MEMAKNAI ULANG PERIBAHASA “MULUTMU HARIMAUMU” DALAM PERSPEKTIF ADAB

MEMAKNAI ULANG PERIBAHASA

MULUTMU HARIMAUMU DALAM PERSPEKTIF ADAB

 

Oleh: Zubaedi

(Sekretaris PWNU Bengkulu dan Warek 2 UIN Bengkulu)

Banner dalam Post 300 x 416

Badan Pengawas Pemilihan Umum- Anggota Bawaslu Totok Hariyono mengajak seluruh elemen masyarakat menjaga mulut dan jarinya dalam bermedia sosial supaya tidak melahirkan politisasi identitas. Bagi dia, identitas, agama, atau kejatidirian seseorang tidak boleh dipolitisasi untuk kepentingan apapun, termasuk dalam kontestasi pemilu dan pilkada. Menurutnya, “ke depan dengan bantuan dan partisipasi organisasi kemasyarakatan, organisasi mahasiswa, dan masyarakat untuk sama-sama menjaga mulut dan menjaga jari supaya tidak melahirkan kebencian,” Totok menjelaskan Undang Undang Nomor 7 tahun 2017 telah mengatur, dalam kontestasi pemilu tidak boleh menggunakan suku, agama, dan ras (SARA) untuk menyerang satu sama lain. Hal ini termuat dalam Pasal 280 UU 7/2017 tentang larangan kampanye, yang salah satunya tidak boleh menyebarkan kebencian menggunakan SARA. Kemudian tidak boleh juga menggunakan uang untuk mengubah pilihan seseorang, sebagaimana diatur dalam Pasal 285.[1]

Ketika tensi perpolitikan nasional mulai menghangat menjelang pemilihan umum seperti sekarang, penting bagi kita untuk saling mengingatkan kembali tentang adab menjaga mulut. Sebagai bangsa yang dikenal religius sebenarnya jatidiri bangsa kita sangat mengedepankan perilaku yang berpegang pada adab dalam berbicara. Sebagai buktinya, adab dalam berbicara ini terpatri dalam kearifan lokal melalui peribahasa: “mulutmu harimaumu”.

Peribahasa ini cukup populer. Harimau adalah binatang yang sangat berbahaya, peribahasa ini mengaitkannya dengan mulut, kenapa karena mulut pun kalau tidaak kita jaga maka sama saja seperti harimau yang sangat buas, membahayakan.[2] Budaya Bangsa Indonesia juga sangat menjunjung tinggi akan pentingnya menjaga mulut. Hal ini antara lain terekam dalam salah satu peribahasa Bahasa Jawa: ajining diri ana ing lathi. Secara harfiah ajining diri ana ing lathi diterjemahkan sebagai kehormatan diri terletak di mulut. Peribahasa ini, dengan makna yang dalam, mencerminkan kebijaksanaan budaya Jawa dalam menghargai pentingnya komunikasi dan etika dalam berbicara. Hal ini berarti bahwa kita harus berhati-hati dengan kata-kata kita, menghindari kebohongan, kata-kata kasar, serta perilaku menghina. Kita menyadari bahwa tindakan kita dalam berbicara dapat mencerminkan karakter dan integritas kita sebagai individu.[3]

Dalam bahasa Minangkabau juga popular peribahasa: “Barundiang siang caliak-caliak, mangecek malam agak-agak”. Arti pepatah di atas adalah berbicaralah dengan penuh hati-hati dan jangan menyinggung orang lain. Sebuah perkataan yang sudah dikeluarkan sulit untuk ditarik lagi. Dia akan meninggalkan bekas yang sulit untuk dihapus. Sakitnya lebih pedih dari luka akibat sebuah pisau. Sulit untuk disembuhkan dan akan membekas lama. Oleh karena itu jagalah kata-kata yang akan dikeluarkan, jangan sampai melukai seseorang.[4]

Di dunia banyak peribahasa atau pepatah yang senada dengan peribahasa mulutmu harimaumu, di antaranya: pepatah bangsa Arab menyebutkan: “ucapan itu dapat menembus apa yang tidak dapat ditembus oleh jarum,” dan “Kata-kata itu menunjukkan isi hati”.  Ungkapan ini seakan-akan menegaskan tentang betapa pentingnya seseorang menjaga lisannya (ucapannya).[5]

