Menjelang Senja di Arafah

0

Hari wukuf 9 Zulhijjah tahun 110 jatuh pada hari Senin, 18 Maret 729 M. Tahun itu adalah musim haji kelima dalam pemerintahan Khalifah Hisyam bin Abdul Malik yang sudah berkuasa selama lima tahun sejak 105 Hijriyah atau 724 M.

Jemaah haji tahun itu sudah mencapai 300.000-an karena kekuasan Islam sudah menyebar ke mana-mana, tiga benua. Kedatangan jemaah dengan beragam warna kulit. Kulit hitam dari Afrika. Coklat dari Asia Tengah. Putih dari Arab, Eropah  dan Turki dan Kuning dari Kaukaus dan Azerbeijan.

Sebagaimana biasa, Khalifah akan memimpin perhajian atau disebut Amirul Hajj. Ia datang dari Damasus (Damsyiq) dengan rombongan besar dan terkawal. Hisyam akan berkhutbah wukuf di Masjid Ibrahim (Namirah) menjelang wukuf setelah salat Lohor. Ia juga akan menjadi imam salat Lohor dan Asar secara jamak dan qasar di masjid itu.

Syekh Muhammad bin Al-Munkadir seorang Tabiin (generasi kedua) termasuk salah satu jemah haji tahun itu. Ia seorang Tabiiin yang saat itu telah berusia 60 tahun. Ia menginap semalam di Mina sejak tanggal 8 Zulhijah. Paginya ia menuju Arafah dan singgah di masjid Ibrahim sebagaimana yang dilaksanakan Rasulullah seabad yang lalu.

Dengan tertatih-tatih ia jalan kaki dari Mina yang diinapinya tanpa tenda. Ia memabawa bekal makanan roti kering dan air dalam kantung kulit (qirbah). Matahari mulai menyengat di waktu Dluha itu. Ia masih mendapatkan tempat di masjid yang baru dibangun sederhana di zaman Khalifah Sayidina Umar bin Khattab itu.

Tahun ini merupakan hajinya yang ke 33. Ia telah malampaui haji di zaman Khalifah Abdul Malik bin Marwan, Al-Walid bin Abdul Malik, Sulaiman bin Abdul Malik, Umar bin Abdul Aziz, Yazid bin Abdul Malik hingga kini, Hisyam bin Adul Malik. Di zaman Umar bin Abdul Aziz, ia melihat kepemimpian orang saleh yang bijak. Semua jemaah haji di zaman itu diberi makan selama di Arafah, Muzdalifah dan Mina, sekitar empat hari. Tradisi itu berlanjut hingga zaman Yazid. Ia berharap kebijakan itu juga berlangsung hingga di zaman Hisyam. Tahun lalu belum merata pembagiannya.

Baca Juga :   Rais Aam PBNU: Awas Strategi Kaum Wahabi dan Ahiri Polemik Nasab Ba'alawi

Ia bisa dapat tempat duduk di sudut kanan shaf terdepan masjid itu. Orang berangsur memenuhi masjid. Namun ia lihat banyak juga yang lagsung menuju Arafah bahkan datang dari Mekah. Mereka kemudian menempati tenda-tenda yang telah dipasang warga Mekah untuk melayani perhajian dngan mengutip uang sewa cukup besar. Warga Mekah juga menyiapkan air yang cukup banyak dalam bejana-bejana kecil semacam kendi dari tembikar di lorong.

Khalifah datang persis ketika azan akan dikumandangkan. Semua mengenakan baju ihram serba putih tanpa jahitan. Petugas sibuk mengipasi khalifah yang mulai mengucurkan keringat karena panasnya udara. Ia memimpin salat dan khotbah wukuf. Setelah itu semua bergerak menuju Arafah sambil mengumandangkan Talbiyah.

Hisyam menjadi satu dari tiga khalifah yang memiliki masa kekuasaan terlama di negara terluas di dunia. Sebelumnya adalah Muawiyah bin Abi Sufyan dan Abdul Malik bin Marwan, dianggap Hisyam cukup berhasil mempertahankan kestabilan dan kejayaan kekhalifahan.

Muhammad bin Munkadir mengikuti khalifah meninggalkan masjid itu. Bahkan Khalifah sempat tatap muka dan menegurnya karena saling kenal ketika sama-sama muda di Madinah. “Bergabunglah bersama kami syekh di tenda,” kata Khalifah. Muhammad bin Al-Munkadi hanya menjawabnya “Insya Allah” seraya melempat senyum tulusnya.

