RISALAH NU ONLINE TAIPEI, TAIWAN – Kantor Dagang dan Ekonomi Indonesia (KDEI) di Taipei menggelar acara buka puasa bersama yang menghadirkan perwakilan dari 69 organisasi kemasyarakatan (ormas) dan komunitas Indonesia di seluruh penjuru Taiwan pada Senin (9/3).
Acara yang berlangsung hangat ini dihadiri lebih dari 150 peserta, mulai dari Pengurus Cabang Istimewa Nahdlatul Ulama (PCINU), PCI Muhammadiyah, Perhimpunan Pelajar Indonesia (PPI), hingga berbagai komunitas pekerja migran dan profesi lainnya.
Dalam sambutannya, Kepala KDEI Taipei, Arif Sulistyo, menyampaikan kabar baik terkait penguatan sumber daya manusia (SDM) WNI di Taiwan. Beliau mengungkapkan bahwa rencana pembentukan lembaga pendidikan di bawah naungan KDEI akan segera terealisasi.
“Kami telah bertemu dengan Menteri Pendidikan Tinggi dan Saintek untuk menindaklanjuti hal ini. Dengan jumlah mahasiswa Indonesia yang terus meningkat di Taiwan, kehadiran lembaga ini sangat krusial agar koordinasi dan pembinaan menjadi lebih terstruktur,” ujar Arif.
Selain pendidikan, KDEI juga memperkenalkan terobosan layanan administrasi. Saat ini, perpanjangan paspor WNI telah dipermudah melalui sistem aplikasi. Untuk metode pembayaran, KDEI telah bekerja sama dengan jaringan ritel FamilyMart dan 7-Eleven di seluruh Taiwan, sehingga pemohon tidak perlu lagi menempuh jarak jauh untuk melakukan transaksi perbankan manual.
Kabar gembira lainnya datang dari sektor ketenagakerjaan. Arif Sulistyo mengonfirmasi bahwa usulan KDEI kepada pemerintah Taiwan terkait penyesuaian standar upah telah membuahkan hasil.
“Alhamdulillah, gaji Pekerja Migran Indonesia (PMI) disini mengalami kenaikan sekitar 1.000 hingga 1.500 NT. Meskipun belum signifikan, kenaikan ini merupakan langkah positif dalam memperjuangkan kesejahteraan kawan-kawan di Taiwan,” tambahnya.
Acara kemudian dilanjutkan dengan tausiyah menjelang berbuka yang disampaikan oleh Ustadz Zainut Tholibin, dai dari NU Worldwide Dakwah (Lembaga Dakwah PBNU). Dalam kultumnya, beliau menekankan pentingnya momentum Ramadhan dan Nuzulul Qur’an untuk meningkatkan ketakwaan.
Beliau menjelaskan perbedaan mendasar antara mukjizat Al-Qur’an dengan mukjizat para nabi terdahulu. Menurutnya, mukjizat seperti Nabi Ibrahim yang tidak mempan dibakar api atau Nabi Musa yang membelah laut bersifat situasional untuk menjawab tantangan pada masa itu.
“Al-Qur’an adalah mukjizat Nabi Muhammad SAW yang paling utama. Ia tidak terbatas oleh waktu. Jika mukjizat nabi-nabi terdahulu hanya untuk kepentingan satu masa, Al-Qur’an berlaku sejak dunia diciptakan hingga akhir zaman sebagai bukti kekuasaan Allah SWT,” jelas Ustadz Zainut.
Acara ditutup dengan shalat Maghrib berjamaah, makan malam bersama, dan dilanjutkan dengan sholat Isya serta Tarawih berjamaah yang diimami langsung oleh Ustadz Zainut Tholibin.
(Delia)