Pepatah dari bangsa Turki mengatakan: “lidah bisa menghancurkan kabilah yang tidak bisa terhancurkan oleh pedang”. Pepatah bangsa Persia mengatakan: “lidah itu panjang, sedangkan hidup itu pendek”. Pepatah bangsa China mengatakan: “Kata-kata lebih cepat dari pada lari kuda”. Pepatah Ibrani mengatakan: “Tergelincir kaki lebih balk dari pada tergelincir lidah”. Pepatah lain mengatakan: “Ikatlah lidahmu, karena bisa jadi ia memenggal kepalamu.”[6]

Makna “mulutmu harimaumu

Peribahasa mulutmu harimaumu bermakna: jika tidak mencerna apa yang akan dikatakan, bisa menjadi bumerang untuk kita sendiri. “Pepatah tersebut sangat baik. bila dicerna dengan balk pula, sehingga sangat berguna bagi kehidupan dalam berintegrasi dengan masyarakat sekitar kita. Ucapan yang keluar dari mulut itu akan menjadi ukuran kualitas, moralitas, intelektualitas dan integritas penuturnya. Bermula dari penilaian ucapan, dari sana kepercayaan akan diberikan. Dari sana pula kekecewaan dan ketidakpercayaan akan dialamatkan. Bila seseorang memahami sedemikian pentingnya ucapan ini, tentu is akan berhati-hati dalam menggunakan kata-kata dan berhati-hati pula saat berbicara.[7]

Adab untuk menjaga mulut ini ternyata mendapat perhatian khusus dalam bidang kajian tasawuf. Orang-orang sufi akan konsekuen menggunakan mulutnya untuk berzikir daripada berbincang-bincang yang kurang berfaedah. Hal ini dilakukan setelah menyadari bahwa pangkal penyebab manusia tertimpa bahaya dan kesusahan karena keterlepasan mulutnya dan ketertutupan hatinya.  Ia akan ditimpa bahaya lantaran tidak dapat berdiam diri, dan kalau berkata-kata ia tidak bisa mengungkapkan yang baik-baik.[8] Bahaya mulut bagi manusia adalah besar sekali. Nabi Muhammad SAW pernah memperingatkan soal ini melalui sabdanya: “Tiada akan lurus keimanan seorang hamba, sehingga lurus pula hatinya, dan tiada akan lurus hatinya, sehingga lurus pula mulutnya. Seorang hamba tidak akan memasuki surga, selagi tetangganya belum aman dari kejahatannya. [9]

Dalam kajian tasawuf, mulut atau lidah dapat menjadi media taat kepada Allah, dan bisa pula untuk memuaskan hawa nafsu. Lidah bisa digunakan untuk membaca al-Qur’an, hadis dan menasihati, lidah juga berubah seperti layaknya penyulut api. Memfitnah, bersaksi palsu, ghibah, namimah, dan memecah belah umat. Jika seperti ini seberapa banyak pun ibadah kita tak ada gunanya, semuanya gugur gara-gara lidah yang terselip.

Bahaya mulut seringkali kali diungkapkan dengan: “Lidah bagaikan Pisau”. Pisau adalah benda yang sangat menakutkan, karena pisau dapat membahayakan seseorang. Begitu pun lidah diibaratkan pisau karena ada persamaan keduanya sangat tajam dan membahayakan. Begitu bahayanya Lidah sehingga diserupakan dengan pisau, bahkan Dalam peribahasa Arab dikatakan bahwa rasa sakit Luka karena lisan lebih sakit dari pada sakit luka karena pedang. Sering pula penceramah ini mengatakan pribahasa yang senada artinya, misalnya, “Mulut bagai kerancang sampah”, “Mulutmu harimaumu” dan sebagainya. Jenis Amtsal ini termasuk Amtsal Saairoh (asy Sya’biyah), karena mengutarakan kebiasaan-kebiasaan yang terjadi di masyarakat. Pribahasa lainnya tentang bahaya lidah “Mulut bagaikan moncong teko”. [10]

Mulut diibaratkan moncong teko, sedangkan isinya seperti hati kita. Ia akan mengeluarkan sesuatu yang sama dengan apa yang ada didalamnya. Jika isinya susu maka yang akan keluar susu, jika isinya kopi maka yang akan keluar kopi, jika isinya teh maka yang akan keluar pasti air teh. Begitu seterusnya…[11]

Dari sebuah teko ini kita bisa mengambil banyak hikmah. Jadi bisa dipastikan apa yang kita ucapkan dan perkataan yang kita keluarkan merupakan cerminan dari hati kita. Disadari ataupun tidak itulah realitanya. Kita bisa menilai bagaimana kepribadiaan seseorang dari perkataan dan ucapannya. Semakin bersih hati seseorang maka yang akan keluar dari mulutnya adalah sesuatu yang bermanfaat, penuh kelembutan dan ketenangan. Begitu pula sebaliknya, semakin kotor hati seseorang maka yang akan keluar dari mulutnya adalah perkataan sia-sia, caci maki yang dapat berpotensi membuat orang lain sakit hati.

