Forum R20 ISORA Satukan Kesepakatan untuk Bertindak Bersama

0

Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) kembali menginisiasi pertemuan tokoh dan pemimpin agama dunia dalam gelaran forum  R20 International Summit of Religious Authorities (ISORA) pada Senin, 27 November 2023 di Jakarta. Bagaimana rencana gelaran R20 ISORA? berikut petikan wawancara Majalah Risalah NU dengan Ketua Umum PBNU, KH Yahya Cholil Staquf (Gus Yahya) pada Senin 21 November 2023 di Jakarta.

Apakah Forum R20 ISORA kelanjutan dari R20 Bali dan apa perbedaannya?

Iya, ini bukan soal perbedaanya, tapi R20 ISORA ini memang merupakan kelanjutan R20 di Bali tahun lalu. Makanya di sini bisa dilihat kita menggunakan brand R20, karena memang yang terlibat dalam ISORA nanti adalah para pemimpin agama yang masuk dalam jaringan kerja bersama hasil dari konferensi R20 forum Bali tahun lalu.

Kalau R20 Bali tahun lalu, kita berbicara bagaimana mencari solusi dari masalah-masalah yang masih terjadi dalam hubungan antar agama dengan mengidentifikasi akar masalahnya dan kesimpulan yang diidentifikasi oleh para pemimpin agama bahwa memang didalam wawasan keagamaan tiap-tiap agama masih ada elemen-elemen yang bisa mendorong atau setidak-tidaknya dijadikan pembenar bagi sikap permusuhan terhadap kelompok agama yang berbeda.

Kemudian disepakati oleh para pemimpin agama bahwa elemen-elemen yang problematis seperti ini harus direkontekstualisasikan, digantikan dengan wawasan-wawasan yang lebih mendorong hubungan konsesi damai dan harmonis sosial di antara kelompok-kelompok agama yang berbeda.

Nah, sesudah itu para pemimpin agama berkomitmen untuk terus bersama-sama bekerja bahkan kami membentuk satu sekretariat permanen untuk R20 ini dan ditempatkan di Center for Shared Civilizational Value yang berkantor di Carolina, Amerika Serikat dan dari sana ada multigroup yang terus menerus melakukan engagement satu sama lain, melakukan hubungan dan juga terus mengamati dinamika yang berlangsung secara Internasional untuk sewaktu-waktu dapat melakukan membuat respon bersama terhadap momentum-momentum penting yang muncul.

Seperti kita tahu, dihadapkan pada momentum luar biasa dengan perang baru di Gaza yang mengarah pada genosida. Maka kemudian para pemimpin agama dalam jaringan kerja R20 kemudian bersepakat untuk mengadakan R20 ISORA di Jakarta.

Dan ini adalah inisiatif yang diputuskan dengan cepat sekali, karena respon terhadap peristiwa tanggal 7 Oktober yang lalu kemudian dengan cepat kami melakukan komunikasi satu sama lain, sehingga hanya persiapan satu bulan. Alhamdulillah, kita mendapatkan komitmen dari semua partisipan yang kita undang dan juga bahkan komitmen dan dukungan penuh dari Presiden Joko Widodo (Jokowi).

Kedepan para pemimpin agama ini, karena mereka sebagai pemimpin agama punya otoritas keagamaan terhadap umat. Dan dalam ISORA nanti, forum besar yang kita gelar ini, kita akan memikirkan bersama, apa yang bisa dilakukan untuk menjangkau umat agama masing-masing, supaya mendukung perjuangan bersama menuju solusi berbagai macam konflik yang masih terjadi sampai sekarang.

Dan juga mendukung upaya untuk menghentikan segera bencana kemanusiaan yang sekarang sedang berlangsung di Gaza. Bukan hanya kepada umat yang dari kalangan masyarakat biasa, tapi para pemimpin agama, ini jelas punya jangkauan kepada orang-orang yang ada di dalam lingkaran-lingkaran policy making di seluruh dunia.

