Jika Sengaja Tak Taat, Siapa pun Bisa Terjebak Tarikan Sentrifugal Ka’bah

0

Haji adalah rukun Islam kelima. Urutan paling belakang dari rukun-rukun lain. Belum semua tahu, adakah dalil kenapa dia di belakang. Malah kadang dilihat _”seakan”_ bukan ibadah mandatory. Ia hanya wajib bagi kelompok tertentu. Yang tidak, tidak perlu berkeras hati apalagi memaksa diri.

 

Agama membuka ruang kompromi. Standarnya; _istitho’ah_–mampu. Ukuran ini terus berkembang. Berdialog dengan konteks. Para ulama menimbang ‘illat hukum tiap bangsa.

 

Perkembangan ilmu, sains dan teknologi merupakan salah satu faktor yang melahirkan illat baru dalam hukum haji. Kemajuan teknologi digital, transportasi, dan teknologi informasi telah membuat kaifiyat ibadah ini direkontekstualisasi.

 

Contohnya adalah wacana perluasan Mina yang melahirkan Mina Jadid akibat tidak lagi mampu menampung jemaah haji. Atau tawaran konsep _”murur”_ (melintas) untuk mendapat illat _”taysir”_ (kemudahan) saat mabit di Muzdalifah.

 

Apapun itu, haji dan ibadah-ibadah lain, terutama yang masuk dalam rumpun rukun Islam, adalah medium bagi makhluk agar dapat berdekatan dengan Tuhan. Sang Khaliq sangat suka jika makhluk terus menjaga jarak, mendekat dan akhirnya berada dalam orbit kekhalikan.

 

Demikian sayang Tuhan kepada kita, DIA pun mengirimkan para Nabi dan Rasul untuk membimbing kita melalui pranata agama. Agama menuntun dengan amar Tuhan agar kita mendekat kepada-Nya.

 

Mendekat terus. Terus bergerak. Dekat ke ujung usia. Hingga saat menjemput kematian. Mengantarkan kita ke orbit terdalam. Ke jarak terpendek. Terpendek ke arah pusat. Pusat pusaran. Maka, agar prasyarat itu tetap terjaga, agama telah mencatat larangan-larangan-Nya agar kita tidak menjauh dari-Nya.

 

Dan, dalam konteks ini, haji juga umroh, adalah bagian paling _”relate”_ dengan gladi resik menuju kematian tersebut. Simbolisasinya dimulai dari mengenakan baju ihram.

Baca Juga :   "SALAMUN_ 'Ala Ibrahim" Potongan Ayat Menggambar Salamun

 

Dalam haji, orbit ketuhanan berawal dari wuquf di Arafat dan berakhir di Masjidil Haram. Ka’bah salah satu locus di orbit itu. Ka’bah adalah representasi amar Tuhan. Jemaah meyakini dari bangunan kubus itu meluncur suara Tuhan, menuju ruang batin.

 

Suara ilahiyah dipantulkan oleh Nabi Ibrahim As. dan diserukan kepada umat manusia. Seperti air bah, lautan manusia datang bergelombang. Berjalan kaki atau menaiki tunggangan. Tua dan muda, hamba dan para sadah.

 

Datang dari jarak terdekat hingga yang terjauh. Berjejal berhimpit lewat bukit-bukit cadas. Rebah berbantal bebatuan. Berselimut angin gurun yang menusuk. Runduk dipeluk angkasa tiada berbatas. Lalu, _”Labbayka Allahumma Labbayka. Labbayka Laa Syariika Laka Labbayka.”_

 

Ka’bah menjadi pusat orbit dalam haji dan umroh. Ia dijadikan simbol Tuhan yang menyambut dan menyapa para tamu yang datang dari segenap penjuru bumi. Semua dilatih menuju kematian.

 

Fase pascakehidupan di dunia tersebut, merupakan etape ke sekian sebelum manusia mempertanggungjawabkan amanah dunianya di akhirat kelak. Siapa ketika di dunia sering terjebak oleh nafsunya, ia akan bergerak, secara semu, menjauh dari Tuhan dan orbit ketuhanan.

 

Amal tidak baik akan berkonsekuensi logis menjauhkan dia dari Tuhan. Itulah hukum _”alam”_ ketuhanan. Ada tarikan gravitasi yang membuat pelanggar garis ketaatan, bergerak secara sentrifugal.

 

Semakin nakal, akan semakin jauh. Tapi bila istiqamah melakuan ketaatan, maka akan berlaku hukum _”alam”_ ketuhanan sebaliknya. Ia tersedot oleh kuatnya qadrat Tuhan, menariknya ke dalam orbit. Lalu mendekat ke pusat lewat tarikan sentripetal.

 

Semakin tebal taat dan patuhnya pada ajaran agama, akan kian semu dia dalam garis ketuhanan. Berbeda dengan tarikan sentrifugal yang membutuhkan effort besar, daya sentripetal sebaliknya. Ia mengayun dalam senyap.

Baca Juga :   Tanpa Visa Haji, Potensial "Haji Ghasab"

 

Persis itu pula gambaran ibadah tawaf. Pada putaran pertama, gerakan tawaf terasa berat, butuh daya besar, berjarak dari ka’bah. Tapi pada etape kedua, barisan terdalam tawaf, mulai berkurang dan meninggalkan barisan.

 

Saat masuk ke etape ketiga, effort mulai berkurang karena jemaah tawaf di barisan kanan tanpa disadari membantu daya dorong untuk terus maju. Demikian akhirnya kita sampai ke etape terakhir. Barisan terdekat ke multazam, sentrum ka’bah.

 

Belajar dari hukum “alam” ketuhanan ini, maka penting bagi siapa pun untuk taat pada suara nurani dan tidak melawan gelombang jemaah tawaf. Semakin besar dayanya untuk merangsek masuk, akan semakin membuatnya terpental dari kafilah ruhani menuju orbit.

 

Ia akan kian terperangkap dalam pelukan nafsu “beribadah” bagi dirinya semata, sehingga abai untuk melahirkan niat suci dalam menciptakan kenyamanan di sekitarnya. Dan dia akan terlempar dari Orbit-Nya lewat tarikan sentrifugal!!!

(Ishaq Zubaedi Raqib –MCH Daerah Kerja Makkah Al Mukarramah)

Leave A Reply

Your email address will not be published.