Ternyata, ucapan yang keluar dari mulut memberi efek secara langsung. Kita dapat bercermin dari kisah inspiratif yag berasal dari penduduk Salomon. Dikisahkan, di kepulauan Salomon yang berada di daerah Pasifik, ada cara unik yang dilakukan oleh penduduk setempat jika tidak bisa memotong sebuah pohon dengan kapak. Jika pohon terlalu besar untuk dipotong dengan kapak, para penduduk setempat akan memaki-maki pohon tersebut. Seseorang yang memiliki kekuatan khusus akan memaki pohon itu dari pagi hingga senja, selama tiga puluh hari. Maka akhirnya pohon itu akan mati dan roboh dengan sendirinya. Menurut para penduduk, hal ini selalu berhasil. Secara teori mereka membunuh roh pohon tersebut.[12]

Bagaimana efek perkataan pada sebuah pohon? Jika pohon saja bisa mati karena dikutuki. Apalagi manusia yang punya perasaan. Seperti banyak orang berteriak dan memaki kerabat dan teman-temannya. Tidak sedikit orang yang kehilangan kesabaran ketika dijalan dan memaki pengendara lain. Atau ketika putus dengan kekasihnya memaki-maki mantan pacarnya. Atau mengutuk temannya karena kalah bersaing didalam pertandingan olah raga. Berteriak mengatakan perkataan buruk. Atau mencemooh musuhnya dengan makian yang menyakitkan.

Tapi semua itu adalah pilihan, dalam kehidupan ini. Bahwa dari mulut Anda bisa keluar pujian dan makian. Untuk itu pilihlah mengatakan hal yang positif, karena perkataanmu berkuasa. Jangan sampai Anda membunuh roh orang-orang yang Anda kasihi, atau musuh-musuh Anda. Atau malah orang yang tidak Anda kenal dengan perkataan-perkataan yang buruk. Karena ada pepatah mengatakan “mulutmu, harimaumu.” Karena itu mari Anda ucapkan kata-kata yang membangun, yang menghidupkan dan memberi semangat orang lain. Berarti Anda menanam kebaikan. Kemudian Anda akan menabur kebaikan, Akhirnya hasil itu juga yang akan Anda tuai, bukan? [13]

Pesan  Menjaga Mulut

Dalam menjaga mulut bisa kita dicerna sebuah hadis, Rosulullah memberi warning kepada manusia untuk menjaga mulut, yaitu:

مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الآخِرِ فَلْيَقُلْ خَيْرًا أَوْ لِيَصْمُتْ

Barang siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhirat, hendaklah ia berbicara dengan yang terbaik atau berdiam diri.”[14] Hadis ini termasuk rujukan utama bagi seorang Muslim dalam bersikap dan membina hubungan bermasyarakat. Karenanya, hadis ini layak dihapal, diulang-ulang, ditafakuri, dan dipraktikkan dalam kehidupan sehari-hari. Walau redaksinya sangat singkat, tapi pengaruhnya sungguh luar biasa, terutama bagi terciptanya hubungan yang harmonis di masyarakat.[15]

Ada tiga hal penting yang dikemukakan Rasulullah SAW dalam hadis yang teramat mulia ini. Pertama, keharusan menjaga lisan. Kedua, keharusan menghormati tetangga. Dan ketiga, keharusan memuliakan tamu. Insya Allah, dalam tulisan ini penulis hanya akan membahas poin pertama.[16]

Imam al-Jalil Abu Muhammad bin Abi Zaid mengatakan bahwa berkata baik atau diam termasuk satu dari empat etika kebaikan yang sangat utama dalam Islam, selain meninggalkan hal-hal yang kurang bermanfaat, menahan marah, dan mencintai saudaranya sebagaimana ia mencintai dirinya. [17]

Imam Syafi’i memberi pula komentar tentang berkata baik atau diam ini: “Hadis ini bermakna apabila seseorang hendak bicara, maka berpikirlah terlebih dulu. Apabila telah jelas bahwa bahwa ucapannya akan membawa kemaslahatan, maka berbicaralah. Dan, apabila telah jelas bahwa ucapannya akan membawa kemudharatan atau ia ragu, bahaya dan tidaknya, maka diamlah”.

