RISALAH NU ONLINE, JAKARTA – Syuriah PBNU yang juga Wakil Ketua Umum MUI KH Cholil Nafis menyebut jatuhnya awal Ramadhan 1447 H pasti berbeda di antara umat Islam Indonesia. Ulama yang akrab disapa Kiai Cholil ini mengajak umat untuk menyikapinya dengan dewasa.
“Hampir dipastikan, mengawali Ramadhan ini kita berbeda. Karena satu ormas sudah menetapkan awal Ramadhan pada 18 Februari ini. Karena dia menggunakan hisab sekaligus kalender global,” kata Kiai Cholil kepada MUI Digital di Jakarta, Jumat (13/2/2026).
Sementara yang lainnya, menggunakan hisab dan imkan rukyah yang kemungkinan bisa dilihat dari terbenamnya matahari. “Nah, menurut imkan rukyah kemungkinan dilihat ini tak mungkin dilihat,” sambungnya.
Kiai Cholil menerangkan, kemungkinan posisi derajat hilal masih di bawah 3 derajat. Sementara ketentuan Mabims, yakni ulama-ulama yang tergabung di Malaysia, Indonesia, Singapura dan Brunei Darusalam menyepakati bahwa hilal bisa dilihat kalau sudah berada di atas 3 derajat.
“Jadi bisa dipastikan awal Ramadhan kita ini akan berbeda. Ada yang tanggal 18, ada yang tanggal 19. Saya berharap semuanya memaklumi hal ini. Yang penting kita bisa menjalankannya dengan baik dan khusyuk,” ungkapnya.
Kiai Cholil menekankan umat agar jangan sampai ada gesekan yang dapat merusak ukhuwah Islamiyah (persaudaraan Muslim). Kiai Cholil menegaskan pentingnya ukhuwah Islamiyah menuju kedekatan umat Islam kepada Allah SWT.
“Saya berharap masyarakat sudah dewasa. Ini masalah kekhilafiah fikir, masalah perbedaan pikir. Dan tidak perlu dibawa-bawa pada perpecahan, tapi dijadikanlah perbedaan ini untuk kita belajar lebih banyak,” sambungnya.
Pengasuh Pondok Pesantren Cendekia Amanah, Depok, Jawa Barat ini menerangkan pembelajaran itu seperti wihdatul matolik dan saatul matolik, yakni ada berkenaan melihat bulan itu berdasarkan pada daerahnya masing-masing.
“Ada yang menganggap seluruh dunia adalah satu kalender, satu matlak, satu tempat terlihatnya bulan. Sehingga di satu negara yang dilihat bisa disini juga sama-sama dianggap melihat dan memulai puasa,” terangnya.
Kiai Cholil mempersilahkan umat Islam untuk mempelajari itu untuk menjadi motivasi dan belajar ilmu. Namun, dia menegaskan pelajaran dan perbedaan yang ada dijadikan perpecahan.
“Tapi jadikan istilaf umati rahmat. Menjadi rahmat bagi kita untuk kita belajar lebih banyak,” tegasnya. (hud/dam)