Didukung Riset BRIN dan 74 Arsip Kolonial, GP Ansor Dorong KH Abbas Abdul Jamil Jadi Pahlawan Nasional
RISALAH NU ONLINE, JAKARTA — Pimpinan Pusat Gerakan Pemuda Ansor resmi mendorong pengakuan KH Abbas Abdul Jamil, ulama asal Buntet Pesantren Cirebon, sebagai Pahlawan Nasional. Pengusulan ini didukung oleh landasan akademis yang kuat, mencakup riset Peneliti Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) serta 74 dokumen sumber primer dari catatan resmi dan intelijen pemerintah kolonial Hindia Belanda.
Hal tersebut mengemuka dalam Seminar Nasional Peringatan Hari Santri 2026 bertema “Jiwa Raga untuk Indonesia” yang digelar di Kantor PP GP Ansor, Jakarta. Ketua Umum PP GP Ansor, Addin Jauharudin, menegaskan pentingnya mengangkat peran ulama dan santri dalam narasi sejarah resmi bangsa agar tidak hanya menjadi ingatan terbatas di lingkungan pesantren.
“Perjuangan KH Abbas Abdul Jamil merupakan bagian penting dari sejarah perjuangan bangsa yang perlu terus digali, diteliti, dan diperkenalkan kepada masyarakat luas. Kita tidak boleh membiarkan jasa para ulama dan santri dalam merebut serta mempertahankan kemerdekaan hanya tersimpan dalam ingatan komunitas, tetapi harus menjadi bagian dari narasi sejarah nasional,” ujar Addin dikutip dari keterangan resmi yang diterima Risalah NU, Selasa, (20/10/26).
Ia menambahkan, pengusulan ini bukan sekadar bentuk penganugerahan gelar formal, melainkan ikhtiar melengkapi konstruksi sejarah kebangsaan secara utuh.
“Pengusulan ini merupakan ikhtiar untuk mengakui kontribusi ulama pesantren dan memastikan generasi muda mengenal para pejuang yang telah mengabdikan hidupnya bagi kemerdekaan Indonesia. Merawat sejarah adalah bagian dari merawat Indonesia,” tegas Addin.
Dalam kesempatan yang sama, Peneliti BRIN sekaligus penulis biografi KH Abbas Abdul Jamil, Dr. Mohammad Fathi Royyani, memaparkan bahwa risetnya disusun berlandaskan metodologi ilmiah berbasis data historis yang valid. Kajian tersebut memanfaatkan 74 dokumen sumber primer, termasuk catatan kolonial, serta 23 dokumen sekunder untuk membuktikan rekam jejak perjuangan sang kiai.
Fathi menjelaskan bahwa aktivitas keagamaan, jaringan keilmuan Tarekat Tijaniyah hingga Makkah, serta pengorganisasian santri melalui wadah Asybal oleh KH Abbas terekam secara eksplisit dalam catatan intelijen Belanda sebagai ancaman nyata bagi kekuasaan kolonial. Menurutnya, bukti tertulis ini sangat vital untuk memenuhi kriteria penganugerahan gelar kehormatan negara.
“Kisah-kisah perjuangan para kiai perlu terus dikaji melalui penelitian yang memperhatikan fakta, data, dan arsip. Tradisi lisan serta kesaksian keluarga, santri, dan pelaku perjuangan dapat memperkaya pemahaman sejarah, tetapi perlu ditempatkan dalam proses kajian ilmiah agar kontribusi para ulama dapat direkonstruksi secara lebih utuh,” jelas Fathi.
(Anisa/rls)