Perintah menjaga lisan disampaikan Rosulullah dalam redaksi teks hadis di bawah ini:

و حَدَّثَنِي مَالِك عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ دِينَارٍ عَنْ أَبِي صَالِحٍ السَّمَّانِ أَنَّهُ أَخْبَرَهُ أَنَّ أَبَا هُرَيْرَةَ قَالَ إِنَّ الرَّجُلَ لَيَتَكَلَّمُ بِالْكَلِمَةِ مَا يُلْقِي لَهَا بَالًا يَهْوِي بِهَا فِي نَارِ جَهَنَّمَ وَإِنَّ الرَّجُلَ لَيَتَكَلَّمُ بِالْكَلِمَةِ مَا يُلْقِي لَهَا بَالًا يَرْفَعُهُ اللَّهُ بِهَا فِي الْجَنَّةِ

 

Artinya: “telah menceritakan kepadaku Malik dari [Abdullah bin Dinar] dari [Abu Shalih As Samman] ia mengabarkan kepadanya, bahwa [Abu Hurairah] berkata, “Sungguh seorang laki-laki akan mengatakan satu kalimat yang ia anggap remeh, namun justru memasukkannya ke dalam neraka Jahannam. Dan sungguh seorang laki-laki akan mengatakan satu kalimat yang ia anggap remeh, namun justru kalimat tersebut memasukkannya ke dalam surga.”

Hadis ini menjelaskan bahwa lisan merupakan nikmat Allah SWT yang sangat besar bagi manusia. Kebaikan yang diucapkannya akan melahirkan manfaat yang luas dan kejelekan yang dikatakannya membuahkan ekor keburukan yang panjang. Karena dia tidak bertulang, dia tidak sulit untuk digerakkan dan dipergunakan. Tak banyak orang yang pandai dalam menjaga lisan hingga pada akhirnya ia akan menjerumuskan manusia ke jurang api neraka.[18]

Hendaklah seseorang tidak berbicara kecuali jika perkataan itu merupakan kebaikan, yaitu yang Nampak maslahatnya. Jika ia ragu-ragu tentang timbulnya maslahat, maka hendaklah ia tidak berbicara. Karena dengan diam bisa menjadi langkah awal yang mudah agar menjauhkan kita dari hal-hal yang mungkin akan membahayakan diri kita sendiri. Orang yang menjaga lisan akan memiliki kedudukan tinggi dalam agama. Selain itu, orang lain akan terhindar dari kejahatan lisannya. [19]

Berbicara yang baik dan santun akan menunjukkan kualitas dari pembicaranya dan sekaligus akan mendapat menjalin persaudaraan yang baik sesama umat manusia. Keluhuran dan kebaikan yang sering diungkapkan oleh orang-orang yang bijak dan memiliki kualitas nalar yang tinggi antara lain mengarahkan agar menjaga hubungan kasih sayang sesama umat manusia, memerintahkan sesamanya agar saling berbagi, menegakkan yang ma’ruf dan melakukan perbaikan dalam semua aspek dari kehidupan bermasyarakat.

۞لَّا خَيۡرَ فِي كَثِيرٖ مِّن نَّجۡوَىٰهُمۡ إِلَّا مَنۡ أَمَرَ بِصَدَقَةٍ أَوۡ مَعۡرُوفٍ أَوۡ إِصۡلَٰحِۢ بَيۡنَ ٱلنَّاسِۚ وَمَن يَفۡعَلۡ ذَٰلِكَ ٱبۡتِغَآءَ مَرۡضَاتِ ٱللَّهِ فَسَوۡفَ نُؤۡتِيهِ أَجۡرًا عَظِيمٗا

“Tidak ada kebaikan pada kebanyakan bisikan-bisikan mereka, kecuali bisikan-bisikan dari orang yang menyuruh (manusia) memberi sedekah, atau berbuat ma’ruf, atau mengadakan perdamaian di antara manusia. Dan barangsiapa yang berbuat demikian karena mencari keridhaan Allah, maka kelak Kami memberi kepadanya pahala yang besar.” (QS. Al-Nisa, 04:114). [20]

Tapi teramat disayangkan, masih banyak dari kita yang menggunakan lisannya untuk sesuatu yang sia-sia. Menghina, menyindir, mengumpat atau bahkan menghardik orang lain, sehingga tanpa disadari banyak hati yang tersakiti.

