Eskalasi Konflik Israel dan Hizbullah Meningkat

0

Di Tengah memanasnya agresi Israel di Gaza, front konflik baru dapat muncul di wilayah Utara Israel dengan musuh lama mereka di Libanon, yaitu Hizbullah.

Beberapa hari yang lalu, PM Israel, Benjamin Netanyahu dalam pernyataannya, menyatakan bahwa pertempuran di Jalur Gaza akan memasuki fase baru, yang mana fase itu bukan akan mengakhiri fase peperangan dan agresi Israel di wilayah Gaza, namun fase intensitas agresi yang saat ini dilakukan akan berakhir. Hal ini berarti PM Netanyahu akan segera menarik tentaranya dari Gaza untuk memfokuskan diri kepada front agresi selanjutnya, yaitu wilayah perbatasan Israel Utara dengan Libanon Selatan.

Berbicara tensi antara Israel dan Hizbullah, sebenarnya bukanlah hal baru. Mereka pernah terlibat dalam konflik di masa lalu dan intensitas tersebut meningkat usai invasi Hamas pada tanggal 7 Oktober lalu. Sebagai aksi solidaritas terhadap sekutunya, Hizbullah menembakkan roket dan mengerahkan drone ke wilayah Utara Israel.

Serangan tersebut kemudian dibalas dengan berbagai serangan udara dan juga pengerahan tank dan misil di darat terhadap target-target serangan Hizbullah. Tujuan dari serangan-serangan tersebut adalah mengurangi kapabilitas militer Hizbullah dan memukul mundur milisi-milisi mereka di wilayah perbatasan Israel dan Libanon.

Tercatat sekitar 11 tentara Israel dan 9 warga sipil menjadi korban tewas dalam pertempuran kedua belah pihak, Adapun dari pihak sebelah, sekitar 240 milisi Hizbullah gugur, begitupula dengan 40 warga sipil Libanon, yang juga gugur dalam serangan agresif Israel. Tensi antara Israel dan Hizbullah sendiri memang tidak sebesar tensi antara Israel dan Hamas di Gaza, yang lebih menyita perhatian dunia.

Dengan situasi saat ini, Dimana Israel sudah hampir meluluhlantahkan Gaza hingga membantai ribuan warga sipil di Gaza, yang mana korban sipil di mata mereka hanya dianggap korban semata, serta tekanan berbagai organisasi internasional dan aksi protes terhadap agresi militer Israel di seluruh penjuru dunia. Israel kelihatannya mencoba untuk mengendurkan serangan di Gaza dan mengalihkan pertempuran ke Utara.

Baca Juga :   Tanazul Solusi Tepat, Sarpras Wukuf Mina Terbatas

Apalagi situasi juga kian memanas usai Hezbollah dan israel saling menembakkan amunisi untuk menghancurkan wilayah hutan di Israel dan Libanon. Terbaru, Hizbullah mengeluarkan rilis footage dari drone mereka yang berisikan kondisi kota Haifa, termasuk Pelabuhan mereka. Yang menandakan bahwa Hizbullah sudah berhasil mendapatkan cara untuk menghindari iron dome Israel.

Israel sendiri juga sudah kewalahan dengan berbagai drone Hizbullah yang memasuki teritori mereka. Karena itu, memfokuskan pertempuran di utara kelihatannya akan segera menjadi prioritas rezim Netanyahu.

Berbagai pihak sendiri sudah mencoba untuk menghentikan konflik antara kedua belah pihak tersebut. Sekjen PBB, Antonio Guterres, misalnya mengatakan bahwa peperangan antara Israel dan hizbullah akan menjadi sebuah bencana bagi wilayah tersebut, dan kerusakan akibat peperangan sangat tidak bisa dibayangkan.

Pemerintah AS sendiri juga terus mengupayakan Langkah diplomatis agar konflik Israel dengan Hizbullah tidak meluas lebih jauh. Saat ini saja, sudah banyak warga sipil terpaksa mengungsi meninggalkan wilayah perbatasan israel dan Libanon dari kedua belah pihak. Diperkirakan jika kedua belah pihak Kembali terlibat dalam perang besa-besaran seperti tahun 2006 lalu, situasinya bisa jadi akan sangat buruk.

SEJARAH PANJANG KONFLIK ISRAEL DAN HIZBULLAH

Hizbullah adalah kelompok gerilyawan Syiah yang didirikan tahun 1982 oleh Iran sebagai sayap perlawanan atas pendudukan Israel di Libanon Selatan. Nama Hizbullah dalam Bahasa Arab berarti Partai Tuhan. Berdirinya Hizbullah tidak lepas dari konflik perang sipil yang berlangsung di Libanon sejak tahun 1975. Di Libanon sendiri, dibawah kesepakatan politik tahun 1943 menyatakan bahwa kekuasaan politik di negara tersebut dibagi berdasarkan keyakinan, Dimana umat Kristen memegang jabatan presiden, Muslim Sunni memegang posisi Perdana Menteri dan Muslim Syiah memegang posisi ketua parlemen.

