Lestarikan Ratusan Naskah Kuno, Pesantren Qomaruddin Raih Penghargaan Perpusnas RI

0

RISALAH NU ONLINE, GRESIK – Senin (12/10), Pondok Pesantren Qomaruddin yang berlokasi di Desa Bungah, Kabupaten Gresik, Jawa Timur, meraih penghargaan tertinggi di bidang perpustakaan dan literasi, Nugra Jasa Dharma Pustaloka 2026, dari Perpustakaan Nasional Republik Indonesia (Perpusnas RI). Dikutip dari Instagram Resmi Perpusnas RI, pesantren tertua di Gresik utara ini dianugerahi penghargaan untuk Kategori Pelestarian Naskah Kuno – Subkategori Pemilik Naskah Kuno Lembaga atas komitmen berkelanjutan dalam merawat warisan intelektual Islam Nusantara.

Penghargaan prestisius ini menjadi bentuk pengakuan negara atas dedikasi Yayasan Pondok Pesantren Qomaruddin (YPPQ) Sampurnan, khususnya melalui Tim Pelestari dan Pengembangan Khazanah Pesantren Qomaruddin (TPPKP), yang secara konsisten merawat, mengkaji, dan mendigitalisasi sebanyak 503 naskah kuno. Naskah-naskah tersebut merupakan karya para muassis (pendiri) dan masyayikh PP Qomaruddin serta peninggalan keluarga besar Bani Qomaruddin.

Sejak dirintis secara intensif pada 2019, YPPQ tidak hanya menyimpan lembaran berharga tersebut, tetapi juga mendirikan Galeri Manuskrip Sampurnan sebagai ruang preservasi fisik berstandar khusus, meluncurkan portal katalog digital (turots.qomaruddin.com), serta merutinkan forum kajian keilmuan dan pameran manuskrip.

Mayoritas naskah kuno koleksi Pesantren Qomaruddin ditulis dalam bahasa Arab dan Jawa menggunakan aksara Arab serta Pegon. Isi koleksinya mencakup salinan kitab-kitab Islam tentang tafsir dan fikih, hingga catatan orisinal berupa wirid, surat, dan tradisi haji.

Dalam proses penyelamatan dan pengalihmediaan naskah, TPPKP menggandeng berbagai jejaring filologi dan riset nasional hingga internasional, seperti DREAMSEA, British Library, Endangered Archives Programme (EAP), Manassa, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Nahdlatut Turots, serta Dinas Perpustakaan dan Kearsipan (Disperpusip) Provinsi Jawa Timur.

Pelaksana Tugas (Plt.) Ketua YPPQ, Ismail Hamim, menyampaikan rasa syukur dan menegaskan bahwa penghargaan ini bukanlah garis akhir, melainkan tumpuan untuk lompatan baru agar manuskrip dapat terus dipelajari oleh santri, alumni, dan masyarakat luas.

“Harapannya keilmuan para masyayikh terus bisa bermanfaat dan tidak berhenti membeku dalam bentuk manuskrip saja. Tugas kita masih panjang dan masih banyak hal yang harus disiapkan untuk menggapai semua harapan itu,” tutur Ismail Hamim.

Senada dengan hal itu, Ketua TPPKP Qomaruddin, Ahmad Wasil, berharap rekognisi nasional ini memompa semangat untuk terus produktif membedah isi teks naskah kuno.

Dalam agenda penganugerahan tersebut, Kepala Perpusnas RI, Prof. E. Aminuddin Aziz, M.A., Ph.D., menekankan pentingnya memandang naskah kuno bukan sekadar lembaran sejarah usang, melainkan memori kolektif bangsa. Dari estimasi 143.259 naskah kuno Nusantara yang telah teridentifikasi (100 ribu di dalam negeri dan 42 ribu di luar negeri), naskah-naskah tersebut menyimpan jejak autentik keagamaan, sastra, hukum, hingga pengobatan yang membantah anggapan bahwa masyarakat Nusantara tidak literat.

“Karena itu ketika kita berbicara tentang naskah kuno, sesungguhnya kita tidak hanya bicara tentang benda yang berasal dari masa lalu, tetapi kita berbicara tentang ingatan kolektif yang membentuk seluruh perjalanan kita menjadi bangsa Indonesia,” tegas Prof. Aminuddin.

(Anisa)

Leave A Reply

Your email address will not be published.