Rasulullah SAW memperingatkan, bahwa bahaya lidah adalah salah satu perkara yang paling beliau khawatirkan. Sebabnya, semua amal akan berguguran jika lidah kita jahat. Suatu kali salah seorang sahabat Sufyan al-Tsaqafi bertanya kepada Rasulullah SAW: “Wahai Rasulullah, katakan kepadaku dengan satu perkara yang aku akan berpegang dengannya!” Beliau menjawab: “Katakanlah, `Rabbku adalah Allah`, lalu istiqomahlah”. Aku berkata: “Wahai Rasulullah, apakah yang paling anda khawatirkan atasku?”. Beliau memegang lidah beliau sendiri, lalu bersabda: “Ini.” (HR Tirmidzi dan Ibnu Majah).

Menjaga lisan atau bersikap diam, merupakan sarana pendidikan yang baik bagi diri setiap orang. Hal ini dilakukan dalam rangka mendidik secara terus menerus dan membimbing umat manusia pada kesuksesan yang maksimal dalam menyampaikan informasi.

لا يَسْتَقِيمُ إِيمانُ عبدٍ حتى يَسْتَقِيمَ قلبُهُ ، ولا يَسْتَقِيمُ قلبُهُ حتى يَسْتَقِيمَ لسانُهُ

“Tidaklah lurus (istiqamah) iman seorang hamba, sehingga lurus hatinya, dan tidak lurus hatinya, sehingga lurus lisannya,” (HR. Ahmad, 13408). [21]

Sebagai wujud dari sikap lurus dan istiqamah, hendaklah kita meninggalkan berbagai hal yang tidak berguna termasuk menyadarkan kawan yang berkarakter “kompor” dan mengarahkan kawan untuk berkarakter “lem”. Hal ini berpijak pada hadis:

مِنْ حُسْنِ إِسْلَامِ اَلْمَرْءِ, تَرْكُهُ مَا لَا يَعْنِي

“Sebagian dari kebaikan islamnya seseorang, ia meninggalkan sesuatu yang tidak berfaedah bagi dirinya,” (HR. Tirmidzi, 2318). [22]

Suatu hari seorang laki-laki datang kepada Rasulullah SAW seraya berkata, “Ya Rasulullah! Sungguh si fulanah itu terkenal banyak shalat, puasa, dan sedekahnya. Akan tetapi juga terkenal jahat lidahnya terhadap tetangga-tetangganya.”. Maka berkatalah Rasulullah SAW kepadanya, “Sungguh ia termasuk ahli neraka”.[23]

Kemudian laki-laki itu berkata lagi, “Kalau si fulanah yang satu lagi terkenal sedikit shalat, puasa dan sedekahnya, akan tetapi ia tidak pernah menyakiti tetangganya.” Maka Rasulullah SAW berkata, “Sungguh ia termasuk ahli surga.” (HR. Muslim).

Kisah dalam hadis tersebut memberi pelajaran akan bahaya lidah. Betapa jika tidak dikontrol iman, lidah bisa menjerumuskan ke dalam neraka. Meskipun seseorang itu ahli ibadah, banyak shalat, puasa, akan tetapi bila tidak mampu menjaga lidahnya dari memfitnah, berbohong dan hasud – amalannya tersebut sia-sia.

REFERENSI: 

[1]  Jaa Pradana , “Bawaslu Ajak Masyarakat Jaga Mulut dan Jari supaya Tak Lahirkan Politisasi Identitas”, Artikel dalam www.bawaslu.go.id, dipublikasi 2 Agustus 2023, https://www.bawaslu.go.id/ id/berita/bawaslu-ajak-masyarakat-jaga-mulut-dan-jari-supaya-tak-lahirkan-politisasi-identitas

[2] Yaniah Wardani, “Pemakaian Pribahasa dan Kata Mutiara dalam Retorika Dakwah Para Da’i di Indonesia: Kajian Stalistika dalam Sastra Arab-Indonesia”, Artikel  dalam Buletin Al-Turas Mimbar Sejarah,Sastra,Budaya, dan Agama  (Jakarta: Fakultas Adab and Humaniora, Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah,  Vol. XXIV No.2, Juli 2018}, hal. 328.

