Deskripsi
Gembira di Tambak Beras
Muktamar NU ke 35 diselenggarakan di Pondok Pesantren Bahrul Ulum, Tambak Beras, Jombang, Jawa Timur. Rapat Pleno PBNU 7 Juli 2026 lalu sepakat memutuskan pesantren yang pernah diasuh KHA Wahab Hasbulah itu sebagai lokasi muktamar, melalui sedikit melalui perdebatan.
Pemilihan Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas mulus dan bisa diterima semua pihak. Pemilihan lokasi di pesantren adalah mutlak untuk kembali meneguhkan semangat dan mengunduh jiwa pesantren yang kini mulai sedikit tergerus. Mandiri, kukuh pendirian, istiqamah, nilai juang, qana’ah, dan tawakkal, mulai sedikit menghilang.
Pesantren Tambak Beras yang memiliki luas sekitar 10 hektare itu, memiliki santri sekitar 15.000, memiliki kiai, ustad dan pengasuh lebih 100 orang, memiliki 19 lembaga dan jenjang pendidikan itu diangap layak untuk menjadi penyelenggara muktamar. Selama ini pesantren yang menyelenggarakan muktamar NU tercatat: Salafiyah Syafi’iyah Situbondo, Al-Munawwir Krapyak Yogyakarta, Pondok Pesantren Cipasung Tasikmalaya (Jawa Barat), Hidayatul Mubtadiin Lirboyo Kediri, dan Darus Sa’adah Gunung Sugih Lampung Tengah, Lampung. Sebelum merdeka (1938) pernah diselenggaraan di Madrasah Mathla’ul Anwar, Menes, Pandeglang, Banten. Inilah satu-satunya kota kecamatan yang pernah menjadi lokasi penyelenggaraan muktamar NU.
Pernah masuk radar catatan: NTB dan Sumatera Barat untuk pengembangan strategis NU. Mengingat banyak juga pesantren NU di luar Jawa. Bahkan, mungkin juga Papua yang juga tengah berkembang NU.
Tapi, mungkin bukan saat ini untuk dipilih karena NU tengah menghadapi tantangan abad kedua. Kini NU tengah membutuhkan unduhan berkah dari pesantren sepuh yang pernah diasuh sang penggagas berdirinya NU, KHA Wahab Hasbullah.
Bahrul Ulum didirikan oleh K.H. Abdus Salam (Mbah Shoihah) sekitar tahun 1838 M. Dia pengikut Pangeran Diponegoro yang hijrah ke Tambakberas untuk menghindari kejaran Belanda. Setelah K.H. Abdus Salam, kepemimpinan dilanjutkan menantunya (K.H. Utsman & K.H. Sa’id), kemudian K.H. Hasbullah, dan tokoh penting K.H. Abdul Wahab Hasbullah (pendiri NU). Nama “Bahrul Ulum” (Lautan Ilmu) baru ditetapkan tahun 1965 oleh KHA Wahab Hasbullah.
KH Wahab adalah inisiator berdirinya NU, salah satu ormas terbesar di Indonesia. Sekitar 1916, ia mendirikan organisasi Tasywirul Afkar yang pusatnya di Surabaya. KH Abdul Wahab lalu mendirikan Nahdlatul Wathan yang kemudian pada 1926 dideklarasikan NU di rumah dan musalla Kiai Musa (mertua Kiai Wahab) di Kertopaten, Surabaya.
Kini, pesantren yang didirikan kakek buyut tokoh pendiri NU itu dipilih sebagai lokasi Muktamar ke-35 NU. Keputusan itu disahkan dalam Rapat Gabungan Harian Syuriyah-Tanfidziyah di Gedung PBNU Lantai 8, Jalan Kramat Raya 164, Jakarta Pusat, Selasa, 7 Juli 2026. Tapi, memang siapa yang berani menolak Tambak Beras?
Kiai Wahab dikenal sebagai kiai kreatif, jembatan kaum tua dan muda dalam tubuh NU. Kiai Wahab bahkan paling getol dan rajin membesarkan NU. Rajin turun ke bawah. Harta bendanya habis untuk membangun media, jaringan, dan lain sebagainya. Melalui Komite Hijaz Kiai Wahab juga menyampaikan aspirasi umat Islam Indonesia kepada Raja Abdul Aziz Arab Saudi.
Semangat dan pengorbanan Kiai Wahab untuk NU itu perlu diunduh lagi ketika NU menghadapi persoalan di dalam.
Sesekali juga perlu memandang makam Kiai Wahab sambil bercermin, bertanya jujur kepada diri kita sendiri apa yang telah kita perbuat untuk NU. Atau sebaliknya.
Hal ini menjadi penting, NU sebagai wadah pergerakan dan pengabdian harus menghadapi abad keduanya yang terjal. Abad pertama melalui tangan Kiai Hasyim dan Kiai Wahab telah lahir kader-kader NU yang mampu menyelamatkan dan membawa NU hingga ke abad berikutnya.
Muktamar ini tercatat sebagai muktamar pertama di abad kedua NU.
Teringat kata-kata seorang tokoh dan ulama NU asal Kalimantan Selatan yang juga alumni Mekah, KH Adnani Iskandar. Ia berkata: “NU itu didirikan waliyullah. Maka siapa yang merugikan NU akan ketulahan (kuwalat).”
Ayo, buatlah Mbah Hasyim dan Mbah Wahab tersenyum.




Ulasan
Belum ada ulasan.