Baca Juga :   Malaise, Penetrasi, Koloni

Akan tetapi situasi tersebut berubah Ketika Libanon kebanjiran pengungsi dari Palestina, yang membuat populasi Sunni meningkat. Hal ini kemudian membuat wilayah Libanon sering menjadi basis serangan gerilyawan Palestina, yang akhirnya membuat terjadinya Invasi Israel di wilayah Selatan Libanon pada tahun 1978 dan 1982. Yang mana dalam invasinya mereka juga dibantu kelompok Kristen Palangis, yang juga merasa gerah dengan meningkatnya populasi Sunni akibat kedatangan pengungsi Palestina.

Pada akhirnya kondisi tersebut dimanfaatkan oleh Iran, negara Syiah yang baru saja memposisikan diri mereka sebagai Republik islam untuk memperluas pengaruhnya di Kawasan Timur Tengah dan negara-negara Arab. Hizbullah menjadi jembatan bagi iran untuk meningkatkan pengaruhnya, dengan bantuan Suriah yang juga didominasi Syiah.

Di awal-awal kemunculannya, Hizbullah dikenal cukup gigih dan militant dalam berjuang mengusir tantara Israel dari Libanon. Salah satu hal paling fenomenal yang mereka lakukan adalah melakukan aksi bom bunuh diri di barak militer yang berisi gabungan tantara AS dan Perancis di Beirut pada tahun 1983, yang menewaskan 300-an orang.

Pada tahun 1992, Israel membunuh pemimpin dan salah satu pendiri Hizbullah, Abbas Al-Musawi, yang kemudian membuat posisinya digantikan Hassan Nasrallah. Di tangan Nasrallah, Hizbullah berkembang menjadi organisasi militer yang cukup disegani hingga saat ini. Hizbullah tercatat mengontrol wilayah yang didominasi oleh Syiah di Libanon, seperti beberapa wilayah di Beirut, wilayah Lembah Bekaa Timur dan wilayah Selatan Libanon. Kuatnya jaringan politik, militer dan social Hizbullah membuat mereka dianggap sebagai negara di dalam negara.

Hizbullah mendapatkan mayoritas dukungan dana, senjata dan pelatihan dari pemerintah Iran, kendati mereka juga mendapatkan sokongan dari pemerintah Suriah dan diaspora Libanon di luar negeri. Pada tahun 1997, Hizbullah dinyatakan sebagai kelompok teroris oleh pemerintah AS, namun itu sama sekali tidak mengurangi dukungan warga Libanon terhadap Hizbullah. Terakhir dalam pemilu Libanon tahun 2022, mereka berhasil mempertahankan 13 kursi di parlemen dari 128 angota parlemen.

Baca Juga :   MEMAKNAI ULANG PERIBAHASA “MULUTMU HARIMAUMU” DALAM PERSPEKTIF ADAB

Pada tahun 2006, Hizbullah memancing terjadinya peperangan besar-besaran dengan Israel Ketika mereka menyerang kendaraan patrol Israel di perbatasan dan menculik dua tantara Israel. Hizbullah awalnya menawarkan pertukaran sandera, namun pemerintah Israel menolak dan memilih untuk Kembali menginvasi wilayah Libanon Kembali. Pertempuran tersebut mengakibatkan ribuan warga Libanon dan puluhan warga israel tewas.

Peperangan pada akhirnya berakhir Ketika DK PBB mengeluarkan resolusi nomer 1071 yang disetujui oleh pemerintah Israel dan Libanon yang menyaratkan Israel menarik mundur tentaranya, pelucutan senjata Hizbullah dan kedatangan pasukan penjaga perdamaian PBB dibawah naungan UNIFIL, yang mana salah satunya adalah kontingen Garuda dari Indonesia. Kedua sandera akhirnya Kembali ke Israel pada tahun 2008 dengan ditukarkan sejumlah tawanan Hizbullah di Israel.

Usai kejadian tersebut, situasi antara kedua belah pihak tetap memanas, namun eskalasinya masih bisa dikontrol. Akan tetapi, serangan 7 Oktober kelihatannya mengubah segalanya dan diperkirakan situasi bisa lebih buruk ketimbang tahun 2006 lalu.

LANGKAH SELANJUTNYA

Tentu saja, peperangan adalah hal yang buruk. Karena itu, sebisa mungkin, peperangan harus dihindari termasuk pembantaian warga sipil. Kita tentu tidak ingin Libanon menjadi Gaza baru, yang mana mereka sudah kenyang dengan konflik bersenjata selama puluhan tahun. Kedua belah pihak baik israel dan hizbullah harus bisa menahan diri. Dunia internasional, termasuk pemerintah Indonesia dan PBB juga harus aktif bergerak agar tensi yang memanas ini tidak berubah menjadi perang besar-besaran, seperti yang terjadi di masa lalu. (Kharizma)

Leave A Reply

Your email address will not be published.