RISALAH NU ONLINE, JAKARTA – Ketua Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), KH. Ulil Abshar Abdalla (Gus Ulil), memberikan teguran sekaligus bernada satire terhadap maraknya fenomena pendakwah instan yang hanya mengandalkan retorika tanpa kedalaman ilmu agama.
Ledekan “Syududu” dan “Wamaqoli” yang dilempar Gus Ulil merupakan sindiran bagi pendakwah yang memproduksi kalimat-kalimat berbunyi Arab namun tidak memiliki dasar kaidah bahasa (nahwu-shorof) maupun substansi keilmuan yang jelas.
“Sekarang ini gampang sekali menciptakan dai, bisa direkayasa, bisa difabrikasi. Ada dai yang Wamaqoli, Wamaqoli itu dai juga itu. Saya tidak ingin LDNU melahirkan dai yang seperti itu,” tegas Gus Ulil kepada Dai-Dai Go Global Worldwide di Gedung PBNU pada Jum’at, (8/5/26).
Gus Ulil mengingatkan kembali bahwa tradisi asli NU adalah menempatkan penguasaan kitab sebagai syarat mutlak sebelum seseorang naik ke atas mimbar.
Beliau membagi kategori dai menjadi dua. Dai “Kiai Plus” yakni sosok yang sudah khatam mengaji kitab-kitab alat (Jurumiah, Imriti, Alfiyah) dan kitab fiqih (Fathul Mu’in), baru kemudian melatih keterampilan berbicara.
Lalu Dai “Minus” yaitu sosok yang hanya modal “omon-omon” atau olah kata tanpa fondasi ilmu. Gus Ulil menyebut dai kategori ini berpotensi menjadi dholun mudhilun (sesat dan menyesatkan) karena dakwahnya tidak berbasis pengetahuan.
Gus Ulil kemudian memuji konsistensi Gus Baha yang selalu membawa kitab saat berdakwah. Hal ini dianggap sebagai standar yang harus dikembalikan oleh LD PBNU di tengah budaya dakwah yang sudah bergeser.
“Di zaman Wamaqoli dan Syududu ini, kita butuh semangat yang dibawa Gus Baha. Beliau kemana-mana membawa semangat ilmu, membawa kitab. Jadi kalau bicara ada teksnya, ada dasarnya,” imbuhnya.
Menutup arahannya, Gus Ulil meminta setiap dai paling tidak mencantumkan kutipan dari ulama klasik, seperti dari kitab Ihya Ulumuddin atau Arba’in Nawawiyah, dalam setiap ceramah.
(Anisa).