Kita harapkan nanti, ada otoritas Katholik bisa mempengaruhi orang-orang macam Joe Biden, untuk membuat kebijakan menghentikan segera tragedi yang sedang berlangsung saat ini. Kemudian juga ada dari otoritas Yahudi yang hadir, Rabi Yahudi kita harapkan mereka bisa menjangkau mempengaruhi pembuat kebijakan di Israel, menghentikan segera. Begitu juga yang lain-lain.

Jadi, kita berharap dari hasil R20 ISORA ini, bukan hanya statement, bukan hanya sekedar pernyataan bersama, tapi kesepakatan untuk bertindak bersama dalam jangkauan masing-masing maupun dalam jangkauan bersama untuk mempengaruhi dinamika yang ada.

Bagaimana sikap Joe Biden yang tidak responsif saat bertemu dengan Jokowi?

Saya kira, kalau Joe Biden ketika diajak bicara oleh Pak Jokowi kelihatan tidak responsif, acuh tak acuh dan lain sebagainya, ini mungkin karena orang-orang seperti Joe Biden sebagai politisi lebih melihat ini sebagai masalah politik.

Baca Juga :   Ngaji Qonun Asasi NU Bareng Gus Yahya (5)

Dalam hal ini, kita ingin mengajak semua orang sekarang melihat ini sebagai masalah kemanusiaan dan bahkan kita ingin mengajak umat beragama untuk melihat ini sebagai masalah keagamaan. Bahwa serangan yang terjadi adalah serangan kepada kemanusiaan, bukan soal kelompok 1 dan kelompok yang lain. Bahwa serangan ini tidak dibenarkan oleh agama manapun.

Nah, kalau politisi yang masih melihat ini sebagai semata-mata masalah politik, mereka mungkin membutuhkan desakan politik yang lebih kuat. Maka nanti kita juga berharap para pemimpin agama ini punya tekad bersama untuk memobilisasikan umat masing-masing memberikan tekanan politik kepada pembuat kebijakan, ini untuk menghentikan tragedi kemanusiaan. Demikian juga ketika kita memandang rumah sakit Indonesia, relawan Indonesia, ini bukan soal rumah sakit atau soal relawan Indonesia, tapi ini kemanusiaan.

Kita tidak ingin marah karena melihat responnya bahwa yang pro Palestina marah ke Israel, yang pro Israel marah ke  Palestina. Kita ingin mengajak semua orang melihat ini sebagai masalah kemanusiaan bersama. Supaya orang kemudian mampu dengan lebih jernih lebih jujur melihat akar permasalahan dan kemudian punya kemauan bersama untuk mencari jalan keluar yang mashlahat untuk semua orang, bukan hanya untuk salah satu pihak saja.

Nah, itu sebabnya selain di dalam topik ini disebut tentang bagaimana mengatasi kekerasan, kami juga menyebut tentang bagaimana mengatasi ancaman-ancaman yang ditujukan kepada tatanan Internasional yang didasarkan pada aturan-aturan.

Kita tahu bahwa sebenarnya masyarakat-masyarakat itu sudah mencapai konsensus tentang tata dunia atas dasar aturan-aturan, itu sudah sejak pasca perang dunia ke-2 Juni 1945, itu sudah ada piagam PBB yang isinya sebetulnya adalah prinsip-prinsip untuk menegakkan tatanan dunia atas dasar aturan-aturan, bukan saling adu kekuatan.

Nah, masalahnya sekarang, sejak itu ditandatangani sampai sekarang masih ada pihak-pihak yang terus ingin mengecilkan dan menghalangi diterapkannya konsensus Internasional. Maka kita ingin membangkitkan juga kesadaran bersama seluruh dunia tentang pentingnya tentang pentingnya tata dunia atas dasar aturan ini. Karena kalau tidak, kita kembali lagi ke zaman kuno zaman sebelum ada PBB, ketika semua orang boleh kapan saja menyerang pihak yang lain dan bangsa manapun boleh menjajah bangsa yang lain, boleh membunuhi siapapun yang dianggap berbeda dan seterusnya, seperti di masa lalu.

