Assalāmualaikum warahmatullāhi wabarakātuh. Sejak awal tugas atau masa tugas Pengrurus Besar Nahdlatul Ulama periode ini, saya telah mulai sampaikan—baik secara internal maupun dalam berbagai kesempatan komunikasi publik—bahwa tema dasar dari pergulatan kita sebetulnya adalah pergulatan untuk menghadapi dunia yang berubah. Dan dunia ini berubah dengan percepatan, dengan akselerasi yang terus-menerus meningkat.
Saya pernah menyampaikan, sekian tahun yang lalu, betapa masa depan bagi kita hari ini semakin menekan. Masa depan rasanya menjadi lebih cepat datangnya, menekan kita semua untuk menyesuaikan diri dengan perubahan-perubahan yang terjadi. Dulu pada waktu saya masih kanak-kanak atau remaja, kita bisa hidup dengan lebih santai karena dunia berubah lebih lambat.
Dan langgam pesantren itu sendiri, karena kulturnya, memang cenderung kasual, cenderung lebih santai di dalam menghadapi hidup ini, karena rata-rata sudah kenal sama Gusti Allah, jadi slow saja [hadirin tertawa], semuanya diserahkan kepada Allah SWT. Itu sebabnya, sebetulnya sudah sejak lama ada fenomena keterlambatan dunia pesantren di dalam mengikuti, beradaptasi dengan dunia yang berubah itu.
Ketika dunia pendidikan semakin terintegrasikan ke dalam sistem global melalui strategi deliberate, strategi yang sengaja dibangun oleh pemerintah Indonesia pada waktu itu untuk memodernisasi dunia pendidikan, pesantren tidak serta-merta mengikuti perubahan-perubahan yang terjadi karena itu.
Saya pernah menggambarkan dalam salah satu halaqah transformasi pesantren, bagaimana tahun 1945 itu pihak-pihak lain sudah mencapai tingkatan-tingkatan pembelajaran yang tinggi di dalam sistem pendidikan barat atau pendidikan global, dan pesantren belum apa-apa. Tahun 1940-an, 1945 itu ayahnya Presiden Prabowo Subianto, Prof Sumitro Djojohadikusumo, sudah doktor, lulus dari pendidikan di Belanda, kalau nggak salah, doktor ekonomi. Santri-santri kita belum ada yang sekolah.
Yang ada itu sebagian yang Sekolah Ongko Loro itu: po-po, ro-ro; tu-ku, te-lo, dan seterusnya. Belum ada yang sekolah. Ketika kalangan lain sudah masuk dalam pendidikan tinggi bahkan sudah panen sarjana setiap tahun 1950-an, 1960-an, kalangan pesantren juga belum sekolah. Kita baru mulai panen sarjana secara relatif besar-besaran itu pada pertengahan tahun 1975-an. Itu saja sarjana sag-sagan semua, kalau istilah sekarang itu.
Nah, perubahan-perubahan ini terjadi semakin cepat. Sementara kita punya masalah mengenai, pertama, langgam gerak kita berdasarkan kultur dan, kedua, jembatan generasional, jembatan antar generasi di dalam menghadapi perubahan itu. Generasi saya ini generasi X, kelahiran antara tahun 1960-an, 1980-an, itu saja generasi X yang agak awal, sudah mengerti bahwa platform digital ini sangat menentukan perannya di dalam tatanan kehidupan.
Itu sebabnya, misalnya, ketika saya pada waktu itu memberanikan diri untuk maju sebagai calon ketua umum, sebetulnya yang pertama-tama saya pikirkan adalah soal digitalisasi ini, karena entitas berskala sedemikian besar seperti Nahdlatul Ulama ini tidak mungkin lagi dikelola secara manual, harus secara digital.
Masalahnya, ini masalahnya, sebagai generasi X awal, saya tidak begitu paham digital itu makhluk apa, sehingga saya harus bergulat—termasuk pergulatan antar generasi, sebetulnya—untuk bisa menemukan format yang dibutuhkan. Dan itu harus menunggu sampai hampir tiga tahun, sampai kita berhasil menemukan satu format platform digital bagi manajemen jam’iyah ini, bagi manajemen organisasi ini.
