RISALAH NU ONLINE, MAKKAH – Kali pertama menginjakkan kaki di Saudi Arabia, tepatnya di Bandara Internasional King Abdul Aziz, Jeddah. Rasa khawatir dan merasa rendah diri lantaran banyak tulisan arab terpampang diberbagai sudut Bandara. Tapi saya cukup pede, karena punya cukup kemampuan dalam berkomunikasi Bahasa Arab.
Hal itu terbukti waktu saya berada di imigrasi untuk urusan cek in, saya berkomunakasi memakai bahasa Arab Fushah. Walhasil, para petugas imigrasi mengira saya sebagai pelajar yang hendak melanjutkan studi sehingga prosesnya pun berjalan dengan lancar.
Waktu keluar bandara, langsung bertemu dengan driver, Arab Badwi (orang Arab Asli) yang akan mengantarkan kami ke Mekkah. Di sini saya merasa kecele waktu memperkenalkan diri menggunakan Bahasa Arab Fushah, karena di luar dugaan, secara spontan dia menjawab dengan bahasa Indonesia.
Mendengar jawaban itu, saya langsung tertawa malu, karena tidak menyangka, bahasa Indonesia banyak dikuasai oleh orang Arab asli Saudi Arabia. Sebagai orang Indonesia, saya cukup bangga karena bahasa kita viral di Negara lain.
Kecele’ itu berlanjut waktu kami makan malam di daerah Jabal Nur, tepatnya di pelataran Museum Gua Hira, Mekkah. Waktu memasuki pintu Gua, di sana kami disambut dengan bahasa Indonesia oleh para pelayan di rumah makan tersebut, meskipun mereka bukan warga Negara Indonesia.
Saya berpikir sebenarnya saya ini berada di Mekkah atau di Tanah Abang, Jakarta ya? Kok, di setiap tempat kami sering mendengar bahasa Indonesia dan Madura. Tapi sekali lagi saya bangga bahwa budaya Indonesia cukup berpengaruh di sini.
Tidak jauh dari tempat itu, saya lagi-lagi dibuat kaget oleh sebuah tempat makan yang beraksara Indonesia, yaitu “Bakso Unta”, Hehe. Makanan favorit saya saat hujan turun, juga berjejer rapi di deretan food court di Mekkah. Waktu saya mencicipinya, ternyata rasanya tidak jauh beda dengan bakso yang ada di Tebet yang terkenal itu.
Lagi-lagi saya tersentak, sebenarnya saya ini berada di Mekkah atau di Jakarta, sih?
(Mohammad Khoiron, Makkah).