Nah, apalagi terkait dengan cita-cita proklamasi, sebetulnya ternyata bagian dari perjuangan bangsa Indonesia yang sudah ditegaskan sejak proklamasi dan ditetapkannya Undang-Undang Dasar 1945, sebagai dasar negara kita, bahwa tumbuhnya kemerdekaan adalah hak segala bangsa dan oleh sebab itu maka penjajahan di atas dunia harus dihapuskan karena tidak sesuai dengan peri kemanusiaan dan peri keadilan. Dan kita mencita-citakan bahwa bangsa Indonesia ini harus ikut serta menjalankan melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan atas kemerdekaan, perdamaian abadi dan keadilan sosial.

Ini yang ingin kita angkat, kita harapkan gerakan global R20 akan berkembang lebih jauh menjadi sesuatu yang betul-betul termanifestasikan secara nyata di tingkat umat. Umat terlibat di dalam upaya-upaya yang telah disepakati oleh para pemimpin agama ini.

Bagaimana respon platform politik, seperti OKI dan lain sebagainya tentang Palestina?

Iya yang kita lihat selama ini, sebagai upaya-upaya untuk respon masalah Palestina adalah platform-platform politik. Seperti OKI adalah platform politik. Nah, kami ingin merambah satu alternatif yang tidak bisa dikecilkan karena agama ini adalah pemeran yang sangat besar pengaruhnya di tengah-tengah masyarakat, maka kami ingin membangun platform agama sebagai solusi masalah-masalah kemanusiaan yang ada.

Jadi, kita ingin supaya agama-agama ini punya peranan yang nyata, tidak cuma hanya sekedar berkhutbah tidak hanya sekedar membuat seruan-seruan moral tetapi bekerja di lapangan bersama-sama dengan umatnya untuk ikut menggerakan perubahan menuju solusi. Dan ini ingin kita lakukan dalam satu kerangka kerjasama di antara semua agama yang ada bukan hanya satu agama saja.

Baca Juga :   BERJANJI MENJADI PEMBELA PERSAUDARAAN KEMANUSIAAN DUNIA

Maka, kita tidak hanya menyelenggarakan konferensi tentang konferensi ulama Islam, tentang hal ini saja misalnya, tidak. Karena kita tidak melihat ini sebagai masalah permusuhan antara Islam dengan Yahudi misalnya atau permusuhan Yahudi dengan Kristen. ini adalah masalah kemanusiaan yang menjadi konsen bersama dari semua agama. Sehingga kita membutuhkan semua agama ini bergerak bersama-sama.

Itu sebabnya juga di dalam jaringan R20 ini ada para pemimpin-pemimpin dan pemegang wewenang agama Yahudi, banyak. Nanti di ISORA ini ada sejumlah pembicara dari kalangan Yahudi, ada misalnya Rabi dari Argentina, kemudian Rabi dari Amerika. Kita libatkan juga ya walaupun orang mungkin menganggap di Palestina tidak ada yang beragama Budha, misalnya, tapi kita libatkan juga nanti di dalam ISORA ini para pemimpin pemegang otoritas Budha dan lain sebagainya. Karena kita ingin ini menjadi gerakan dari semua agama.

Dan dengan cara ini para pemimpin agama yang masuk dalam jaringan R20 ini sudah sampai pada keyakinan bahwa ini adalah cara untuk kita semua menemukan fungsi yang relevan bagi agama dalam konteks zaman ini, yaitu peran untuk mendorong konsesi damai dan memberikan panduan moral yang betul-betul berhubungan dengan hajat nyata dari kehidupan masyarakat beragama itu sendiri.

Bagaimana persfektif agama Yahudi dalam mendukung perdamaian Palestina dan Israel?