Sekarang kita sudah punya Digdaya yang akan terus kita kembangkan. Dan Alhamdulillah, begitu kita ketemu format itu, segala-galanya, pengembangannya menjadi lebih cepat, menjadi lebih cepat. Sekarang ini, Alhamdulillah, kita sudah sampai kepada pengembangan artificial intelligence untuk menggantikan admin. Semula dalam penggunaan platform digital itu dibutuhkan admin-admin. Kita harus menggaji orang untuk menjadi admin dalam melayani pengurus-pengurus untuk menggunakan platform digital itu.
Sekarang sudah jadi barangnya, artificial intelligence yang menggantikan admin, sehingga admin Digdaya itu nanti sudah bukan lagi dari bangsa manusia, bahkan bukan bangsa lelembut, tapi sudah pakai coding, algoritma, dan lain-lain dengan artificial intelligence itu. Alhamdulillah. Karena ada wawasan baru dalam soal ini bahwa sekarang tidak bisa lagi kita mengharapkan bangsa manusia ini mendekati teknologi. Kita harus memikirkan cara supaya teknologi yang mendekat kepada kita.
Transformasi
Nah, transformasi yang melibatkan tawar-menawar tentang apa yang berubah dan apa yang dipertahankan, karena tentu saja ada hal yang harus kita pastikan menjamin jati diri pesantren sebagai pesantren. Kecoak itu tidak tahu tadinya seperti apa, tapi jelas jati dirinya masih kecoak. Manusia ini kalau beradaptasi dengan perubahan alam, tidak boleh lalu menjadi makhluk lain yang bukan manusia. Karena kalau jadi makhluk lain itu namanya tidak beradaptasi. Jadi ada hal-hal yang sifat yang terkait dengan jati diri yang harus dipertahankan, tapi jelas ada yang harus direlakan untuk dilepas.
Karena terkadang kita juga tidak bisa menolak bahwa itu harus lepas. Dulu, sejak zaman studinya Clifford Geertz sampai dengan studinya Pak Zamakhsyari Dhofier, pesantren ini digambarkan sebagai satu lingkungan budaya yang khas, yang berbeda dengan lingkungan budaya budaya masyarakat yang lebih luas, sampai-sampai Gus Dur membangun teori tentang pesantren sebagai subkultur dengan mengandaikan pesantren sebagai satuan budaya yang kurang lebih punya batas-batas tertentu yang memisahkannya dari dunia luar yang lebih luas. Tapi sekarang kita dapati, kita tidak bisa menolak, batas-batas yang tadinya diandaikan sebagai batas subkultur pesantren itu, sekarang sudah runtuh semuanya.
Nah, maka Gerakan Cakap AI ini sebetulnya adalah kebutuhan yang tidak mungkin kita elakkan, mengingat bagaimana AI semakin dominan di dalam urusan-urusan umat manusia dewasa ini. Masalah yang paling berdasar dari AI ini adalah bahwa—kalau saya tadi sebut ada kegagapan dunia pesantren dalam menyesuaikan diri dengan perubahan—sebetulnya umat manusia itu sendiri pada dasarnya cenderung gagap dalam menyesuaikan diri dengan perkembangan teknologi.
Teknologi ini berkembang lebih cepat, mungkin dari rata-rata kesadaran umat manusianya sendiri. Ketika AI hari ini sudah berkembang begitu luas, umat manusianya sendiri sebetulnya belum cukup siap untuk menghadapi itu. Maka ketika pertama kali AI ini mulai diluncurkan, diperkenalkan penggunaannya, bahkan seorang juragan teknologi besar di dunia ini yaitu Elon Musk mengusulkan supaya penggunaan AI ditunda karena terlalu menakutkan. Karena AI ini, begitu jadi, dia punya kemampuan untuk belajar sendiri, mengembangkan sendiri dengan kemampuan yang lebih cepat daripada manusia.
AI itu, masyaallah, jenisnya bermacam-macam dan bisa bikin produk yang bermacam-macam. Yang namanya pemalsuan-pemalsuan itu menjadi mudah sekali dengan AI. Kalau tadi digambarkan oleh Kiai Hodri bahwa orang bisa mengerjakan tugas-tugasnya dengan lebih cepat, iya, tapi AI juga bisa dipakai yang enggak-enggak. Ada—apa istilahnya sekarang itu?—deep fake atau apa itu, pemalsuan yang dalam sekali.
