RISALAH NU ONLINE, JEPARA – Pakar Maqashid Syariah, Dr KH Nasrulloh Afandi, Lc MA, menilai kasus pelecehan seksual di lingkungan pesantren perlu dicegah melalui pembenahan sistem pengasuhan, hingga ketelitian orang tua memilih lembaga pendidikan.
Mudir( Direktur) Ma’had Aly Pesantren Balekambang Jepara itu mengatakan, pola pesantren tempo dulu dinilai lebih ketat dalam menjaga batas antara santri putra dan putri.
“Saya terinspirasi tempo dulu, ada pesantren khusus hanya bagi para santri putra, ada pesantren hanya khusus santri putri. Belakangan saja yang campur , dalam satu pesantren mendidik santri putra-putri, meski asrama, berbeda,” tegas Gus Nasrul, yang juga wakil ketua Komisi Pesantren MUI Pusat itu, Kamis (15/5/2026).
Direktur Institut Maqashid Syariah Indonesia itu menjelaskan, pesantren putra dahulu umumnya diasuh laki-laki. Sedangkan pesantren putri mayoritas pengasuh dan pengajarnya perempuan.
“Pesantren khusus putra pengajarnya laki-laki, sedangkan pesantren putri pengasuh dan pengajarnya mayoritas perempuan,” ujar ketua Pusat PERGUNU itu.
Menurutnya, pola tersebut menjadi salah satu langkah pencegahan agar relasi di lingkungan pesantren tetap terjaga. Tutur Gus Nasrul alumnus pesantren Lirboyo Kediri itu.
Selain itu, ia menyoroti perubahan cara masyarakat memilih pesantren. Jika dulu orang tua sangat selektif melihat rekam jejak kiai pengasuh, dan sanad keilmuan, kini banyak yang tertarik hanya karena kemewahan fasilitas dan promosi.
“Kalau dulu orang tua mau menitipkan anak di pesantren pasti melihat siapa kiainya, latar belakang pendidikannya, sanad keilmuan kiyainya,” tegas Gus Nasrul yang juga pernah dua tahun belajar di pesantren Tegalrejo Magelang itu.
Ia menyebut sebagian masyarakat saat ini justru mudah terpengaruh tampilan fisik lembaga pendidikan tanpa menelusuri kredibilitas pengasuhnya.
“Sekarang yang penting ada gedung mewah tertarik, tidak peduli di belakangnya dukun, atau politisi, atau pengusaha, yang bikin sekolah berasrama, lalu dinamakan pondok pesantren,” ucap Nasrul yang juga penulis kitab Raudlatul Mubtadiin fi Ilmi Al-Akhlak Al-Muashiroh itu.
Gus Nasrul juga mengungkapkan, tradisi spiritual orang tua sebelum memasukkan anak ke pesantren mulai ditinggalkan.
“Dulu orang tua , sebelum memasukkan anak ke pesantren salat istikharah dulu. Selain mengecek siapa kiainya dan sanad keilmuannya, juga minta salat istikharah kepada kiai setempat,” jelas Gus Nasrul yang juga aktif berceramah di berbagai wilayah Indonesia itu.
Ia menilai kondisi saat ini berbeda karena banyak orang tua memilih pesantren berdasarkan promosi di media sosial.
“Zaman sekarang orang memasukkan anaknya ke pesantren menjadi korban iklan di medsos,” pungkasnya Gus Nasrul yang juga alumnus pesantren Winong Gempol Cirebon itu (*)