Ya sebetulnya sih, seharusnya masyarakat sudah mengetahui yang namanya Yahudi itu macam-macam, tidak monolitik. Bahkan Israel itu juga tidak monolitik. Jadi, Yahudi yang sangat menentang kekerasan terhadap orang-orang Palestina itu banyak sekali. Kita tahu dalam demo-demo di Inggris, Amerika, Eropa itu banyak sekali kalangan Yahudi yang terlibat mendukung Palestina, pendidikannya, kependudukan dihentikannya  kekerasan ke palestina itu banyak.

Bahkan Israel sendiri itu monolitik. Di Israel itu juga sekarang berkembang gerakan-gerakan yang pro hak asasi manusia yang sangat menentang semua kebijakan yang represif, yang tidak adil terhadap orang-orang palestina. itu juga berkembang kuat sekali dari dalam Israel sendiri. Dan mereka ini juga bukan gerakan yang disepelekan, karena ini gerakan dari para ahli hukum, pengacara yang kuat di Israel.

Masalah ini yang ingin kita angkat bersama-sama, karena kalau ngomong sendiri-sendiri itu pasti akan kalah gaungnya dibanding kalau ngomong bersama-sama. Maju bersama-sama. Ini yang kita inginkan. Ini adalah sikap dari semua agama bersama-sama.

Nah, saya kira masyarakat perlu lebih jernih melihat ini. Kalau ada yang nggak tahu itu ya karena kurang buka Youtube saja. Jadi, bahwa ada dari kalangan semua agama ini yang punya kesadaran bersama untuk memperjuangkan kemanusiaan supaya keadaan menjadi lebih baik. Walaupun jelas memang di kalangan setiap agama ada saja kelompok-kelompok yang bikin repot. Di kalangan Islam ada, di kalangan Yahudi ada dan lain-lain.

Tapi jelas bahwa ada pemimpin-pemimpin agama yang punya konsen yang tulus yang sungguh-sungguh punya tekad yang kuat untuk bekerja bersama-sama memperjuangkan jalan keluar yang terbaik terima kasih.

Tanggapannya soal Buzer di Medsos yang pro Israel yang membuat gaduh di masyarakat?

Iya memang kita menghadapi masalah itu. Itu masih belum apa-apa kalau cuma buzzernya saja tapi pembuat kebijakan di Israel, Bagaimana ini memang mereka harus kita hadapi mereka membikin masalah dan kita ini mau memperjuangkan untuk bisa dapat jalan keluar dari masalah.

Makanya ini yang kita inginkan itu perspektif yang jernih yang adil ya. Karena tujuan kita ini bukan untuk mempertajam permusuhan bukan untuk memperparah keadaan apalagi untuk sekedar membangkitkan kebencian kepada Israel atau Yahudi, nggak. Kita ingin cari jalan keluar dengan mengingatkan kembali semua orang tentang kemanusiaan.

Nah, karena kebencian itu tidak bisa menjadi jalan keluar, kemarahan juga tidak bisa jadi jalan keluar. Jalan keluarnya adalah kesadaran tentang kepentingan bersama bahwa kalau ini tidak segera diselesaikan konflik ini, maka yang celaka bukan hanya orang-orang Palestina, yang celaka bukan hanya orang-orang Yahudi Israel tapi seluruh umat manusia akan celaka. Maka itu yang akan kita bangkitkan secara bersama-sama tentang kesadaran.

Baca Juga :   Ngaji Qonun Asasi NU Bareng Gus Yahya (9)

Bagaimana tanggapannya terkait ajakan boikot produk-produk Israel dan apakah masyarakat Indonesia perlu melakukannya?

Saya kira itu (boikot) penting ya, bahwa gerakan-gerakan boikot untuk mendapatkan perhatian politik dan saya kira sekarang juga sudah dilakukan, tapi ini tidak cukup karena boikot juga sama ya, yang menentang Israel juga memboikot terhadap produk Israel, yang pro Israel juga memboikot yang pro Palestina.

