QASHAS AL-HUBB AL-ARABIYAH: Membedah Romansa Asmara dalam Kesusasteraan Arab

0

Muqaddimah

Beberapa waktu yang lalu, Majalah Risalah NU mengadakan halaqah dan launching buku “Antologi Sastra Santri Indonesia” di kampus UNUSIA Jakarta. Antologi sastra yang memuat cerita pendek atau cerpen dengan kemasan nuansa epik dari realitas kehidupan santri.

Tidak sedikit dari judul cerpen tersebut isinya tersaji bumbu romansa asmara yang kadang berjalan sesuai dengan happy ending. Namun, tidak sedikit yang pada akhirnya berakhir dengan sad ending. Terlepas dari itu semua, ada hal menarik yang penulis catat dari pernyataan salah seorang narasumber halaqah. Tulisan yang mampu menggugah hati pembaca berasal dari kegelisahan dan perasaan kecewa sang penulis, entah karena putus cinta atau karena hal lain.

Perasaan cinta pada hakikatnya adalah luapan emosi manusia yang murni lahir dari hati sanubari. Apabila kita membicarakannya, maka topik ini agaknya memang berhasil memikat hati dan menawan relung jiwa setiap insan. Tak pelak, romansa asmara dengan berbagai macam plot yang melatar-belakanginya telah menjadi bahan diskusi serius di era klasik. Tidak hanya itu, dalam sejarah manusia, romansa asmara telah mewarnai cerita sejak awal mula penciptaan manusia itu sendiri, dan bahkan diyakini akan terus relevan menjadi perbincangan umat manusia hingga akhir zaman. Buku yang bernama Qashas al-Hubb al-Arabiyah karya Abdul Hamid Ibrahim Muhammad ini mencoba menelusuri bagaimana epik romansa asmara berpengaruh dalam sejarah perjalanan kesusasteraan Arab.

Menyelami Romansa Asmara Dalam Literatur Arab

Bila kita menyelami khazanah literatur bangsa Arab, maka kita akan mendapati bahwa mereka sangat mengagungkan jenis cinta suci yang disebut dengan istilah al-Hub al-Afif. Al-Hubb al-Afif sendiri secara letterlijk bermakna cinta suci. Cinta ini dibangun di atas pondasi kokoh berupa penjagaan kehormatan diri, kehati-hatian, serta upaya membentengi kaum wanita dari hal-hal yang nista dan hina. Selain al-Hubb al-Afif, bangsa Arab juga mempunyai istilah cinta lain yang setara dengannya, yaitu al-Hubb al-Udzri yang secara bahasa mempunyai cinta yang murni.

Mereka sangat memuliakan al-Hubb al-Udzri  ini, serta menempatkannya di tempat yang agung. Bahkan tak jarang bangsa Arab rela mengorbankan jiwa untuk meraihnya.  Salah satu hikayat yang disajikan untuk menggambarkan hal ini adalah kisah saudara laki-laki al-Fazariyyah. Suatu ketika, ia berhasrat menjalin hubungan besan dengan Qais bin Dzarih. Saat masyarakat Arab mencelanya atas niat tersebut, ia memberikan jawaban yang penuh hikmah: “Biarkanlah aku, karena pada pemuda seperti inilah orang-orang mulia menaruh harapan”.

Dalam literatur kisah masa lalu, digambarkan pula betapa besarnya pengorbanan di jalan asmara. Ada seorang pencinta yang rela menyongsong maut menyusul kekasihnya setelah sang wanita wafat akibat diterkam oleh binatang buas. Mengetahui pengorbanan jiwa itu, kaumnya tidak lantas mencela, melainkan justru memuji sikapnya seraya berkata: “Demi Allah, kita benar-benar akan menyembelih unta sebagai bentuk penghormatan kepadanya”. Maka, disembelihlah seratus ekor unta betina. Kabar ini pun menyebar luas dari lisan ke lisan, sehingga mengundang simpati dari berbagai penjuru, dan jumlah sembelihan itu pun bertambah hingga mencapai tiga ratus ekor unta betina.

