Derajat Agung Nabi Ibrahim di Sisi Allah

0

Oleh: KH.R Ahmad Azaim Ibrahimy

 QS. An-Nahl: 120-122

 

اِنَّ اِبْرٰهِيْمَ كَانَ اُمَّةً قَانِتًا لِّلّٰهِ حَنِيْفًاۗ وَلَمْ يَكُ مِنَ الْمُشْرِكِيْنَۙ ۝١٢٠ شَاكِرًا لِّاَنْعُمِهِۖ اجْتَبٰىهُ وَهَدٰىهُ اِلٰى صِرَاطٍ مُّسْتَقِيْمٍ ۝١٢١ وَاٰتَيْنٰهُ فِى الدُّنْيَا حَسَنَةًۗ وَاِنَّه فِى الْاٰخِرَةِ لَمِنَ الصّٰلِحِيْنَۗ ۝١٢٢

 

Sesungguhnya Ibrahim adalah imam (sosok anutan) yang patuh kepada Allah, hanif (lurus), dan bukan termasuk orang-orang musyrik. (Ibrahim) bersyukur atas nikmat-nikmat-Nya (dan Allah) telah memilih serta menunjukinya ke jalan yang lurus. Kami berikan kepadanya kebaikan di dunia dan sesungguhnya di akhirat dia termasuk orang-orang yang saleh. (QS. An-Nahl: 120-122)

 

Ayat diatas menjelaskan bahwa Allah memberikan pujian yang sangat tinggi kepada Nabi Ibrahim. Pujian tersebut bukan sekadar menggambarkan keutamaan pribadi beliau, tetapi juga menjadi penjelasan mengapa Nabi Ibrahim diangkat sebagai teladan bagi seluruh umat manusia.

Allah berfirman bahwa Nabi Ibrahim adalah “ummatan”. Secara bahasa, ummatan berarti umat. Namun, dalam ayat ini maknanya bukanlah sekelompok manusia sebagaimana yang lazim dipahami. Yang dimaksud adalah imam, qudwah atau teladan, seorang pemimpin yang menghimpun berbagai sifat dan karakter mulia dalam dirinya.

Para ulama memberikan beberapa penafsiran mengenai makna ummatan. Ada yang memaknainya sebagai mu’allimul khair, yakni orang yang mengajarkan kebaikan. Ada pula yang mengartikannya sebagai sosok yang diikuti dan dijadikan panutan. Adapun makna umat sebagai kumpulan masyarakat merupakan pengertian yang umum digunakan dalam konteks lain.

Nabi Ibrahim disebut sebagai satu umat karena dalam diri beliau terkumpul begitu banyak sifat terpuji. Seakan-akan seluruh karakter baik yang biasanya tersebar pada banyak orang, berhimpun dalam satu pribadi. Karena itulah, satu orang saja sudah layak disebut sebagai ummatan.

Selanjutnya Allah menyebut Nabi Ibrahim sebagai qānitan lillāh, yaitu seorang hamba yang senantiasa taat kepada Allah. Beliau juga disebut hanīfan, yakni istiqamah dan condong kepada agama yang lurus (ad-dīn al-qayyim), tanpa sedikit pun menyimpang darinya.

Kemudian Allah Swt menegaskan: Wa lam yaku minal musyrikīn,
dan dia bukanlah termasuk orang-orang musyrik.

Penegasan ini memiliki makna yang sangat penting. Selain menunjukkan kesucian akidah Nabi Ibrahim, ayat ini juga menjadi bantahan terhadap berbagai klaim yang berkembang di kalangan Ahli Kitab.

Kaum Yahudi mengklaim bahwa Nabi Ibrahim adalah penganut agama Yahudi, sedangkan kaum Nasrani mengklaim beliau sebagai bagian dari agama Nasrani. Kedua klaim tersebut tidak tepat. Mengapa demikian?

Karena Nabi Ibrahim hidup jauh sebelum diturunkannya Taurat kepada Nabi Musa maupun Injil kepada Nabi Isa. Bahkan Nabi Ibrahim adalah leluhur kedua nabi tersebut. Sangat tidak logis apabila seorang leluhur dinisbatkan kepada ajaran yang baru datang beberapa generasi setelah beliau.

Selain itu, Allah sendiri telah menegaskan bahwa Nabi Ibrahim bukan termasuk orang musyrik. Sementara dalam perjalanan sejarah, terdapat sebagian keyakinan yang berkembang pada kalangan Yahudi dan Nasrani yang mengandung unsur penyekutuan terhadap Allah. Misalnya, sebagian Yahudi mengatakan bahwa Uzair adalah putra Allah, sedangkan sebagian Nasrani meyakini Isa Al-Masih sebagai putra Allah. Oleh karena itu, al-Quran meluruskan bahwa Nabi Ibrahim adalah seorang yang lurus tauhidnya dan berserah diri kepada Allah semata.

Allah kemudian berfirman: Syākiran li an‘umih, beliau senantiasa bersyukur atas nikmat-nikmat Allah.

Rasa syukur Nabi Ibrahim tidak hanya diwujudkan melalui ucapan, tetapi juga melalui kesibukan beliau dalam beribadah kepada Allah. Beliau tidak pernah lalai ataupun mengabaikan kewajibannya sebagai hamba.

