Layani 575 Wartawan dari 237 Media, Tata Kelola Pers Muktamar Ke-35 NU Jadi Standar Baru Kehumasan Jam’iyah

0

RISALAH NU ONLINE, JOMBANG — Di balik derasnya arus pemberitaan Muktamar Ke-35 Nahdlatul Ulama yang memenuhi layar kaca dan lini masa sepanjang 27–31 Agustus 2026, ada kerja senyap yang sedikit tersorot: pengelolaan ratusan awak media yang datang dari seluruh penjuru tanah air ke Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas, Jombang.

Sebanyak 575 wartawan dari 237 media terdaftar dan terdata dalam situs resmi muktamar.nu.id. Mulai televisi nasional, kantor berita, media daring, cetak, hingga radio, terlayani rapi melalui satu pintu layanan yang dikelola Seksi Dokumentasi dan Publikasi Panitia Muktamar.

Hasilnya terbaca jelas dari angka. Sebanyak 5.148 tautan pemberitaan tentang Muktamar terhimpun dari media-media peliput, ditambah 121 berita resmi produksi redaksi panitia dan 250 foto dokumentasi yang terpublikasi melalui portal resmi muktamar.nu.id.

Gelombang pemberitaan itu membuat denyut permusyawaratan tertinggi jam’iyah sampai ke publik nyaris tanpa jeda. Mulai dari pembukaan oleh Presiden, sidang-sidang pleno dan komisi, musyawarah Ahlul Halli wal Aqdi, penetapan Rais Aam dan Ketua Umum PBNU, hingga penutupuan Muktamar.

Koordinator Seksi Dokumentasi dan Publikasi, Hari Usmayadi, yang akrab disapa Cak Usma, menyebut kunci kelancaran itu ada pada keputusan menempatkan teknologi sebagai tulang punggung layanan pers sejak awal.

“Sejak hari pertama kami bertekad wartawan tidak boleh antre panjang, tidak boleh bingung, dan tidak boleh kehilangan akses. Semua kebutuhan awak media, dari akreditasi sampai pengiriman berita, kami satukan dalam portal resmi Muktamar,” ujarnya usai Muktamar ke-35 resmi ditutup oleh Presiden.

Portal muktamar.nu.id memang menjadi pembeda Muktamar kali ini dibanding perhelatan-perhelatan sebelumnya. Seluruh siklus pengelolaan wartawan dijalankan secara digital dari hulu ke hilir. Mulai dari pendaftaran mandiri, validasi berjenjang dengan surat penugasan pimpinan redaksi, pengecekan status akreditasi lewat nomor WhatsApp, hingga penerbitan kartu identitas pers. Sehingga tidak ada ID Card yang terbit di luar data tervalidasi. Hal ini menjadi standar disiplin baru yang menjaga kredibilitas akreditasi sekaligus menutup celah penyalahgunaan.

Pengelolaan berbasis teknologi ini sampai ke hal yang paling teknis. Kartu pers dibekali cip RFID dan ditata dalam slot penyimpanan terkode, sehingga penyerahan di titik registrasi yang berlokasi di Kelas Keterampilan MAN 3 Jombang berlangsung cepat.

Presensi konferensi pers cukup dengan menempelkan kartu. Aplikasi petugas lapangan pun disiapkan mampu bekerja tanpa jaringan internet, mengantisipasi padatnya trafik di kawasan pesantren selama puncak acara.

Inovasi yang paling terasa dampaknya adalah kanal rilis mandiri. Setiap wartawan dapat mengirimkan tautan pemberitaannya langsung dari Portal Wartawan, dan tulisan itu seketika tampil di etalase publik portal resmi muktamar.nu.id.

“Lima ribu lebih rilis masuk dan tidak ada satu pun yang perlu kami turunkan. Ini bukti kepercayaan yang dijaga dua arah. Jadi panitia percaya wartawan, wartawan menjaga amanah profesinya,” kata Cak Usma.

Selain itu, ketersediaan Media Center Muktamar yang berpusat di Aula Yayasan Pesantren Bahrul Ulum menjadi rumah bersama para jurnalis selama sepekan. Ruang kerja dengan koneksi internet, area konferensi pers, pusat informasi, serta tim relasi wartawan yang siaga menjadikan para “kuli tinta” dapat bekerja nyaman di tengah lautan ratusan ribu muktamirin dan penggembira.

Apresiasi datang langsung dari para awak media. Melalui survei testimoni di portal, wartawan memberi skor rata-rata 8,74 dari 10 untuk keseluruhan layanan, dengan hampir sepertiga responden memberi nilai sempurna di seluruh aspek.

Sejumlah wartawan bahkan menyebut layanan pers Muktamar Jombang sebagai yang paling berkesan dibanding muktamar-muktamar sebelumnya, terutama karena kecepatan proses registrasi dan kemudahan sistem daringnya.

Manfaat tata kelola ini melampaui urusan kenyamanan wartawan. Bagi jam’iyah, ribuan pemberitaan yang lahir dari layanan yang baik adalah amplifikasi dakwah dan syiar organisasi yang nilainya tak ternilai. Dari sini publik menyaksikan wajah Nahdlatul Ulama yang tertib, modern, dan terbuka.

Adapun basis data 237 media dan 575 jurnalis yang kini tersimpan rapi menjadi aset kelembagaan PBNU yang siap diaktifkan kembali untuk hajatan-hajatan besar berikutnya.

Keberhasilan itu tidak lepas dari kerja tim gabungan pusat dan lokal. Kepala media center, tim relasi wartawan, pengelola ID Card, sembilan reporter, editor dua lapis, tim desain dan videografi, hingga delapan admin media center, bekerja nyaris tanpa henti sejak masa persiapan 22 Agustus sampai penutupan administrasi awal September.

“Ini kerja keroyokan khas NU. Santri, aktivis media, dan profesional duduk satu meja, saling menambal, dan alhamdulillah semua berjalan lancar,” tutur Cak Usma.

Meski demikian, Cak Usma mengaku timnya tidak ingin terlena oleh pujian. Sejumlah catatan perbaikan sudah disiapkan untuk penyelenggaraan berikutnya.

Catatan pertama adalah penguatan layanan penanganan media di jam-jam sibuk persidangan—aspek yang dalam survei mendapat skor paling rendah di antara ketiganya, 8,51—antara lain dengan menambah petugas relasi wartawan dan membuka jalur eskalasi keluhan yang lebih cepat.

Catatan kedua menyangkut partisipasi survei yang baru menjangkau 103 dari 575 wartawan. Ke depan, pengisian umpan balik akan dikaitkan dengan alur layanan yang pasti dilalui wartawan agar suara awak media terekam lebih utuh.

Panitia juga berencana menerapkan konfirmasi ulang kehadiran beberapa hari sebelum acara, belajar dari 114 kartu pers yang tidak diambil pemiliknya, serta mengoptimalkan fitur penugasan lokasi agar sebaran peliputan antartitik acara lebih merata.

Terakhir, keterbatasan sumber daya yang memaksa pendaftaran ditutup lebih awal pada 19 Agustus akan dijawab dengan skema akreditasi bergelombang, sehingga permintaan peliputan susulan tetap bisa diakomodasi tanpa mengorbankan ketertiban verifikasi.

“Muktamar lima tahun sekali, tetapi standar pelayanannya harus terus naik. Apa yang baik kami wariskan, apa yang kurang kami catat dan perbaiki. Insya Allah pada permusyawaratan berikutnya, sahabat-sahabat media akan mendapati layanan yang lebih baik lagi,” pungkas Cak Usma. (hud/rls).

Leave A Reply

Your email address will not be published.