RISALAH NU ONLINE, TUBAN – Ketua Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Jawa Timur, KH Abdul Hakim Mahfud melaporkan progres dalam upaya pengamanan aset organisasi melalui program percepatan sertifikasi tanah wakaf.
Beliau menjelaskan bahwa pencapaian ini merupakan hasil kolaborasi intensif dengan Kanwil BPN Jawa Timur. Hingga April 2026, tercatat sebanyak 45.000 bidang tanah milik NU di Jawa Timur telah resmi bersertifikat.
“Target 80.000 bidang tanah ini sudah tercapai 45.000 bidang tanah tahun 2026 ini. Target pada bulan Mei 40.000 bidang tanah, kemarin sudah selesai dengan 400 bidang tanah,” ujar pria yang akrab disapa Gus Kikin tersebut.
Gus Kikin juga mengimbau kepada pengurus di tingkat cabang maupun pengasuh pondok pesantren untuk segera melaporkan aset tanah yang legalitasnya belum tuntas. Menurutnya, PWNU telah menyediakan jalur koordinasi yang memudahkan pengurusan di lapangan.
“Sering kali tidak selesai pengurusannya, maka silakan kita bicarakan. Kita lengkap semuanya, ada PWNU, PC-PC, ada Panglima Wakafnya di sini. Insyaallah akan segera bisa terselesaikan,” tambahnya.
Capaian ini disampaikan dalam sambutan pembukaan Musyawarah Kerja Wilayah (Muskerwil) tahun 2026 di Pondok Pesantren Sunan Bejagung 2, Tuban, Sabtu (11/4). Pertemuan tersebut mengusung tema “Meningkatkan Khidmat, Membimbing Umat, dan Membina Peradaban Maslahat Menuju Nahdlatul Ulama di Abad Kedua.”
Acara ini dihadiri oleh jajaran petinggi organisasi, termasuk Rais Syuriah PWNU Jatim KH Anwar Mansur, Ketua PWNU Jatim KH Abdul Hakim Mahfud (Gus Kikin), serta perwakilan Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) Prof. Dr. KH Mohammad Nuh. Hadir pula Wakil Gubernur Jawa Timur Emil Elestianto Dardak beserta jajaran Forkopimda.
Sementara itu, mewakili PBNU, Prof. Mohammad Nuh mengapresiasi peran PWNU Jatim sebagai pelopor dalam merumuskan pandangan-pandangan strategis bagi organisasi. Ia menyebut bahwa sumber daya sejarah dan sosial di Jawa Timur sangat krusial dalam menyambung ruh para muassis (pendiri) dari abad pertama menuju abad kedua.
“Jawa Timurlah yang menjadi pelopor untuk memberikan pandangan-pandangan luar biasa untuk NU ke depan. Kita sekarang sedang menyambung antara abad pertama dan awal abad kedua agar roh para muassis tetap mengalir,” tutur Prof. Nuh.
(Anisa)