Bangga Menjadi Warga NU di Masa lalu

0

 

Menjadi anggota (lid) NU di masa lalu ternyata tidak mudah. Di satu sisi NU menginginkan membesar dengan bertambahnya anggota, tapi, satu sisi NU juga ingin mendapatkan anggota yang berkualitas dan saleh.

Menjadi warga NU di masa lalu tidak gampang, harus melalui proses semacam fit and propper test yang dinilai dan dikontrol oleh ketua di masing-masing ranting. Calon anggota harus terlihat aktifitas sosialnya di masyarakat dan juga di NU. Tidak datang takziyah jemaah yang wafat tanpa alasan bisa tertunda keanggotaannya.

NU memiliki pertemuan rutin yang disebut Lailatul Ijtima’ yang diselenggarakan setiap bulan sekali dan bergilir tempatnya.

Acara ini selalu ditunggu. Acaranya, baca surah Yasin dan tahlil. Setelah itu pengajian dan pengumuman penting yang terkait organisasi. Juga, diperkenalkan anggota baru yang sudah mendapatkan nomor Lid. Sering pula acara ini dihadiri pimpinan NU dari level yang lebih atas. Misalnya, ketua cabang atau wilayah.

Setiap anggota nantinya mendapatkan nomor ‘lid’ yang dikeluarkan pusat. Nomor Lid akan selalu ditanyakan ketika dalam rapat. “Tolong sebutkan nomor Lid-nya.” Ketika seseorang meninggal dunia dan perlu diumumkan dengan permintaan salat gaib dan doa dan dimuat di majalah Suara NU atau Berita NU juga harus menyebut dan mencantumkan nomor Lid yang bersangkutan.

Bagi anggota juga diharapkan mengenakan lencana (insigne/insinye) NU. Dalam maklumat HBNO (PBNU) tahun 1938 menyebutkan; “Saudara kaum Nahdlatul Ulama agar supaya Lid NU gampang dikenal oleh Lid NU dan lantas mengambil tindakan semestinya sesaudara, seperhimpunan, maka sejak sekarang ini diminta dengan sangat dan sungguh-sungguh hendaklah Lid NU memakai insigne NU.”

Lencana NU itu terbuat dari logam berbentuk bulat seukuran uang logam yang menggambarkan lambang NU hasil ciptaan KH Ridwan Abdullah tahun 1927 itu. Gambar bola dunia yang dilingkari tali tersimpul, dikitari oleh 9 (sembilan) bintang, 5 (lima) bintang terletak melingkari di atas garis khatulistiwa yang terbesar di antaranya terletak di tengah atas, sedang 4 (empat) bintang lainnya terletak melingkar di bawah garis khatulistiwa, dengan tulisan NAHDLATUL ULAMA dalam huruf Arab yang melintang dari sebelah kanan bola dunia ke sebelah kiri. Ada huruf “N” di bawah kiri dan “U” di bawah kanan, semua terlukis dengan warna putih di atas dasar hijau.

Baca Juga :   Antara Mbah Wahab dan Mbah Bisri

Untuk memudahkan pemakaian lencana itu di belakangnya ada semacam jarum panjang yang tinggal diselipkan di saku baju. Orang dulu bajunya ada kantong atas yang bertutup dan menyisakan lobang kecil untuk meletakkan pulpen. Di tempat pulpen itu diletakkan lencana NU.

“Insigne NU yang sekarang sudah kita perbaiki sehingga cantik molek, patut menjadi perhiasanya dada kita! Lihatlah cantiknya ini Insigne,” tulis maklumat yang dimuat majalah Berita NU edisi 11 Sjawal 1357 atau 4 Desember 1938. Tentu lencana itu tidak gratis. Lencana itu bisa diperoleh di kantor-kantor NU dengan harga f 30 sen (30 sen gulden), sama dengan harga sebuah majalah.

 

Manfaat Insigne

Apa manfaat lencana itu? Pemakai lencana itu menunjukan bahwa ia anggota NU dan telah memiliki Lid. Jika kemudian saling bertemu harus saling sapa dan memberi salam. “Menurut hadis sahih riwajat Imam Bukhari menjelaskan: “Yang berkendaraan memberi salam pada yang berjalan kaki, dan yang berjalan kaki memberi salam kepada yang duduk.”

Manfaat kedua, jika mendapatkan Lid NU perlu ditolong (umpama mengalami kecelakaan di jalan) hendaklah sesama anggota NU menolong saudaranya. “Dengan begitu, maka adalalı gunanya bersaudara, tambah kenalan, tambah kawan dan tambah penolong,” tulis maklumat itu. Ada pepatah di kalangan santri, banyak kawan berarti banyak rumah yang bisa disinggahi bahkan diinapi.

Sebelum tahun 1938 pernah ada lencana NU namun masih sangat sederhana yang disematkan di dada dengan semacam peniti. Dengan munculnya lencana baru itu maka semakin bergairahlah warga NU dan bangga menjadi bagian dari gerakan para ulama panutan mereka. Diberitakan selanjutnya bahwa lencana dari tembaga itu sering mengalami kehabisan dan dibuat ulang. (MH)

Baca Juga :   NU di Zaman Penjajahan Belanda
Leave A Reply

Your email address will not be published.