Dari Kediri untuk Indonesia: Perempuan Tarekat Perkuat Peran Strategis dalam Membangun Peradaban Bangsa
RISALAH NU ONLINE, KEDIRI – Ratusan perempuan tarekat dari berbagai daerah di Indonesia berkumpul di Pondok Pesantren Al Ishlahiyah Mayan, Kediri, Jawa Timur, dalam Rapat Kerja Nasional (Rakernas) Lajnah Wathanah (Wanita Ahlith Thariqah An-Nahdliyah) Idarah Aliyah Jam’iyyah Ahlith Thariqah Al-Mu’tabarah An-Nahdliyah (JATMAN), yang berlangsung pada 21–22 Juni 2026.
Mengangkat tema “Memperkokoh Peran Perempuan Tarekat dalam Membangun Keluarga dan Bangsa”, Rakernas menjadi momentum strategis untuk memperkuat konsolidasi organisasi, mempererat ukhuwah, sekaligus merumuskan langkah-langkah nyata pemberdayaan perempuan tarekat dalam menghadapi berbagai tantangan sosial, keluarga, dan kebangsaan.
Kegiatan ini dihadiri oleh pengurus Lajnah Wathanah tingkat Idarah Wustha dan Syu’biyyah dari seluruh Indonesia. Rakernas secara resmi dibuka oleh Mudir Ali Idarah Aliyah JATMAN, Prof. Dr. KH. Ali Asykur Musa, serta dihadiri sejumlah tokoh nasional dan ulama, di antaranya Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Republik Indonesia, Arifatul Choiri Fauzi, Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa, Sekretaris Idarah Aliyah JATMAN KH. Ali Abdillah, serta para masyayikh dan ulama JATMAN.
Yang menarik, Rakernas kali ini tidak hanya menjadi forum penyusunan program kerja organisasi, tetapi juga diawali dengan rangkaian kegiatan spiritual yang menjadi ciri khas tradisi tarekat. Pada malam hari, para peserta mengikuti Pembukaan Konferensi Besar Nahdlatul Ulama dan Musyawarah Nasional Alim Ulama NU di lingkungan Pondok Pesantren Al Falah, Ploso, Kediri. Kegiatan kemudian dilanjutkan dengan dzikir bersama, qiyamul lail, dan tawajjuh di Pondok Pesantren Baran, Kediri.
Memasuki pagi hari, para peserta melaksanakan ziarah ke maqbarah para ulama dan wali di lingkungan pesantren Kediri, termasuk makam almaghfurlah KH. Hamim Jazuli, sebagai bentuk penghormatan terhadap mata rantai sanad keilmuan, perjuangan, dan spiritualitas para pendahulu.
Koordinator Lajnah Wathanah Idarah Aliyah JATMAN, Hj. Solichah, menegaskan bahwa perempuan tarekat memiliki peran strategis dalam menjaga ketahanan keluarga sekaligus memperkuat kehidupan sosial masyarakat.
“Di tengah perubahan zaman yang begitu cepat, perempuan tarekat harus hadir sebagai penjaga nilai, penguat keluarga, dan penebar kasih sayang di tengah masyarakat. Rakernas ini menjadi ikhtiar bersama untuk memperkuat kapasitas perempuan tarekat agar mampu mengambil peran yang lebih luas dalam pendidikan, dakwah, pemberdayaan ekonomi, dan pembangunan karakter bangsa.”
Menurutnya, kekuatan perempuan tarekat terletak pada kemampuannya memadukan kedalaman spiritual dengan kepedulian sosial sehingga mampu menjadi teladan di lingkungan keluarga maupun masyarakat.
Sementara itu, Mudir Ali Idarah Aliyah JATMAN, Prof. Dr. KH. Ali Asykur Musa, menekankan bahwa pembangunan bangsa yang kokoh harus dimulai dari keluarga yang kuat secara moral dan spiritual.
“Perempuan adalah madrasah pertama bagi generasi bangsa. Ketika perempuan memiliki kekuatan akhlak, kedalaman spiritual, dan keluasan wawasan, maka keluarga akan menjadi benteng peradaban. Dari keluarga yang baik akan lahir masyarakat yang baik, dan dari masyarakat yang baik akan lahir bangsa yang kuat.”
Beliau menambahkan bahwa tradisi tarekat selama ini telah melahirkan banyak perempuan yang tidak hanya tekun dalam ibadah, tetapi juga aktif dalam pendidikan, pelayanan sosial, penguatan ekonomi keluarga, dan pengabdian kepada masyarakat.
“Perempuan tarekat bukan hanya penjaga dzikir, tetapi juga penjaga peradaban. Mereka merawat nilai-nilai keislaman, menjaga harmoni keluarga, dan menanamkan cinta tanah air melalui keteladanan yang hidup di tengah masyarakat.”
Rakernas Lajnah Wathanah Idarah Aliyah JATMAN 2026 diharapkan menghasilkan berbagai rekomendasi strategis yang dapat memperkuat peran perempuan tarekat dalam mendukung ketahanan keluarga, pemberdayaan masyarakat, serta pembangunan bangsa yang berlandaskan nilai-nilai spiritual, keagamaan, dan kebangsaan.
Forum ini juga menjadi penegasan bahwa perempuan tarekat memiliki posisi penting dalam merawat keseimbangan antara dimensi ruhani dan kehidupan sosial, sehingga mampu memberikan kontribusi nyata bagi terwujudnya Indonesia yang religius, harmonis, dan berkeadaban. (hud/rls).