Ahad Manis MWC NU Wanasari, Ngaji Tasawuf bersama KH Mas Mansur Tarsudi 

0

RISALAH NU ONLINE, Brebes – Kegiatan rutin yang diselenggarakan oleh MWC NU Wanasari setiap Ahad lagi adalah mujahadah dan pengajian tasawuf. Ahad Manis, 19 April 2026 kegiatan rutin tersebut bertempat di masjid Jami At Taqwa Tanjungsari Kec Wanasari Kab Brebes.

Sebelum kajian tasawuf oleh KH Mas Mansur Tarsudi didahului dengan mujahadah yang dipimpin oleh Gus Yazid menantu Beliau. Setelah itu sejenak ada pembacaan kitab Hujah Ahlus Sunah wal jamaah oleh KH Sobarudin selaku Rois Syuriah MWC NU Wanasari Kab Brebes.

” Manusia sesungguhnya memiliki persamaan dengan hewan. Itulah sebabnya Ulama Mantiq mengatakan bahwa manusia adalah hewan yang bisa berfikir. Adapun yang membedakan hewan dengan manusia adalah kemampuan berpikir termasuk didalamnya tugas beribadah” kata KH Mas Mansur Tarsudi.

Oleh karena itu menurut Pengasuh Pondok Pesantren Al Falah Salafy Jatirokeh Kec Songgom Kab Brebes, kalau manusia hanya memenuhi kebutuhan makan dan nikah maka sama dengan hewan. Manusia yang hanya mementingkan kenikmatan makan dan kenikmatan dunia lainnya berati menghilangkan jati diri sebagai manusia.

” Orang orang yang tidak merasakan nikmat beribadah, dzikir dan mujahadah maka sesungguhnya orang tersebut telah hilang hakekat kemanusiaanya. Lantas apa bedanya manusia dengan binatang disaat yang dipenuhi dalam benaknya hanya angan angan kenikmatan atau kebutuhan jasad ?. Jasad manusia sesungguhnya akan hancur. , ” lanjut KH Mansyur.

Di hadapan para jamaah Ahad Manis Kyai Mansur menegaskan bahwa untuk mengembalikan jati diri manusia maka perlu ngaji ilmu tasawuf. Sesungguhnya merupakan kewajiban setiap manusia untuk mempelajari ilmu tasawuf, termasuk didalamnya tentang mujahadah. Pengertian mujahadah sebagaimana disebutkan dalam kitab Risalatul Qusairiyyah adalah mengosongkan hati kemudian diisi dengan dzikir atau selalu ingat kepada Allah. Setiap keluar masuknya nafas kita agar selalu ingat kepada Allah.

Selain ilmu tasawuf, kata Mustasyar PCNU Kab Brebes, ilmu tauhid dan syareat atau Fiqih juga perlu dipelajari oleh orang NU. Ada tiga kitab yang menjadi pelajaran wajib saat Beliau nyantri di Pondok Pesantren Tebuireng, pertama Aqidatul Awan, kedua Safinah dan ketiga Kifayatul Atqiya. Ketiga kitab ini menjadi dasar pengetahuan utama bagi warga NU.

” Saat ini sudah jarang Mubaligh atau penceramah yang menyampaikan tema tentang tasawuf. Sebagai besar Mubaligh menyampaikan pesan keagamaan dengan lelucon yang menjadikan para pengunjung tertawa. Oleh karena itu saya sebagai menyampaikan kajian tasawuf yang jarang Mubaligh menyampaikan di panggung pengajian. Hal ini sangat penting mengingat bekal kehidupan akhirat dalam bentuk ibadah sangat dibutuhkan. Beribadah itu sendiri harus didasari dengan Ikhlas,” lanjut Kyai yang pernah mendapatkan Ijazah amalan dari Al Maghfurlah KH Wahab Hasbullah.

KH Mas Mansur Tarsudi berpesan kepada pengunjung agar dalam bermujahadah dengan dzikir dengan cara tertentu. Dengan cara yang bersambung dengan gurunya maka dzikir tersebut bisa berdampak positif bagi jiwa kita.

Tampak hadir dalam kesempatan tersebut, Ketua Tanfidziah MWC NU Wanasari , H Takmuri bersama Sekretaris Akhmad Sururi. Jajaran Wakil Ketua Tanfidziah yang hadir H Tobiin MA dan beberapa pengurus lainnya.

Leave A Reply

Your email address will not be published.