Risalah NU Online Tasmania, Australia- Misi dakwah Nahdlatul Ulama (NU) di Australia kembali menyapa wilayah selatan Negeri Kanguru. Selama empat hari, 26 Februari hingga 1 Maret 2026, seorang dai NU menjalankan rangkaian kegiatan keagamaan di Pulau Tasmania, menyapa komunitas Muslim minoritas yang tersebar di sejumlah kota.
Agenda dakwah diisi dengan tausiyah, kajian keislaman, pelaksanaan Shalat Jumat, hingga silaturahmi lintas komunitas diaspora. Meski berada di wilayah dengan populasi Muslim yang relatif kecil, antusiasme jamaah justru tampak kuat dan konsisten.
Hari pertama kegiatan dibuka dengan tausiyah dan buka puasa bersama di kediaman Pak Ade, tokoh diaspora Muslim Indonesia di kawasan Latrobe. Suasana berlangsung hangat dan penuh keakraban. Jamaah yang hadir memanfaatkan momentum tersebut tidak hanya untuk berbuka bersama, tetapi juga memperdalam pemahaman keislaman melalui dialog interaktif.
Memasuki hari kedua, agenda dakwah menghadirkan dinamika tak terduga. Dai NU mendapat amanah mendadak untuk menjadi imam sekaligus khatib Shalat Jumat di Masjid Launceston. Tanpa persiapan panjang sebelumnya, pelaksanaan khutbah dan Shalat Jumat berjalan lancar dan khusyuk.
Imam Masjid Launceston, Dr. Musthofa Saleem, menyampaikan apresiasi atas kontribusi dakwah tersebut. Menurutnya, kehadiran dai dari Indonesia memberi warna tersendiri bagi jamaah yang berasal dari beragam latar belakang negara.
Selepas Shalat Jumat, kegiatan berlanjut dengan kajian dan buka puasa bersama di kediaman Mba Mila di Devonport. Diskusi berlangsung dinamis hingga larut malam. Jamaah terlihat aktif mengajukan pertanyaan, mencerminkan tingginya semangat belajar agama di tengah keterbatasan akses pembinaan rutin.
Perjalanan dakwah kemudian berlanjut ke Smithton pada hari berikutnya. Perjalanan darat sekitar dua jam ditempuh demi memenuhi undangan kajian dan buka puasa di rumah Bu Mieke. Jarak yang cukup jauh tak menyurutkan partisipasi jamaah. Selain diaspora Indonesia, kegiatan ini juga dihadiri Muslim asal Singapura dan Bosnia.
Materi kajian disampaikan dalam bahasa Indonesia dan Inggris untuk menjangkau seluruh peserta. Sesi tanya jawab berlangsung interaktif, memperlihatkan kehausan intelektual sekaligus kebutuhan spiritual komunitas Muslim di wilayah tersebut.
Selama berada di Tasmania, dai NU menetap di rumah Pak Ade yang juga menjabat sebagai Wakil Ketua Tanfidziyah PCI NU Australia–New Zealand Ranting Tasmania. Dari interaksi intensif dengan warga Muslim setempat, tergambar kuatnya tekad menjaga identitas keislaman di tengah posisi sebagai minoritas.
Keterbatasan jumlah, jarak antarkota, hingga minimnya fasilitas pembinaan rutin tidak mengurangi semangat jamaah untuk terus belajar dan mempererat ukhuwah. Momentum dakwah empat hari ini menjadi bukti bahwa nilai-nilai Islam rahmatan lil alamin tetap tumbuh subur, bahkan di wilayah yang jauh dari pusat komunitas Muslim dunia.
Perjalanan tersebut sekaligus menegaskan bahwa dakwah tidak hanya ceramah di mimbar, melainkan kehadiran yang menguatkan, mendengarkan, dan merawat harapan. Di Pulau Tasmania, semangat itu menemukan ruangnya di rumah-rumah sederhana, di masjid komunitas, dan di hati para perantau yang menjaga iman jauh dari tanah kelahiran. (Muhammad Afif Agus)