PBNU Lepas 24 Dai ke Delapan Negara dalam Program NU Worldwide Dakwah

0

Risalah NU Online, Jakarta – Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) secara resmi melepas 24 dai dalam program Nahdlatul Ulama Worldwide Dakwah untuk bertugas di delapan negara, Ahad (15/2/2026). Pelepasan dilakukan secara daring melalui Zoom dan dihadiri Wakil Ketua Umum PBNU Dr. KH. Zulfa Mustafa, Ketua Lembaga Dakwah (LD) PBNU Dr. KH. Abdullah Syamsul Arifin, Sekretaris LD PBNU KH. Nurul Badruttamam, MA, serta jajaran pengurus lainnya.

Para dai tersebut akan menjalankan misi dakwah di Australia, Selandia Baru, Hongkong, Jepang, Jerman, Korea Selatan, Taiwan, dan Timor Leste. Tahun 2026 menandai tahun keempat pelaksanaan program ini, yang dinilai telah memberi dampak positif bagi penguatan dakwah Ahlussunnah wal Jamaah an-Nahdliyah di berbagai komunitas Muslim dunia.

Dalam sambutannya, Ketua LD PBNU Abdullah Syamsul Arifin menegaskan bahwa khidmah atau pelayanan kepada umat tidak cukup diwujudkan melalui ceramah (qauli) semata, melainkan harus terimplementasi dalam gerakan nyata yang menyentuh kebutuhan umat. Menurutnya, dakwah yang berorientasi pada pelayanan akan berbuah “hayatan thayyibah” atau kehidupan yang baik, sebagaimana ditegaskan dalam Al-Qur’an Surah An-Nahl ayat 97 tentang balasan bagi orang beriman yang beramal saleh.

Ia menambahkan, pengiriman dai ke mancanegara merupakan bagian dari ikhtiar strategis untuk menyebarluaskan nilai-nilai Aswaja an-Nahdliyah kepada umat Islam, khususnya warga Nahdliyin di perantauan. Dakwah, kata dia, harus hadir dengan pendekatan yang kontekstual dan adaptif terhadap kondisi sosial-budaya masyarakat setempat.

“Di pundak para dai ada tanggung jawab besar. Pesan Islam harus disampaikan dengan bahasa yang menyejukkan dan menenteramkan, sehingga menjadi solusi atas problem keumatan, bukan sebaliknya,” ujarnya.

Wakil Ketua Umum PBNU Zulfa Mustafa menegaskan, para dai yang diberangkatkan pada hakikatnya adalah duta Nahdlatul Ulama sekaligus duta Indonesia. Karena itu, menjaga nama baik organisasi dan bangsa menjadi amanah utama selama menjalankan tugas di luar negeri.

Ia juga mengingatkan pentingnya prinsip dakwah yang proporsional, terutama dalam membedakan antara aspek ushul dan furu’ dalam ajaran Islam. Ushul, menurutnya, merupakan prinsip yang bersifat disepakati (muttafaq ‘alaih), sedangkan furu’ adalah wilayah yang memungkinkan adanya perbedaan pendapat (mukhtalaf fihi). Pemahaman ini dinilai penting agar para dai tidak bersikap kaku atau reaktif dalam menghadapi dinamika keberagamaan di negara tujuan.

Sementara itu, Sekretaris LD PBNU Nurul Badruttamam memastikan program Nahdlatul Ulama Worldwide Dakwah akan terus dikembangkan. Ke depan, program ini direncanakan bersinergi dengan sejumlah lembaga, seperti Majelis Ulama Indonesia (MUI), Badan Amil Zakat Nasional (Baznas), serta Sarikat Buruh Muslimin Indonesia (Sarbumusi).

Melalui program ini, PBNU berharap dakwah Islam moderat khas Indonesia semakin menguat di tingkat global dan mampu menghadirkan nilai-nilai keislaman yang damai, inklusif, dan solutif bagi masyarakat internasional.

Leave A Reply

Your email address will not be published.