Safari Ramadhan LDNU di Korea Selatan, Ustadz Tharekh Era Elraisy Soroti Tantangan Menghidupkan Masjid di Negeri Ginseng
RISALAH NU ONLINE HWASEONG-SI, KOREA SELATAN — Lembaga Dakwah Nahdlatul Ulama (LDNU) menggelar Safari Ramadhan di Korea Selatan. Ustadz Tharekh Era Elraisy, Lc., M.A merupakan salah satu dai muda yang didelegasikan pada kegiatan tersebut. Beliau ditempatkan di Masjid Masjid Darussalam Baran, Hwaseong-si, Gyeonggi-do, Korea Selatan.
Dalam keterangannya, Ustadz Tharekh menyampaikan bahwa masjid Darussalam Baran memiliki karakter internasional. Jamaahnya tidak hanya berasal dari Indonesia, tetapi juga dari Bangladesh, Uzbekistan, serta mualaf Korea yang banyak di antaranya menikah dengan warga Indonesia (mix marriage).
“Di hari kerja, banyak jamaah dari berbagai negara yang ikut meramaikan masjid. Ini menjadi warna tersendiri karena interaksi lintas budaya dan bahasa sangat terasa,” ujarnya.
Salah satu tantangan yang dihadapi komunitas Muslim di sana adalah mengajak jamaah untuk tidak sekedar “hidup di masjid”, tetapi turut “menghidupi masjid”. Menurutnya, sebagian pekerja migran menjadikan masjid sebagai tempat singgah dan beristirahat. Karena itu, pengurus secara bertahap mendorong keterlibatan aktif, seperti mengikuti kajian, piket kebersihan, hingga menyiapkan konsumsi bersama.
Masjid tersebut juga terafiliasi secara resmi dengan Korean Muslim Federation (KMF), organisasi yang menaungi komunitas Muslim di Korea Selatan. Dengan afiliasi tersebut, masjid memiliki kekuatan hukum yang jelas dan koordinasi yang baik dengan pemerintah setempat apabila terjadi persoalan administratif maupun sosial.
Secara fisik, masjid di Korea Selatan umumnya tidak berbentuk bangunan berkubah seperti di Indonesia. Banyak yang menempati lantai atas bangunan ruko. Masjid Darussalam di Hwaseong-si, misalnya, berada di lantai empat sebuah gedung dan dikenal dengan interiornya yang berwarna.
Menariknya, di samping gedung tersebut terdapat tempat karaoke. Namun demikian, pihak masjid memilih untuk menyikapinya dengan pendekatan bijak. “Kami tidak memusuhi mereka. Kami berdoa semoga suatu saat memiliki koperasi dan dana yang cukup untuk membeli tempat tersebut agar bisa dimanfaatkan untuk kegiatan yang lebih baik,” ungkapnya.
Dalam praktiknya, komunitas Muslim juga harus beradaptasi dengan regulasi dan budaya setempat. Aktivitas masjid tidak diperkenankan mengganggu jam kerja yang berlaku di Korea Selatan. Bahkan, pengurus kerap menerima protes dari warga sekitar saat pelaksanaan salat Subuh karena berada di luar jam kerja umum.
Pada 22 Februari lalu juga digelar kajian bersama komunitas ibu-ibu mix marriage Indonesia-Korea. Kegiatan tersebut berlangsung dengan antusias dan menjadi ruang silaturahmi serta penguatan spiritual bagi para anggota komunitas.
Safari Ramadhan LDNU di Korea Selatan ini diharapkan dapat memperkuat ukhuwah Islamiyah lintas negara sekaligus mendorong penguatan peran masjid sebagai pusat ibadah, pendidikan, dan pemberdayaan umat di tengah masyarakat multikultural.
(Delia)