Selanjutnya Allah berfirman: Ijtabāhu, Allah telah memilihnya. Lafaz ijtibā’ menunjukkan bahwa pemilihan tersebut murni berasal dari Allah. Nabi Ibrahim dipilih menjadi nabi, rasul, pemimpin, sekaligus teladan umat manusia bukan karena hasil usaha beliau semata, melainkan karena pilihan langsung dari Allah.

Hal ini berbeda dengan kedudukan para wali. Seorang wali boleh jadi memperoleh derajat kewalian melalui perjuangan panjang dalam ibadah, kesalehan, dan mujahadah. Di antara para wali pun terdapat tingkatan-tingkatan tertentu. Ketika seorang wali pada tingkatan tertentu wafat, maka wali pada tingkatan di bawahnya dapat naik menggantikannya.

Bahkan, dalam perjalanan hidup sebagian wali terdapat lika-liku kehidupan. Ada yang sebelumnya pernah tenggelam dalam kemaksiatan, bahkan ada yang dahulu belum beriman, kemudian mendapatkan hidayah, bertobat, dan akhirnya diangkat Allah menjadi wali karena kesalehan mereka.

Adapun para nabi dan rasul berbeda. Mereka adalah pilihan Allah sejak awal. Sejak dilahirkan, mereka telah dijaga oleh Allah dan diberikan kemaksuman sebagai persiapan mengemban risalah kenabian.

Setelah itu Allah berfirman: Wa hadāhu ilā shirāthin mustaqīm, dan Allah memberinya petunjuk kepada jalan yang lurus. Jalan yang lurus adalah agama yang benar, tidak menyimpang sedikit pun. Berbeda dengan berbagai penyimpangan yang kemudian terjadi pada sebagian pengikut Nabi Musa maupun Nabi Isa terhadap ajaran asli yang dibawa kedua nabi tersebut.

Pada ayat berikutnya Allah berfirman: Wa ātaināhu fid dunyā hasanah, dan Kami telah memberikan kepadanya kebaikan di dunia.

Terdapat keindahan susunan bahasa al-Quran pada ayat ini. Sebelumnya Allah menggunakan kata ganti orang ketiga, seperti pada lafaz ijtabāhu dan hadāhu. Namun kemudian berubah menjadi kata ganti orang pertama jamak pada lafaz ātaināhu“Kami telah memberikan…”. Pergantian gaya bahasa ini merupakan salah satu keindahan balaghah al-Quran.

Adapun yang dimaksud dengan hasanah fid dunyā adalah berbagai kemuliaan yang Allah anugerahkan kepada Nabi Ibrahim selama di dunia. Salah satunya ialah nama baik yang terus dikenang sepanjang zaman. Hal ini merupakan buah dari doa Nabi Ibrahim sendiri sebagaimana disebutkan dalam ayat lain: Waj‘al lī lisāna shidqin fil ākhirīn,
“Ya Tuhanku, jadikanlah aku buah tutur yang baik di kalangan generasi yang datang kemudian.”

Doa itu benar-benar dikabulkan Allah. Hingga hari ini, Nabi Ibrahim senantiasa dipuji dan dimuliakan oleh berbagai pemeluk agama. Kaum Yahudi menghormatinya, kaum Nasrani memuliakannya, dan umat Islam pun menjadikannya sebagai salah satu nabi ulul azmi yang paling agung.

Namun, al-Quran sekaligus meluruskan bahwa kemuliaan Nabi Ibrahim bukan karena beliau menjadi bagian dari agama tertentu, melainkan karena beliau adalah seorang yang berserah diri kepada Allah.

Kāna musliman wa mā kāna minal musyrikīn, beliau adalah seorang muslim dan bukan termasuk orang-orang musyrik.

Allah kemudian menutup pujian itu dengan firman-Nya: Wa innahu fil ākhirati laminash shālihīn, sesungguhnya di akhirat kelak ia benar-benar termasuk golongan orang-orang saleh.

Sekilas muncul pertanyaan, mengapa Nabi Ibrahim disebut termasuk golongan orang-orang saleh? Bukankah kedudukan beliau jauh lebih tinggi daripada sekadar orang saleh?

Bahwa para nabi dan rasul tentu termasuk orang-orang saleh. Bahkan mereka adalah puncak kesempurnaan kesalehan. Orang saleh belum tentu menjadi nabi, tetapi setiap nabi dan rasul pasti merupakan orang saleh.

Karena itu, penyebutan Nabi Ibrahim sebagai bagian dari orang-orang saleh bukan berarti derajat beliau sama dengan orang saleh pada umumnya. Justru beliau adalah sosok yang paling sempurna, paling mulia, dan paling tinggi derajatnya di antara seluruh orang saleh.

Demikian pula para nabi dan rasul lainnya. Mereka adalah pilihan Allah dari kalangan orang-orang saleh, dengan kedudukan yang paling tinggi di sisi-Nya. Wallāhu a‘lam bi al-shawāb.

 

Disarikan oleh Zahid dari: https://www.youtube.com/watch?v=PG6VQchJOkA&list=PLuIwPVeOKqxLwU893rM-OdgWGGU_i9vzA&index=1

 

Leave A Reply

Your email address will not be published.