berbagai petunjuk yang mengarahkan umat manusia agar mengikuti jalan yang lurus yang diridhai oleh Allah s.w.t.. “Apakah orang yang sudah mati lalu Kami hidupkan dan beri dia cahaya yang membuatnya dapat berjalan di tengah-tengah orang banyak, seperti orang yang berada dalam kegelapan sehingga dia tidak dapat keluar dari sana? Demikianlah, dijadikan terasa indah bagi orang-orang kafir apa yang mereka kerjakan”. (QS. Al-An’am, 06:122).
Ayat ini memberikan penjelasan bahwa sangat berbeda antara orang yang mengikuti petunjuk kebenaran dan mereka yang terbelenggu dalam godaan hawa nafsu. Mereka yang mengikuti petunjuk kebenaran akan memperoleh jalan yang terang benderang untuk meraih kesuksesan dalam kehidupan dunia dan akhirat. Sebaliknya mereka yang memperturutkan hawa nafsu, akan terjebak dalam sistem kehidupan yang sangat kacau dan mengarah pada kehancuran lahir dan batin.
Mereka yang terus terbelenggu dalam keinginan hawa nafsunya, tidak akan mampu lagi memahami status dirinya. Mereka juga tidak memiliki kemampuan untuk memahami tujuan akhir dari kehidupannya. Mereka akan terjebak dalam keinginan hawa nafsu, terpukau oleh keinginanan duniawi yang dirajut dengan kemewahan-kemewahan yang bersifat semu.
Nilai-nilai ajaran Islam mengantarkan umat manusia pada kebahagiaan lahir dan batin, serta mengantarkan mereka pada kesuksesan yang maksimal. Setiap orang harus memahami secara jelas tentang status dirinya dan memahami secara benar tujuan dari kehidupannya. Untuk memenuhi keksusesan yang didambakan itu, setiap orang harus bersikap tekun dalam meningkatkan keimanan dan ketakwaannya, serta mewujudkan kemaslahatan umum bagi sesamanya.
Memperhatikan kenyataan ini, seorang muslim harus terus mensucikan kalbunya dari noda-noda yang mengotorinya. Pensucian kalbu harus terus dilakukan agar seseorang bisa menaikkan statusnya menjadi insan kamil yang berpikir kritis dan berkreasi dinamis. Dengan demikian, ia akan menjadi dambaan masyarakat di tengah kehidupan sehari-hari.