RISALAH NU ONLINE TAIPEI, TAIWAN – Aula Taipei Main Station (TMS) menjadi saksi bisu kehangatan toleransi dan semangat kebersamaan komunitas Muslim Indonesia di Taiwan pada Minggu (22/02/2026). Pengurus Cabang Istimewa (PCI) Muslimat NU Taiwan menggelar aksi berbagi takjil sekaligus pelepasan Da’i sebagai upaya mempererat tali silaturahmi antar-Pekerja Migran Indonesia (PMI) di tengah hiruk-pikuk pusat transportasi terbesar di Taiwan tersebut.
Sebanyak 250 paket takjil didistribusikan kepada para PMI yang sedang menghabiskan waktu di area aula. Langkah ini tidak hanya menyasar mereka yang menjalankan ibadah puasa, tetapi juga diberikan kepada rekan-rekan non-muslim atau yang sedang tidak berpuasa sebagai simbol keterbukaan dan syiar Islam yang ramah. Aksi ini merupakan bagian dari agenda rutin mingguan yang dilakukan secara bergilir oleh berbagai badan otonom (Banom) NU di Taiwan, mulai dari Fatayat hingga LAZISNU.
Komisioner Muslimat Cabang, Ibu Romlah, menjelaskan bahwa konsistensi menjadi kunci utama gerakan ini. Meski sempat dihantam tantangan pandemi COVID-19 beberapa tahun silam, kegiatan berbagi ini tetap tegak berdiri selama hampir tujuh tahun terakhir. Sementara itu, Wakil Katib PCI NU Taiwan, Martoyo, mengungkapkan bahwa akar gerakan sosial ini sebenarnya sudah menginjak usia satu dekade, yang awalnya dipelopori oleh inisiatif para relawan LAZISNU.

Kemeriahan suasana sosial tersebut kemudian beralih menjadi khidmat saat memasuki prosesi Pelepasan Da’i. Ketua Tanfidziyah PCI NU Taiwan, Ustadz Muhammad Ghofur, secara resmi melepas para pendakwah yang akan bertugas memberikan bimbingan rohani ke berbagai penjuru kota di Taiwan. Kehadiran para Da’i ini diharapkan mampu menjadi oase spiritual bagi para pekerja migran yang jauh dari keluarga dan tanah air.
Acara yang berlangsung penuh kekeluargaan ini dibuka dengan pembacaan Istighosah dan ditutup dengan kultum serta doa oleh Ustadz Muchamad Sholihin. Sebagai puncak acara, seluruh jajaran pengurus dari berbagai tingkatan duduk melingkar untuk berbuka puasa bersama. Momentum ini menegaskan bahwa jarak ribuan kilometer dari kampung halaman bukan penghalang bagi komunitas Muslim Indonesia untuk tetap solid dalam menjaga tradisi dan meningkatkan kualitas ibadah di negeri orang.
(Delia/Ibnu Kafa)