Dari sini, setidaknya kita sudah berada pada titik pemahaman bahwa bangsa Arab rupanya sangat menaruh simpati dan menghargai perasaan semacam itu. Bahkan, sosok sekaliber Muawiyah bin Abi Sufyan pernah berkata: “Seandainya aku mendapati masa Afrah dan Urwah, niscaya aku akan menyatukan mereka berdua”. Uniknya, sikap welas asih ini pun terkadang dimiliki oleh seorang suami. Ada kisah menarik tentang wanita yang diterkam singa dan kekasih lelakinya bunuh diri menyusulnya. Sang suami sah dari wanita tersebut justru merasa amat bersedih dan menyesal di akhir hayatnya karena tidak bisa menyatukan keduanya semasa mereka masih hidup.

Menurut literatur ini pula, ada sebuah keyakinan yang terpatri di antara para pencinta bahwa dalam cinta itu terdapat ikatan suci yang menyatukan mereka, layaknya janji suci pernikahan. Apabila seorang pencinta tengah dilanda amarah, ia dapat memutuskan ikatan itu kepada kekasihnya, persis seperti seorang suami yang mentalak istrinya. Hal ini tergambar dari kisah yang dituturkan oleh al-Rammah bin Malik al-Qaisi, tatkala marah kepada kekasihnya, ia berkata: “Ikatan asmara ini dikembalikan kepadamu”. Sang wanita pun dengan pasrah menjawab: “Apa yang Allah tetapkan, itulah yang terbaik”.

Memang harus diakui bahwa terkadang, kisah-kisah di atas pada akhirnya bermuara pada balutan imajinasi indah yang mengisyaratkan kemenangan cinta di atas belenggu pangkat, harta, adat, maupun tradisi. Sebut saja kisah Urwah dan Afrah sebagaimana disinggung oleh Muawiyah bin Abi Sufyan di atas. Ketika himpitan kemiskinan menggerogoti Urwah sang kekasih, membuat ayah Afrah menolak merestui pernikahan mereka. kemudian keduanya saling berpelukan dengan perasaan kecewa dan sedih. Kesedihan dan kekecewaan yang mendera keduanya menembus kematian, sehingga menjelma menjadi dua batang pohon yang saling melilit.

Dalam romansa itu dikisahkan bahwa para pejalan kaki yang melihatnya takkan menyadari jenis tanaman apa itu. Kisah serupa juga terjadi pada Utbah dan Rayyah, tatkala adat istiadat merintangi mahligai pernikahan mereka. Keduanya menderita karena cinta yang diidamkannya terhalang oleh ada istiadat. Penderitaan itu kemudian mengantarkan keduanya kepada kematian. Tak lama kemudian,  tumbuhlah Syajarah al-‘Arusyain atau pohon pengantin yang ditumbuhi dedaunan warna-warni di atas pusara keduanya.

Tinjauan Ulama dan Peneliti Terhadap Romansa Asmara Arab

Melihat fenomena itu, para ulama dan peneliti modern berupaya untuk mengkaji sisi emosional bangsa Arab. Dari sekian nama besar tersebut, ada Dr. Ahmad al-Hufi yang mengkaji puisi Ghazal, kemudian ada Dr. Muhammad Ghunaimi Hilal yang meneliti kehidupan emosional. Tidak hanya itu, ada Prof. Musa Khalil Sulaiman serta Prof. Ahmad Abdus Sattar al-Jawari yang berfokus pada kajian mengenai “al-Hubb al-Udzri”, serta Dr. Zaki Mubarak yang membedah biografi cinta dan syair Ibnu Abi Rabi’ah.

Dalam hal ini, Abdul Hamid Ibrahim Muhammad, penulis  Qashas al-Hubb al-Arabiyah secara khusus menyoroti aspek kisah-kisah Cinta Bangsa Arab. Aspek ini tidak kalah menariknya dibandingkan fokus penelitian para ulama sebagaimana disebutkan di atas. Hal ini menjadi bukti sekaligus argumen untuk membantah tuduhan para orientalis yang mengklaim bahwa bangsa Arab tidak memiliki imajinasi dalam karya sastra fiksi. Faktanya, setidaknya sebagian sastrawan Arab telah berhasil menandingi para penulis modern dalam merangkai intrik cerita serta menyingkap tabir esensi jiwa manusia.