[3] Woro Anjar Verianty, “Ada di Mulut, Pahami Makna Lengkapnya”, Artikel  dalam www.liputan6.com, Dipublikasikan 9 Oktober 2023, https://www.liputan6.com/hot/ read/5418511/ ajining-diri-ana-ing-lathi-artinya-nilai-diri-ada-di-mulut-pahami-makna-lengkapnya?page=2
[1] Baca “Pepatah Minang Tentang Jaga Lisan, Hari ke 115”,  https://www.guru sia na.id/ read/dewiratih/article/pepatah-minang-tentang-jaga-lisan-hari-ke-115-4953322
[4] Eddy Gozaly, Nefa Rosna Gozaly dan  Amir Sjarifoedin, Mulutmu Harimaumu Antara Manfaat/ Bahaya  dalam Berbicara, Makan dan Minum, (Jakarta: Buku Pintar Indonesia Januari,   2018), hal. 2.

[5] Eddy Gozaly, Nefa Rosna Gozaly dan  Amir Sjarifoedin, Mulutmu Harimaumu Antara Manfaat/ Bahaya  dalam Berbicara, Makan dan Minum, (Jakarta: Buku Pintar Indonesia Januari,   2018), hal. 2.

[6] Eddy Gozaly, Nefa Rosna Gozaly dan  Amir Sjarifoedin, Mulutmu Harimaumu Antara ………, hal. 3.

[7]Eddy Gozaly, Nefa Rosna Gozaly dan  Amir Sjarifoedin, Mulutmu Harimaumu Antara ………, hal. 7.

[8] Sudirman STAIL, “Waspadai Bahaya Lisan, Gunakan untuk Berzikir”, Artikel dalam hidayatullah.com, 29 Nopember 2017, https://hidayatullah.com/kajian/tazkiyatun-nafs/2017/ 11/29/ 129262/waspadai-bahaya-lisan-gunakan-untuk-berzikir.html

[9] Sudirman STAIL, “Waspadai Bahaya Lisan, Gunakan untuk Berzikir…..Ibid.

[10] Yaniah Wardani, “Pemakaian Pribahasa dan Kata Mutiara dalam Retorika Dakwah …..Ibid.

[11] “Mulut Ibarat Teko”, Artikel dalam rosalina-dewi.blogspot.com, Diakses 24 Ferbruari 2020, http://rosalina-dewi.blogspot.com/2014/01/mulut-itu-ibarat-teko.html

[12] Baca “Mulutmu Harimaumu”, Artikel  dalam a1bos.com, Dipublikasi 15 Maret  2021 http://a1bos. com/cerita-inspirtif-mulutmu-harimaumu

[13] Baca “Mulutmu Harimaumu…..Ibid.

[14] Zakky Mubarak, “Menjaga Lisan”, Artikel dalam jabar.nu.or.id, Dipublikasikan 2 Juni 2023  https:// ja bar.nu.or.id/ taushiyah/menjaga-lisan-jO57Z

[15] Nashih Nashrullah,  “Hikmah di Balik Sabda Rasulullah SAW untuk Biasakan Diam,  Rasulullah menekankan kepada umatnya memperbanyak diam”, Artikel dalam islamdigest.republika.co.id,   Dipublikasikan 19 Jun 2020,  https://islamdigest.republika.co.id/berita/qc55pl320/hikmah-di-balik-sabda-rasulullah-saw-untuk-biasakan-diam

[16] Nashih Nashrullah,  “Hikmah di Balik Sabda Rasulullah SAW untuk Biasakan Diam…..Ibid.

[17] Nashih Nashrullah,  “Hikmah di Balik Sabda Rasulullah SAW untuk Biasakan Diam…..Ibid.

[18] Gery Hummamul Hafid dan  Muflihah, “Perintah Menjaga Lisan dalam Perspektif Hadis, Artikel dalam Gunung Djati Conference Series, Volume 16 (2022) CATAH: Conference Article of Takhrij Al-Hadith, hal. 274.

[19] Gery Hummamul Hafid dan  Muflihah, “Perintah Menjaga Lisan dalam Perspektif Hadis…., hal. 271.

[20] Zakky Mubarak, “Menjaga Lisan….Ibid.

[21] Zakky Mubarak, “Menjaga Lisan….Ibid.

[22] Zakky Mubarak, “Menjaga Lisan….Ibid.

[23]Cholis Akbar, “Kerusakan Akibat Kejahatan Lidah (1)”, Artikel dalam https://www.hidayatullah.com, Dipublikasikan  pada Rabu, 9 Februari 2011 – 11:36 WIB, https://www.hidayatullah.com/kajian/gaya-hidup-muslim/read/ 2011/02/09/3496/kerusakan-akibat-kejahatan-lidah-1.html

Leave A Reply

Your email address will not be published.