RISALAH NU ONLINE, JAKARTA – Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) Masa Khidmah 2026-2031 resmi dilantik di Pondok Pesantren Al-Hamid, Cilangkap, Jakarta Timur. Sabtu, (24/10/2026).
Sebanyak 210 personil PBNU berbaiat siap melaksanakan program dan kegiatan sosial keumatan dan mengawal NU di abad kedua untuk Lima tahun mendatang.
Prosesi pelantikan ditandai dengan pembacaan Surat Keputusan (SK) kepengurusan oleh Ketua Umum PBNU, KH Kikin Abdul Hakim (Gus Kikin) dilanjutkan dengan pembacaan baiat yang dipimpin langsung Rais Aam PBNU, KH Miftachul Akhyar.
Kiai Miftach membacakan ikrar yang diikuti oleh seluruh pengurus PBNU. “Kami, selaku pengurus besar Nahdlatul Ulama masa khidmat 2026 sampai dengan 2031, dengan penuh kesadaran dan tanggung jawab, dengan ini berikrar,” tuturnya dihadapan para pengurus baru yang disaksikan ribuan Nahdliyyin.
Para pengurus kemudian mengikuti pembacaan ikrar tersebut. Dalam ikrar pertama, mereka menyatakan kesiapan untuk mengamalkan dan mempertahankan Pancasila serta Undang-Undang Dasar 1945.
“Pertama, siap mengamalkan dan mempertahankan Pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945 secara murni dan konsekuen, menegakkan akidah Islam Ahlussunnah wal Jamaah dan patuh pada anggaran dasar dan anggaran rumah tangga Nahdlatul Ulama serta peraturan jam’iyah Nahdlatul Ulama,” ucap Kiai Miftach.
Selain itu, para pengurus menyatakan kesiapan untuk menjalankan tugas dan kewajiban selama masa khidmat 2026–2031 demi kepentingan Nahdlatul Ulama, umat Islam, dan masyarakat Indonesia.
“Kedua, siap melaksanakan tugas dan kewajiban sebagai pengurus besar Nahdlatul Ulama masa khidmat 2026 sampai dengan 2031 dengan sebaik-baiknya demi untuk kepentingan Nahdlatul Ulama, kepentingan umat Islam, dan kepentingan masyarakat Indonesia pada umumnya,” lanjutnya.
“Ketiga, siap menyumbangkan tenaga dan pikiran dalam rangka ikhtiar menciptakan kemaslahatan masyarakat, kemajuan bangsa, dan ketinggian harkat dan martabat manusia yang diridai oleh Allah Subhanahu wa ta’ala,” tandasnya.
Usai baiat, Rais Aam menyampaikan amanat penting kepada seluruh pengurus. Beliau mengingatkan bahwa kepengurusan ini adalah kepengurusan pertama di abad kedua Nahdlatul Ulama.
“Ini adalah kepengurusan pertama di abad kedua sebagai awal titik langkah kita bagaimana membuat para muassis bisa tersenyum, bangga melihat kita,” pesan Rais Aam.
Amanat tersebut menjadi pengingat bahwa amanah kepengurusan tidak hanya sebatas menjalankan roda organisasi, tetapi juga meneruskan cita-cita para pendiri NU melalui kerja nyata, keteladanan, dan pengabdian kepada umat, bangsa, dan negara.
(hud).