Orang sekarang sudah bisa bikin film, movie, tanpa bangsa manusia itu sudah bisa, hanya dengan AI. AI itu bisa menciptakan manusia di dalam film. AI bisa memalsukan wajah siapa pun untuk mengatakan apa pun dengan menirukan suaranya, dan seterusnya. Ini luar biasa. Belum ada hukum yang mengatur itu. Maka sebetulnya banyak kalangan, khususnya kalangan umat beragama, hari ini, mengembangkan keprihatinan (concern) yang mendalam terkait dengan AI ini.
Manusia penggunanya ini seperti apa? Kelakuannya seperti apa? Perilaku etiknya seperti apa? Maka memperkenalkan AI kepada dunia pesantren, ini punya fungsi timbal-balik yang juga sangat fundamental dan strategis. Yang pertama, adalah bagaimana agar dunia pesantren lebih cepat memiliki literasi tentang artificial Intelligence ini. Dan, di sisi lain, karena kita asumsikan bahwa di dunia pesantren itu yang pertama diajarkan adalah soal akhlak, soal etika, maka ketika dunia pesantren berinteraksi dengan AI, dengan sendirinya kita harapkan kemudian tumbuh pemikiran-pemikiran, gagasan-gagasan, wawasan-wawasan tentang bagaimana seharusnya etika menuntun orang di dalam menggunakan artificial intelligence. Kita bahkan bisa berharap bahwa di kemudian hari ada pemikiran tentang rumusan-rumusan norma yang lebih operasional tentang penggunaan artificial intelligence ini yang diinspirasi oleh akhlak yang diajarkan di dunia pesantren.
‘Alakullihal, Bapak Ibu hadirin sekalian yang saya hormati, apa yang menjadi inisiatif dari Rabithah Ma’ahid Islamiyah yang diluncurkan hari ini dalam kerja sama dengan Microsoft yang dengan berbagai macam state of the art-nya, berbagai macam uborampe-nya, ini adalah inisiatif strategis yang fundamental yang kita tidak bisa menghindar untuk memulainya sedini mungkin. Ini sebetulnya agak telat. Tadi sudah disebutkan sudah ada jutaan yang masuk dalam sistem pelatihannya Microsoft dan kita baru mau mulai. Kita baru mau mulai, agak telat.
Tapi kalau tidak segera mulai, ya jangan sampai dunia pesantren ini menjadi makhluk purbakala yang sekian tahun ke depan sudah dianggap punah hanya gara-gara tidak mampu atau tidak mau menyesuaikan diri dengan perubahan dengan cara mentransformasikan diri secara strategis. Terima kasih kepada Microsoft Global, terima kasih kepada Rabithah Ma’ahid Islamiyah yang telah menginisiasi program ini.
Mari kita jadikan ini sebagai gerakan, supaya kemudian maslahatnya, benefit-nya itu termultiplikasi dengan sendirinya. Kalau tadi dikatakan akan ada 40 ribu orang yang dilatih untuk program Cakap AI ini, dengan menjadikannya gerakan, maka sesudah itu kita harapkan 40 ribu orang ini akan terus bergerak sendiri menggalang keseluruhan konstituensi dari dunia pesantren ini untuk menjadi lebih cakap di dalam memahami artificial intelligence.
Mudah-mudahan dengan cara ini masa depan yang kita tidak tahu akan seperti apa itu akan jadi sesuatu yang dunia pesantren sendiri lebih siap menghadapinya, lebih mampu memberikan tanggapan yang konstruktif dan bermakna bagi bukan hanya kehidupan pesantren sendiri tapi juga bagi kemanusiaan selanjutnya. Amin.
Wallāhul muwaffiq ilā aqwāmith tharīq. Wassalāmualaikum warahmatullāh wabarakātuh.
(Pidato Ketua Umum PBNU KH Yahya Cholil Staquf pada Peluncuran Gerakan Pesantren Cakap Artificial Intelligence (AI) di Plaza PBNU, Jakarta Pusat, Kamis, 22 Januari 2026).