Kisah-kisah sebagaimana disebutkan di atas setidaknya merangkum riwayat para tokoh yang masyhur semisal al-Majnun, hingga kisah-kisah kaum Arab Badwi pinggiran yang anonim. Cerita-cerita ini telah eksis sejak zaman Jahiliah, lengkap dengan para perawi, audiens, dan penuturnya. Meskipun demikian, kita patut sadar bahwa riwayat lisan yang tersebar di tengah masyarakat rentan terhadap distorsi lewat diktum-diktum hiperbolis. Hal ini pernah diisyaratkan oleh Qais bin Dzarih saat membela Qais bin al-Mulawwah yang dikenal dengan al-Majnun di hadapan Laila. Dalam pembelaannya itu, Qais bin Dzarih menegaskan bahwa al-Majnun sebenarnya hanya melihat Laila sekali pada malam di sebuah tempat yang bernama al-Ghail, namun orang-orang melebih-lebihkannya sedemikian rupa.

Kesadaran akan ketidak-akuratan sejarah semacam inilah yang mampu menyelamatkan para peneliti dari kebingungan akibat kesimpang-siuran riwayat, seperti tercampurnya sandaran syair antara Qais dan Jamil, atau antara Urwah dan Ibnu Dzarih. Pendekatan kritis ini pulalah yang diterapkan oleh Prof. Ahmad Abdus Sattar Al-Jawari dalam karyanya yang bernama “al-Hubb al-Udzri”.

Lebih jauh, Profesor Brockelmann dalam Târikh al-Adab al-‘Arabi mengemukakan bahwa kisah Jamil dan Buthainah di era Bani Umayyah telah sukses membius imajinasi masyarakat Arab hingga melahirkan genre kisah asmara yang berseri. Meskipun pada akhirnya Brockelmann menilai riwayat Qais bin al-Mulawwah dalam kitab al-Aghâni memiliki struktur seni yang lemah dan menempatkan riwayat Ibnu Dzarih di derajat yang lebih tinggi. Di pihak yang berbeda, Profesor Singer justru berpandangan bahwa ia melihat jejak unsur-unsur kisah Tristan di dalam kisah Ibnu Dzarih tersebut.

Hal senada juga diungkapkan oleh Dr. Abdul Aziz Abdul Majid ketika meneliti buku “The Love Story” dari masa pra-Islam hingga abad ke-19. Dalam kesimpulannya ia menegaskan bahwa riwayat-riwayat anonim ini telah berakar kuat dari era Umayyah. Di sisi lain, sosok yang dianggap terbaik dalam mengulas topik ini adalah Dr. Taha Hussein lewat mahakaryanya yang bernama “Hadits Al-Arbi’â”. Dalam karyanya itu, ia mengklaim telah menemukan sebuah embrio seni sastra adiluhung pasca-Islam. Ia juga mengklaim telah berhasil menguraikan faktor perkembangannya, sembari secara objektif membedah sisi keluguan, kekakuan, hingga nilai-nilai kesempurnaan pada kisah-kisah tersebut.

Penutup

Deretan riset dan penelitian dari para tokoh pemerhati sastra Arab di atas merupakan pondasi utama dari kajian ini. Setidaknya, buku Qashas al-Hubb al-Arabiyah ini disusun guna menapaki jejak langkah mulia para peneliti tersebut, yakni membedah khazanah kisah cinta Arab sebagai sebuah produk sastra populer, mengurai benih-benih keindahannya, serta memetakan faktor-faktor yang mungkin merintangi kesempurnaan alurnya. Pada akhirnya, berbicara sastra, wabilkhusus dalam bingkai cinta, pada hakikatnya berpijak pada dzauq atau rasa, bukan pada materi dan pijakan  rasional. Wallahu A’lam bis Shawab.

 

H. Mohammad Khoiron

Wakil Ketua LBM PWNU DKI Jakarta
Leave A Reply

Your email address will not be published.