Seperti baru-baru ini terjadi misalnya, boikot dilakukan oleh aktor-aktor besarnya seperti Disney, Sony Picture misalnya memboikot X karena X menayangkan posting-posting dari Gaza kemudian mereka memboikot X dan mencabut semua iklan dari X. Mereka melakukan boikot terhadap yang pendukung Palestina.

Nah, ini artinya saling boikot, kalau saling boikot jalan keluarnya apa? Boikot ini memang penting untuk mendapatkan perhatian politik, tapi harus harus dipikirkan jalan keluar yang masuk akal yang mungkin yang possible, bukan juga cuma sekedar harapan tapi sesuatu yang betul-betul workable sesuatu yang yang bisa ditempuh untuk sampai kepada jalan keluarnya.

Sebelum semua itu terjadi, ini harus segera dihentikan, serangan dan kekerasan ini harus dihentikan segera sekarang juga! itu yang ingin kita sampaikan terus-menerus dan sekarang yang bicara begini kan bukan cuma saya dan semua pihak di seluruh dunia apalagi teman-teman para pemimpin agama yang masuk dalam jaringan R20, mereka juga tidak henti-hentinya, tidak capek meneriakkan tuntutan yang sama.

Tanggapan Gus Yahya melihta netizen Indonesia merundung tentara IDF melalui media sosial?

Sekali lagi soal saling bully, saling memberi tekanan semacam itu, ya itu belum sampai ke strategi menuju jalan keluar. Nah, kalau soal apakah kita ini dianggap anti semitisme atau ada isu anti semitis, ada isu islamophobia yang selama ini juga cenderung diperalat untuk kepentingan-kepentingan politik.

Jadi, ada pihak-pihak misalnya yang menggunakan isu Islamophobia untuk membuat tekanan politik pada lawan politik. Menggunakan anti semitisme untuk membuat tekanan politik jadi diperalat secara politik, yang sebetulnya kalau itu dilakukan itu akan memperburuk keadaan. Apakah ada anti semitisme? memang ada, tapi tidak untuk digunakan sebagai alat politik, begitu juga islamophobia, tapi tidak untuk digunakan sebagai alat politik, tapi jalan keluarnya.

Saya pernah dialog dengan sejumlah Rabi Yahudi dan saya terang-terangan mengatakan sekarang ini ada isu tentang anti semitis, sebenarnya apa koridor dari anti semitisme? kalau saya mengkritik misalnya kelompok Yahudi tertentu pengkritik Israel misalnya itu parameternya sejauh mana supaya tidak dianggap sebagai anti semitisme, apakah semua yang mengkritik Israel dianggap anti semit?

Ini saya tanyakan terang-terangan kepada Rabi-Rabi Yahudi. Mereka jawab tidak seperti itu. Kalau ada kritik yang nyata dan masuk akal itu bukan anti semitisme. Anti semitisme, itu sikap yang secara membabibuta memusuhi Yahudi. seperti yang dilakukan oleh Hitler dulu, Hitler nggak peduli, pokoknya Yahudi itu dibasmi, itu anti semitisme.

Tapi kalau kita mengkritik kebijakan, perilaku dan sebagainya itu tidak termasuk anti semitisme. Begitu juga misalnya kita mengkritik ISIS bukan Islamophobia, kita mengkritik dan menolak para pelaku teror. Ini yang harus kita pahami dan kita tidak perlu kuatir, memang kenapa? kalau hanya dituduh saja. Indonesia ini kan bukan anti semit. Indonesia sejak awal didirikan sebagai negara kebangsaan dan berdasarkan Pancasila dan Bhineka Tunggal Ika, nggak mungkin anti semitisme.

Tapi kita jelas menolak penindasan, penjajahan di muka bumi ini dan ini peluang bagi kita semua untuk mengajak seluruh masyarakat bersikap lebih jernih di dalam menanggapi masalah yang ada. Begitu ya, terimakasih.

(yudo/huda)

Leave A Reply

Your email address will not be published.