RISALAH NU ONLINE, PAPUA TENGAH – Setiap daerah ada tokohnya dan setiap tokoh punya daerah kekuasaan. Para tokoh yang dimaksud di sini ialah tokoh yang mendirikan atau nerintis suatu daerah atau kegiatan. Tokoh ini biasanya dikenal dengan sebutan muassis. Tokoh lain ada yang menjadi motor penggerak kegiatan (dari kondisi statis) menuju kondisi yang lebih baik (dinamis). Tokoh jenis ini umumnya disebut muharik
Tokoh-tokoh semacam ini pun bisa ditemukan di beberapa kampung di Kabupaten Mimika, Papua Tengah. Peran mereka di bidang perintisan dan pergerakan aswaja an-nahdliyyah yang krusial dan perjuangan yang berat pantas untuk dikaji dan diteladani.
“Momen peringatan satu abad NU ini kami jadikan titik awal untuk mengkaji peran sentral para tokoh pendiri kampung dan penggerak NU secara intensif di berbagai kampung” urai Sugiarso, salah satu perintis kegiatan istighatsah An-Nahdliyyah
Kajian peran dan warisan perintis dan penggerak ini dilakukan dalam format ziarah dan diskusi di dua makam Islam.
Pelaksanaan ziarah perintis dan penggerak ini dilaksanakan di dua makam, yakni makam islam Kelurahan Karang Senang Distrik Kuala Kencana pada 25 Januari 2025, dan Kelurahan Kamoro Jaya Distrik Mimika Baru pada 1 Februari 2026
Ziarah di makam Karang Senang mengkaji perjuangan rintisan H Ali Makruf, KH Sobirin, H Sudjianto yang merintis pendirian sekolah Maarif, masjid, dan makam Islam di saat jumlah orang Islam yang masih sedikit.
“H. Ali punya kemauan yang keras. Apa yang dia mau harus terjadi walaupun yang lain tidak setuju. Saya sendiri juga pernah berbeda pendapat dengan beliau. Kemauan keras ini hasilnya adalah sekolah Maarif,” urai KH Fadlan, Wakil Ketua PCNU Mimika.
Menurutnya H Ali sering berkunjung ke rumahnya mencurahkan rasa prihatin tentang para generasi muda penerus perjuangannya.
Sementara itu sesepuh Karang Senang, H. Syaiful memberikan kesaksian tentang perjuangan H Sudjianto dalam membangun masjid dan makam islam.
“Kondisi kita sekarang ini punya makam Islam yang nyaman jelas berkat jasa H Sudjianto. Beliau orang paling depan dalam berargumen dengan masyarakat lokal ketika masjid dan makam ini diganggu. Tidak ada rasa takutnya. Dalam situasi yang butuh ketenangan itu, KH Sobirin tampil dengan damai. Jadi ada yang keras dan ada yang lembut,” jelasnya.

Menjaga Sejarah
Ziarah makam kedua di makam Kelurahan Kamoro mengenang para penggerak dan kerabat NU.
“Ada 5 orang penggerak dari Kampung Kadun Jaya yang dimakankan, Pak Budi, Pak Mansyur, Pak Katuwi, Bu Siti, dan Pak Jumar. Mereka ini orang kecil, nahdliyyin akar rumput namun pergerakan ke- NU-annya sangat nyata dirasakan. Jiwa memberinya sangat besar daripada menerima. Berjuang tanpa harapan mendaptkan amplop uang,” urai Wakil Ketua PCNU Mimika, Sugiarso
Sementara itu Ketua Paguyuban Penjahit Mimika, Suhardi, yang ikut dalam ziarah ini mengungkapkan rasa senangnya
“Saya berterimakasih atas kegiatan positif ini. Kita bisa mendoakan dan menjaga sejarah para perintis, sesepuh, penggerak dan kerabat yang telah berjuang. Dengan acara ini bisa membersihkan makam saudara saya. Saya setuju acara ini diagendakan lagi,” kesannya.
Ziarah tersebut telah melahirkan gerakan berupa kesepakatan mengadakan megengan atau punggahan bersama di makam Karang Senang dan Kamoro Jaya untuk sambut Ramadhan 1447
(Anisa)