Tigapuluh Tiga

Ia ingin haji yang ke 33 ini lebih sempurna. Ia ingin habiskan waktunya untuk mendekatkan diri kepada Allah. Sejak lohor hingga magbrib ia ingin tengelam di lautan rahmat Allah di Arafah, mereguk kemuliaan haji. “Haji adalah Arafah,” sabda Rasulullah yang menyatakan puncak dan inti haji itu adalah wukuf di Arafah 9 Zulhijjah itu.

Ia tak menyewa tenda. Ia hanya mengikat suban putihnya menjadi atap seadanya, menahan panas terik. Di situ ia duduk bersimpuh di atas sajadah sulaman Persia. Duduk menghadap kiblat tak jauh dari bukit Arafah yang dipadati manusia. Bukitnya hampir tak terlhat karena tertutup pakaian jemaah haji yang memutih.

Baca Juga :   MENGHINDARI HOAX

Syekh membaca surah Al-Ikhlas, Alfatihah, takbir, tahmid, tahlil, tasbih, hawqalah dan selawat kepada nabi masing-masing sebanyak 1.000 kali. Sisasa waktu ia habiskan membaca Al-Quran, mengkhatamkan sisa dari yang dibacanya di Mina kemarin.

Tapi, sebagian jemaah yang lain sudah tak betah dan tak sabar ingin segera meninggalkan Arafah. Jauh sebelum Magrib mereka sudah berkemas. Memang sejenak pun tinggal di Arafah cukup terhitung sebagai haji. Malah banyak dari mereka yang langsung ke Mekah bukan Muzfalifah dengan mambayar dam seekor kambing. Lalu di mana kenikmatan berhajinya, pikir Syekh Muhammad.

Tinggal sebagian yang memilih tinggal menginap (mabit) di Muzdalifah. Namun sebagian ada yang ingin segera lewat tengah malam untuk segera ke Mina. Di Mina langsung melempar jumrah Aqabah dan mencukur sedikit rambut. Setelah itu bebas melepas baju ihramnya. Ya Allah, kata Syekh, baju ihram adalah baju kemuliaan yang diberikan Allah untuk tamu-Nya jemaah haji. Seharusnya baju ihram ia kenakan selama mungkin karena melekat dengan kemuliaan. Baju itu pula yang nanti akan membawa kita menghadap Ilahi Rabbi melalui alam kubur.

Di remang senja, Syekh mengadap kiblat sambil menangis. “Ya Allah, Engkau Maha Tahu, aku telah berhaji 33 kali. Satu biar untukku. Satu untuk ayahku. Satu untuk ibuku. Sisanya yang 30 biarlah untuk semua jemaah haji yang datang tahun ini agar mereka mendapatkan pahala mabrur dari-Mu.”

Ia pun menuju Muzdalifah dan salat magrib dan isya secara tak-khir. Ia habiskan waktu di sini untuk berwirid dan takbir hingga fajar merekah. Salat subuh dilaksankan berjemaah. Sebagian orang sudah tak sabar menggalkan Muzfalifah untuk segera tahallul awal.

Baca Juga :   Soal Tambang dan Fikih Lingkungan

Usah subuh ia langsung menuju jamarat dan melempar jumrah aqabah, lalu mamotong rambut sedikit dan menuju Mekah untuk tawaf Ifadlah dan sai. Ia tak ingin melepas kain ihramnya hingga nafar tsani hinga akhir tasyriq. Ia begitu nikmati pakaian terakhir manusia itu.

Saat tertidur di Mina, ketika ia hendak melepas baju kemuliaan itu ia mendengar suara: “Wahai Ibna Munkadir adakah engkau memuliakan Zat Pencipta kedermawanan dan kemuliaan? Demi kemuliaan dan keagungan-Ku, Aku telah mengampuni siapa pun yang wukuf di Arafah sejak 1000 tahun sebelum aku ciptakan Arafah.”

Dikutip bebas dari Inaratud Duja karya Syekh Muhammad Ali bin Husein Al-Makki Al-Maliki syarah atas Tanwirul Hija karya Syekh Ahmad Qusyairi bin Siddiq Allasemi Alfasuruwani (tanpa tahun), terbitan Darul Fikr, Beirut, halaman 10 dan dilengkapi data dari Al-Idlah karya Imam Nawawi, Maktabah Salafiyah, Mekah, 1985. (Musthafa Helmy)

Leave A Reply

Your email address will not be published.