RISALAH NU ONLINE, JAKARTA – Wakil Ketua Umum PBNU, KH Amin Said Husni menegaskan bahwa PBNU sampai hari ini belum membahas terkait tanggal pelaksanaan Muktamar NU ke 35. “Belum ada pembahasan tentang Muktamar NU,” tegasnya saat dikonfirmasi Risalah NU Online terkait tanggal penyelenggaraan Muktamar NU di Jakarta, Senin (13/04).
Dikatakannya, saat ini, PBNU sedang fokus menyiapkan penyelenggaraan Munas Alim Ulama dan Konbes NU. ”Mohon do’anya, mudah- mudahan kepanitiaan Munas dan Konbes NU segera terbentuk,” ungkap eks Bupati Bondowoso ini.
Setelah kepanitiaan Munas dan Konbes NU terbentuk, lanjut Amin Said, PBNU kemudian menentukan kapan dan dimana Munas dan Konbes NU akan dilaksanakan serta menyiapkan segenap materinya.
Sebelumnya beredar berita di watshap group, Rais Aam PBNU, KH Miftachul Akhyar, menyampaikan bahwa rencana pelaksanaan Muktamar ke-35 NU akan digelar pada 1 –5 Agustus 2026.
Pernyataan tersebut disampaikan saat menutup Musyawarah Kerja Wilayah (Muskerwil) PWNU Jawa Timur di Pesantren Sunan Bejagung 2, Tuban, Ahad (12/4).
“Pelaksanaan Muktamar NU pada awal Agustus, tanggal 1–5 Agustus itu sudah siklus muktamar, karena muktamar sebelumnya di Jombang juga Agustus,” ujarnya dlansir dari portal berita Sajad,id.
Menurutnya, penetapan waktu menjadi bagian dari siklus muktamar lima tahunan Nahdlatul Ulama. Dengan kepastian tanggal, seluruh struktur organisasi kini dapat mulai mematangkan persiapan, baik dari sisi teknis maupun substansi agenda.
Lokasi Muktamar NU
Meski lokasi Muktamar ke-35 NU hingga kini masih dalam pembahasan. Sejumlah daerah disebut masuk dalam bursa calon tuan rumah, baik kota besar maupun kawasan pesantren.
“Soal tempat, kita rapatkan dulu, apakah Surabaya atau Jakarta, bisa juga pesantren, apakah di Pesantren Walisongo Situbondo asuhan KH Cholil As’ad, atau pesantren tuan guru di NTB yang juga sudah lama minta, ataukah di Sumbar yang didukung tiga provinsi,” jelasnya.
Beberapa wilayah yang mencuat antara lain Situbondo, Nusa Tenggara Barat, hingga Sumatera Barat.
Kiai Miftachul Akhyar menegaskan, muktamar bukan sekadar agenda organisasi, tetapi juga momentum untuk kembali meneguhkan jati diri NU yang berakar dari tradisi pesantren.
“Sejarah pesantren itu sudah ada sejak Rasulullah, yakni Ashabush Shuffah, tempat kaderisasi para sahabat dari berbagai negeri,” ujarnya.
Ia juga mengingatkan pentingnya menjaga amanah para ulama pendiri NU yang telah meletakkan dasar organisasi dalam Qonun Asasi.
“Muassis NU sudah menegaskan amanah itu dalam Qonun Asasi. Ini yang harus terus kita jaga,” tegasnya.
Jaga Supremasi Rais
Sementara itu, Wakil Rais Syuriah PWNU Jawa Timur, Abd Matin Djawahir, menegaskan pentingnya kembali pada khittah dan menjaga struktur kepemimpinan NU sebagaimana amanat para pendiri.
“NU didirikan ibarat kiai dan santri. Rais Aam ibarat kiai, dan Ketua Tanfidziyah ibarat pengurus pondok,” ujarnya.
Ia juga mengingatkan agar tidak ada pihak atau lembaga yang melampaui otoritas Rais Aam dalam tubuh organisasi.
“Tidak boleh ada yang lebih tinggi dari Rais Aam. Supremasi syuriyah harus betul-betul kita perhatikan,” tegasnya.
Menurutnya, memasuki abad kedua NU, penguatan ruh Qonun Asasi menjadi sangat penting agar arah organisasi tetap berada pada jalur yang benar.
Dengan kepastian waktu pelaksanaan pada 1–5 Agustus 2026, Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama diharapkan menjadi momentum strategis untuk memperkuat konsolidasi organisasi, meneguhkan nilai-nilai pesantren, serta mendorong kemandirian umat di tengah tantangan zaman. (hud/anis).