Soroti Pergeseran Prilaku Santri, Kiai Kafabihi: Mencari Ilmu itu Perjuangan, Bukan Kenyamanan AC dan Kasur
RISALAH NU ONLINE, KEDIRI — Pengasuh Pondok Pesantren Lirboyo, KH Abdullah Kafabihi Mahrus, menegaskan bahwa proses menuntut ilmu di pesantren memerlukan kesungguhan fisik dan mental atau yang dikenal sebagai masyaqat (kepayahan). Dalam ceramahnya, beliau menyoroti pergeseran tren di pesantren masa kini yang mulai menyediakan fasilitas penunjang kenyamanan bagi para santri.
KH Abdullah Kafabihi Mahrus menilai bahwa fasilitas mewah seperti pendingin ruangan (AC) dan kasur empuk justru berpotensi mengurangi esensi riyadah (latihan batin dan disiplin diri) yang sangat penting dalam tradisi kepesantrenan.
“Kadang pondok sekarang malah fasilitas AC, kasur, lah gimana jadinya. Sudah-sudah dibuktikan zaman dahulu karena santri di pondok masyaqat kangelan, maka akhirnya berhasil yang sudah-sudah,” tuturnya prihati dalam siaran di YouTube resmi Lirboyo, pada Selasa, (3/11/26).
Lebih lanjut, Kiai Kafabihi memaparkan bahwa para ulama dan santri sukses terdahulu menempa diri melalui tempaan hidup yang sederhana. Sebagai teladan, beliau merujuk pada perjuangan Al-Maghfurlah KH Abdul Karim yang tekun menimba ilmu dalam keterbatasan tanpa fasilitas berlebih. Menurutnya, kenyamanan berlebihan di lingkungan pesantren sering kali berbanding terbalik dengan pencapaian akademis dan spiritual santri.
“Bilamana orang mondok enak-enakan, jajan enak-enakan, ini biasanya tidak kurang berhasil, ya kurang berhasil,” tegasnya.
Beliau bahkan menyarankan agar para santri hidup dalam kesederhanaan dan membatasi pengiriman uang saku dari rumah demi menjaga fokus belajar.
“Justru orang yang mondok yang berhasil ini ketika di pondok pas-pasan, weselnya jangan banyak-banyak, ya jangan jajan,” katanya.
Sebagai penutup, beliau mengingatkan kembali bahwa sifat dasar manusia selalu cenderung pada kenyamanan dan keengganan untuk lelah. Namun, prinsip dasar dalam mencari ilmu mutlak menuntut perlawanan terhadap hawa nafsu tersebut melalui kerja keras dan ketekunan yang konsisten, sebab ilmu yang bermanfaat tidak akan bisa diraih dengan berpangku tangan atau bersantai-santai.
(Anisa)